
Selepas resmi menjadi mantan suami Adenia, Adnan langsung bergegas ke kediaman Ade dengan Amarah yang membuncah namun coba di redamnya sebisa mungkin.
Pria itu selepas turun dari mobil, tanpa basa-basi langsung berjalan menghampiri Adenia yang nampak duduk di halaman depan bersama sang putra.
"Eh, Mas kamu apa apaan sih." Kaget Adenia saat tanpa permisi Adnan mengambil Eijaz yang sedang mimi pada Mommy nya itu, membuat Eijaz menangis kejar karena terkejut dengan perlakuan Daddy nya.
Adenia sudah melihat kedatangan Adnan, namun dia tak habis pikir pria itu akan berbuat seenaknya seperti itu sampai sang putra menangis histeris..
"Sayang, ini Daddy nak. Nanti yah kita miminya, Daddy kangen sayang." Kata Adnan sembari berusaha menenangkan sang putra.
"Mas berikan Eijaz padaku Mas, kasihan dia masih haus itu. Kau membuatnya terkejut." Mohon Adenia, tak tega melihat sang putra terus menangis dalam gendongan Adnan yang tak bisa menenangkan putra mereka itu.
"Jangan berlaga seperti aku ini Daddy yang buruk pada putraku sendiri. Jangan mentang-mentang kau sudah berhasil menggugat cerai diriku, lantas kau ingin memisahkan ku dengan Eijaz juga. Jangan mimpi Ade, aku bisa lebih dari mengurusnya." Teriak marah Adnan, yang tak pernah Adenia dapatkan semasa mereka bersama dulu.
Adenia begitu terkejut dengan Amarah yang baru dia terima itu, Adnan memang dia belum mengenal pria itu dengan betul. Hingga dia tak tahu pria itu memiliki sisi kejam seperti ini.
"Kenapa? apa kau terkejut?" Tanya mengejek Adnan saat Adenia seperti shock mendengar amarahnya.
"Kelembutan ku sudah hilang sejak kita resmi bercerai. Dan ini semua ulahmu, kau yang merubahku." Kata Adnan dan langsung berlalu masuk meninggalkan Adenia yang nampak mematung.
"BIBI, BI, BIBI.." Teriak Adnan saat masuk ke dalam rumah. Bibi yang mendengar itu langsung menghampiri dengan tergesa-gesa.
"Ya Pak."
"Apa usiamu sudah mengambil habis pendengaran mu hah, sebaiknya kau mengundurkan diri saja jika tak becus dalam bekerja." Ketus Adnan saat Bibi datang menghampirinya.
"Maaf Pak." Ucap Bibi menunduk takut, dia seperti tak mengenal mantan majikannya itu lagi.
"Ciiihhh, panaskan susu Eijaz pompahan Mommy nya sekarang. Cepat." Kata Adnan tak ada ramahnya sama sekali. Membuat Bibi tanpa berucap lagi langsung bergegas pergi dan semua perlakuan Adnan itu di lihat Adenia dari jauh.
"Apa kau tak bisa sopan sedikit saja dengan Bibi, aku yang menggajinya bukan dirimu. Jadi bersikap sopanlah terhadap beliau." Ucap Adenia namun Adnan seolah menulikan pendengarannya.
"Kancing bajumu itu, apa kau mencoba merayuku setelah menggugat ku. Apa kau sedang membutuhkan belayan sekarang?" Kata Adnan membuat Adenia melotot sempurna dan langsung mengalihkan pandangannya pada bagian dadanya yang tadi menyusui Eijaz, dan benar saja kancing bajunya belum terpasang membuat aset berharganya terpampang nyata sebagian.
"Cih, kau saja yang terlalu mesum. Dasar mulut kot*r mu itu sebaiknya harus di sterilkan. Agar omongan mu itu lebih sopan lagi." Ketus Adenia menutupi malunya dan itu membuat Adnan tersenyum mengejek.
"Hahahaha, jujur saja jika kau butuh sent*han ku. Aku dengan senang hati ikhlas lahir batin bersedia." Dengan tawa mengejeknya Adnan berucap tanpa beban membuat Adenia naik darah.
__ADS_1
"Aku bukan dirimu yang memiliki n*fsu yang gila. Jangan samakan diriku dan dirimu, dan yah jika kau masih gila seperti ini silahkan pergi." Tegas Adenia geram dengan mantan suaminya itu.
Tanpa memperdulikan geraman Adenia, Adnan pergi meninggalkan wanita itu. Sebab jika seperti ini, dia harus sudahi sebelum dirinya benar-benar di usir.
"Dasar pria gila, bisa-bisanya aku pernah jatuh cinta dengannya." Gerutu Adenia dan bergegas mengikuti langkah Adnan.
"Titip putraku, aku ada urusan sebentar. Awas jangan di apa-apain." Kata Adenia ketika sudah sejajar langkahnya dengan Adnan, kemudian dia langsung melangkah ke lantai atas meninggalkan mereka.
Dua puluh menit bersiap, Adenia yang sudah rapi menghampiri Adnan yang nampak memberikan asih pada sang putra di ruang keluarga.
"Sayang Mommy pergi yah, jangan rewel sama Daddy mes*m mu ini." Kata Adenia tanpa tahu Adnan sedang menatap kagum dirinya, sungguh Adnan menyesal sudah selingkuh dari bidadari seperti mantan istrinya ini.
Hingga beberapa saat, barulah Adenia mengetahui tatapan aneh Adnan. Tatapan yang sering dia terima di saat belum adanya keretakan berkat orang ketiga di rumah tangganya yang sering dia terima dari Adnan dulu.
"Matanya di jaga, awas loncat dari tempatnya." Sindir Adenia namun tatapannya di tujukan pada sang putra, mencium bayi itu dan setelahnya pergi begitu saja meninggalkan Adnan yang masih kagum dengan Ibu satu anak itu. Meski sudah melahirkan, badannya tetap sama. Seksinya bahkan bertambah berkali lipat.
"Haahhh, udah bukan hak ku lagi. Dasar bod*h kamu Adn, bisa-bisanya kau main gila sama wanita murahan itu hingga membuat kau kehilangan berlian." Lirih Adnan menyesali semuanya, dia baru menyadari betapa sempurnanya Adnan di banding Nela yang sangat jauh di bawah Adenia.
"Aku akan berusaha untuk kita kembali, bagaimanapun caranya."
"Brian." Kesal Air, karena Brian tak hentinya meremas sana sini tubuhnya. Tadinya wanita itu sudah tertidur lelap, namun saat merasakan tubuhnya di raba-raba terusik lah tidurnya.
"Aku kangen Ai, boleh yah." Kata Brian yang dua tangannya sudah bertengger apik di balik baju Air yang nampak dengan susah paya mengeluarkan kedua tangan nakal pria itu.
"Brian, apa nggak cukup Mba Nela buat kamu. Kalau pengen pulang saja kamu, dan minta sama dia." Kesal Air karena Brian tak bisa diam, sungguh dia pun merindukan Brian. Namun mengingat Nela, Air langsung tersadar.
"Aku udah bosan sama Nela, aku dan dia hanya sementara. Nggak ada rasa di dalamnya, nggak kaya sama kamu. Boleh yah?"
"Brian, stop aku nggak mau. Jangan paksa aku, jangan buat aku menyesal udah balik kesini lagi." Tegas Air membuat Brian ciut.
"Ya udah peluk saja." Pasrah Brian pada akhirnya dan Air pun membiarkan saja, sampai dimana ponsel Air berdering membuat wanita itu segera melepas pelukan Brian dan beranjak mengambil ponselnya yang masih setia menghuni tas jinjingnya..
"Siapa?" Tanya Brian kepo sambil berdiri dan mendekati Air yang membelakanginya.
Pelukan Brian kembali Air rasakan, namun tak di gubrisnya.
"Ya sayang." Kata Air seketika membuat rahang Brian mengeras.
__ADS_1
"Aw, pekik sakit serta terkejut Air ketika Brian meremas kuat kedua aset berharga bagian depannya.
"Matikan ponselnya kalau nggak mau aku berbuat lebih." Bisik Brian penuh ancaman membuat Air mengangguk patuh karena kesakitan.
Tanpa perduli ucapan tanya khawatir pria di seberang sana, Air pun menutup panggilan itu demi menyudahi sakit yang di timbulkan Brian.
"Bri, sudah lepasin. Kau menyakitiku." Lirih Air, karena Adnan tak kunjung melepas tangannya.
Tanpa basa basi, Brian langsung menarik turun baju bagian depan Air beserta ********** membuat Air lagi-lagi terpekik kaget.
"Kau sudah gila?" Teriak marah Air, bisa-bisanya Brian melakukan itu tanpa permisi.
"Maaf, apa ini sakit?" Tanya Brian saat melihat tanda tangannya yang membuat bagian yang dia sakiti tadi memerah.
"Menurutmu." Kesal Air menahan malu, pasalnya sudah lama sekali sejak terakhir kali Brian melihat tubuhnya.
"Hehehe, iya deh maaf. Mau aku sembuhin?" Ucap Brian dengan wajah mesumnya membuat Air dengan cepat memukul kepala mesum pria itu.
"Auuuww."
"Gila, kamu makin hari makin mesum yah Bri. Otakmu itu seharusnya di masukin bengkel biar di benerin." Ketus Air serta dia memperbaiki bajunya yang tadi di turunkan pria mesum itu.
"Ck, siapa yang mesum. Orang hanya menawarkan kebaikan."
"Oh iya, selagi bersamaku. Kamu di larang keras menerima atau menelfon lelakimu itu. Kalau tidak kau akan tahu akibatnya." Tambah Brian lagi dengan mimik muka yang kembali serius.
"Satu lagi, mana ponselmu." Ucap Brian dan dengan segera merebut tak sabaran ponsel Air.
"Mau apa kamu?" Tanya Air panik saat Brian mengotak atin ponselnya, namun pria itu tak peduli dan tetap fokus.
Selang beberapa menit, Brian memberikan kembali ponsel Air membuat wanita itu membelalakkan matanya terkejut. Bagaimana tidak, Brian mengganti wallpaper ponselnya dengan foto dirinya dan brian saat tidur tadi. Posisi yang sungguh akan membuat orang berpikir yang tidak-tidak jika melihatnya.
"Jangan di hapus, aku juga memasang yang sama sekarang di ponselku. Awas jangan di hapus, dan yah jangan kembali merubah kontak pria sialan itu. Aku sudah merubahnya." Brian benar-benar membuat Air kesal berlipat lipat, pusing dengan Pria itu.
Sementara di lain tempat, Nela nampak gelisah menunggu Brian yang tak kunjung pulang. Padahal waktu sudah menunjukkan Setengah satu malam tanpa kabar sedikitpun dari pria itu.
"Nggak biasanya Brian lupa ngabarin aku." Ucap Nela yang nampak cemas berulang lalu melihat dari balik jendela, kamar mereka ke arah pintu gerbang rumah Brian.
__ADS_1