
Gerald menyatakan penolakan keras tentang saran Harell yang mengatakan bahwa lebih baik Grace di bawa ke tempat terapi dan di tinggal di sana,tentu tidak akan pernah dia setuju saran konyol itu.
Sejak awal dia melihat Harell ada perasaan tidak tenang yang Gerald rasakan..meskipun Harell dokter sekalipun tetap saja Gerald masih merasa ada yang janggal dengan pemuda itu..dia tidak mau sampai Grace jatuh ke tangan yang salah yang malah akan membuat nya semakin di liputi rasa bersalah.
Gerald kembali ke kamar kakak nya..dia tidak pernah meninggalkan Grace terlalu lama karena emosi Grace masih belum bisa terkontrol,dia hanya takut jika Grace melakukan hal nekat seperti saat di negara M.
Gerald masuk kedalam kamar kakak nya dan melihat Grace sedang duduk di sofa dengan kedua tangan nya di ikat ke depan hingga Grace tak bisa melakukan hal nekat tapi meski begitu dia tetap akan mengawasi Grace.
Gerald duduk di samping Grace yang masih terdiam menatap kosong jendela kamar nya yang sudah di beri teralis agar Grace tidak bisa membuka jendela itu dan melakukan hal aneh.
__ADS_1
Sungguh Grace sudah seperti pasien rumah sakit jiwa, dia bagaikan tawanan yang harus di jaga ketat agar tidak kabur bahkan di kamar Grace semua kaca sudah di singkirkan termasuk di kamar mandi..semua barang-barang yang berpotensi membahayakan sudah mereka amankan.
"Ka,kapan kau akan sembuh dan kita bisa bertengkar lagi..aku merindukan Grace ku yang dulu" gumam Gerald dengan tatapan sendu mengingat kembali kilas balik Grace sebelum seperti ini.
Dia merindukan momen dimana dia dan Grace selalu bertengkar hanya karena hal kecil..dia benar-benar merasa kosong..hidup nya hampa setelah Grace mengalami hal menyakitkan itu.
Sementara Max,dia telah sampai di negara B dimana keluarga Grace berada.. dia tak mau beristirahat karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Grace dan keluarganya..dia langsung minta di antar kan ke rumah dimana Grace menetap.
Mereka membawa Max ke rumah dimana Grace tinggal.. Max hanya duduk tak tenang sambil melirik jam di pergelangan tangan nya guna untuk memastikan bahwa perjalanan mereka tidak lama.
__ADS_1
Sampai lah mereka di sebuah mansion yang dimana di sana keluarga Willy berada.. Max turun dari mobil dan bergegas masuk kedalam lalu menekan bel pintu hingga tak berapa lama kemudian terbuka dan tampak lah seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah bibi kepala pelayan.
"Maaf anda siapa dan cari siapa?" tanya si bibir dengan senyum di wajah nya.
"Saya Max,Saya ingin bertemu dengan tuan William..apa dia ada?" kata Max.
"Oh tuan William ada..silahkan masuk biar saya panggilkan dulu" kata si pelayan mengajak Max masuk kedalam dan mempersilahkan nya duduk sementara dia memanggil tuan rumah.
Setelah nya Willy turun dengan wajah memerah menahan kemurkaan namun juga tersenyum sinis karena pemuda brengsekk itu berani mendatangi nya.
__ADS_1
"Punya nyali juga kau rupa nya bedebbah?" ujar Willy sarkas dengan tatapan sinis menatap Max yang hanya menatap nya dengan tatapan tenang.