My Fault Too

My Fault Too
Sisi lain Brian


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


Aku akan membunuhnya jika benar dia menyentuhmu." Marah Brian tak tahu diri membuat Air tertawa sumbang.


"Lalu untuk mu yang juga sering menikmati tubuh wanita, apa yang harus aku lakukan padamu. Apa aku juga harus membunuh wanita-wanita mu atau dirimu?" Ucap Air telak membuat Brian tercekat, bingung harus berkomentar apa.


"Itu juga semua karena mu Ai, aku begini karena mu. Apa kau tak sadar itu?" Brian kembali mengingat kala dimana awal hubungan keduanya hancur, atau bisa dibilang dirinya di buat hancur Air tanpa wanita itu sadari.


"Hahahaha, jangan mengkambing hitamkan aku Bri. Kau tak lagi memergokiku kala aku berset*buh dengan pria lain bukan, kau saja yang menuduhku demi kebebasan mu sendiri." Ucap Air sama sama mengingat lagi kala itu dia di tuduh Brian dengan hal yang tak pernah dia lakukan atau mungkin dia tak sadari itu. Namun saat itu, dia benar-benar tak seperti yang Brian pikirkan.


"Kau selalu saja tak mengakuinya, aku melihatmu. Aku melihat dia memelukmu Air, apa kasih sayang yang ku berikan untukmu itu tak cukup. Hingga kau harus mengemis itu dari pria lain."


Plakkkk...


Teriak Brian membuat kesabaran Air tak bisa lagi di kontrol wanita itu. Tangan yang selalu memuja Brian kini terangkat, menampar keras pipi pria itu.


Sementara Brian terkejut bukan main, dia baru pernah di tampar Air seperti ini. Pria itu langsung menahan pipi bekas tamparan Air sembari dia menggerakkan bibirnya karena merasakan kebas dari tampar wanita.


"Apa pria itu juga yang mengajarimu untuk berbuat kasar terhadapku." Ucap Brian, membuat Air ingin sekali membungkam mulut penuh petaka pria itu dengan cabe sekebon.


"Kau terlalu jauh ngelantur Bri, sebaiknya kau fokus saja dengan wanita mu yang sekarang. Anggap saja kita tak pernah ada apa-apa, begitu lebih baik. Seperti hari-hari kemarin, aku sudah terbiasa tanpamu." Air berusaha menutupi sakitnya jika mengingat wanita-wanita yang Brian tiduri dengan dalil kesalahannya yang membuat hidup Brian di kelilingi wanita-wanita demi membalas dirinya.

__ADS_1


Dia bukan tak tahu sepak terjang Brian setelah kejadian yang memisahkan mereka itu. Air tahu semuanya, namun dia berusaha untuk tak ikut campur dengan Brian yang sudah menjauh darinya lebih dulu.


"Jangan mimpi, dan aku tanya sekali lagi. Apa dia menyentuhmu?"


"Jika dia sudah menyentuhku kamu akan melepas ku?" Tanya Air ingin melihat jawaban pria itu.


"Apa kau sudah bosan hidup Ai, katakan sekali lagi. Apa dia sudah menyentuhmu, menyentuh hak milikku?" Kali ini Brian berkata tegas satu senti tepat di hadapan wajah Air yang hanya bisa tertawa menyedihkan.


"Aku tak sampai hati memberi tubuh bekas ku ini untuk pria baik-baik seperti dia, kau dengar baik baik ini. Aku bahkan malu jika harus menyerahkan yang menjadi bekas mu untuk pria baik itu." Ucap Air, mengingat dia sudah menyerahkan yang berharga dari dirinya untuk Brian.


"Bagus jika kau sadar itu, karena ini semua adalah hanya milikku Ai. Kau harus ingat itu, dan aku akan kembali jika urusanku sudah selesai. Dan selama itu kau harus menjaganya untukku." Kata Brian sembari mengelus sayang rambut lembut Air, membuat wanita itu hanya bisa memejamkan matanya sampai dimana dia merasakan bibirnya di kuasai Brian.


Tanpa lama air matanya pun luruh begitu saja, membalas perlakuan Brian yang sudah lama dia rindukan. Jujur, dia rindu semua sentuhan Brian padanya. Hanya saja kelakuan Brian belakangan ini membuatnya mau tak mau selalu berusaha untuk melupakan wanita itu.


"Jangan menangis, tolong bersabarlah menungguku. Jika sudah selesai, aku janji kita akan kembali seperti sedia kala. Dan kumohon, jauhi dia. Aku tak suka jika kau di klaim menjadi hak orang, aku tak suka itu." Kata Brian sembari mengelap bibir Air yang baru saja di rasakan lagi setelah sekian lama.


"Jangan memberi harapan, jika nanti akan menyakiti aku atau pun dirimu sendiri. Sekarang, kita bisa memulai kehidupan kita masing-masing, dan lupakan saja hubungan lalu kita. Aku lihat Mba Nela nggak buruk, buktinya kau begitu mempertahankan dirinya sampai rela Mba Ade kau tinggalkan." Kata Air, Sebab yang dia tahu Brian tak pernah menempati rumahnya. Namun belakangan ini pria itu sudah lebih betah di kediamannya bahkan membawa wanita ranjangnya itu tinggal bersamanya..


Mendengar penuturan Air, Brian dengan cepat membungkam bibir wanita itu lagi. Tak ingin mendengar kalimat yang yang menyudutkan dirinya. Dia tahu dia sudah melakukan kesalahan, namun untuk berhenti di tengah jalan itu bukan ide yang baik.


Air hanya pasrah dengan perlakuan Brian, namun saat pria itu hendak menanggalkan pakaian yang dia kenakan Air pun menahannya.


"Nggak Bri, kita tak dalam hubungan serius sekarang sampai harus melakukan itu. Jangan lakukan, kau bisa pulang dan menikmati tubuh Mba Nela sepuasnya." Kata Air menahan pergerakan Brian yang hendak melucuti pakaiannya.


"Haaah, Aku rindu Ai. Aku rindu dirimu, kumohon tunggu aku dan tinggalkan pria itu." Kata Brian sembari menyembunyikan wajahnya di dada empuk Air, tempat favoritnya.


"Dia tak membuat kesalahan yang harus membuat aku meninggalkan dirinya." Jawab Air santai sembari memperbaiki dirinya yang sudah berantakan karena ulah Brian.


"Aku akan mencari kesalahannya, dan sampai aku dapat berjanjilah kamu akan meninggalkan dirinya dan menungguku." Pinta Brian sembari mendongakkan wajahnya melihat Air yang nampak senduh.

__ADS_1


Belum sempat Air menjawab ucapan Brian, ponsel pria itu berdering nyaring.


"Angkatlah Bri, itu pasti dari Mba Nela."


Tanpa menunggu ucapan berulang Air, Brian pun langsung menjawab telfon itu yang ternyata memang benar dari Nela.


"Pulanglah, aku tadi ada urusan mendadak. Mungkin malam ini aku nggak pulang, jadi jangan menungguku dan maaf sudah meninggalkan dirimu tanpa kabar tadi." Hanya kalimat itu yang terdengar dari bibir Brian, dan setelahnya panggilannya di akhiri. Sementara, Air hanya bisa mendengar.


"Aku mau kita disini hari ini, aku akan mengabari Dido untuk menghendel semuanya." Kata Brian seenak jidatnya membuat Air tak habis pikir, apalagi tanpa permisi Brian merebut ponselnya dan menonaktifkan ponsel wanita itu.


"Aku tak menerima penolakan, jadi simpan saja keberatan mu. Karena itu percuma saja." Kata Brian lagi langsung menggendong Air ke arah kamar pribadi keduanya.


"Bri..."


"Diam jika tak ingin aku berbuat lebih dan kita akan berakhir di tempat biasanya." Ancam Brian berhasil membuat Air tak berkutik.


.


.


.


"Brengsek..." Teriak Adnan yang baru saja mendengar kabar, jika Adenia sudah berhasil mengurus perceraian mereka.


"Kau akan membayar mahal karena sudah membantu istriku." Ucap jahat Adnan, setelah tahu siapa di balik keberhasilan sang istri terlepas darinya. Padahal sudah mati-matian dia berusaha menggagalkan usaha sang istri atas urusan cerai yang di urus Adenia.


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...

__ADS_1


__ADS_2