
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
"Adnan.... Tidak. Ad, tolong aku." Lirih Nela shock melihat darah yang terus mengalir. Dia tidak merasakan sakit hanya saja rasa terkejutnya membuatnya kini lemas seketika.
Adnan yang baru saja terlelap tak butuh banyak panggilan dari Nela, pria itu langsung terbangun. Sama terkejutnya dengan Nel, Adnan pun bangkit dengan panik mendekati Nela yang hampir ambruk tak kuasa melihat darah pada tubuhnya itu.
"Astaga, kau kenapa Nela. Apa yang terjadi?" Ucap Adnan dan segera menggendong Nela, membawa keluar kamar wanita itu dengan panik.
"Aku nggak tahu Adn, tadi baik-baik aja. Tapi sekarang perutku menjadi sakit. Sakit sekali Adn, aku nggak kuat." Lirih Nela sembari meringis kesakitan, padahal tadi dia tak merasakan apa-apa.
"Sabar Nel, kau harus kuat demi bayi kita." Adnan berlari cepat keluar rumah menuju parkiran. Namun sebelum itu, dia mendudukkan Nela di kursi depan rumah ketika mengingat sesuatu. Dan kembali masuk untuk mengambil Kunci mobilnya yang berada di kamar tamu yang dia tempati.
"Bibi, tolong bereskan kamar Nela." Pinta Adnan panik sembari berlari cepat keluar saat dirinya berpapasan dengan Bibi Imas depan kamarnya.
Bibi hanya menatap bingung Adnan, namun tak urung mengikuti perintah sang Majikan.
Adnan kini mulai panik saat memikirkan bayi nya, hingga sampai di menuju mobilnya untuk di buka pun sedikit kelabakan..
"Kenapa susah sekali." Kesal Adnan saat membuka pintu mobilnya padahal dia lupa menekan tombol kunci mobilnya karena terlalu panik.
"Angkatlah istrimu, aku akan mengantar kalian." Sahut Brian dari arah pintu dan berlari cepat ke arah Adnan. Kakak iparnya itu tanpa kata langsung melempar kunci mobil untuk Brian, kemudian berlari untuk menggendong Nela. Membawanya masuk di kursi penumpang.
Brian pun dengan cepat langsung menjalankan mobil Adnan dengan keadaan cemas yang sama besarnya dengan Adnan. Namun kali ini kecemasan keduanya cukup berbeda. Brian sangat mencemaskan Nela, sementara Adnan kebalikannya. Pria itu hanya memikirkan keadaan sang Bayi yang ada di perut Nela.
Tadi Brian terkejut saat mendengar Adnan memerintahkan Bibi untuk membersihkan kamar Nela. Dan ternyata saat dia mengikuti Adnan dari belakang, dia melihat banyak darah yang berceceran dan saat keluar dia begitu shock saat Nela terkapar kesakitan di bangku luar. Itu sebabnya di langsung menawarkan diri untuk mengantar. Melupakan semua kekesalan dari pria yang sekarang satu mobil dengannya itu.
Sesekali Brian melirik ke kursi belakang, dimana Adnan nampak menangis sembari mengelus perut Nela. Namun selanjutnya dia mencoba untuk memfokuskan dirinya pada jalan depan.
"Sayang kamu bertahan yah, Daddy nggak mau kamu kenapa-kenapa. Kamu sudah lama menjadi impian Daddy, kau harus kuat. Mommy Ade juga sedang mengandung saudaramu, jadi tolong bertahan sayang untuk saudaramu Daddy dan dan juga Mommy Ade sayang. Dady nggak mau kehilangan kamu." Racau Adnan sedih melihat banyak darah yang tak kunjung berhenti.
Hati Nela seakan teriris mendengar penuturan Adnan, sakit. Sakit sekali rasanya melebihi sakit yang kini dia rasakan. Hanya bisa meneteskan air matanya, menahan sakit yang bertubi-tubi.
"Tepuk pipinya Nela, jangan biarkan dia tidur. Kau bisa kehilangan Bayi mu jika ibunya tak sadarkan diri." Ucap Brian menyadarkan Adnan, pria itu sampai tak sadar jika sudah mengabaikan kesadaran Nela.
__ADS_1
Saat di tatap matanya Nela, wanita itu nampak terisak tanpa suara. Memekik sakit tanpa mengadu, hanya remasan wanita itu yang nampak kuat di pinggang miliknya sendiri.
"Nela bertahanlah, kau harus kuat demi bayi kita." Lirih Adnan namun Nela nampak tak menatapnya, sibuk sendiri dengan kesakitan nya.
Hingga sampai di rumah sakit, dan Nela di tangani dokter. Brian dan Adnan nampak duduk memisah diri, dengan segala kecemasan mereka masing-masing.
Satu jam lamanya sudah kedua pria itu menanti kabar Nela di periksa. Hingga sampai di mana dokter keluar setelah menangani Nela dengan wajah suramnya.
Dokter mengatakan jika bayi yang di kandung Nela sudah hilang ketika perjalanan menuju rumah sakit tadi. Dokter pun juga menjelaskan jika terjadinya keguguran itu pun diakibatkan oleh Ibu yang terlalu tertekan, mungkin saja sebelum kejadian itu Nela terlalu stres hingga pengaruhnya cukup besar pada kandungannya di tambah kandungan wanita itu yang lemah maka terjadilah semua ini.
"Apa bapak tidak pernah memeriksakan kandungan Istri bapak? kandungannya cukup lemah hingga membuatnya bisa dengan mudah kehilangan bayinya seperti ini." Kalimat Dokter itu terus terngiang di telinga Adnan.
Yah dia menyadari sejak mengetahui kehamilan Nela, keduanya belum pernah memeriksakan kandungan wanita itu ke rumah sakit. Dan itu salahnya.
Adnan begitu menyesal dengan keteledorannya terhadap Nela. Pria itu hanya bisa duduk dan memandangi wajah pucat sang istri yang kini nampak masih belum sadar dari tadi setelah melakukan operasi pembersihan janinnya yang sudah tiada.
Sementara Brian, pria itu hanya duduk tanpa bicara menatap Adnan yang nampak juga sedang memperhatikan perut rata Nela di dekat ranjang wanita itu..
Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, namun kedua pria itu tetap masih terjaga.
"Brian, kau pulanglah..." Ucap Adnan terhenti karena Brian sudah lebih dulu beranjak dan keluar dari ruangan itu tanpa kata.
Air matanya luruh, pria itu menjatuhkan kepalanya membenamkan nya pada ranjang Nela. Rasa sedinya sangat dalam, entah ingin mengadu pada siapa. Orang tuanya pun tak tahu akan Nela yang kini sudah resmi menjadi istrinya sesuai keinginannya sendiri kala itu demi kenyamanan Adenia yang dia pikirkan.
Hingga sampai dimana Adnan pun terlelap. Dan satu jam setelah tertidur nya Adnan, Nela terbangun.
Wanita itu langsung mengangkat tangannya dan mengusap kepalan pria yang dia tahu betul itu suaminya. Kemudian berganti mengelus perutnya sendiri dengan tangan yang lainnya.
"Kau sudah bangun sayang, bagaimana keadaanmu?" Tanya Adnan, dia langsung terbangun kala merasa terganggu dengan sentuhan Nela.
"Bayi ku bagaimana Adn, dia baik-baik saja kan?" Nela balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Adnan suaminya itu.
"Dia sudah tenang di sana sayang, kau harus tegar." Ucap Adnan tak mau menutupi apapun.
Nela yang mendengar itu hanya bisa menatap perut ratanya, air matanya pun kembali luruh. Wanita itu langsung membalikan tubuhnya perlahan dan tidur memunggungi Adnan tanpa berkata apapun.
"Maafkan Mami nak, maaf Mami nggak bisa jaga kamu dengan baik. Maafkan kecerobohan Mami." Batin Nela sembari mengelus perutnya. Badan nya berguncang hebat tanpa suara tangis.
Teringat kembali tadi dia mendengar kata-kata Adnan saat mengantarnya ke rumah sakit tadi. Hatinya hancur, pria itu tak memperdulikan dirinya. Adnan hanya mementingkan bayi yang ada dalam rahimnya tapi tidak dengan dirinya.
"Kau yang salah Nel, ini semua karena mu bayimu meninggalkan mu." Lirih Nela teramat pelan hingga Adnan yang berada di sampingnya pun tak mendengarnya namun guncangan tubuhnya, Adnan melihat jelas.
__ADS_1
"Sabar sayang, ini mungkin sudah jalannya." Ucap Adnan sembari naik ke ranjang rawat Nela dan membaringkan tubuhnya membawa masuk tubuh yang nampak mulai berisi itu dalam dekapannya.
Nela tak bersuara, terlalu lelah menghadapi kenyataan ini. Dia hanya bisa merasakan kecupan bertubi-tubi Adnan pada puncak belakang kepalanya.
...****************...
Keesokan paginya. Brian dan Adenia sudah nampak terlihat di parkiran rumah sakit.
"Brian cepat sedikit, kenapa kau lelet sekali jadi pria." Omel Adenia membuat Brian berdecak kesal.
"Ck, berhentilah cerewet." Tukas, Brian dan langsung menggapit lengan sang kakak dan membawanya masuk.
"Pagi sekali kau sudah membangunkan aku." Oceh Brian, bagaimana tidak. Dia baru saja tertidur di pukul empat pagi karena terus memikirkan keadaan Nela. Namun jam lima tadi sang kakak sudah membangunkan dirinya minta penjelasan.
Adenia di beri tahu Bibi saat wanita hamil itu terbangun dan hendak ke dapur. Dia begitu terkejut saat Bibi menjelaskan mengenai darah di kamar Nela. Alhasil pagi sekali dia sudah membangunkan Brian untuk minta penjelasan dan langsung memutuskan untuk ke rumah sakit demi melihat keadaan madunya itu.
"Salah sendiri kenapa semalam tak memberitahu ku." Balas Adenia tak kalah ketus.
"Aku hanya bisa berdoa, keponakanku ini tak akan sebawel Mommy nya." Kata Brian sembari melirik perut Adenia namun tak di pedulikan wanita itu.
"Kau kuat tidak Mba?" Tanya Brian saat keduanya masuk kamar rawat Nela dan mendapati Adnan nampak memeluk mesra Nela, kedua orang itu nampak tertidur pulas tanpa terganggu dengan bunyi pintu yang di buka Brian.
"Aku tak selemah itu." Ketus Adenia dan langsung beranjak masuk. Melangkah ke arah sofa karena takut membangunkan suami istri yang masih tertidur pulas itu.
Brian pun mengekor sang kakak, kedua kakak beradik itu pun kini nampak duduk diam sembari menunggu.
"Mba ku ini luar biasa." Ucap Brian sembari merangkul pundak Adenia dan mengecup sayang pelipis sang kakak
"Yah, itu kau tahu." Kata Adenia dan langsung berhenti ketika melihat pergerakan Nela yang nampaknya sudah terbangun.
Adnan yang merasakan pergerakan Nela pun ikut terbangun.
"Kau sudah bangun sayang, apa butuh sesuatu?" Tanya Adnan pada Nela, kedua orang itu nampak belum menyadari keberadaan Kedua kakak beradik yang nampak tak bersuara di sofa depan ranjang Nela.
"Umm," Guman Nela pelan, namun saat matanya tak sengaja melihat Brian dan Adenia, wanita itu langsung menyapa.
"Ade, kau datang." Ucap Nela membuat Adnan terkejut dan langsung dengan spontan menjauhi tubuh Nela ketika Adenia menatap kearahnya tanpa ekspresi, membuat wanita yang baru kehilangan bayi nya itu tersenyum menyedihkan..
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1