My Fault Too

My Fault Too
Rumit


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


Seminggu sudah dari hari pernikahan Adnan dan Nela.


Semua berjalan seperti biasanya, hanya saja Adnan kali ini menjaga jarak dengan Nela. Tak sedikitpun dia menyambangi kamar tidur Nela biar sekali, mulai dari hari pernikahan itu terjadi hanya demi menjaga perasaan Adenia yang mulai membaik dengannya. ..


Pria itu tetap tidur di kamar tamu yang dia tempati, karena sampai sekarang pun Adenia tak mengijinkan dia tidur bersamanya hanya saja dia lebih di beri kesempatan masuk ke kamar istrinya itu kapanpun dia mau.


Seperti sekaran ini, pagi sekali Adnan sudah mengunjungi Ade di kamar mereka itu..


"Sayang, aku masuk yah." Sekali mengetuk dan langsung membuka pintu kamar Adenia, Adnan masuk tanpa mendengar kata izin dari Adenia seperti biasanya seminggu belakangan ini.


Adenia yang nampak terusik pun mengerjapkan mata dan langsung melirik jam besar yang ada di kamar itu.


Kini jam baru menunjukkan pukul lima pagi, tapi suaminya itu sudah datang menyambanginya seperti biasa. Hanya saja pagi ini terlalu awal menurutnya.


"Selamat pagi sayang." Sapa Adnan sembari membaringkan dirinya di sebelah Adenia yang nampak belum mau bangun meski matanya sudah terbuka.


"Hmmm." Hanya gumaman yang Ade lontarkan beserta wanita itu menarik tangan Adnan untuk menyentuh perutnya.


Sebenarnya Adenia tak bisa tidur semalaman karena menginginkan tidur di pelukan sang suami. Namun dia terlalu gengsi jika harus meminta itu. Hormon hamilnya akhir-akhir ini sering sekali membuatnya ingin terus bersama Adnan, namun dia mencoba membatasinya.


"Elus Daddy." Pinta Adenia tanpa sadar mengucapkan itu, itu membuat Adnan teramat bahagia. Lagi-lagi dia mendapatkan keberuntungan mendadak seperti ini, jarang Ade lakukannya semenjak hari itu.


Tanpa kata Adnan langsung mengelus sayang perut Adenia yang sudah kembali memejamkan matanya menikmati apa yang dia inginkan sejak malam tadi.


Adnan tanpa sadar meneteskan air matanya, menyesali semuanya. Jika tak ada kejadian itu, mungkin saja dia akan melakukan hal ini setiap saat tanpa di minta sang istri sekalipun. Namun kini nasi sudah menjadi bubur, di paksa untuk menjadi nasi pun sangat mustahil. Yang hanya bisa dia lakukan sekarang adalah sebisa mungkin menjaga apa yang sudah dia dapatkan kini, meski tak sebebas dulu dalam menyentuh Adenia namun nikmatnya setara.


Terlalu larut dalam tangis bahagian nya, Adnan pun tertidur pulas di sebelah Adenia yang sudah tertidur duluan akibat usapan nyaman sang suami.


Hingga sampai ketokan di kamar mereka membangunkan kedua pasangan yang masih resmi berstatus suami istri itu.


"Ummm." Gumam Adenia merasa terganggu dengan tidurnya yang belum puas.


"Sayang, tidur saja lagi. Biar Mas yang Buka." Kata Adnan dan langsung bangkit dan menuju pintu kamar untuk membukanya.


"Eh Pak, selamat pagi." Kaget Bibi saat Adnan membuka pintu.


"Pagi Bibi, ada apa?" Tanya Adnan sembari merenggangkan otot-otot tangannya.


"Sarapan udah siap Pak, waktunya sarapan."

__ADS_1


"Baiklah, makasih ya Bibi. Saya bangunkan Ibu dulu, masih tidur soalnya." Kata Adnan dan di iyakan Bibi baru setelahnya Bibi pamit pergi dengan banyak pikiran di benaknya.


"Sayang, Mommy ayo bangun. Sarapannya udah siap tuh di bawah." kata Adnan sembari menarik selimut Adenia dan melipatnya. Namun, wanita itu nampak tak mau membuka matanya sakin tidurnya terasa tak puas.


Adnan pun pasrah dan kembali merebahkan tubuhnya di sebelah Adenia. Dipeluknya wanita itu sayang, sembari menghirup aroma yang teramat dia sukai itu. Merasa tak ada penolakan dari Adenia, Adnan pun sedikit memberanikan dirinya membenamkan wajahnya di are kesukaannya tepatnya di ceruk leher Adenia.


Terus tak mendapat penolakan, Adnan pun berbuat lebih. Merasakan, dan menikmati leher sang istri sepuasnya sebisa dia menggapai daerah itu. Sepuasnya dia menyalurkan rasa rindunya di sana hingga meninggalkan beberapa tanda sayangnya di leher putih mulusnya sang istri.


Adenia sudah hendak mendorong Adnan sejak tadi, tapi dia terlalu lemah. Lemah karena dia pun merindukan pria itu, mungkin juga pengaruh horman kehamilannya yang naik turun hingga dia tak bisa menolaknya.


Adenia merindukan semua sentuhan yang sudah biasa dia terima dari Adnan dan sudah menjadi candunya itu. Hingga beberapa saat, saat Adnan hendak menurunkan aktifitasnya ke area depan dada Adenia. Wanita itu pun tersadar dan mendorong pelan Adnan sebagai tanda penolakan akan kesadarannya.


"Aku lapar Mas, maaf. Kalau mau lanjut sama Nela saja. Aku belum siap." Kata Adenia tanpa melihat Adnan yang nampak membenamkan wajahnya di bantal dan dia langsung berlalu ke kamar mandi.


"Hahhhhh, aku merindukan mu De." Lirih Adnan sembari mengusap air matanya. Pria itu langsung berlalu ke luar menuju kamarnya karena sedikit tersiksa dengan penolakan Adenia tadi.


Sementara Adenia yang berada di dalam kamar mandi hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang ternyata masih lemah dengan sentuhan memabukkan Adnan padanya itu. Dia tak munafik tadi sempat terbuai dengan perlakuan Adnan, namun akal sehatnya menyadarkan dirinya dari kecerobohan yang dia lakukan tadi meski memang Adnan masih berhak atas dirinya.


"Kenapa kau selemah ini Ade, lihatlah dirimu apa yang kamu lakukan." Ucap Adenia pada dirinya sendiri saat melihat banyak tanda yang Adnan ciptakan di lehernya itu.


Sesaat Adenia melihat dirinya sendiri di cermin itu dan selanjutnya dia pun menutup matanya dan berbalik melanjutkan dirinya untuk bebersih.


...****************...


Di ruang makan Brian nampak sudah duduk manis menempati tempat yang biasanya dia duduki.


Menanti para penghuni rumah yang entah kenapa belum juga terlihat batang hidungnya. Sampai dimana dia melihat Adnan yang berjalan ke arahnya.


Tak berselang lama, saat Adnan duduk tanpa saling sapa dengan Brian. Nela pun menghampiri mereka, dan tak ada sapaan juga dari wanita itu. Semuanya nampak diam, wanita itu duduk bersebelahan dengan Brian seperti biasa dan bersebelahan juga dengan Adnan yang duduk di kursi utama di meja makan itu.


Terbersit ide gila dari Brian tatkala melihat Nela yang hanya memakai celana kurang bahan yang hanya mampu menutupi aset berharganya saja itu seperti biasanya wanita itu selalu seksi setiap saat.


Diulurkan tangannya ke arah paha terbuka Nela dan meremasnya kuat membuat Nela kaget bukan main, namun sebisa mungkin menahan keterkejutannya itu. Tangannya pun terulur untuk menepis tangan Brian namun tenaga tangan pria itu terlalu besar dari tenaganya membuat Nela hanya bisa menarik nafasnya pasrah.


"Kenapa Nel?" Tanya Adnan ketika mendengar helaan nafas sang istri.


"Emmm nggak Ad." Seru Nela sembari menyandarkan tubuhnya ke arah meja makan agar aktifitas Brian tak di lihat Adnan suaminya.


Brian hanya bisa tersenyum puas, dan terus menggerayangi tubuh bagian bawah wanita yang sudah sering dia nikmati itu.


Tak berselang lama Adenia datang dengan rambut terikat rapi dengan baju dress selututnya nampak melekat cantik di tubuh bak modelnya itu.


"Selamat pagi semua." Sapa Adenia sembari menduduki dirinya di kursinya.


"Eits Mba kenapa itu leher?" Tanya Brian memicingkan matanya namun tangannya bekerja membuat Nela sudah nampak keringat dingin di sebelahnya.


Ade hanya mengisyaratkan matanya pada Adnan, namun bibir manisnya seolah berbeda dengan tatapan yang dia berikan pada sang Adik.


"Mba punya suami Bri, kalau kamu lupa." Ketus Adenia sembari menyiapkan makanan untuk Adnan.

__ADS_1


"Makasih sayang." Adnan menerima Piring dari tangan Adenia.


Nela mengangkat pandangannya dan menatap ke arah leher Adenia yang di maksud Brian. Harusnya tak sesakit ini, karena Adenia masih sah istri dari Adnan. Jadi sah sah saja mereka melakukannya.


"Nggak jijik Mba?" Sindir Brian namun tak di tanggapi sang kakak dan Brian hanya tersenyum miring.


Adnan sekarang seolah menulikan pendengarannya dari semua sindiran-sindiran atau kata-kata kasar yang Brian lontarkan untuknya. Dia sudah berdamai dengan itu.


"Ah.." Kelepasan Nela menanggapi perlakuan Brian yang sudah melebihi batas. Sementara Brian nampak tersenyum mengejek.


"Kamu kenapa?" Tanya Adenia dan Adnan bersamaan melihat wajah pucat dan berkeringatnya Nela.


"Aku.. aku... Perutku sakit." Kata Nela terbata sembari menarik paksa tangan Brian dan ketika terlepas dengan cepat dia berdiri dan berlalu ke kamarnya begitu saja.


"Setelah makan tolong cek keadaan Nela, takutnya dia kenapa-kenapa Mas." Kata Adenia tulus pada Adnan, dia sendiri khawatir dengan keadaan Nela.


"Yah kalau kamu mengijinkan sayang." Ucap Adnan seolah lupa dulu dia jika mau menemui Nela tak butuh ijin dari Adenia.


"Ck, dia juga istrimu sekarang Mas." Ketus Adenia muak dengan pertanyaan Adnan.


"Hahahhahaha. Dramanya ckckck." Tawa mengejek Brian dan berlalu dari ruangan itu, Sarapan pagi itu pun kembali tak berjalan mulus sekarang.


Brian berjalan cepat ke arah kamar Nela dan masuk begitu saja dan mengunci kamar itu setelahnya. Nela yang sedang menangis langsung terkejut dengan keberadaan Brian di hadapannya sekarang.


"Mau apa kamu ke sini?" Tanya Nela lirih namun tak mengusir pria itu.


"Melanjutkan yang tadi." Brian mendekat dan langsung menangkup tubuh Nela membuat wanita itu memberontak.


"Ada apa denganmu, Biasanya kamu selalu menerima perlakuanku. Apa karena statusmu sekarang?" Kata Brian sembari menatap tajam Nela setelah berhasil mengunci pergerakan tubuh wanita itu.


"Bri, aku... aku.." Jawab terbata Nela seakan terhipnotis dengan wajah Brian yang kini sedang berada di atas tubuhnya itu. Pria itu seolah berlipat kali tampan dari biasanya sekarang, atau mungkin perasaannya saja.


"Apa?" Tanya Brian namun Nela tak kunjung membuka suaranya membuat Brian tersenyum mengejek, dan selanjutnya tubuh Nela pun dia kuasai seperti biasanya.


Entahlah mungkin dia gila atau apalah, namun jujur dia merindukan tubuh wanita yang sudah dia katai menjijikkan itu. Sebenarnya, bukan hanya alasan dia membenci Adnan karena telah menghianati sang kakak. Namun juga karena pria itu berani berselingkuh dengan wanita yang sudah berhasil masuk dan bertahta dalam hatinya, menyamakan kedudukannya sama besar dengan orang istimewa yang sudah lebih dulu menguasai seluruh hatinya namun Nela berhasil mengambil dan mengisi separuhnya.


Jujur, semenjak merasakan tubuh Nela. Brian tak lagi mencicipi tubuh sang pacar atau Beca lagi. Dia bahkan sudah menyudahi hubungannya dengan kedua orang itu demi Nela, wanita yang sudah berhasil mencuri perhatiannya.


Sementara Nela entah kenapa menerima semua yang Brian lakukan tanpa penolakan lagi, seakan dia merasakan hal aneh dalam dirinya. Dia menyukai ini, menyukai Brian kembali menyentuhnya.


Saat sedang asik merasakan kebersamaan mereka kembali, ketukan di pintu kamar Nela membuat Brian dan Nela saling tatap dan menghentikan aktifitas mereka.


"Nel, Nela. Buka pintunya, kenapa di kunci? Apa kamu baik-baik saja?" Terdengar suara panik Adnan di luar sana.


"Katakan kau baik-baik saja sayang." Ucap Brian membuat Nela menganggukkan kepalanya.


"Yah, aku baik-baik saja Adn. Aku hanya pingin istirahat." Ucap Nela membuat Brian tersenyum puas.


"Gadis pintar." Brian mengusap sayang kepala Nela yang berada dalam kuasanya itu.

__ADS_1


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...


__ADS_2