My Fault Too

My Fault Too
Brian


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


Mendengar keluh kesahnya Nela, Adnan hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan setelahnya dia langsung mendekati Nela dan mencium rakus wanita itu. Sementara Nela yang mendapat serangan mendadak Adnan hanya bisa pasrah dan menangis sejadi-jadinya membuat Adnan mau tak mau melepas dan langsung memeluk Nela posesif sembari membenamkan wajahnya di tengkuk wanita itu.


"Maafkan aku, maaf aku hanya tak suka kau dekat dengan pria lain dan kau mempertontonkan tubuhmu untuk dilihat pria lain selain diriku Nela. Aku cemburu, mengertilah." Ucap Adnan jujur, karena itulah yang dia rasakan.


"Tapi kau meny@kitiku Ad, kau meny@kitiku dengan perkataan serta tindakanmu Ad." Lirih Nela dengan tangis yang belum juga redah.


"Iya aku tahu, aku salah. Maafkan aku, maaf aku minta maaf. Tapi kumohon jangan berpakaian seperti itu lagi, aku nggak suka." Kata Adnan namun tak di jawab Nela.


"Sayang, aku sayang sama kamu. Aku cemburu. Kau mengerti kan posisiku, aku minta maaf atas kata kataku yang sudah menyakitimu Maafkan aku sayang." Lanjut Adnan lagi, sambil mengusap usap sayang punggung Nela.


"Apa kau tak pikir Ad, aku juga cemburu kau bermesraan dengan Ade di depanku. Tak bisakah kau memikirkan sedikit saja perasaanku. Lakukanlah sesukamu di belakangku, tapi tolong jangan mempertontonkan itu di hadapanku Ad. Aku nggak bisa, aku sakit melihatnya Ad. Tolong mengertilah." Lirih Nela dengan suara terputus terputusnya.


"Nel, Dia istriku..."


"Yah aku tahu dia istrimu, dan aku hanya selingkuhan mu. Aku tahu itu, tapi aku hanya manusia biasa Ad punya rasa cemburu yang nggak bisa aku atur kadarnya Ad. Mengertilah, sedikit saja. Aku tak melarang kalian bermesraan, tapi tolong. Tidak di depanku." Ucap Nela menyela cepat ucapan Adnan.


"Baiklah, maafkan aku." Ucap Adnan sembari mengecup kepala Nela sayang.


"Aku janji tak akan lagi membuatmu cemburu sayang, dan kau juga harus janji yah jangan membuatku kesal lagi." Kata Adnan pada akhirnya dia menuruti keinginan Nela. Dan wanita itu hanya mengangguk patu pada Adnan tanda dia juga akan menuruti perintah wanita itu.


Nela pun langsung merenggangkan pelukan mereka dan membingkai sayang wajah Adnan, mendekatkan wajah mereka hingga berakhir dengan saling memberi rasa dalam sebuah ciuman yang akhirnya membuat mereka lupa permasalahan di antara keduanya.


"Jangan sekarang Nel, sebentar lagi kita makan malam. Kamu istirahatlah." Ucap Adnan ketika Nela hendak membuka pakaiannya.


Dengan kecewa Nela pun akhirnya melepaskan tangannya pada baju Adnan dan langsung beranjak membaringkan tubuhnya di ranjang dengan membelakangi Adnan.


Adnan yang melihat itu langsung mendekati Nela dan mengusap bahu Nela lembut.


"Nanti malam sayang, aku janji." Kata Adnan berhasil membuat Nela merubah posisinya menghadapnya.


"Janji."


"Iya sayang, aku janji." Kata Adnan membuat Nela memeluknya erat.


"Baiklah, aku pergi yah. Mau istirahat sebentar, dan kamu juga istirahatlah biar nanti malam segar." Ucap Adnan dan Nela hanya mengangguk paham sembari tersenyum manis pada pria itu.


Setelahnya Adnan pun keluar dan kembali ke kamar tidurnya bersama Adenia.

__ADS_1


"Aku tahu aku b0doh Ad, tapi kau terlanjur membuatku tak bisa meninggalkanmu meski aku ingin." Kata Nela menatap pintu kamarnya yang baru saja tertutup oleh tarikan tangan Adnan.


...****************...


Malam menjelang kini semua penghuni rumah masing-masing berjalan keluar kamar usai di panggil Bibi Imas ke kamar mereka masing-masing.


Seperti biasa Adnan dan Adenia selalu berpapasan dengan Nela. Dan selanjutnya akan jalan bersama menuju ruang makan.


Sesampainya di sana mereka sudah mendapati Makanan yang tersaji di atas meja, namun kali ini berbeda. Ada seseorang yang keluar dari arah dapur membawa empat nampan berisikan empat mangkuk, berjalan penuh senyum ke arah meja membuat mata Adenia menyipit.


"Ada apa ini?" Tanya wanita itu bingung melihat sang adik nampak seperti seorang ceff bercelemek punya Bibi imas, dia mengenali itu..


"Tara, aku membuatkan bubur kacang hijau buat makanan pembuka kita. Jangan dulu komentar, tapi coba dulu. Aku sedang ingin memasak tadi dan ini hasilnya." Kata Brian kemudian di timpal Bibi dari arah belakang punggung Brian.


"Yah dan Den Brian berhasil mengacaukan kawasan pribadi Bibi se h@ncur-h@ncurnya." Kata Bibi sembari membawa empat air putih di nampang miliknya.


"Semoga rasanya tak mengecewakan seperti aku yang hancur melihat dapurku b@bak belur. Dan selamat menikmati, Bibi permisi." Ucap Bibi dengan lirikan tajamnya melihat ke arah Brian sebelum akhirnya meninggalkan semua orang di ruangan itu.


"Buuuuff Hhahahahahah...." Akhirnya semua orang pun tertawa keras setelah habis mempersilahkan Bibi dan Brian berbicara sejak tadi yang sudah membuat kening mereka berekspresi sepanjang mendengarkan itu.


"Berhentilah mengejekku dan cobalah dulu baru kalian melanjutkan tawa yang aku yakin akan berubah menjadi pujian." Kata Brian sembari menaruh mangkuk di setiap tempat pemilik kursi di meja makan itu termasuk untuk dirinya sendiri.


"Ouww semoga saja, dan yah mari makan semua." Kata Adenia dan akhirnya mereka pun makan bersama.


"Dalam rangka apa Dek, tumben kau bersusah paya masak. Aku pikir ini bukan ide yang buruk, tanganmu sungguh memiliki keajaiban. Ataukah ini bubur yang kau pesan di restoran depan jalan sana. Kenapa rasanya tak mengecewakan seperti yang aku bayangkan." Kata Adenia setelah menyuapi dua sendok bubur buatan Brian dalam mulutnya. Dan waw, dia menyukainya.


"Ya ini sungguh enak, dan kakak rasa ini pasti bukan yang pertama kamu buat bukan.?" Kata Adnan menyelidiki.


"Yah, benar kata Mas Adnan."


"Ini bubur kesekian yang aku buat. Harusnya hanya boleh di nikmati oleh satu orang di muka bumi ini saja, sayangnya dia lagi membuatku kecewa. Itu sebabnya aku membuat ini untuk kalian, biar wanita itu tak merasa seistimewa itu bisa menikmatinya sendiri bubur spesial ini." Kata Brian yang tanpa sengaja sudah mencurahkan isi hatinya.


"Kau sedang galau? dengan siapa? pacarmu? atau Beca selingkuhan mu itu?" Tanya beruntun Adenia sementara Nela dan Adnan nampak menatap Brian lekat seolah menunggu jawaban pria itu atas pertanyaan Adenia.


"Hahaha, lupakan. Bukan siapa siapa, pacar bukan selingkuhan juga bukan. Dan yah, jangan membuatku kembali memikirkannya setelah tadi sudah ku buat lupa dengan cara memasak bubur ini." Kata Brian sedikit risih membahas sumber kegalauannya itu.


"Dih dia yang curhat, dia juga yang malah melarang membahasnya aneh kamu Bri. Perasaan tadi sore baik-baik saja, galaunya datang cepat amat." ketus Adenia, pasalnya tadi saat mereka berenang adiknya itu nampak baik-baik saja.


"Sudahlah sayang, biarkan saja." Kata Adnan hendak mengusap sayang tangan Adenia di atas meja, namun mendengar sendok Nela berbunyi Adnan pun mengurungkan niatnya.


Yah, Adnan tahu itu adalah peringatan Nela. Dan dia akan mengikuti mau wanita itu.


...****************...


Seusai makan malam selesai Adnan dan Adenia langsung kembali ke kamar mereka, sesuai keinginan Adenia yang ingin menghabiskan waktunya dengan sang suami.


"Mas." Panggil Adenia ketika mereka baru saja memasuki kamar.

__ADS_1


"Ya sayang, kenapa?" Tanya Adnan sembari dirinya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Sang istri.


"Bolehkah kita bekerja malam ini, aku merindukanmu Mas." Kata Adenia dengan menaik turunkan alisnya membuat Adnan tersenyum mes*m menatapnya.


"Oh oh, siap laksanakan sayang. I am yours, mari bekerja sama." Kata Adnan dan langsung menjalankan aksinya hingga dia melupakan jika dia memiliki janji untuk bersama Nela malam ini.


Hingga pukul satu malam, Nela menunggu Adnan yang tak kunjung mendatanginya. Padahal sejak tadi dia sudah menunggu pria itu dengan segala persiapannya. Lingerie sudah melekat pasti di tubuhnya, namun sayang pria itu menipunya untuk kesekian kalinya jika sang istri menginginkan pria itu.


Dan pasti alasan Adnan akan selalu sama keesokan harinya, "Aku tak bisa meninggalkan Adenia Nel, dia membutuhkan aku malam tadi. Kau mengerti bukan, kita akan menggantinya di hotel sepuasnya sayang. Jangan marah yah." Kalimat itu akan selalu Nela terima saat keesokan harinya dan itu sampai dia menghafalnya sakin alasan itu yang selalu Adnan berikan...


Tak ingin larut dengan pikirannya tentang Adnan, Nela pun memutuskan untuk berjalan keluar sebentar selagi ngantuk belum menjemput. Di pakainya baju mandinya untuk menutupi pakaian seksinya, barulah wanita itu melangkah keluar dari kamarnya.


Nela memutuskan untuk ke dapur sebentar untuk mengambil minuman sebelum dia akan pergi ke kolam renang sebagai tujuannya.


Sesaat sampai di dapur, hal pertama yang di tujuh Nela adalah lemari es. Saat sudah mendapatkan apa yang dia cari Nela pun berbalik dan hendak pergi namun suara Brian mengejutkan dirinya.


"Belum tidur Mba?" Kata Brian sembari dia meminum minumannya yang dia letakkan di meja depan tempat Bibi imas selalu berkutat dengan masakannya. Sedari tadi pria itu sudah melihat kedatangan Nela, namun hanya memperhatikan saja. Namun saat wanita itu hendak pergi, tiba-tiba saja mulutnya menyapa.


"Heh Bri, kau mengejutkanku si@lan." Kata Nela sambil mengusap dadanya dan mendekati Brian. "Belum mengantuk, lo sendiri." Tambah Nela sembari menduduki dirinya di kursi kosong sebelah Brian..


"Sama." Singkat Brian, usai mengatakan itu tak ada lagi yang bersuara. Masing-masing kini sibuk memikirkan masalah mereka sendiri-sendiri.


"Mba?" Panggil Brian setelah kesunyian menemani.


"Hmm."


"Menurut Mba, kalau kita mencintai seseorang itu kita mesti wajib nggak memiliki orang itu atau tidak sih?" Tanya Brian membuat Nela berpikir keras.


Dia sendiri tak tau akan hal itu, sebab ketika dia pernah mencintai seseorang. Tuhan malah membuat orang itu mencintai orang lain dan membuatnya harus menguburkan cinta itu, dan kini dia pun kembali di permainkan Tuhan dengan perasaannya yang sempat dia kubur kembali.


"Mba nggak tahu Bri, Mba bodoh dalam masalah cinta." Jujur Nela apa adanya.


"Hahahha, Mba Mbaaa." Tawa Brian pecah saat mendengar kejujuran Nela, sebab wanita itu berkata seperti sedang memikirkan sesuatu. Bahkan nada bicara wanita itu teramat serius.


"Apa sih Bri, Mba kan hanya jujur. Kenapa di ketawain." Kesal Nela sambil memukul Brian namun di cegah pria itu dengan cara kedua tangan Nela di pegang di depan dada bidangnya.


"Kenapa?" Tanya Nela sebab dia sedikit gugup ketika di tatap Brian begitu intens.


"Mba cantik." Kata Brian dan membuat wajah Nela bersemu merah, sebab Brian mengatakan itu dengan jarak begitu dekat saking dekatnya nafas pria itu hampir menyapa seluruh wajahnya. Nela terkesima menatap Wajah tampan Brian sedekat ini dengannya berkat tarikan kasar pria itu pada kedua tangannya..


"Boleh?" Perkataan Brian selanjutnya menyadarkan Nela, dari keterpakuannya menyikapi jarak mereka yang begitu dekat, di tambah lagi pria itu kini sedang mengusap bibirnya dengan mengucapkan kalimat yang tiba-tiba membuat sekujur tubuhnya seperti berhenti berfungsi.


Belum lagi Nela menjawab Brian sudah lebih dulu merasakan bibirnya membuat Nela melotot sempurna, namun setelahnya dia pasrah saat tiba-tiba bayangan Adnan dan Adenia melintas di penglihatannya. Memikirkan mereka membuat Nela tanpa sadar mempersilahkan Brian untuk menyentuhnya lebih jauh lagi. Dan hal yang tak terpikirkan sebelumnya oleh dirinya pun terjadi, yah dia melakukannya dengan Brian di situ di tempat itu hingga berlanjut di kamar pribadi milik pria itu.


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...

__ADS_1


__ADS_2