My Fault Too

My Fault Too
Pria Pertama


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 ...........


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


Tok


Tok


Tok


"Astaga, ketiduran ternyata." Kata Adenia terbangun dari tidurnya saat mendengar ketukan di pintu kamarnya.


Tadi saat dia keluar dari kamar mandi, dirinya langsung merebahkan tubuhnya di kasur sejenak dan ternyata malah tertidur.


Diliriknya kamarnya yang nampak gelap, dan tangannya spontan terjulur ke arah kotak lampu tidur di samping tempat tidurnya dan melirik ke arah jam di dinding yang sudah menunjukan waktunya jam makan malam.


Buru-buru Adenia turun dan berjalan menuju pintu dan mengklik kontak lampu utama setelahnya barulah dia membukakan pintu kamarnya.


"Iya Bibi." Kata Adenia saat melihat Bibi imas di depan pintu.


"Maaf Non, Bibi ganggu yah." Kata Bibi saat melihat Adenia yang nampak menutup mulutnya karena menguap, dan beliau tahu pasti majikannya itu tidur dan terbangun karenanya.


"Enggak Bi santai." Bibi tersenyum mendengar ucapan Adenia dan kemudian menyampaikan niatnya membangunkan majikannya itu.


"Makan malamnya udah siap Non." Kata Bibi.


"Oh iya Bi makasih yah, entar aku turun." Ucap Adenia dan selanjutnya Bibi pun pamit turun.


Namun saat hendak melangkah Adenia pun menahan Bibi imas karena pertanyaannya.


"Bibi lihat Mas Adnan nggak?" Tanya Adenia.


"Oh itu, itu Non. Bapak, Bapak lagi di dekat kolam renang. Lagi merokok." Kata Bibi sedikit gugup entah karena apa namun tak di sadari Adenia.


"Baiklah Bi, makasih yah. Jangan lupa tolong panggil Nela sama Brian yah, aku bersih-bersih sebentar." Kata Adenia dan di iyakan Bibi Imas sebelum akhirnya masing-masing berbalik.


"Mas kok nggak nyalain lampu sih, apa emang nggak naik sejak tadi yah." Kata Adenia sambil dirinya menutup semua tirai kamar mereka. Setelah itu dia pun langsung bergegas ke kamar mandi sebelum memutuskan turun.


Sementara Adnan kini nampak menatap kolam dengan sesekali menghisap rokok di tangannya. Menghembuskan perlahan dan kembali lagi mengulangnya.


Tatapannya terlihat fokus entah apa yang dia pikirkan. Kadang menggelengkan kepala, tersenyum, dan juga sesekali tangannya mengetuk-mengetuk bibirnya sendiri usai menghembuskan asap dari mulutnya.

__ADS_1


Hingga sampai beberapa saat dimna dia merasakan rangkulan tangan lembut di leher dan kecupan singkat di pipinya membuat dia langsung menaruh rokok di tangannya pada asbak yang teronggok di atas meja.


"Kau sudah bangun?" Tanya Adnan sambil mencium tangan yang dia tahu pasti itu milik Adenia.


"Yah, Mas kok nggak bangunin aku. Lampu kamar pun nggak di nyalain." Kata Adenia sembari berjalan memutar dan langsung duduk di pangkuan Adnan.


"Mas takut kamu bangun kalau silau nanti. Karena Mas nggak mau gangguin tidur kamu sayang." Bohong Adnan, padahal sejak tadi dia belum naik dan bahkan masuk ke kamar mereka.


"Oh manisnya kamu sayang, tapi ini kenapa banyak sekali Mas." Kata Adenia melirik puntung rokok yang cukup banyak menurutnya di asbak di atas meja samping mereka.


"Lagi pingin yang, udah lama juga kan Mas nggak ngerokok." Kata Adnan sembari memainkan rambut Adenia.


"Cukup yah, nanti batuk."


"Iya sayang, siap. Maaf yah." Kata Adnan sembari memeluk posesif Adenia membuat Adenia tersenyum.


"Ya udah yuk makan. Nela udah tungguin tuh di ruangan makan."


Mendengar itu, seketika Adnan ber-dehem. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang tiba-tiba masuk dan mengganjal tenggorokannya.


"Ayo, sayang." Kata Adnan seusai ber-dehem dan langsung menurunkan Adenia dari pangkuannya, keduanya pun berjalan santai menuju ruang makan.


"Brian, lo dari mana? Kata Bibi kamu nggak ada di kamar tadi." Tanya Adenia saat melihat sang adik sudah duduk bergabung di ruang makan.


Sementara Adnan seperti biasa dia menarik kursi untuk Adenia dan di sambut ucapan terima kasih sang istri.


"Lo udah jadian sama Beca yah? Mba lihat makin dekat aja kalian, terus pacar kamu gimana?" Tanya Adenia sembari menyiapkan makana untuk Adnan..


"Masih pacaran Mba, Beca hanya.. yah gitu lah Mba." Ucap Brian sambil terkekeh pelan membuat Adenia mendengus sebal.


Obrolan kedua kakak beradik itu pun berlanjut cukup lama, sampai tak menyadari ada dua orang yang sejak tadi duduk diam tanpa saling melirik satu sama lain.


Adnan fokus dengan makanannya, begitupun dengan Nela. Entah apa yang terjadi dengan mereka hingga membuat keduanya bungkam seperti itu.


"Mas, malam ini aku ke butik yah. Mau nemenin desainer ku ngerjain proyek yang baru tadi di terima." Kata Adenia membuat Adnan menatapnya.


"Harus malam ini yah yang? Nggak pulang dong berarti." Kata Adnan yang paham jika sang istri ke butik malam hari, pasti tak akan pulang dan menginap di sana seperti biasanya.


"Iya Mas, harunya dari sore sih. Tapi akunya ketiduran. Desainer ku mau ngerjainnya malam ini, dan aku harus ada."


"Baiklah, nanti aku antar yah." Kata Adnan dan di iyakan Adenia.


Makan malam pun berlanjut sampai dimana Nela pamit duluan ke kamar karena dia yang sudah habis makan duluan.


"Aku duluan yah De." Kata Nela tertuju pada Adenia.


"Iya Nel, oh iya titip rumah yah sama dua pria ini. Awas yah hati-hati sama tuh cowok awas di gigit, beracun soalnya. Kalau macam-macam hubungi aku, biar ku ulek." Kata Adenia sembari melirik Brian yang dia tahu akhir-akhir ini sering dekati Nela.

__ADS_1


"Mba apa-apaan sih, mana ada beracun. Enak baru betul." Degus Brian di katai beracun sama kakaknya.


"Hehehe, ta kunci kamarku tenang." Kekeh Nela, bukannya melihat Brian. Wanita itu malah melirik Adnan saat dia terkekeh.


"Haha, bener kunci kamar lebih baik." Kata Adenia dan Nela hanya terkekeh kemudian meninggalkan ruangan itu.


Usai sepeninggal Nela, tak lama kemudian Adnan dan Adenia pun usai dan meninggalkan Brian yang nampak sedang makan dengan santai.


...****************...


"Hati-hati ya sayang, kalau ada apa-apa hubungi aku." Kata Adnan saat mengantar Adenia depan pintu butik.


"Siap komandan, tidur yang nyenyak yah. Maaf malam ini nggak bisa nemenin." Kata Adenia melingkarkan tangannya di pinggang Adnan dan di balas pria itu sama..


"Kamu juga sayang, kalau udah selesai langsung tidur. Jangan terlalu larut tidurnya yah."


"Siap, pulang gih. Hati-hati yah sayang, jangan ngebut." Kata Adenia


Usai mengatakan itu, Adnan pun pamit pulang. Membawa mobilnya santai seperti yang di katakan sang istri.


Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan senyum Adenia, dan kemudian sesekali mengucapkan kata maafnya.


Setelah sampai rumah, Adnan langsung ke kamarnya namun hanya sebentar dan kembali keluar.


Rupanya pria itu membersihkan dirinya, terlihat dari pakaian yang di kenakan Adnan yang sudah berganti dengan pakaian santainya.


Pria itu berjalan turun, melihat sekitar kemudian bejalan masuk ke kamar Nela.


"Kau sudah tidur Nel?" Kata Adnan sembari naik ke ranjang Nela yang nampak tidur memunggungi Adnan.


Pria itu bahkan tanpa segan langsung merebahkan diri dan memeluk Nela tanpa permisi.


"Maaf untuk yang tadi Nel, maafkan aku yang nggak bisa menahan diri. Maafkan aku." Kata Adnan lagi karena Nela nampak tak bersuara.


"Aku takut Ad, aku takut Ade tahu kita sudah mengecewakan dia." Ucap Nela pada akhirnya sebab dia sudah tahu kedatangan Adnan mulai dari pintu kamarnya terbuka tanpa di ketuk.


"Hey, dia nggak bakalan tahu kalau kita rahasiakan ini sayang. Jangan khawatir, asal kau dan aku biasa saja dia tak akan curiga." Kata Adnan sembari membalik tubuh Nela menghadapnya.


"Tapi..."


"Sssstt, nggak usah di pikirin. Dan terima kasih yah, aku pikir bukan aku yang pertama." Ucap Adnan mengingat kejadian tadi dimana dia adalah pria pertama untuk wanita itu.


Adnan pikir, Nela yang tinggal di jerman apalagi dengan berpenampilan sekarang wanita itu sudah tak suci lagi. Namun ternyata dia salah, dan dia sungguh bahagia akan hal itu. Hal di mana dia bisa menjadi pria pertama untuk Nela.


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita baru ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...

__ADS_1


__ADS_2