My Fault Too

My Fault Too
Pagi Yang.....


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


"Selamat pagi sayang." Ucap Adnan saat dia baru membuka matanya dan mendapati Adenia sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya..


"Pagi Mas, Aku ganggu yah?" Kata Adenia sekilas dan dia kembali fokus dengan benda pintar itu.


"Tidak. Kok jam segini sudah sibuk. Itu bajunya juga belum pakai." Ucap Adnan sembari beranjak duduk.


"Iya Mas, aku di telfon Rini tadi. Mau nggak mau harus cek dulu ini kerjaan." Kata Adenia sembari mengusap sekilas tangan Adnan yang sedang memperbaiki selimut yang dia pakai.


"Baiklah, kamu lanjutkan saja sayang. Aku ke bawa dulu." Ucap Adnan dan Adenia hanya menganggukkan kepalanya tanpa melirik suaminya lagi sakin fokus dengan kerjaannya.


Kini jam baru menunjukan pukul Lima dini hari, dan hal itu membuat Adnan tersadar dan seketika mengingat Nela yang semalam sudah dia janjikan untuk menemani wanita itu tidur namun dia ingkari.


Berjalan santai ketika di dalam kamar agar Adenia tak terlalu mencurigai pergerakannya, namun ketika dia baru saja keluar dan menutup pintu kamar mereka. Dengan tergesa Adnan berlari tanpa menimbulkan bunyi atau suara apapun untuk bergagas ke lantai bawah.


Pria itu langsung menuju kamar Nela, sesampainya di sana dia langsung saja masuk tanpa mengetuk lagi seperti biasanya.


Namun saat sudah berada di ruangan itu, dia tak menemukan wanita yang dia cari membuatnya mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Nel, Nela." Panggil Adnan.

__ADS_1


"Kemana dia?" Tanya Adnan entah pada siapa, kamar mandi pun tak luput dari penglihatannya. Namun sama yang dia temui hanya ruangan kosong.


Tak mau terlalu lama berada di kamar itu, Adnan pun memutuskan untuk keluar dengan rasa penasaran yang belum usai tentang keberadaan Nela kini. Biar saja nanti dia bertanya pada Nela, untuk sekarang biar saja Nela entah dimana yang pasti dia tak bisa meninggalkan istrinya dalam keadaan sadar terlalu lama.


"Dari mana Mas?" Tanya Adenia sesaat setelah Adnan masuk di kamar mereka. Adenia sendiri dia sudah selesai dengan pekerjaannya karena memang dia sudah mengerjakan itu setengah jam yang lalu sebelum Adnan membuka matanya.


"Dapur yang, haus aku."


"Lah itu ada minum udah aku siapin." Ucap Ade sambil menunjuk Botol air mineral yang memang sudah tersedia di kamar mereka sambil dia memakai ********** yang belum sempat dia kenakan sejak malam dan masuk lagi ke dalam selimut.


"Oh astaga, kok aku bisa lupa." Kata Adnan sembari dia menepuk keningnya membuat Adenia tersenyum ringan melihatnya.


"Kamu ini Mas, Mas mau mandi atau bentar lagi?"


"Bentar lagi sayang, masih terlalu pagi. Mau di peluk kamu aja." Usai berkata itu Adnan pun naik dan masuk di selimut yang sama dengan Adenia dan memeluk wanita itu sayang.


"Tidur lagi yah, Mas masih ngantuk." Kata Adnan dan di angguki Adenia, walau wanita itu sudah tak ngantuk lagi namun jika di pelukan suaminya seperti sekarang dia tak jamin matanya akan kuat menerima tempat ternyaman itu. Dan benar saja, baru di peluk Adnan rasa kantuk pun kembali menghampiri. Hingga keduanya pun kembali terlelap.


Sementara di lain ruangan, tepatnya di kamar pribadinya Brian. Nela dan pria itu masih nampak berpelukan manja, seolah tak ada yang merasakan ada yang aneh dengan pagi ini.


Hingga beberapa saat Brian lebih dulu membuka matanya dan tersenyum manis menatap Nela sembari membayangkan aktifitas mereka semalam.


Walau sedikit ada rasa kecewa karena bukan dia pria pertama bagi wanita itu, namun di sisi lainnya dia bahagia bisa menaklukkan wanita cantik itu tanpa usaha berat di tambah lagi Nela begitu berbeda dengan semua wanita lainnya yang pernah seranjang dengannya. Entah bedanya dimana, namun dengan Nela dia merasa begitu di lain saja apalagi wanita itu begitu membuatnya berkali-kali lipatnya merasa puas. Entahlah mungkin begitu.


"Ummm." Gumam Nela sembari menggeliatkan tubuhnya ketika merasa geli ada yang mengusap-usap pipinya bersamaan dengan tengkuknya bergantian.


"Selamat pagi Mba?" Ucap Brian ketika Nela baru membuka mata dan menatapnya tepat di dua bola mata sayu nya.


Seketika Nela langsung menghembuskan nafasnya pelan ketika membayangkan lagi kelakuannya bersama Brian.

__ADS_1


Yah, menyesal sudah pasti namun dia harus apa. Dia terlalu lemah dalam menjaga dirinya sendiri.


"Ah Adnan si@lan, kau membuatku tak bisa berpikir jernih. Dasar pria brengs*k, bod*h kamu Nela kenapa sampai selarut itu kau memikirkan pria si@lan itu sampai kau menjadi seperti ini." M@ki batin Nela pada dirinya sendiri juga untuk Adnan tentunya.


Semua ini berulah dari dirinya yang terlalu memikirkan pria itu sampai melampiaskan rasa sakitnya dengan memperbolehkan pria lain lagi menyentuhnya lagi, dan lagi-lagi tanpa status yang jelas.


Memaksakan senyumnya Nela pun menanggapi ucapan pria yang kini memeluknya cukup erat.


"Selamat pagi Bri, kau masih saja memanggilku Mba Brian. Ada kah Mba yang di tidur* adiknya sendiri." Ucap Nela membuat Brian tertawa keras dan melepas pelukannya di tubuh Nela.


"Hahahha, iya juga yah. Kalau gitu sayang bagaimana?" Ucap Brian sambil menaik turunkan alisnya namun seperti ada nada ejekan yang di dengar Nela, atau mungkin saja dia yang kini sensitif jadi mendengarnya seperti itu. Padahal Brian hanya menggodanya saja, tak ada niat mengejek atau merendahkan wanita yang semalam memberikan kepu*san untuknya.


"Hmmm, terserah." Ucap Nela dan dia langsung beranjak bangun dan langsung memungut pakaiannya untuk di pakai.


"Mba marah?" Tanya Bria membalik tubuh Nela menghadapnya.


"Nggak Brian, Mba harus kembali ke kamar. Mau istirahat, capek." Ucap Nela tak melihat Brian namun sibuk memakai pakaiannya walau di bawah penglihatan Brian dia tak peduli lagi, toh juga pria itu sudah melihat segalanya pikir Nela.


"Nggak mandi dulu di sini?" Tanya Brian ingin sedikit menahan Nela lebih lama lagi di kamarnya, entahlah mungkin dia sudah nyaman dengan wanita itu setelah kejadian semalam.


"Kamar ku nggak butuh waktu lama buat nyampe dari kamar kamu Brian. Aku bisa mandi di kamarku sendiri." Kata Nela dan dia langsung melangkah keluar tanpa menunggu pria itu mengeluarkan kata lagi.


"Terima kasih untuk semalam sayang." Kata Brian namun dia tahu Nela pasti tak mendengarnya.


Sementara Nela, setelah keluar dari kamar Brian. Air matanya pun menetes begitu saja membasahi pipinya tanpa permisi membuatnya buru-buru bergegas ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Nela melampiaskan semua yang dia rasakan dengan menangis sejadi-jadinya. Menangisi semua hal, mulai dari hubungannya dengan Adnan hingga kini hubungannya dengan Brian semalam. Sungguh dia kecewa dengan dirinya sendiri tapi dia harus apa, semua sudah terjadi hingga menyesal pun tak ada artinya.


"Kau harus pilih salah satu Nel, kau tak bisa seperti ini. Adnan dengan semua tingkahnya juga statusnya atau Brian dengan semua kelembutannya, atau tidak dua-duanya." Monolog Nela namun di ujung ucapannya dia tertawa miris dengan semuanya.

__ADS_1


Kasihan terhadap dirinya sendiri, juga kasihan dengan orang yang dia sakiti hingga membuat hidupnya berakhir dengan kepedihan seperti sekarang ini. Yah dia tahu dan dia akui dia sudah salah melangkah, namun untuk pilihan itu apakah dia bisa atau sudah terlambat sekarang untuk memilih.


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...


__ADS_2