
............🌹Happy Reading🌹 ...........
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Selepas dari kamar Nela, Adnan langsung menuju ruang kerjanya. Mengambil barang yang memang dia lupakan tadi. Setelah usai dia pun langung kembali ke ruang makan.
"Udah Mas?" Tanya Adenia saat melihat suaminya berjalan mendekat.
"Udah sayang, ini." Kata Adnan sembari menunjukkan lembaran kertas di tangannya.
"Yuk sarapan." Ucap Adenia selanjutnya.
Tak berselang lama, Nela kembali ikut bergabung. Adnan langsung tersenyum melihatnya, walau baju yang kini di pakai Nela tak bedah jauh dari yang tadi. Setidaknya tak seberlebihan mencetak jelas tubuh yang kini sudah dia klaim menjadi miliknya itu.
"Kamu ganti baju ya Nel? kenapa?" Tanya Adenia saat melihat Nela yang kini sudah berganti baju.
"Iya De, sesak soalnya. Makanya aku ganti." Ucap Nela namun ekor matanya menatap Adnan yang tersenyum walau pandangan pria itu nampak fokus pada makanannya.
"Oh, padahal tadi cantik. Tapi ini juga tak kalah cantik." Kata Adenia, sebab dia penyuka pakaian yang seksi seperti yang dia sedang kenakan sekarang.
"Hehehe, bisa aja kamu De." Ucap Nela dengan tawa kecilnya sekilas menatap Adnan yang nampak menatap mesum dirinya kini, namun hanya sekilas saja karena pria itu sudah kembali fokus lagi dengan makanannya. "Tapi suamimu cemburu kalau aku pakai itu baju De." Batin Nela setelahnya.
Mereka pun melanjutkan makan dengan sesekali mengobrol sampai dimana Brian ikut bergabung dengan mereka.
"Lo darimana?" Tanya Adenia saat Brian baru mendudukkan dirinya di samping Nela.
"Dari rumahku Mba, semalam pengen aja tidur di sana." Kata Brian jujur.
"Oh, Mba kira lagi keluyuran nggak jelas."
"Apa sih Mba, lagi nggak pingin. Tapi semalam si di temani Beca hehehe." Kata Brian tanpa rasa malu dan di tanggapi lemparan roti oleh Adenia.
"Kamu Bri, kasian anak orang. Jangan di mainin." Kata Adenia menasehati.
"Mereka aja yang gampangan Mba, mau-maunya pasrah di apa-apain aku. Aku nggak maksa ko, jadi jangan salahkan adik tampan mu ini." Kelakar Brian, walau memang benar yang dia katakan membuat Adenia memutar bola matanya jega.
Namun siapa sangka perkataan Brian tadi membuat Nela langsung tersedak makanan.
"Hati-hati Nel, minum dulu." Kata Adnan spontan sambil menyodorkan segelas air miliknya pada Nela membuat Brian menatap aneh keduanya apalagi kakak iparnya itu.
"Hati-hati Mba, untung ada pangeran yang siap tanggap." Jahil Brian membaut secepat kilat Adnan tersadar dari tingkah cerobohnya itu, sementara Nela diam-diam tersenyum senang mendapatkan perhatian manis Adnan hingga lupa dengan ucapan Brian yang sudah membuatnya tersedak itu.
Adenia sendiri tak terlalu merasa aneh, hal itu biasa terjadi dan Adnan selalu perhatian seperti itu sejak dulu masa persahabatan ketiganya.
__ADS_1
"Apa sih kamu Brian." Tegur Adenia dan hanya mendapat kedipan bahu dari adik me*um nya itu.
"Sayang, udah belum. Jangan sampai telat, aku udah buat janji dokter buat kamu lebih awal soalnya." Kata Adnan setelah dia selesai sarapan.
"Udah, ayo Mas." Ucap Adenia, dia pun sudah usai dari tadi. Hanya saja dia makan perlahan sembari menunggu Adnan.
Keduanya pun pamitan untuk dua orang yang nampaknya masih asik menikmati sarapan itu.
"Mba mau kemana? biar aku antar?" Tanya Brian pada Nela.
"Nggak tahu, mau jalan-jalan doang Bri. Boleh kalau kamu nggak sibuk." Kata Nela tak keberatan jika ada tumpangan sekaligus teman jalan kenapa tidak.
"Aku nggak sibuk kok, kalau Mba mau aku bisa ajak ke distro aku sama teman-teman."
"Boleh juga." Sahut Nela semangat.
Sementara Obrolan keduanya sayup-sayup di dengar Adnan dan Adenia yang nampak masih belum jauh dari ruang makan itu.
...****************...
"Wow Brian, kamu punya distro sebesar ini?" Tanya Nela saat dirinya dan Brian baru saja menginjakkan kaki di sebuah Bangunan cukup besar berlantai tiga itu.
"Bukan punyaku seorang ada dua temanku juga pemiliknya. Kami bekerja sama membangun ini." Kata Brian sembari merangkul Nela melangkah masuk.
"Oh ho, siapa nih bro. Baru lagi yah?" Tanya Dido sahabat sekaligus partner bisnis Brian yang tahu betul bagaimana Brian, pria itu akan selalu membawa berganti wanita ke tempat mereka. Itu sebabnya kalimat itu selalu Dido lontarkan ketika Brian bersama wanita-wanita barunya itu datang berkunjung.
"Hehehe, Nela selingkuhannya Brian." Kata Nela menjulurkan tangannya pada Dido.
"Gimana selingkuhan aku cantik kan?" Kata Brian menyambut lelucon Nela sembari mengeratkan genggamannya pada pinggang wanita yang menyebut dirinya selingkuhannya itu..
"Banget." Dido mengagumi wanita di hadapannya ini, sempurna satu kata yang patut di jabarkan saat melihat Nela pertama kali. Namun belum bisa mengalahkan sepenuhnya contoh calon istri masa depannya yaitu Adenia, kakak dari sahabatnya Brian.
"Ehemmm" Deheman seseorang wanita mengalihkan atensi mereka.
"Awas Mba sama duo cabul ini." Ucap wanita itu membuat Brian dan Dido memutar bola mata malas.
"Aku Air Mba, salam kenal." Ucap Air sambil mengulurkan tangannya pada Nela dan di sambut wanita itu ramah.
Mereka pun langsung nampak akrab, sebab Nela bisa cepat menyatu dengan ketiga orang tak w*ras itu.
Sementara di tempat lain, Adenia sedang fokus dengan kerjaannya bersama Rini rekannya itu.
"Nggak nyangka cepat juga kerjaan kita, udah setengah jalan aja sekarang." Kata Adenia ketika dia habis meminum air mineralnya saat mereka memutuskan untuk istirahat makan siang.
"Hehehe, tandanya kita udah makin Pro." Kata Rini dan langsung di timpa Adenia.
"Atau kita yang terlalu berbakat." Sontak saja tawa keduanya pecah memikirkan kekonyolan mereka yang mereka buat sekedar mengusir lelah yang menghampiri.
Dan di lain tempatnya lagi, Adnan yang baru selesai dengan pekerjaannya langsung menelfon Nela saat memikirkan wanita itu kini sedang bersama adik ipar mes*m nya itu sungguh membuatnya tak tenang.
__ADS_1
"Halo sayang." Ucap Nela dari seberang sana.
"Kenapa lama sekali angkatnya." Kesal Adnan, karena untuk panggilan ketiganya baru wanita nakalnya itu mengangkat panggilannya.
"Kau membentak ku Ad." Kata Nela sedikit ketus.
"Maaf, kenapa lama mengangkat telfon ku." Ucap ulang Adnan dengan lembut.
"Aku tak dengar kau menelfon, oh iya ada apa?" Tanya Nela santai.
"Kamu dimana? aku akan menjemputmu."
"Di Distro adik ipar mu, datanglah." Nela senang bukan main mendengar kalimat Adnan.
"Baiklah, dua puluh menit aku sampai." Kata Adnan dan setelahnya dia langsung mematikan panggilannya tanpa menunggu respon Nela.
Dan benar saja tak sampai dua puluh menit Adnan sudah berada di seberang Distro sang adik ipar, sengaja agar mobilnya tak di lihat Brian tentunya.
"Lama banget sih." Kata Adnan saat Nela memasuki mobilnya.
"Heh, aku butuh berjalan ke sini." Nela langsung menaruh tasnya di belakang dan kembali duduk sembari mengikat rambutnya tinggi.
"Kau menggodaku Nel." Kata Adnan yang melihat tingkah Nela sekarang, padahal wanita itu tak berniat sama sekali. Dia hanya gerah dan mengikat rambut adalah keputusannya.
"Kau yang terlalu berpikir mes*m tentangku Adnan, dulu kemana aja. Sekarang baru memandang mes*m tubuhku." Kata Nela jujur dan Adnan membenarkan hal itu.
Dulu tak ada sedikitpun dia tertarik pada Nela barang secuil pun, Adenia terlalu sempurna untuk Nela yang standar dalam penglihatannya kala itu. Tapi sekarang, Nela punya pesona yang tak jauh beda dengan Adenia. Sama-sama seksi dan menggoda dalam penglihatannya dan dia tergoda akan hal itu.
"Dulu kau terlalu jelek untuk aku pandang mes*m. Tapi tidak dengan yang sekarang, kau sungguh merusak penglihatan ku dengan penampilan nakal mu ini." Kata Adnan jujur dan di sambut decakan sebel Nela, namun dia pun menyadari itu.
"Mau apa?" Tanya Nela saat Adnan mendekatinya.
"Hahaha, aku nggak sabar." Kata Adnan dengan tawa kecilnya kembali duduk bersandar pada kursinya saat melihat wajah panik Nela yang dia tahu wanita itu pasti berpikir dia akan melakukan hal aneh di mobil ini.
"Ck, kita mau kemana sekarang?" Tanya Nela saat Adnan sudah menyalakan mesin mobilnya.
"Ke tempat dimana kita bisa bebas mengekspresikan diri kita tanpa takut ada yang memergoki. Kita akan melanjutkan yang semalam sempat tertunda." Kata Adnan santai dan dia langsung melajukan mobilnya.
"Maksud kamu?" Tanya Nela yang bingung, bukan bingung dengan perkataan Adnan. Jelas dia tahu maksud pria itu, tapi tempat yang di maksud pria itu dia penasaran.
"Hotel." Singkat Adnan.
"Oh, bermalam?" Tanya Nela semangat.
"Nanti kita lihat seberapa jauh aku tak bisa lepas darimu?" Kata Adnan dengan kerlingan nakalnya.
"Hahahaha, kita lihat saja nanti. Akan ku buat kau tak bisa berhenti." Jawab Nela dengan pedenya. Siapa suruh pria itu mau menjadi guru belajarnya tentang hubungan gila ini. Jadi jangan salahkan dia jika dia mengingat jelas pelajaran nakal yang dia terima dari pria yang sudah berpengalaman itu. Pengalaman yang membuatnya menjadi wanita rusak kini.
...****************...
__ADS_1
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...