
Setelah semua nya beres,kini baik Max, Gian dan Mark ketiga nya memilih untuk pulang ke rumah masing-masing.
Gian dan Mark tinggal bersama di mansion Daddy Rey yang jarak nya tidak terlalu jauh dari mansion Willy,sementara Max dia kembali ke Mansion Willy dengan mobil nya sendiri.
Mereka bertiga masih berperang dengan pikiran masing-masing mengenai siapa si penembak jitu yang bisa menembak tepat di jantung Harell dari jarak yang bisa di bilang cukup jauh karena jalan itu juga sangat gelap dan sangat tepat mengenai jantung Harell.
Max juga keheranan dengan hal itulah dan masih bertanya-tanya siapa yang bisa melakukan hal itu karena dia sendiri belum tentu bisa menembak tepat di jantung sasaran nya dalam keadaan gelap dan jarak yang lumayan.
"Siapa sebenarnya yang telah menembak Harell,aku sangat pwnasaria,tapi sama sekali tidak ada petunjuk.arkhhh sialll" gumam Max sambil mengendarai mobil nya menuju mansion Willy.
Tak berapa lama kemudian Max telah sampai di mansion,dia keluar dari mobil setelah memarkirkan mobil nya di garasi yang sudah terbuka dan itu sedikit aneh bagi nya karena biasa nya garasi akan selalu tertutup setelah tidak di gunakan lagi.
Setelah memarkirkan mobil nya Max masuk kedalam mansion lewat pintu belakang karena takut mengganggu waktu istirahat penghuni mansion yang lain nya.sebelum ke kamar nya dia mengecek keadaan Grace dulu memastikan bahwa gadis itu sudah terlelap.
"Syukurlah,maafkan aku jika aku sedikit lama..cups" ujar Max lirih lalu mencium kening Grace dan keluar setelah membenarkan selimut Grace.
__ADS_1
Max keluar dari kamar Grace dan menuju kamar nya.Grace membuka mata nya sebentar lalu terpejam lagi menuju alam mimpi sambil tersenyum kecil.
#
Keesokan pagi nya, Max seperti biasa membangunkan Grace karena itu sudah menjadi kebiasaan nya dan para penghuni mansion sudah terbiasa dengan hal itu karena biasa nya mereka akan mendengar tawa Grace atau jeritan kesal Grace karena di ledek atau di bercandai oleh Max.
"Good morning sleeping beauty" sapa Max sambil menyingkap selimut Grace dan terkejut melihat kaki Grace yang terluka.
"Hey,ini kenapa.kenapa sampai bisa terluka dan sejak kapan?" tanya Max yang terkejut dan khawatir karena dia tidak tau bahwa Grace terluka.
"Kapan hm?" tanya Max masih memperhatikan luka Grace.
"Kemarin" jawab Grace masih dengan wajah polosnya.
"Hufttt,kenapa tidak memberitahu ku hm.kalau sampai infeksi bagaimana,kau nakal juga ya" ujar Max lalu mengangkat Grace menuju kamar mandi agar dia bisa segera mengobati luka Grace.
__ADS_1
"Maaf"
Max hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf Grace,menurut nya Grace sangat menggemaskan jika sedang begini.kan dia jadi tidak sabar untuk menyeret Grace ke pelaminan.
'Siall otakku sudah konslet' batin Max.
Setelah selesai dengan urusan kamar mandi nya kini kedua nya duduk di atas sofa, Max mengambil kotak obat sementara Grace dia hanya duduk dengan tenang sofa sambil memperhatikan kegiatan Max yang tengah mengambil kotak p3k.
"Kemarikan kaki mu" pinta Max sambil berjongkok di hadapan Grace lalu meraih kaki Grace yang sudah dia bersihkan dengan alkohol sebelum nya.
"Apa akan sakit?" tanya Grace memastikan.
"Tidak,hanya sedikit" balas Max tersenyum lalu mulai mengolesi obat merah pada luka Grace.
"Apa dia sudah mati?" tanya Grace membuat Max diam dan mendongak menatap wajah Grace yang tampak tenang.
__ADS_1