
............🌹Happy Reading🌹 ...........
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Usai membiarkan Adenia menuangkan semua rasa sakitnya dengan menangis, Adnan barulah mengeluarkan suaranya setelah melihat Adenia mulai tak se histeris tadi lagi.
"Sudah sayang?" Tanya Adnan dan mendapatkan tepukan pelan Adenia di pinggangnya.
"Is Mas, apa siih." Ucap Adenia sedikit risih dengan kalimat yang di lontarkan Adnan yang selalu dia dengar di saat-saat seperti ini. Saat dimana dia menangis karena Ibu mertuanya itu dan Adnan selalu bertanya hal itu di saat dia usai menangis seperti ini.
"Itu nangisnya, baju aku basah lo?" Ucap Adnan bercanda, namun memang benar adanya. Istrinya itu menangis dan bahkan tak segan-segan mengambil cairan hidungnya dengan baju kaos Adnan, namun pria itu tak masalah tak marah atau jijik sekalipun. Ini sudah menjadi rutinitasnya beberapa tahun silam. Dan selalu candaan ini di lakukannya dan di hafal betul Adenia.
"Tau ah." Kata Adenia manja sambil kemudian dia mengangkat kepalanya menatap Adnan.
"Hehehe, kenapa sayang?" Tanya Adnan sembari dirinya menghapus jejak air mata Adenia beserta cairan bonusnya itu dengan tangannya dan kemudian tangannya itu di usap pada bajunya sendiri.
"Apa Mas nggak marah, sampai sekarang aku belum juga hamil?" Tanya Adenia, selama menangis dia memikirkan hal itu hingga dia pun memberanikan diri bertanya. Sebab selama ini, Adnan seolah tak mempermasalahkan soal anak. Namun hati siapa tahu.
"Dengar yah." Kata Adnan menjeda perkataannya sambil memperbaiki anak rambut Adenia yang berantakan. "Pernahkah Mas menuntut mu soal anak sayang?" Lanjut Adnan dan Adenia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau tahu kenapa?" Tanya Adnan lagi dan hanya di jawab Adenia dengan gelengan kepala sambil menatap intens ke dua bola mata indah Adnan.
"Itu karena ada ataupun tak ada anak di antara kita, aku tetap mencintaimu sampai kapanpun. Yang penting kamu harus sabar, pernikahan kita baru juga menginjak empat tahun. Belum lama sayang, kesempatan kita masih banyak. Jangan pikirkan perkataan Ibu atau siapapun itu." Kata Adnan lembut.
"Kau istriku, kita yang menjalani. Bukan mereka. Kalaupun memang Tuhan tak memberikan anugrah itu pada kita, lalu kenapa?. Aku tak masalah hanya hidup menua berdua saja denganmu sayang." Tambah Adnan, sembari mengusap pipi Adenia sangat lembut kemudian dia melanjutkan perkataannya lagi.
"Tapi kau harus yakin yah sayang, kekuatan doa lebih besar dari segalanya. Maka sekarang yang harus kita lakukan hanya berdoa dan berusaha, Kita akan usahakan setiap malam sampai dapat sayang. Bagaimana?" Ucap Adnan dengan seriusnya, dia bahkan berkata sambil mengusap sayang pipi Adenia berulang kali membuat wanita itu merasa beruntung memiliki Adnan sebagai suaminya.
Namun, di kalimat terakhir Adnan. Adenia sedikit memutar bola matanya malas mendengarnya.
"Tiap malam kalau Mas nggak ada tugas luar kota juga kita nggak pernah alpa Mas. Tapi apa nggak pernah ada hasilnya bukan.." Kata Adenia menghembuskan nafasnya pelan.
"Hehehe iya sih, kok Mas mendadak lupa yah. Tapi mungkin Tuhan mau kita lebih usaha lagi, mungkin seperti menambah waktunya." Kata Adnan sambil menggaruk belakang kepalanya dengan senyum sok tampannya..
"Hmm, ya ya ya. Balik yuk Mas, capek habis nangis jadi lapar." Kata Adenia yang kini sudah melepas diri dari Adnan. Mungkin dia sudah merasa lebih baik setelah menumpahkan perasaannya tadi dengan menangis.
__ADS_1
"Hehehe, kau ini. Mau telfon Bibi buat masakin atau pesan saja?" Tanya Adnan sembari dia sedikit membantu memperbaiki baju Adenia yang sedikit kusut di bagian depannya.
"Nggak deh, kayanya mau istirahat saja. Sekalian nunggu makan malam saja." Ucap Adenia yang sebenarnya dia tak lapar, tapi entah kenapa mengatakan itu tadi. Entahlah mungkin dia terlalu kalut dengan perasaannya hingga membuat apa yang dia ucapkan tak sesuai keinginan.
"Baiklah, mari meluncur." Adnan mengusap sayang kepala Adenia kemudian dia pun menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya.
...****************...
Sesaat setelah mobil mereka memasuki halaman parkir rumah mereka dan Adnan mematikan mesin mobilnya, Pria itu melihat sang istri nampak menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan setelah itu barulah Adenia membuka pintu mobilnya, dan di ikuti Adnan setelahnya.
"Sayang." Kata Adnan sambil merangkul Adenia setelah dia sudah tepat di samping sang istri.
"Eh ya Mas." Adenia nampak sedikit terkejut dengan perlakuan Adnan.
"Eh kau melamun hmm, sudah jangan terlalu di pikirkan yah. Ayo senyum, nggak baik Brian atau Nela lihat kamu murung gini." Kata Adnan sambil mengusap sanyang punggung Adenia.
"Iya iya Mas, ayo masuk." Adenia pun menampilkan senyum manisnya pada adnan walau hatinya masih belum baik-baik saja.
Keduanya pun melangkah dengan sedikit candaan dari Adnan membuat pikiran Adenia sedikit teralihkan walau tak sepenuhnya.
Saat sampai di ruang santai, Keduanya melihat Brian dan Nela sedang asik nonton bersama sembari teriak tak jelas.
"Hay hay hay, asik banget niih. Nonton apa sih?" Ucap Adenia dan wanita itu langsung mengambil tempat duduk di sebelah sang adik Brian.
"Kita telat, pas datang acaranya udah pada bubar. Dan kita pun ikut bubar juga." Kata Adnan mewakili Adenia yang nampak menatapnya.
"Ad, duduk napa. Udah kaya nagi utang saja kamu." Ucap Nela yang melihat Adnan tak kunjung duduk.
Sementara Adnan, bukannya dia tak mau duduk. Masalahnya di ruang santai mereka hanya ada satu sofa panjang, dan bukan hanya itu. Tempat yang tersisa kosong hanya di sebelah Nela, dan itu sedikit membuat Adnan bimbang untuk duduk. Di tambah lagi kini Nela hanya memakai Tank Top dan celana jeans sepaha, dan hal itu sungguh meresahkan penglihatannya saat ini.
Belum juga di jawab Adnan, Nela sudah lebih dulu menarik tangannya membuat mau dan tak mau Adnan pun akhir terduduk jua.
Alhasil, ke empat orang itu pun berakhir dengan menghabiskan waktu nonton bersama film yang tadinya di nonton Brian dan Nela.
Hingga sampai dimana Adnan yang kini sedang menaruh toples cemilan di tengah antara kedua kakinya yang kini sedang menyilang dan tak sengaja tangan Nela yang inging mengambil cemilan bersamaan dengan Adnan yang juga ingin mengambil. Alhasil keduanya pun salin tatap dan melempar senyum, senyum yang membuat hati keduanya nampak merasa lain.
"Lo duluan." Kata Adnan namun tangannya tak lepas dari tangan Nela. Membuat Nela kembali tersenyum dan menunjuk ke arah tangannya menggunakan kening dan sorot matanya yang menatap bergantian Adnan dan kedua tangan mereka, membuat Adnan menatap ke arah tangannya dan melepas cepat membuat Nela terkekeh pelan melihat tingkah Adnan.
Sementara Adenia nampak fokus dengan film Action yang sedang mereka tonton, hingga perbincangan Nela dan Adnan pun tak dia sadari. Brian pun sejak tadi sudah melirik sekilas keduanya, namun dia tak berpikir buruk dengan keduanya kerena persahabatan mereka yang terjalin.
"Eh, kalian lanjut yah. Aku kebelet." Kata Adenia mengikis kesunyian obrolan di antara mereka.
__ADS_1
"Aku temenin yang." Tawar Adnan.
"Nggak usah Mas, lanjut nonton aja." Kata Adenia dan dia langsung melangkah ke arah tangga yang tak jauh dari ruang santai itu.
Tak berselang lama, Brian yang menerima pesan singkat dari ponselnya pun pamit untuk keluar sebentar.
Dan kini tinggallah Adnan dan Nela sediri yang masih beta di ruangan itu.
"Film nya keren yah." Ucap Adnan basa basi.
"Iya Ad. Oh iya, kok Ade lama banget sih." Kata Nela yang kini sudah merasa canggung duduk berdua dengan Adnan. Entah kenapa dia merasa gugup sekarang tak seperti biasanya.
"Mungkin lanjut tidur, Adenia tadi bilang capek pas pulang soalnya."
"Oh iya Nel." Lanjut Adnan sambil merubah posisinya menghadap Nela.
"Apa Ad.?" Tanya Nela mengerutkan kedua keningnya.
"Lo sekarang berubah yah." Ucap Adnan sembari meneliti Nela intens.
"Hah, berubah. Berubah apa Ad? Jadi power rangers gitu maksud lo?."Tanya Nela yang bingung dengan perkataan sahabatnya itu, namun berakhir dengan kekehan kecilnya dengan ucapan Adnan.
"Makin cantik, seksi lagi. Nggak kalah sama Adenia." Ucap Adnan jujur, entah kenapa dia ingin mengatakan hal itu pada Nela.
Mendengar itu seketika Nela tersipu malu.
"Ah lo bisa aja. Aku mah apa jika di samakan sama istri lo, beda jauh banget. Adenia kan cantiknya nggak ada obat, nah aku biasa aja kali." Kata Nela, walau sebenarnya dia sendiri mengakui perubahan dirinya yang sangat berbeda dengan yang dulu. Namun dia masih sadar, Adenia masih jauh di atasnya.
"Jangan suka merendah Nel, aku jujur kok. Lo makin cantik aku suka sama body lo, lebih berisi. Pasti enak nih kalau di jadiin squishy." Ucap Adnan tanpa malu.
"Hahaha, lo bisa aj..." Kata Nela terhenti ketika Adnan menaruh satu tangannya di atas paha terbukanya yang sejak tadi sudah mengganggu penglihatan Adnan.
"Kan kaya squishy, empuk banget." Adnan berkata sambil tangannya meremas pelan paha yang dia sebut seperti squishy itu.
"Nggak papa kan Nel aku tahan, penasaran rasanya soalnya." Lanjut Adnan lagi dan Nela hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum manis, terbuai dengan tindakan Adnan kini.
Hingga sampai dimana mereka pun berakhir dengan saling merapat diri dan ciuman pun terjadi begitu saja, entah siapa yang mulainya duluan.
"Kenapa?" Tanya Nela yang sedikit merasa kehilangan saat Adnan menyudahi aktifitasnya.
"Jangan di sini, kita ke kamar kamu saja yah." Kata Adnan yang sudah tak bisa melepas Nela, dia sudah terlalu penasaran dengan wanita yang baru saja dia sentuh itu, hingga lupa hal yang dia lakukan sudah terlalu jauh dan akan menyakiti Adenia. Dia lupa segalanya karena pesona Nela menutup segalanya.
__ADS_1
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita baru ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...