
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Pagi menjelang, setelah kejadian semalam. Adenia bangun lebih Awal sebab dia sedikit tak nyaman karena seranjang kembali dengan sang suami yang ngotot ingin bersama Eijaz malam tadi. Akhirnya mau tak mau, Adenia pun pasrah saja karena dia pun tak bisa tidur jauh dari sang putra.
Entah kenapa, ada perasaan aneh saja ketika saat menyusui sang putra di perhatikan Adnan. Perasaan risih itu datang begitu saja, hingga seperti ada rasa tak rela ketika Adnan melihat area pribadinya yang dulu bahkan sering pria itu rasakan namun kini ada yang lain. Dan demi kedamaian, Adenia pasrah saja dari pada Adnan berulah kembali.
"Sayangnya Mommy kok udah bangun sih, lapar yah?" Kata Adenia ketika keluar kamar mandi sang putra sudah menangis.
"Pagi Mommy, pagi jagoan Daddy." Ucap Adnan sembari mencium pipi Eijaz yang nampak sedang di beri asih oleh Adenia.
"Mas belum pulang?" Ucap Adenia sembari sedikit menutupi bagian dadanya yang terekspos sempurna di tatap Adnan sang suami.
"Mimi yang banyak yah sayangnya Daddy, Daddy mau mandi sebentar." Ucap Adnan seolah tuli dengan pertanyaan yang terkesan mengusir dari Adenia itu.
Pria itu setelah mengecup pipi Eijaz, langsung beranjak ke kamar mandi. Tanpa peduli hembusan nafas sang istri. Adnan tahu, Ade sudah risih akan kehadiarannya namun dia tak peduli. Yang dia tahu, Adenia masih istri sahnya untuk itu dia masih berhak atas rumah itu bahkan tubuh Ade sekalipun.
Adenia pun langsung meletakan sang putra yang sudah tertidur setelah berlalunya Adnan, wanita pun langsung menyambar ponselnya dan keluar kamar.
.
.
.
"Terima kasih." Ucap Adenia mengakhiri obrolannya..
"Mommy, ngomong sama siapa?" Tanya Adnan datang bersama Eijaz mengagetkan Adenia yang baru usai menerima telfon.
__ADS_1
"Kau belum pulang Mas?" Kata Adenia sembari berjalan mau mengambil Eijaz dari sang suami.
"Mas masih mau menggendong Eijaz dulu." Ucap Adnan menolak uluran tangan Adenia yang hendak mengambil sang putra dari tangannya.
"Oh iya Mas, jangan lupa tanda tangani berkas perceraian kita."
"Jangan mimpi sayang, itu nggak akan terjadi." Kata Adnan santai, seolah kata-katanya itu adalah hal biasa.
"Baiklah, terserah Mas saja. Dengan atau tanpa tanda tangan itu perceraian kita akan tetap terjadi. Dan yah, setelah ini tolong sebisa mungkin jangan terlalu atau sering datang kesini. Sebab, itu sangat mengganggu ku." Ucap Adenia tanpa perasaan membuat Adnan mengepal kuat satu tangannya yang bebas menggendong Eijaz, karena usai mengatakan itu Adenia langsung meninggalkan mereka.
"Teruslah membuatku marah Ade, kau akan melihat siapa aku dimana kesabaranku tak lagi bisa ku kontrol." Batin Adnan melihat kepergian Adenia.
Sementara di tempat lain, tepatnya di kediaman Brian. Pria itu nampak berulang kali berjalan ke sana kemari setelah tadi menghubungi Air, malah suara pria yang langsung membuat darahnya mendidih.
"Aku tak akan memaafkan mu Air, jika seinci saja kulitmu di nikmati pria lain." Ucap kesal Brian. Pikirannya sudah berkelana ke sana kemari mendengar suara pria di ujung telfon tadi. Padahal waktu masih pagi hari, namun kenapa bisa dia bersama pria apalagi pria itu yang mengangkat panggilannya menambah pula panas perasaannya.
"Bri." Ucap Nela sembari memeluk pria itu dari belakang, membuat Brian terkejut seketika dengan kehadiran Nela.
"Kau membuatku kaget Nel." Ucap Brian sembari membalikan tubuhnya dan mengambil alih pelukan Nela.
"Hehehe, makanya jangan terlalu serius ke sana kemari. Sedang pikir apa sih?"
"Apa boleh?"
"Tentu." Ucap Brian sembari mencubit kecil hidung Nela, dan setelahnya mereka pun pergi menuju Distro namun sebelum itu keduanya sempatkan untuk singgah.
"Sayang, kamu duluan." Ucap Brian ketika melihat mobil Air baru memasuki parkiran saat keduanya hendak melangkah masuk di gedung Distro.
"Jangan lama Bri, aku nggak enak sama sahabat-sahabat kamu." Kata Nela, sebenarnya dia ingin menolak ucapan Brian namun menolak pun dia tak ada kuasa itu sebab Brian terlalu banyak menolongnya.
"Iya nggak lama kok. Masuklah." Kata Brian dan langsung di turuti wanita itu. Setelah kepergian Nela, Brian langsung bergegas Mendekati Air yang baru saja turun dari mobil wanita itu.
"Ikut aku." Tanpa basa basi, Brian langsung menarik tangan Air ke arah mobilnya dan memaksa wanita itu masuk dengan paksaan.
"Brian."
__ADS_1
"Ikut dan jangan membantah, kau tahu aku seperti apa Air." Kata Brian membuat Air tak berkutik, apalagi dia melihat tak ada wajah baik Brian sedikitpun saat mengatakan hal itu.
Air pun dengan terpaksa mengikuti Brian saat pria itu berjalan menuntunnya ke arah mobil.
"Kita mau kemana?" Tanya Air setelah masuk dan duduk di sebelah Brian yang nampak menunjukkan wajah tak bersahabat nya.
"Apartemen kita." Ucap Brian dingin membuat Air tak lagi bersuara.
Dia tahu pria itu sedang marah sekarang padanya, namun tentang apa dia tak tahu itu.
Selama perjalanan menuju apartemen yang katanya apartemen kita itu hanya ada kesunyian yang menemani. Brian tetap dengan sikap dinginnya sementara Air dengan segala pemikirannya tentang sikap dingin Brian kepadanya sekarang.
Sudah lama sekali pria itu tak bersikap seperti ini padanya, bahkan terkesan sangat cuek setelah masalah mereka beberapa bulan lalu.
"Turun." Kata Brian untuk ke sekian kali sebab Air nampak tak menyadari mobil Brian yang sudah terparkir di parkiran yang memeng milik pribadi setiap penghuni apartemen.
"Ha iya udah nyampe yah." Kikuk Air saat tersadar Brian nampak menatap lekat dirinya dengan pintu mobil yang sudah di buka lebar pria itu..
Tak menjawab pertanyaan Air, Brian langsung melangkah terlebih dahulu dan langsung di ikuti Air di belakangnya.
"Bri sebenarnya ada apa kau mengajakku ke sini." Tanya Air memberanikan diri setelah mereka tiba di dalam Apartemen yang sudah cukup lama dia tak kunjungi itu.
Namun melihat dari kerapian di dalam sana, dia yakin Brian selalu datang di tempat ini.
"Apa dia sudah menyentuhmu Ai." Kata Brian lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Air.
"Apa maksudmu?" Tanya Air yang pura-pura tak paham ucapan Brian.
"Aku yakin kau tahu maksudku Ai, aku tanya sekali lagi apa dia menyentuhmu. Sudah cukup aku membiarkanmu berbuat sesukamu beberapa bulan ini." Kata Brian sembari mengikis jarak antara dirinya dan Air.
"Kalau pun iya apa urusanmu, kau saja bahkan sudah menyentuh beberapa wanita." Ucap Air membuat Brian mengeraskan rahangnya.
"Aku akan membunuhnya jika benar dia menyentuhmu." Marah Brian tak tahu diri.
Maaf untuk tidak Up beberapa hari ini, Ibuku baru meninggal kemarin jadi masih tahap berduka. Mohon di maklumi.
__ADS_1
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...