My Fault Too

My Fault Too
Karena Nela


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 ...........


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


"Itu Bapak..." Kata Bibi Imas sedikit gugup.


"Mungkin sedang di ruang kerjanya Non. Non istirahat saja, kalau sudah kelar juga pasti Bapak balik." Lanjut Bibi lagi saat sudah menguasai kegugupannya.


"Ah iya, kok aku lupa yah." Kata Adenia dan dia langsung duduk di ujung ranjangnya.


"Kalau gitu, Bibi permisi yah. Selamat malam Non, tidur yang nyenyak." Pamit Bibi dan di angguki Adenia.


Wanita itu langsung merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya. Hari ini sungguh melelahkan baginya, mulai dari memikirkan sang Ibu mertua hingga kerjaan tadi di tambah lagi sekarang malah kakinya ikut-ikut menambah sakitnya.


Sementara Bibi yang kini hendak menutup pintu kamar Adenia, nampak menatap wanita itu prihatin. Ada sorot kesedihan saat Bibi menatap ke arahnya, bahkan tanpa sengaja ada setetes air bening lolos begitu saja ketika Bibi menatap lama Anak majikannya yang kini sudah merangkap menjadi majikan tertingginya itu.


"Maafkan Bibi yang tak bisa jujur Non, Non akan tahu sendiri pada saatnya nanti." Batin Bibi sembari beliau menutup pelan pintu kamar Adenia.


Saat Bibi sedang berjalan turun ke lantai bawah hendak menuju arah dapur, beliau tak sengaja melihat ada siluet sosok majikannya di dalam sana.


"Bapak." Panggil Bibi saat melihat Adnan sedang melihat kekacauan di ruang dapur.


"Eh Bibi, bikin kaget saja." Kata Adnan saat mendengar suara Bibi yang mengagetkannya.


"Dan maaf tadi aku gerah, makanya nggak pakai baju. Aku kira Bibi udah tidur. Dan ini kenapa?" Ucap Adnan sedikit malu bertelanjang dada di hadapan Bibi.


Tadinya iya ingin mengambil air minum untuk Nela setelah habis memakan wanita itu habis-habisan, namun tanpa sengaja dia melihat beling dan genangan air di mana-mana. Untung saja lampu dalam keadaan menyala, kalau tidak bisa habis semua kakinya ke injak beling.


"Oh ini, tadi Bibi nggak sengaja nabrak Non Ade saat ke dapur tadi makanya botol yang di bawa Non jatuh." Ucap Bibi sedikit malas-malasan sambil memunguti beberapa beling besar yang tadi beliau bereskan karena menolong Adenia tadi.


"Segera beresin ya Bi, awas ada yang menginjaknya nanti." Kata Adnan dengan buru-buru berlalu dari sana, dari hadapan Bibi yang kini nampak menatap benci kearahnya.


"Bapak nggak jadi ke dalam?" Tanya Bibi sengaja, sebab ada sedikit kepanikan dalam perkataan Adnan.


Namun sayang, Adnan seakan tuli dan tetap terus melangkah pergi.


"Dasar, pria nggak tahu bersyukur.." Ketus Bibi namun dalam suara pelannya takut di dengar Adnan, dan beliau pun melanjutkan beberesnya.


Sementara Adnan dia berjalan cepat kembali ke arah kamar Nela, dan membukakan pintu kamar wanita itu cepat.


"Ad kenapa? mana minumannya?" Tanya Nela saat melihat Adnan seperti tergesa-gesa saat masuk, bahkan minuman pesanan dia pun tak Adnan bawah.


"Ambil sendiri ya Nel, istriku udah pulang." Ucap Adnan sembari masuk ke kamar mandi dan beberapa menit setelahnya dia pun keluar memungut pakaiannya dan mengenakannya cepat.


"Kamu nggak tidur di sini Ad? kan udah janji." Kata Nela sedikit kecewa pasalnya, Adnan sudah menjanjikan untuk menemaninya tidur malam ini untuk pertama kalinya.


Dia sedikit tak suka Adnan seperti takut pada Adenia, walau memang dia tak punya hak untuk hal itu. Tapi entah kenapa dia tak rela saja Adnan mengingkari janjinya untuk tidur bersama.

__ADS_1


"Kamu nggak dengar Nel, aku kan bilang tadi Adenia udah pulang. Nanti yah lain kali, cup." Ucap Adnan sembari mendekat dan mencium sekilas bibir Nela dan hendak bangkit dan pergi, namun Nela malah menahan ciuman itu membaut Adnan mendorongnya pelan hingga membuat Nela kecewa akan tindakannya pria itu.


"Tidak sekarang Nel, nanti yah. Aku pergi." Kata Adnan sembari mengusap bibir Nela, setelah itu dia langsung bangkit dan melangkah keluar.


Adnan berjalan sambil mengatur nafasnya, sebisa mungkin dia harus biasa saja dan sesampainya di kamar dia langsung mendapati Adenia yang sudah lelap tertidur.


"Sayang." Panggil Adnan namun tak ada sahutan dari Adenia.


Adnan pun hendak mendekat, namun dia urungkan dan dengan segera melangkah berjalan ke arah ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan yang baru. Barulah dia setelahnya kembali keranjang mereka. Tak mungkin dia mendekati Adenia dengan pakaiannya yang berbau parfum Nela yang melekat pasti pada pakaiannya itu.


Di baringkan tubuhnya di samping Adenia dan memeluk sayang wanita itu sembari dalam hati dia selalu mengucap maaf untuk wanita itu, wanita yang teramat dia cintai namun sudah dia sakiti begitu besarnya.


"Awww." Pekik Adenia saat Adnan tak sengaja menyenggol kakinya, membuat dia yang baru tertidur itu terbangun dan meringis sakit.


"Sayang, kenapa?" Tanya Adnan panik sembari bangun dan melihat Adenia.


"Awww, kakiku Mas jangan di sentuh sakit." Kata Adenia saat kembali kakinya terkena tangan Adnan.


"Ini kenapa? kenapa bisa luka? Apa karena pecahan di bawa itu yah yang lagi di bersihin Bibi." Kata Adnan panik saat melihat sang istri kesakitan.


"Ssssshhh Iya Mas, tadi nggak sengaja aku jatuhin botol air kena kaki. Mas dari mana? Aku datang Mas nggak ada, di telfon tadi juga nggak di angkat pas di butik tadi." Jelas Adenia sembari sedikit meringis dan membantu Adnan yang sedan memperbaiki posisi kakinya


"Ah itu, itu aku aku di ruang kerja tadi yang. Kamu nggak ngecek yah. Dan ponselku juga ketinggalan di kamar, tuh." Bohong Adnan sedikit gugup namun sebisa mungkin menutupi itu dengan menunjuk ponselnya yang memang tak dia bawa dan tergeletak di nakas samping tempat tidur mereka.


"Lain kali hati-hati yang. Dan maaf yah aku nggak jemput kamu, aku pikir kamu bakalan nginap malam ini. Kenapa nggak jadi? Apa udah selesai kerjaannya.?" Lanjut Adnan lagi.


"Iya Mas. Belum selesai, besok baru di lanjut lagi. Ada bahan yang habis soalnya, besok baru di beli. Ya udah tidur yuk, ngantuk." Kata Adenia menjelaskan singkat.


Keduanya pun langsung kembali membaringkan tubuh mereka, dangan Adnan yang membantu Adenia kemudian memeluk erat Adenia dengan kaki wanita itu sudah dia amankan di atas salah satu bantal. Tak butuh lama untuk Adenia kembali terlelap, namun tidak dengan Adnan yang nampak terus terjaga sembari mengelus tubuh Adenia yang bisa ia jangkau.


Entah kenapa Pria itu seolah sedang membayangkan dirinya dan Nela saat memeluk Adenia, hangga sampai di mna dia pun tersadar dari lamunannya saat mencium wangi harum Adenia yang berbeda dengan Nela. Bau yang masing-masing memiliki ciri khas yang dia sukai.


"Selamat tidur sayang." Kata Adnan sembari mengelus legan terbuka Adenia kemudian dia pun menutup matanya menyusul Adenia yang sudah hilang duluan.


...****************...


Keesokan harinya.


"Mas." Panggil Adenia saat dia terbangun dan merasakan tubuhnya berat di tindih pelukan hangat Adnan. Untung saja kakinya masih aman dari jangkauan pria itu.


"Ummm, selamat pagi sayang." Kata Adnan sembari memberikan kecupan selamat paginya.


"Selamat pagi juga Mas, lepas ya Mas. Sesak ini." Kata Adenia jujur karena suaminya itu malah kembali memeluknya begitu erat.


"Hehehe, maaf maaf. Mas kangen yang, boleh.?" Tanya Adnan entah kenapa dia ingin menyentuh Adenia sekarang saat tubuhnya tadi memeluk erat tubuh istrinya itu.


"Tapi kakiku Mas." Ucap Adenia jujur, karena kakinya nampak masih sakit sekarang.


"Eh iya Mas lupa, ya udah yuk. Mas temenin mandi aja." kata Adnan dan Adenia langsung tersenyum manis, senyuman yang langsung membuat Adnan memalingkan wajahnya. Senyuman yang entah kenapa seolah menampar dirinya. Terlalu manis untuk dia yang sudah melukai Adenia.


Tanpa berkata lagi, Adnan langsung mengangkat tubuh Adenia dan mereka pun mandi bersama. Tak lama hanya beberapa menit saja, karena memang sebentar lagi waktunya Adnan ke kantornya dan dia juga harus mengantar Adenia ke rumah sakit sebelum istrinya itu ke butik nanti.


"Makasih Mas." Kata Adenia saat Adnan usai mengganti perbannya yang basah.

__ADS_1


"Sama-sama sayang, cepat sembuh yah." Ucap Adnan dan dia sedikit mengacak rambut Adenia.


"Yuk." Ajak Adnan sembari memberikan lengannya untuk Adenia rangkul dan di terima wanita itu dengan senyum bahagianya.


Dengan pelan mereka melangkah turun, dan bertemu Nela yang juga hendak ke ruang makan.


"Ade, itu kakinya kenapa? kenapa di perban? Ade kenapa Ad?" Tanya Nela yang sedikit terkejut dengan keadaan kaki sahabatnya itu, apa lagi melihat Adenia yang kini jalannya sedikit kesusahan seperti kesakitan seperti itu.


"Kecelakaan kecil Nel, tumben udah rapi aja pagi ini" Ucap Adnan sebelum Adenia membuka suara, dia sedikit kesal saat melihat wanita itu nampak sangat menggoda pagi ini dengan baju dress selutut berlengan pendek ketat pres body yang warnanya hampir sama dengan warna kulitnya membuat Nela seperti tak berpakaian jika di lihat dari jauh karena seluruh lekuk tubuhnya tercetak jelas mulai dari bagian depan dan samping kiri kananya semua terlihat jelas dan Adnan membayangkan hal itu tentunya..


"Iya Nel, mau kemana?" Tanya Adenia menimpali.


"Ada urusan sebentar di luar, kecelakaan apa De? kok aku nggak tahu?" Ucap Nela.


"Kejatuhan botol Nel, yuk sarapan cuman luka kecil kok. "Ucap Adenia mengajak Nela agar melanjutkan langkah mereka ke ruang makan.


"Ceritain kejadiannya gimana napa?" Tanya Nela sembari mereka melangkah ke ruang makan.


Adenia pun menceritakan kejadian semalam, membuat Nela menatap sekilas Adnan yang nampak tak menatapnya karena sibuk dengan Adenia.


"Pelan-pelan sayang." Ucap Adnan setelah menarik kursi dan membantu Adenia untuk duduk.


"Makasih Mas."


"Bibi, Brian sudah di bangunin?" Tanya Adenia saat Bibi sedang menyediakan sarapan untuk mereka.


"Aden Brian Nggak pulang lagi." Kata Bibi dan Adenia hanya menghembuskan nafasnya pelan.


"Sayang tunggu sebentar yah, Ada barang yang ketinggalan aku ke kamar dulu." Ucap Adnan sembari dia melirik Nela, mengisyaratkan untuk wanita itu mengikutinya nanti dan benar saja setelah kepergiannya. Nela pun juga mengikutinya.


"Astaga ponselku." Ucap Nela seolah dia melupakan ponselnya, padahal memang tadi dia sengaja tak membawanya karena seusai sarapan dia akan kembali ke kamar lagi mengambil tas dan lainnya di dalam sana.


"Aku ambil ponselku dulu ya De, entar lupa lagi aku." Kata Nela dan kembali di angguki Adenia.


Nela berjalan cepat ke arah kamarnya yang dia tahu pasti Adnan menunggunya di sana, saat baru saja memasuki kamarnya Adnan langsung bertanya cepat padanya.


"Mau kemana?"


"Sumpek di rumah aja, mau jalan-jalan. Kenapa? mau temenin?" Tanya Nela santai sembari berjalan dan duduk di pangkuan Adnan, sebenarnya dia masih kesal dengan Adnan yang meninggalkan dia semalam begitu saja, itu sebabnya dia ingin jalan jalan sebentar untuk menghilangkan stresnya dan juga pikiran tentang hubungan terlarang mereka itu.


"Habis jalan-jalan langsung balik. Jangan kemana-mana lagi. Dan ganti ini baju, kau hampir seperti tak berpakaian Nela." Ucap Adnan sedikit kesal, pasalnya Nela berpakaian cukup sangat berani dan dia tak suka itu.


"Kenapa? perasaan biasa saja ini baju. Modis lagi." Ucap Nela sedikit ingin membuat pria itu kesal.


"Nela!!" Ucap Adnan tegas.


"Iya iya." Kata Nela dan dia langsung beranjak dari pangkuan Adnan.


"Ya udah aku tunggu di ruang makan." Kata Adnan dan memberi sedikit kecupan singkat di tengkuk Nela dan setelahnya berlalu keluar.


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...

__ADS_1


__ADS_2