
...🖤♥️🖤...
Pertengkaran antara Amelia dan Megan terus berlangsung,Amel terus menerus mengusir Megan untuk pergi dengan berbagai alasan tapi pria itu menolaknya.
Atas informasi yang Megan dapatkan,Amelia belum pernah menikah.Tapi dia sudah memiliki seorang anak perempuan dan anak itu kebetulan sangat mirip dengannya.
"Siapa Papa dari anak itu?"Tanya Megan.
"Kamu tidak perlu tau!"
"Dia sangat mirip denganku,apa dia anakku?"Megan menatap penuh selidik.
"Dia anakku,jangan coba coba untuk mengakuinya apa lagi merebutnya dariku!"
"Aku tidak ingin merebutnya darimu.Jika dia memang anakku,aku ingin bertanggung jawab padamu,"
"Bertanggung jawab?Seorang penjahat k*lamin seperti kamu apa tau arti dari bertanggung jawab?"
Megan terdiam,dia merasa kesulitan untuk mendekati Amelia.Wanita itu begitu sangat membencinya,hingga setiap kalimat yang keluar dari mulutnya begitu pedas dan menusuk hati.
Megan tidak boleh menyalahkan Amelia,dia seperti itu karena kesalahannya meskipun bukan seratus persen.Andai saja anak buahnya tidak sembarangan menculik wanita dan mengira wanita itu adalah kupu kupu malam,semua ini tidak akan terjadi.
Aurora berlari menghampiri Mamanya,dia merengek sambil terus memegangi perutnya.
"Ma,Rora lapar,"
__ADS_1
"Didalam kan ada Tante intan,minta suami sama Tante dulu ya,"
"Tidak mau,Rora maunya makan disuapi Mama,"
Amelia menarik nafas berat,anak itu kelewat manja dan tidak bisa lepas darinya walaupun hanya sebentar saja.Bahkan saat bersekolah pun Aurora harus ditunggui olehnya.
"Kamu dengar sendiri,saat ini aku sedang sibuk.Jadi sebaiknya kamu segera pergi dari sini!"Pinta Amelia.
"Baiklah,aku akan pergi.Tapi aku akan kembali untuk membahas masalah kita,juga soal anak itu,"Megan melempar tatapannya pada Aurora.Gadis kecil itu menatap balik dengan tatapan polos dan penuh arti.
***
Malam semakin larut,Amelia tidak juga bisa memejamkan mata.Dia keluar dari kamar dan duduk di kursi halaman belakang untuk mencari angin.Terpaan angin dingin ditubuhnya bisa membuat hatinya tenang,meskipun tubuh rampingnya sedikit menggigil kedinginan.
"Apa kamu sedang memikirkan pria tadi?"Intan mencoba menebak nebak.
"Iya,"sahut Amel singkat.
"Apa dia pria yang sudah membuatmu hamil?"
"Iya,"
"Aku tidak sengaja mendengar obrolan kalian sedikit,dia datang membawa niat baik.Kenapa kamu tidak menerimanya?"
"Aku...Aku tidak membencinya,"
__ADS_1
"Jangan egois Amelia,jangan hanya memikirkan dirimu sendiri.Putrimu sudah besar,dia butuh sosok Papa disisinya,kamu tidak bisa terus menerus menipunya dengan mengatakan Ayahnya telah meninggal dunia,"
"Jadi menurutmu aku harus bagaimana?Aku benar benar bingung,"
"Katakan pada pria itu kalau Aurora adalah anaknya.Dia berjanji akan bertanggung jawab bukan?Menikahlah dengannya,berikan keluarga yang lengkap dan sehat untuk putrimu."
Amelia terdiam,pandangan matanya jauh menatap langit.Malam itu langit terlihat gelap tanpa sinar bulan dan bintang bintang,sama seperti isi hati dan pikirannya saat ini.
Menikah dengan pria yang tidak dia cintai adalah ide yang buruk,tapi menghadirkan sosok Papa yang begitu dirindukan Aurora adalah sesuatu yang baik.Selama ini Aurora sering mengeluh karena tidak memiliki Papa,dia iri dengan teman temanya yang memiliki keluarga lengkap dan terlihat harmonis.
Mungkin benar kata Intan,dia harus menyampingkan egonya dan mau menerima kehadiran pria itu disisinya.Ada satu hal yang baru Amelia sadari sejak tadi,dia tidak mengetahui siapa nama pria itu.Dari mana asalnya dan apa pekerjaannya.Amelia terlalu sibuk marah marah hingga lupa pada hal sederhana yang perlu dia tau.
"Bagaimana?Apa kamu sudah mengambil keputusan?"Tanya Intan.
"Sudah,"
"Jadi apa keputusanmu?"Intan tidak sabar menunggu jawaban dari Amelia.
"Aku akan mengatakan hal yang sebenarnya pada pria itu kalau Aurora adalah anaknya,aku akan menikah dengannya,"ucap Amelia mantap.
"Bagus,jadilah Mama yang baik untuk anakmu.Aku akan selalu ada untuk mendukungmu dari belakang,"Intan memberi semangat untuk sahabat dekatnya itu.
"Terimakasih,kamu memang teman yang baik."
Bersambung...
__ADS_1