
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Usai mengurus semuanya untuk Adenia, Bibi pun langsung bergegas ke rumah sakit tempat Adenia di rawat setelah tadi wanita itu memberikan alamat.
Bibi bagaikan seorang ibu yang begitu mencemaskan anaknya. Sepanjang perjalanan tak pernah sedikitpun beliau tak memikirkan Adenia. Semua masalahnya, Bibi pun merasa sakitnya.
Tak berselang lama, Bibi pun tiba di rumah sakit dengan menenteng beberapa tas di kiri kanannya...
"Bu." Panggil Bibi sembari menyembunyikan kesedihannya menetap Adenia yang nampak terbaring di ranjang rumah sakit itu.
Senyum manis Adenia pun di tampilkan menyambut Bibi dengan bahagia.
"Masuk Bi." Kata Adenia namun setelahnya senyumnya memudar kala melihat seseorang di belakang Bibi.
"Ade."
Sontang Bibi langsung berbalik dan melihat ke arah sumber suara yang beliau kenali.
"Pak, Bapak mengikuti saya." Tanya Bibi bingung.
Pasalnya tadi beliau hanya berangkat sendiri. Kenapa tiba-tiba Adnan bisa ada bersamanya sekarang.
"Bibi." Panggil Adenia dengan nada kecewanya, berpikir jika Bibi membawa pria itu bersamanya tanpa sepengetahuan Adenia.
"Aku yang mengikuti Bibi diam-diam De, maaf. Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu dan bayi kita. Tolong jangan mengusirku, aku masih suamimu. Aku Ayah dari bayi yang kau kandung, jadi tolong beri aku waktu sedikit saja. Ku mohon." Kata Adnan memohon, tak peduli seberapa berantakannya saat ini. Sebab usai menangisi hancurnya rumah tangga dirinya dan Ade.
Adnan memilih menunggu Bibi di mobilnya agar bisa mengikuti Bibi tanpa sepengetahuan wanita itu. Karena dia tahu, bertanya tempat di rawat Ade tak mungkin Bibi akan memberitahu. Itu sebabnya dia lebih memilih untuk mengikuti Bibi diam-diam.
Tanpa berkata, Adenia langsung memalingkan wajahnya. Niat hati ingin terbebas dari Adnan barang sejenak, pupus sudah. Kini kepalnya kembali pening akan keberadaan pria itu.
Bibi sendiri merasa tak enak hati dengan Adenia, jika tahu beliau di ikuti. Mungkin Bibi tak akan langsung kesini.
"Bu, Bibi udah bawa makanan untuk Ibu." Kata Bibi serba salah sekarang. Apalagi Adnan kini semakin mendekati Adenia.
"Taru saja di situ Bi, mungkin Ibu masih mau istirahat." Kata Adnan sembari dia mendekati ranjang Adenia.
Di usapnya lengan Ade, membuat wanita itu seketika memejamkan matanya. Sungguh dia menginginkan sentuhan Adnan namun dia membenci itu. Benci dengan dirinya yang masih saja menginginkan pria itu. Entahlah mungkin bawaan bayi yang selalu ingin di manja Adnan seperti sebelumnya. Dia masih ingin tidur di peluk pria itu, namun kekecewaannya terlalu besar mengalahkan keinginannya.
"Tolong, jangan menyentuhku." Kata Ade meski dia cukup berperan hebat dengan keinginannya sendiri. Mulutnya berkata tidak, namun ada sisi lainnya yang ingin sentuhan itu.
__ADS_1
Sementara Adnan, dia langsung menghentikan usapannya dan mengangkat tangannya, tak mau meneruskan jika Ade sendiri melarang itu.
"Maaf. Apa kau sudah makan, biar aku suapi." Kata Adnan melihat makanan yang nampak sedang Bibi siapkan. Pria itu kini tak lagi memanggil Adenia dengan sebutan sayang, sebab Adenia sendiri yang melarangnya.
"Biar Bibi saja Pak, Ibu tadi menginginkan Bibi yang menyuapi Ibu." Kata Bibi sedikit berbohong, beliau tahu Adenia pasti sangat stres sekarang akan kehadiran Adnan. Itu sebabnya beliau mengatakan hal itu.
"Sini Bi, aku lapar." Kata Ade membenarkan ucapan Bibi. Tanpa mau melihat wajah Adnan, Ade pun mendudukkan dirinya tanpa mau di bantu Adnan yang dia sanggah dengan mengangkat satu tangannya saat pria itu hendak membantunya.
Setelahnya Bibi menyuapi Adenia yang makannya kini begitu lahap, karena memang dia menginginkan masakan Bibi tadi.
Selain itu, sebenarnya Ade pingin makan dengan lahap karena konsennya hanya di makanannya dengan tak menganggap Adnan ada di hadapan matanya.
"Sehat-sehat yah kamu sayang, jaga Mommy mu baik-baik yah. Daddy sayang kalian." Batin Adnan sembari melihat perut sang istri, ingin sekali dia memeluk Adenia sekarang juga dan mengusap perut wanita itu sayang. Namun kini dia hanya bisa pasrah tak bisa lagi menyentuh wanita itu seperti dulu lagi meski itu masih haknya sampai saat ini.
Usai makan Adenia pun langsung memakan obatnya dan setelah itu dia pun lanjut beristirahat.
"Bi saya pamit, saya titip Ibu yah. Tolong di jaga dengan baik, dan kalau ada apa-apa tolong langsung hubungi saya. Jangan dengar perkataan Ibu, jika melarang untuk menghubungi saya Bi. Saya masih resmi suaminya, dan berhak atas dirinya." Jeda Adnan kemudian beralih menatap Adenia.
"Saya tahu, Ibu pasti sudah menceritakan semuanya untuk Bibi. Tapi yang harus Bibi tahu, tak ada seorang pun yang bisa menggantikan Ibu di hati saya. Tidak Nela sekalipun. Aku mencintai Ibu melebihi apapun, terlepas dari semua masalah yang ku buat. Ibu tetap prioritas ku." Pamit Adnan pada Bibi sembari melihat ke arah Adenia yang sedang tidur memunggunginya.
Dia tak tahu, Ade beneran sudah terlelap atau belum. Jika belum pun dia memang ingin Ade mendengar isi hatinya.
Bibi tak tahu harus menjawab apa, beliau bingung. Sebenarnya Bibi percaya Adnan begitu mencintai Adenia dari semua perlakuannya selama ini. Tak pernah sedikitpun Beliau mendengar Adnan berkata kasar atau membentak istrinya sekalipun dari awal perkawinan mereka hingga saat ini. Bahkan perlakuan Adnan pada Nela saja sangat jauh berbeda dengan Adenia.
Namun perselingkuhan tetaplah perselingkuhan, tak pernah akan dibenarkan secuil pun. Sekalipun itu adalah ketidak sengaja'an, tetap tak bisa di benarkan.
Selepas kepergian Adnan, Adenia langsung membalikkan tubuhnya tidur terlentang. Menatap langit kamar inapnya dengan sesekali mengusap perutnya sambil berkata.
"Apa benar Bi, Bapak mencintai saya?" Pertanyaan Adenia terlontar begitu saja, yah dia mendengar perkataan Adnan. Tadi dia hanya berpura-pura tidur agar tak melihat Adnan.
Entah Bibi lagi-lagi, tak tahu harus berkata Apa. Beliau bingung dengan jawaban apa yang hendak Beliau utarakan...
"Bu." Hanya satu kalimat panggilan yang Bibi ucapkan sakin bingungnya.
"Dia bohong Bi, Bapak bohong sama Bibi. Tak ada cinta yang mampu menyakiti rasa cinta itu Bi, dia menyakitiku. Dia menyakiti orang yang katanya dia cintai Bi. Dia pembohong." Kata Adenia sedih dan lagi-lagi air matanya kembali gugur.
Yah sesakit itu, yang dia rasakan. Hingga bila hanya mendengar nama Adnan saja, Air matanya mampu turun sendiri tanpa dia perintahkan.
"Bu, sabar. Kasihan dede bayi nya kalau Ibu sedih lagi." Kata Bibi sengaja Agar Adenia tak melanjutkan kesedihannya. Beliau sungguh tak tega melihat itu.
"Bibi benar." Kata Adenia sambil tersenyum penuh kepedihan. Wanita itu dengan segera menghapus air matanya dan tersenyum ke arah perutnya.
"Maafkan Mommy mu yang cengeng ini sayang." Kata Adenia membuat Bibi meneteskan air matanya namun dengan segera beliau menghapusnya.
"Tidur ya Bu." Kata Bibi dan di angguki Adenia.
Wanita itu langsung memejamkan matanya, dan langsung terlelap, meski masih tersisa tarikan tarikan nada menangisnya. Mungkin pengaruh obat yang dia konsumsi tadi membuatnya cepat terlelap.
__ADS_1
"Semoga Tuhan selalu memberikan ketabahan dan Jiwa yang besar untukmu Non. Kau wanita baik, Tuhan tak mungkin mengujimu jika kau tak mampu untuk itu." Kata Bibi sembari membetulkan selimut Adenia.
...****************...
Adnan selepas dari rumah sakit, dia langsung bergegas ke kediamannya setelah teringat akan Nela yang dia bentak tadi.
Setelah sampai, ruang pertama yang dia tuju adalah kamar Nela dan mendapati wanita itu sedang berada di kamar mandi. Alhasil, Adnan pun langsung merebahkan tubuhnya di ranjang Nela sampai dimana Nela keluar.
Adnan menatap Nela, yang seperti tak menghiraukan keberadaannya.
"Nela." Panggil Adnan namun Nela hanya melirik sekilas tanpa menjawab panggilan itu, dan lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju lemari pakaiannya.
Wanita itu, tanpa malu melepas baju mandinya memperlihatkan tubuh polosnya di hadapan Adnan sembari memakai **********.
"Maaf untuk yang tadi." Kata Adnan dan dia langsung beranjak mendekati Nela dan langsung memeluk wanita itu membuat Nela menghentikan aktifitasnya sembari menarik dan menghembuskan nafasnya pelan.
"Keadaan Ade bagaimana?" Ucap Nela pada akhirnya tanpa menghiraukan kalimat maaf Adnan yang nanti juga dia akan melakukan hal yang sama lagi.
"Baik, tapi dia masih tak mau berbicara denganku. Aku rindu Ade Nel, aku sangat merindukan dia. Dia sudah berubah sekarang, tak mau lagi aku menyentuhnya." Ucap Adnan tanpa memikirkan perasaan Nela, membuat wanita itu hanya bisa memejamkan matanya menahan sakit yang lagi-lagi Adnan torehkan.
"Kau merindukan Ade tapi kau menyentuhku Ad, ini sungguh menyiksaku." Lirih Nela membuat Adnan tersadar.
Pria itu merutuki mulutnya yang tak tau situasi.
Dibaliknya tubuh Adenia menghadapnya dan dengan lembut dia menghapus air mata Nela.
"Jangan menangis, maaf untuk perkataan ku tadi. Kau tahu kan, aku yang sudah terbiasa dengan Ade membuatku merasa aneh jika di cuekinya. Aku belum terbiasa sayang, tolong jangan marah yah." Kata Adnan mencoba membujuk Nela.
"Jangan menangis lagi, kasihan bayi kita kalau kau sedih begini." Adnan membawa Nela dalam pelukannya dengan begitu lembut membuat Nela yang memang hormonnya yang sedang naik-turun pun langsung menyambut pelukan hangat itu.
Adnan sejak tadi menahan keinginannya untuk menyentuh Nela pun akhirnya menjalankan aksinya. Keduanya pun berakhir di ranjang Nela yang sudah terbiasa dengan aktifitas mereka.
Sementara di luar rumah kini mobil Brian baru saja sampai dan di parkirkan pria itu. Brian yang sejak kemarin tak menginjakkan kakinya di rumah sang kakak karena kunjungan ke kota dimana Distro mereka yang baru kini sudah kembali pulang.
"Kemana semua orang." Batin Brian bertanya saat melihat kesunyian yang menyapanya saat memasuki kediaman sang kakak.
Dia yang tak mau ambil pusing pun, langsung berjalan semangat ke arah kamar Nela. Ada sedikit kejutan untuk wanita itu yang dia bawa dari hasil perjalanan satu harinya itu.
Saat melangkah mendekati kamar Nela, Brian sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar suara-suara yang tak asing dalam pendengarannya.
Dengan cepat Brian langsung membuka pintu kamar Nela yang memang tak terkunci itu membuatnya langsung tersentak kaget menyaksikan dua sejoli yang nampak tak bermoral.
"Kalian!!!!" Teriak Brian memburu...
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1