My Fault Too

My Fault Too
Nikahi Dia


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


Hampir tengah malam Nela dan Brian baru kembali dari makan malam mereka yang ternyata membawa mereka sampai ke Distro Brian hingga beberapa saat membuat mereka kini baru kembali pulang.


"Tidur di kamarku?" Tawar Brian namun di tolak Nela ketika Brian baru saja membukakan pintu mobil untuk wanita itu.


"Nggak Bri, aku mau tidur di kamarku sendiri. Aku capek dan butuh istirahat tanpa gangguan darimu." Brian pun tertawa dengan perkataan wanita itu, yah Nela benar dia tak akan biarkan Nela tidur nyenyak jika mereka seranjang tentunya.


"Hahahaha, tahu aja sih.. Hehe, aku bercanda kok. Aku harus balik ke Distro lagi soalnya, ada meeting mendadak sama manusia kaku dan si mes*m tapi jomblo akut." Ucap Brian menyebutkan dua sahabatnya dengan panggilan sayangnya.


"Is kamu ini. Sepertinya yang mes*m itu seharusnya penyebutannya untuk kamu Bri."


"Sudahlah sayang, sebutan itu udah lama aku sematkan untuk mereka. Bay sayang aku pamit yah." Ucap Brian sembari mencium pipi Nela sebelum akhirnya dia berlari kembali masuk dalam mobilnya.


"Jangan Ngebut Bri." Peringat Nela dan hanya mendapatkan bunyi klakson sebagai jawaban Brian.


Selepas perginya Brian Nela tak langsung masuk, wanita itu lebih memilih untuk duduk sebentar di kursi depan pintu utama rumah itu. Banyak hal yang dia pikirkan kini, mulai dari janin yang dia kandung. Hingga hubungannya dengan Adnan juga Brian.


"Sudahlah Nel, kau butuh istirahat sekarang." Monolog Nela pada dirinya sekarang saat pelipisnya merasakan nyeri ketika dirinya memaksa memikirkan masalahnya.


Wanita itu pun langsung bergegas masuk tanpa membangunkan siapapun, karena setiap penghuni diberikan akses masuk rumah itu.


Sebelum ke kamarnya, Nela menyempatkan terlebih dahulu ke dapur untuk mengambil buah sebagai cemilannya sebelum tidur. Buah-buah itu pun dia sendiri yang membelinya untuk dirinya juga untuk Adenia tentunya.


"Dari mana?" Tanya suara bariton Adnan dengan penuh penekanan seketika membuat Nela menghembuskan nafasnya dan tetap melanjutkan jalannya ke arah lemari pendingin sebab dia tak ingin bertengkar sekarang.


Dia tahu Adnan pasti akan marah padanya karena dia pergi bersama Brian, namun untuk saat ini dia tak ingin terlibat pertengkaran dulu dengan Adnan itu sebabnya dia tak menghiraukan pertanyaan pria itu.


"Hey apa kau tuli, aku bicara padamu Nela." Ucap Brian dan berjalan cepat menarik paksa Nela untuk menghadapnya.

__ADS_1


"Ad, aku tak ingin berdebat. Aku mau istirahat." Ucap Nela pada akhirnya.


"Aku tanya kau dari mana Nela." Tanya Adnan tegas dan tak peduli dengan ucapan Nela.


"Kau menyakiti aku Ad, lepas ini sakit." Lirih Nela karena Adnan mencengkram kuat pergelangan tangannya.


"Kau dari mana? Aku tanya padamu." Ulang Adnan lagi tak peduli.


"Makan malam dan mampir di Distro Brian." Ucap Nela pada akhirnya jujur, karena jika dia bungkam Adnan akan semakin menyiksanya.


"Sudah berapa kali kau ku larang untuk mendekati Brian Nela." Tegas Adnan dengan mencengkram kuat rahang Nela membuat wanita itu terpekik kes*kitan yang luar biasa kerena pria itu meny*kiti kedua bagian tubuhnya bersamaan.


"Sssssstt, sakit Ad. Kumohon, sakit Ad." Lirih Nela dengan air mata yang tak bisa dia tahan.


Melihat itu Adnan langsung menghempaskan kasar wajah Nela dan dia beralih meninju dinding sebelahnya yang tadi dia gunakan untuk menyandra tubuh Nela.


"Sudah ku katakan bukan, aku tak suka kau mendekatinya."


"Kami hanya makan malam, tak lebih." Lirih Nela membela diri.


"Kau milikku Nela, apa harus ku jelaskan lagi kau milikku. Tubuhmu milikku, semua yang ada pada dirimu milikku itu sebabnya kau tak diperbolehkan untuk dekat dengan pria lain selain diriku. Camkan itu.." Ucap Adnan dengan melepas paksa pakaian yang Nela kenakan membuat wanita itu hanya bisa menitihkan air matanya. Bisa-bisanya dia menaruh perasaan pada pria itu yang jelas-jelas sering melukainya.


"Ad, bisa tidak kau perlakukan aku lembut sekali saja. Aku tersiksa dengan sikap kasar mu ini." Lirih Nela menerima semua perlakuan kasar Adnan padanya kini, bahkan pria itu tak peduli ucapan lirih Nela karena fokus dengan tubuh wanita itu.


"Ah Ad, sakit. Kau menyakitiku. Kau menyakiti anak kita Ad hentikan ini sakit.." Ucap Nela sedikit keras karena kesakitan akibat perlakuan kasar Adnan pada tubuhnya.


Mendengar itu Adnan seketika menghentikan ulahnya dan menatap tajam wanita itu dengan tatapan membunuhnya.


"Ulang Nela, kau katakan apa tadi." Ucap Adnan serasa bagaikan ucapan ancaman mematikan yang keluar dari bibir pria itu.


"Aku hamil Ad. Dan kau menyakitinya." Lirih Nela walau ketakutan di tatap Adnan sebegitu mengerikannya namun dia tetap mengatakannya.


"Apa maksudmu, jangan bercanda. Bukankah kau sudah ku pinta untuk sering memakan obat pemberianku." Kesal Adnan sambil menggoyangkan kasar kedua bahu polos Nela.


"Aku bosan Ad meminumnya setiap saat, itu menyiksaku." Jujur Nela.


"Brengs*k kamu Nela, kau bisa membuat rumah tanggaku berantakan dengan kehamilanmu itu." Kata Adnan seketika teringat sang Istri. Bagaimana jadinya jika Adenia mengetahui ini, batin Adnan.

__ADS_1


"Bagaimana jika Ade tahu, oh astaga. Kau sangat bod*h Nela." Ucap Adnan sembari mengacak frustasi rambutnya.


"Aku akan pergi jika kau mau, aku juga tak mungkin menyakiti Ade dengan kehamilan ini." Ucap Nela memberi solusi, dia sudah memikirkan ini sejak tadi dan akan membicarakannya dengan Adnan.


"Kau mau kemana? Jangan gila, aku tak akan pernah membiarkan kau keluar dari rumah ini apapun yang terjadi. Dia keturunanku, aku akan bertanggung jawab. Tapi.."


"Tapi.." Kata Nela tak sabar mendengar lanjutan Adnan.


"Tapi, aku butuh waktu untuk membicarakan ini dengan Ade."


"Apa kau gi*la, dia sedang mengandung kau bisa membuatnya stres akan kabar kehamilanku." Protes Nela tak terima dengan ide gi*la nya Adnan.


"Haaaahh, ini semua karena mu. Kau membuatku pusing sekarang Nela." Kesal Adnan sembari memakai pakaiannya kembali dan memberikan pakaian Nela untuk wanita itu kenakan.


Kini Adnan bagaikan setrika rusak yang mondar-mandir tak jelas di hadapan Nela. Pria itu selalu menyalahkan kebodohannya seakan semuanya adalah salah Nela.


"Berhentilah selalu menyalahkan aku Adnan, kau pikir enak menjadi aku. Semua juga salahmu, jangan selalu menyalahkan orang lain." Kata Nela namun tak di indahkan Adnan malah pria itu membentaknya.


"Diam kau bod*h." Nela pun bungkam mendengar kalimat menyakitkan itu, yah dia sudah biasa menerima itu dari Adnan..


"Kembalilah ke kamarmu, kita pikirkan nanti." Kata Adnan sembari mendekat dan mencium sayang kening Nela dan setelahnya pergi meninggalkan wanita itu begitu saja.


"Haaahhhhhh." Hanya tarikan Nafas yang bisa Nela lakukan demi kewarasannya tetap terjaga.


Sementara Adnan, pria itu berjalan ke kamarnya dengan keadaan begitu tak baik.


Saat sebelum Adnan membuka pintu kamarnya, pria itu sempatkan terlebih dahulu merapikan penampilannya. Takut saja saat masuk Ade terbangun dan melihatnya dalam Keadaan tak baik seperti sekarang.


"Sayang." Kaget Adnan saat Adenia sedang duduk bersandar di kepala ranjang mereka ketika dia baru membuka pintu kamar mereka.


"Kau bangun.? Apa butuh sesuatu aku aku, bisa ambilkan ...." Ucap Adnan namun di potong Adenia.


"Nikahi dia." Kata Adenia langsung membuat Adnan diam seribu bahasa..


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...

__ADS_1


__ADS_2