
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Brian yang baru membuka pintu kamar Nela dibuat terkejut. Bagaikan di tusuk beragam anak panah menusuk jantung serta otaknya secara bersamaan.
Pikirannya melayang ke arah sang kakak, sedihnya mungkin tak terhingga jika mengetahui ini. Dia yang melihat ini saja sakitnya sungguh luar biasa, apalagi sang kakak. Tak bisa dia bayangkan betapa hancur dan rapuhnya wanita itu nantinya jika tahu kelakuan suaminya di belakang dia.
Pikirannya bercabang kemana mana, hingga membuat amarahnya tak bisa lagi di bendung.
"Kalian." Teriak Brian penuh amarah.
"B*jingan br*ngsek kamu Adnan." Tak ada lagi rasa hormat untuk pria itu, untuk pertama kalinya dia menyebut kasar nama pria itu sekarang.
Dengan cepat pria itu berlari dan menghantam bertubi tubi wajah dan tubuh Adnan yang hendak berpakaian. Sementara Nela, wanita itu bergetar hebat sampai hanya bisa menutup diri dengan selimut dan menyaksikan sisi lain dari Brian.
Pria yang dia kenal lembut serta humoris itu kini bagaikan neraka yang hendak menelan Adnan hidup-hidup. Sungguh mengerikan pria itu sekarang.
"Dasar pria m*njijikan, pria s*mpah. Istri sedang hamil bisa-bisanya kau melakukan ini padanya. Kemana hati nurani mu hah!!!!!!! Jika kau bosan dengan Mba Ade ku, ceraikan saja dia. Tapi kenapa kau lakukan ini hah, kau akan m**i di tanganku pria si*lan. A****g kau Adnan." Teriak Brian sembari terus melayangkan pukulan-pukulan pada Adnan yang tak membalasnya sedikitpun. Dia melampiaskan semua emosinya dalam setiap pukul*nnya pada pria itu.
Adnan merasa pantas untuk menerima hal itu dari Brian, itu sebabnya dia tak berkata atau membalas perlakuan Brian terhadapnya. Dia menerimanya sepenuhnya.
"Brian hentikan, kau bisa memb*nuhnya." Teriak Nela histeris saat melihat Adnan sudah tak berdaya berlumur d***h. Dia tak ingin kehilangan Ayah dari janin yang dia kandung saat ini, itu sebabnya dia membuka suaranya meski tak menatap Brian karena cukup malu dengan pria itu.
Brian seakan menulikan pendengarannya, dia terus melampiaskan kemarahannya untuk pria tak berperasaan itu.
Sementara Nela yang sudah tak sanggup lagi melihat ketidak berdayanya Adnan pun langsung bersimpuh di kaki Brian, meminta ampun untuk dirinya juga Adnan.
"Don't touch me, *****!!!!!!" Sarkas Brian sambil menend*ng kasar Nela agar terlepas dari kakinya.
__ADS_1
Nela hanya bisa menangis mendengar kata kasar Brian terhadapnya. Beruntung dia saat ini mengenakan selimut besar, hingga saat terdorong dia tak terlalu merasakan sakit berlebih.
"Kalian berdua benar-benar cocok, sama sama samp*h menj*jikan." Emosi Brian
Brian menatap jijik pada Nela yang hanya menggunakan selimut demi menutupi tubuh murah*nnya. Sungguh benar benar jal*ng sejati pikir Brian menatap Nela mual.
Dia tak menyangka wanita yang sudah setengah berhasil mengusik hatinya itu berbuat senekat itu dengan Adnan yang jelas jelas suami dari sahabatnya sendiri.
Persahabatan macam apa yang kakaknya bangung hingga bisa-bisanya wanita itu di tipu habis-habisan dari manusia yang dia berikan predikat sahabat selama ini.
"Men-ji-jik-kan!!!" Kata Brian menekan katanya sembari menatap jijik pada dua orang yang nampak tak berdaya terduduk di lantai kamar penuh dosa itu.
Usai mengatakan itu Brian langsung bergegas keluar dan membanting kasar pintu kamar Nela. Kamar yang sudah sangat berlumur dosa itu.
Dia bersumpah akan membuat dua orang itu membayar mahal sakit yang merekah torehkan untuk sang kakak juga dirinya sendiri.
Dia menyesal pernah menyentuh Nela yang entah sudah berapa kali di pakai Adnan. Benar-benar merasa di tipu habis habisan dengan wanita pengg*da itu.
Melangkah lebar, Brian langsung kembali keluar dari rumah itu sembari mencoba menghubungi Adenia.
"Hay Dek, kenapa? Kau sudah balik?"
"Sudah. Mba dimana? Apa di butik?" Tanya Brian sebab dia tak melihat mobil sang kakak terparkir di garasi rumah itu.
"Mmm, Mba lagi di rumah sakit. Kondisi Mba drop, tapi udah mendingan kok sekarang. Mungkin besok sudah bisa pulang." Terdengar ucapan ragu-ragu dari Adenia di seberang sana.
Hati Brian sakit mendengarnya, bisa-bisanya sang kakak sedang di rawat, sementara suaminya malah sedang merasakan tubuh wanita lain. Air matanya pun tak bisa dia tahan, terjatuh deras membuatnya sebisa mungkin mengontrol diri agar sang kakak tak curiga dengan keadaannya saat ini.
"Ya sudah Mba istirahat yah, Brian akan ke sana. Lekas kirim lokasinya yah." Ucap Brian dan di iyakan sang kakak.
Keduanya pun sama-sama mengakhiri panggilan itu dengan perasaan sedih yang sama.
Adenia di sebrang sana juga menangis, ingin sekali mengadu pada sang Adik namun dia terlalu takut Brian akan berbuat nekat. Itu sebabnya dia menahan diri untuk tak mencurahkan semua masalahnya pada adik sekaligus keluarga satu-satunya itu.
"Oh Tuhan kenapa kau uji rumah tangga kakakku, apa yang harus aku katakan padanya Tuhan. Ini terlalu sakit untuknya." Tangis sedih Brian memikirkan tentang sang kakak, dia bingung harus mengatakan hal yang baru dia saksikan tadi atau tidak.
__ADS_1
Di sisi lain dia ingin mengatakan itu, dan satu sisi lainnya takut jika sang kakak tahu itu akan berpengaruh buruk pada kesehatan sang kakak apalagi dengan kondisi kehamilan wanita itu.
Brian meraup kasar rambut serta wajahnya, marah dengan keadaan saat ini. Pria itu bahkan kini melampiaskan amarahnya dengan menendang dan memukul dinding yang tadi dia pakai untuk bersandar saat menghubungi sang kakak.
Puas dengan segala emosinya, Brian pun langsung beranjak menuju mobilnya. Menjalankan mobil itu ke arah alamat rumah sakit yang baru saja di kirim Adenia di ponselnya.
Sepanjang perjalanan, Brian berkutat dengan bayangan Adnan serta Nela yang tadi di lihatnya. Sungguh dia ingin sekali, menghapus ingatannya tentang kejadian tadi jika bisa. Bayang dua tubuh polos keduanya seakan terus menari dalam penglihatannya.
"A****g kalian." Maki Brian kesal sembari memukul-mukul stir mobil miliknya berulang kali.
Pikirannya sungguh kacau saat ini, alhasil Brian pun akhirnya menepikan mobilnya di bahu jalan demi untuk menenangkan dirinya.
...****************...
Selepas kepergian Brian, Nela dengan segera berpakaian dan langsung membantu Adnan dan di bawanya pria itu ke ranjang miliknya dengan tangis yang terus menemani.
"Tunggu sebentar Adn." Kata Nela sesenggukan, setelahnya dia pun keluar kamar menuju dapur.
Wanita itu mengambil air hangat untuk mengompres luka Adnan yang di buat Brian tadi. Buru buru dia kembali ke kamar dan kemudian kembali keluar lagi untuk mengambil kotak kesehatan yang pernah dia lihat di area dapur dan kemudian kembali lagi ke kamarnya.
Adnan nampak hanya memejamkan matanya dan sesekali meringis karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Sementara Nela, wanita itu dengan telaten menangani luka-luka Adnan.
"Kita ke rumah sakit ya Adn. Ini terlalu parah." Kata Nela tak sanggup melihat keparahan Adnan saat ini.
Pria itu menggelengkan kepalanya. Jika dia ke rumah sakit sekarang tentu masalahnya akan semakin panjang tentunya dan dia tak mau itu sampai terjadi. Adnan menerima keadaannya saat ini. Sebab dia patut mendapatkannya dari Brian.
"Ad, jawab aku."
"Ambil ponselku dan hubungi saja dokter keluagaku, dia yang akan mengurusku." Kata Adnan tanpa membuka matanya.
Nela pun akhirnya mengikuti perintah Adnan dengan segera. Tubuh wanita itu kini nampak bergetar hebat, namun dia abaikan demi keadaan Adnan saat ini.
...****************...
__ADS_1
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...