My Fault Too

My Fault Too
Calon Istri pilihan


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


Kediaman Adenia dan Adnan seolah tak berpenghuni, masing-masing orang yang berada di sana seolah terasa nyaman di kamar mereka masing-masing hingga meja makan yang sering kali ramai dengan canda dan tawa kini seakan tak bernyawa di telan kesunyian.


Semua orang di rumah itu lebih memilih makan di ruang istirahat mereka, terkecuali Brian yang lebih sering menyambangi meja makan walau tak memakainya.


"Aden, kenapa nggak panggil Non Nela buat temenin makan?" Ucap Bibi Imas setelah baru saja dari kamar Adenia membawa makan siang pada ibu hamil itu.


"Udah Bibi, tapi orangnya mau makan di kamar saja katanya." Kata Brian sembari menyiapkan dua makanan di piring.


"Mau Bibi antar atau bagaimana?" Tawar Bibi yang sudah hafal beberapa hari ini Brian selalu perhatikan dan menyiapkan makanan untuk Nela yang kini sudah jarang iya jumpai di kawasannya.


"Biar aku saja Bi, biar ada teman makannya. Malas makan sendiri di sini."


"Oh oke.." Kata Bibi dan hendak beranjak pergi ke arah dapur, namun suara Adnan menghentikan wanita paru baya itu.


"Bibi makan siang Ibu udah di antar?" Tanya Adnan dari arah masuk ruang makan masih dengan setelan kerja rapinya.


"Sudah Pak, Bapak makan siang di sini? Kenapa nggak telfon, kan Bibi bisa siapin sekalian dengan punya Ibu." Tukas Bibi yang kaget kedatangan Adnan tanpa berkabar..


"Iya Bi lupa. Hari ini kerjanya nggak padat, jadi makan siang bareng Ibu aja. Tolong di antar yah Bibi, maaf udah buat Bibi bulak-balik." Kata Adnan dia selalu sebisa mungkin jika tak banyak kerjaan akan selalu sempatkan untuk pulang lebih awal. Kehamilan Ade membuatnya makin tak bisa jauh dari sang istri.


"Baiklah Pak, nggak repot sama sekali kok. Bentar ya Pak, Bibi siapin." Kata Bibi dan langsung meninggalkan Adnan.


"Kak kenapa nggak makan di bawah aja, kalian udah jarang sekali loh makan di meja ini." Ucap Brian setelah kepergian Bibi.


"Mau ikut nyamannya Mba kamu aja, lagian makan di kamar lebih romantis bisa manja-manja." Kata Adnan membuat Brian menggelengkan kepala tanpa berniat mengejek, jika saat ini Adenia yang menjawabnya seperti itu sudah pasti dia bakalan menjahili ibu hamil itu abis-abisan namun tidak untuk Adnan yang dia segani.

__ADS_1


"Waduh makan kamu banyak banget Bri, dua porsi segala. Lagi proses penggemukan yah?." Tanya Adnan melihat Makanan di depan Brian.


"Nggak lah Kak, ini buat aku sama Mba Nela. Kayanya kurang enak badan jadi aku mau makan bareng aja di kamarnya. Ya udah aku tinggal ya kak, udah lapar soalnya." Kata Brian dan dia langsung pergi mendahului sang kakak ipar yang nampak terdiam menatapnya, beruntung Brian tak terlalu melihat perubahan wajah murka Adnan yang seakan siap memakan seseorang. Tangan pria itu saja nampak langsung mengepal kuat.


Dan selepas kepergian Brian Adnan langsung menendang hampa seolah melampiaskan marahnya yang tentunya dia tujukan pada wanita yang sudah dia klaim sebagai miliknya namun tak memperjelas kepemilikan itu.


Tak mau terlalu larut dalam kemarahannya, Adnan pun mengatur emosinya agar tak berlanjut.


"Kau harus menjelaskan ini Nel." Gumam Adnan dan langsung berjalan ke lantai atas.


...****************...


"Nel, aku masuk yah." Kata Brian sembari sekali mengetuk pintu kamar Nela, tanpa menunggu jawaban Brian langsung memasuki kamar Nela yang langsung menatapnya...


"Aku belum lapar Bri." Ucap Nela.


"Jangan bohong, ayo makan. Aku akan menyuapimu."


"Sampai kapan Bria."


"Kau benar, Bri." Batin Nela menghembuskan Nafasnya.


"Cepatlah aku sudah lapar, aku mau kau suapi." Ucap Nela dengan semangat tiba-tiba yang entah datang dari mana membuat kening Brian berkerut namun dia senang melihat sahabat kakaknya itu kembali semangat.


"Siap laksanakan."


Keduanya pun makan dengan Brian yang menyuapi Nela seperti biasanya di beberapa hari ini.


Nela sesekali mengusap perutnya yang mengundang perhatian Brian.


"Kenyang?" Tanya Brian yang berpikir jika Nela sudah kenyang dengan tindakan wanita itu.


"Belum, aku masih lapar." Brian senang mendengarnya, bahkan dia lebih banyak menyuapi Nela di banding dirinya. Napsu makan Nela selalu bertambah ketika dia menyuapi wanita itu. Padahal jika di awal, Nela selalu menyatakan masih kenyang namun berbeda dengan kenyataan ketika dia sudah menyuapi wanita itu.


"Manis." Kata Brian selepas dia menyapu bibir Nela ketika gemas melihat ada sisa makanan yang tersisa di samping bibir wanita itu.

__ADS_1


Nela hanya tersenyum menyikapi tingkah lembut dan perhatian Brian padanya, sungguh pria itu sangat berbeda jauh sekali dengan Adnan ketika memperlakukan dirinya. Adnan lebih sering menyiksa tubuhnya namun tidak dengan Brian, selalu saja ada kelembutan di setiap sentuhannya dan kalimat pria itu tak pernah sedikitpun membuatnya tersinggung atau sekedar bersuara keras padanya. Dan hal itu membuatnya merasa nyaman ketika bersama dengan Brian.


"Boleh peluk?" Tanya Nela membuat Brian terkekeh.


"Nggak boleh." Jahil Brian dan beranjak berdiri menuju kamar mandi.


"Isss, baru juga mau kagum." Kesal Nela menambah besar tawa Brian.


"Nggak sabar banget sih, tanganku kotor sayang. Sini." Ucap Brian ketika kembali, pria itu pergi sekedar mencuci tangannya karena tadi dia menyuapi Nela menggunakan tangan lincahnya itu.


"Nyamannya." Batin Nela, setelah masuk dalam dekapan pelukan hangat Brian.


"Aku mau tidur, temani boleh?" Pinta Nela sembari memejamkan matanya sakin nyamannya berada di pelukan Brian.


"Tentu, tapi ini piring bekas makan kita aku bawa kembali dulu yah." Ucap Brian.


"Nanti saja, aku mau kamu peluk dulu." Ucap Nela membuat Brian terkekeh. "Baiklah, mari kita tidur." Brian menyambut dan langsung menggendong Nela dari sofa menuju ranjang wanita itu.


...****************...


Malam menjelang, namun ada yang beda malam ini. Adenia bersama Adnan kini sepertinya ingin makan di meja makan yang sudah beberapa hari ini mereka abaikan.


"Bibi Panggil Nela kita akan makan bersama, kalau Brian ada sekalian Bi." Ucap Adnan setelah sampai di ruang makan.


Malam ini Adnan yang sedikit memaksa Adenia untuk makan di bawa, sebab dia tak mau Brian akan makan bersama Nela lagi.


"Aden sama Non Nela lagi keluar Pak, katanya mereka makan di luar makanya tadi beritahu Bibi buat masak hanya untung Bapak sama Ibu saja." Ucap Bibi yang kini sudah resmi memanggil Adenia dengan sebutan Ibu, sebab wanita itu sudah mau menjadi seorang Ibu sebentar lagi.


"Oh baiklah Bibi, mungkin mereka pikir kita masih makan di kamar kali yah. Semoga saja mereka semakin dekat." Ucap Adenia senang, sebenarnya dia menerima Nela untuk tinggal bersama mereka bukan sekedar Nela sahabatnya. Namun dia memiliki ketertarikan lebih pada wanita itu sebagai calon istri pilihannya untuk sang Adik, dan lihat sepetinya dia sukses sekarang. Pikir batin Adenia senang.


Sementara Adnan tak mengucap satu katapun lagi, kesal yang kini sudah menguasainya. Dia marah Nela masih saja tak mengindahkan perkataannya. Hingga makan malam kali ini yang dia harapkan akan baik-baik saja sepertinya hanya mimpi, nyatanya makan malam kali ini bagaikan makan malam tak berasa sepanjang waktu hidupnya. Hambar, itu yang dia rasa sakin pikirannya berkelana tentang keberadaan Nela dan apa yang wanita itu perbuat kini.


sementara Adenia dia tetap santai dan menikmati makanannya penuh penghayatan.


...****************...

__ADS_1


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...


__ADS_2