
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Selepas Adnan menutup pintu kamarnya, Adenia pun sontak terbangun dari tidurnya yang sedikit terganggu dari bunyi pintu itu.
Karena persediaan Air di kamarnya habis , Adenia pun memutuskan menyusul sang suami yang dipikirnya hendak mengambil air untuk di kamar mereka.
Saat menuruni tangga, Ade mendengar ada perdebatan dari arah dapur. Keningnya berkerut tak mengerti saat mendengar bentakan demi bentakan dari suaminya pada Nela sang sahabat. Sungguh dia tak pernah mendengar sang suami sekasar itu selama ini, dan apa ini suara itu semakin mengganggu pendengarannya.
"Ad, aku tak ingin berdebat. Aku mau istirahat."
"Aku tanya kau dari mana Nela." Itu ucapan bentakan Adnan selanjutnya yang makin jelas terdengar Ade. Wanita itu berjalan perlahan, tak mau sampai menganggu kedua orang yang kini sedang berdebat.
"Kau menyakiti aku Ad, lepas ini sakit." Ade melihatnya kekerasan yang di lakukan Adnan pada Nela di depan matanya. Dia melihat kejadian itu namun membiarkan saja, karena belum paham apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau dari mana? Aku tanya padamu."
"Makan malam dan mampir di Distro Brian."
"Sudah berapa kali kau ku larang untuk mendekati Brian Nela." Suara mengerikan Adnan dengan mencengkram kuat rahang Nela membuat Adenia menutup mulutnya sakin terkejutnya dia melihat sisi lain mengerikan dari suaminya itu.
"Sssssstt, sakit Ad. Kumohon, sakit Ad." Lirih Nela sedikit membuat Ade iba, namun dia masih penasaran terhadap hubungan keduanya.
"Sudah ku katakan bukan, aku tak suka kau mendekatinya."
__ADS_1
"Kami hanya makan malam, tak lebih."
"Tapi aku tak suka Nela, apapun hubungannya yang berkaitan antara Brian denganmu aku tak suka. Kau paham."
"Kau milikku Nela, apa harus ku jelaskan lagi kau milikku. Tubuhmu milikku, semua yang ada pada dirimu milikku itu sebabnya kau tak diperbolehkan untuk dekat dengan pria lain selain diriku. Camkan itu.." Ucap Adnan dan tindakan pria itu membuat Adenia terduduk lemas menyaksikannya, air matanya tak sanggup dia tahan meluncur begitu saja melihat kenyataan di depannya. Suaminya melakukan itu dengan Sahabatnya sendiri. Sebisa mungkin tangisannya di tahan agar tak bersuara.
"Sejak kapan?" Kalimat yang kini memenuhi pikiran Ade, sungguh dia merasa di tipu habis-habisan oleh dua orang brengs*k di hadapannya kini.
"Ad, bisa tidak kau perlakukan aku lembut sekali saja. Aku tersiksa dengan sikap kasar mu ini."
"Ah Ad, sakit. Kau menyakitiku. Kau menyakiti anak kita Ad hentikan ini sakit.." Ucapan Nela berhasil membuat Ade membuka matanya melihat kembali ke arah dua orang itu saat tadi dia tak sanggup dan membuang muka tak mampu melihat aktifitas dua sejoli itu.
Tubuhnya lemas bagaikan tak bertulang mendengar kalimat Nela, spontan di rabanya perut rata miliknya sendiri. Entah apa yang dia rasakan kini, dia tak sanggup menggambarkan segalanya. Hanya sakit yang dia rasakan, sakit yang melebihi kalimat rasa sakit itu sendiri.
"Ulang Nela, kau katakan apa tadi."
"Aku hamil Ad. Dan kau menyakitinya."
"Apa maksudmu, jangan bercanda. Bukankah kau sudah ku pinta untuk sering memakan obat pemberianku."
"Brengs*k kamu Nela, kau bisa membuat rumah tanggaku berantakan dengan kehamilanmu itu."
"Tega kamu Mas." Lirih Adenia dengan tangisan tanpa suaranya dan langsung beranjak dari sana, terlalu sakit melanjutkan penglihatan serta pendengarannya. Dia pun kembali ke kamarnya dengan seribu pikiran di benaknya dengan air mata yang terus terjatuh tanpa henti menggambarkan betapa hancurnya dia saat ini.
Sesampainya di kamar, Ade langsung beranjak masuk ke kamar mandi. Menangis sepuasnya di dalam sana, melampiaskan semua perasaan hancurnya di sana sampai di mana dia membasuh wajahnya dan kembali naik keranjangnya. Duduk bersandar, menatap sedih ke arah pintu sembari menguatkan diri sendiri dengan kehamilannya. Hingga sampai dia merasa ada pergerakan di depan pintu kamarnya Adenia pun menghapus habis sisa air matanya, menatap datar ke arah pintu itu.
"Sayang." Panggil Adnan dengan wajah terkejutnya, Adenia menyadari itu.
"Bisa-bisanya kamu Mas masih memanggilku sayang selepas kau merasakan tubuh Nela, sahabatku, sahabat kamu, sahabat kita. Tega kamu mas." Batin Adenia menahan rasa sesak di dadanya.
"Kau bangun.? Apa butuh sesuatu aku aku, bisa ambilkan ...." Gugup dalam berkata yang Adenia rasa ketika Adnan mengatakan itu, terlihat sangat jelas dalam pendengaran serta penglihatannya pada pria itu.
__ADS_1
"Nikahi dia." Kalimat itu dengan susah payah Adenia lontarkan sambil menahan keras air matanya agar tak jatuh dan terlihat lemah di mata Adnan, membuat Adnan membeku hingga tak bisa berucap sepatah katapun.
"Nikahi Nela.." Lanjut Adenia karena tak mendengarkan jawaban Adnan dan dengan cepat di potong Adnan namun Ade tak peduli.
"Tapi Sayang dengar dulu penj.."
"Nikahi Nela dan sekarang juga kemasih semua barang-barang mu yang ada di kamar ini dan pergilah ke kamar wanita si*lan mu itu, jangan sisakan sedikitpun barang mu aku tak ingin melihatnya." Tegas Adenia tak mau di bantah membuat Adnan terduduk lemas mendengarnya.
"Sayang."
"Jangan pernah katakan kalimat sial*n itu lagi, aku muak mendengarnya. Kau paham." Teriak keras Adenia sakin emosinya, dia muak mendengar kalimat lembut itu terucap dari bibir kotor pria itu.
"Dan yah, kalian jangan pernah melakukan hal tak bermoral itu di sembarang tempat di rumah ini lagi. Kalian hanya numpang dan berlakulah yang semestinya." Kata Tegas penuh penekanan Adenia lontarkan.
Yah rumah ini atas nama Adenia sebagai mahar penikahannya yang Adnan berikan. Semua atas nama dirinya, itu sebabnya orang tua Adnan jarang berkunjung ke rumah mereka karena cemburu Adnan terlalu memprioritaskan Adenia bahkan terlalu berlebih memanjakan wanita itu. Bahkan rumah kediaman keluarga Adnan pun tak ada apa-apanya dengan kediaman mereka, dan mulai dari situlah timbullah ketidak akuran antara Adenia dan Mertuanya sampai sekarang dan masalah momongan di buat mereka seakan itu yang tak mereka sukai dari wanita itu.
"De." Panggil Adnan takut-takut jikalau Adenia membentaknya lagi.
"Kau mau membereskan barang-barang mu atau silahkan angkat kaki dari rumah ini dan bawalah j*l*ng s*alan mu itu ikut bersamamu." Penuh tekanan Adenia lontarkan kalimat itu di setiap katanya.
"Ba-baiklah aku akan membereskan semuanya." Kata Adnan terbata, pria itu teramat ketakutan dengan ancaman Adenia. Sungguh dia tak bisa hidup tanpa wanita itu di sampingnya membayangkan saja dia sudah tak sanggup apa lagi jika sampai hal itu terjadi.
Tidak, lebih baik dia yang pergi dari kamar ini dari pada terusir dan tak tinggal seatap lagi dengan wanita yang menjadi kelemahannya itu tidak dia tak mau itu sampai terjadi, pikir Adnan.
"Bereskan barang mu tanpa suara, aku mau istirahat." Kata Adenia dan setelahnya dia membaringkan dirinya, menutup keseluruhan tubuhnya dengan selimut dan menangis tanpa suara di dalam sana setelah sejak tadi berbicara dengan Adnan dengan tegar nya hanya luka di matanya saja yang tak dia tutupi dari pria itu.
Sementara Adnan dia menatap Adenia dengan rasa bersalahnya dan berlinang air mata, menangis tanpa bersuara menyaksikan tadi wanitanya menahan amarah mencoba tegar di hadapannya namun dia bisa melihat luka besar dari tatapan mata sang istri. Sungguh dia menyesali semuanya, ini bukan hal yang pernah dia bayangkan akan terjadi di hidupnya.
"Maafkan Aku, maafkan aku sayang." Batin Adnan menjerit sakit membayangkan bagaimana tadi Adenia melihat dengan mata-kepalanya sendiri perbuatannya tadi, sungguh dia ingin m*ti saja saat ini memikirkan hal itu.
...Wanita manapun di belahan dunia ini akan memaafkan semua kesalahan Prianya, tapi tidak dengan perselingkuhan. Kau tak akan mendapatkan kata maafnya seujung kukupun....
__ADS_1
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...