
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Terima kasih masih setia dan klik cerita ini saat ada notifikasi Up🤗....
.
.
.
Sehari setelah tinggal bersama Adnan, Nela pun akhirnya pulang membawa begitu banyak beban pikiran di benaknya.
Pagi ini, dia di antar Adnan meski mobil mereka kendarai sendiri sendiri.
Klakson, Adnan bunyikan bertanda dia langsung pergi saat mobil Nela memasuki pekarangan rumah mewah Brian.
Tak berselang lama, mobil Nela terparkir dan keluar berjalan ke arah pintu utama rumah Brian. Mobil Brian pun memasuki pekarangan rumah membuat Nela berhenti dan menunggu Brian sejenak.
Saat, Brian berjalan menghampiri Nela. Wanita itu seakan berkeringat dingin saat menatap wajah Brian yang nampak masih fokus dengan ponsel di tangannya. Perasaan bersalah seakan menghantam pikirannya, kala mengingat kembali penghianatan yang kembali dia lakukan bersama Adnan.
"Mau ke mana?" Tanya Brian ketika sudah di hadapan Nela. Bukan tanpa alasan Brian bertanya seperti itu, sebab Nela cukup rapi saat ini.
"Emm, tadi aku mau ke supermarket depan. Tapi nggak jadi deh, kamu udah keburu pulang. Maaf aku belum masak untuk kamu." Kata Nela sembari mendekat dan merangkul legan Brian.
"Oh, nggak usah masak. Aku hanya mau mengambil berkas saja, aku harus kembali lagi Air dan Dido udah nunggu soalnya." Ucap Brian sembari melangkahkan kakinya membawa mereka masuk.
Sepanjang jalan mereka ke arah kamar, tak ada satu pun di antara mereka yang bersuara. Brian dengan dunia ponselnya sedangkan Nela hanya melihat Brian yang nampak fokus meski meraka sedang menempel dan melangkah bersama.
Saat setelah mereka sampai di kamar, Brian langsung melepas rangkulan Nela pada lengannya dan melangkah ke arah meja kerjanya. Sementara Nela, wanita itu langsung melangkah ke arah ranjang dan membaringkan dirinya di sana.
Memperhatikan Brian yang sedang mengobrak abrik berkas yang mungkin dia lupa menaruhnya.
"Mau aku bantu." Nela bersua saat melihat Brian tak kunjung menemukan yang dia cari.
"Boleh. Cari berkas bertuliskan pertanahan." Brian akhirnya menerima bantuan Nela sebab dia membutuhkan berkas itu segera, karena memang usaha mereka yang di cabang baru sedang dalam masalah pertanahan.
__ADS_1
"Oke." Nela pun ikut membantu, mereka berdua membuka semua berkas milik Brian hampir setengah jam lamanya. Sampai di mana Nela dengan semangat empat lima berucap.
"Aku ketemu." Kata Nela membuat Brian bernafas lega.
Brian yang tadi nampak cemas akhirnya dengan lega mendudukkan dirinya di kursi kerjanya dan tanpa di duga Nela pun ikut duduk namun duduk di atas pangkuan Brian seperti biasanya sebelum akhirnya Brian kembali bersama Air dan menjadi jarang mereka seintim ini lagi.
Brian yang nampak senang dengan ketemunya berkas itu nampak membiarkan saja Nela berbuat sesuka hati.
Sampai dimana Wanita itu mengalungkan kedua lengannya di leher Brian membuatnya terkesiap dan dengan segeran melepas tangan Nela.
"Kenapa?" Ucap Nela bingung meski dia sudah tahu alasannya, hanya saja dia ingin mendengar jawaban Brian.
"Tidak, aku harus balik sekarang Nel." Brian hendak menurunkan Nela dari pangkuannya namun dengan cepat Nela menariknya dalam ciuman yang membuatnya mau tak mau meladeninya sebentar. Tak lama, hanya beberapa menit saja Brian pun melepas diri karena tangan Nela mulai tak kondusif di tubuhnya.
"Tidak sekarang Nel, lain kali. Mereka sudah menunggu berkas ini." Ucap Brian sembari menurunkan Nela dari pangkuannya dan mengambil berkas yang tadi mereka cari.
Kecewa itu yang saat ini Nela rasakan, dia merasakan keterkejutan Brian saat dia memulai ciuman tadi namun bersyukur sebentar karena ternyata Brian masih menerimanya namun kembali kecewa karena Brian menolaknya saat dia ingin lebih bukan sekedar ciuman.
Tanpa suara, Nela akhirnya melangkah dan membaringkan tubuhnya di ranjang dan langsung membelakangi Brian sengaja menunjukkan kekecewaannya pada pria itu.
Tak mau terus dengan perasaan anehnya, Brian lebih memilih melangkah keluar tanpa berpamitan lagi dengan Nela sebab entah kenapa perasaannya terasa aneh sekarang.
Sementara Nela, wanita itu langsung meneteskan air matanya kala mendengar pintu kamar terbuka dan tertutup pertanda Brian pergi tanpa berpamitan sedikitpun padanya.
Meninggalkan Nela dengan kesedihannya, Brian pun nampak merasakan aneh dengan perasaannya.
Dia nampak merapalkan ucapan yang membuatnya cukup kepikiran sepanjang perjalanan menuju Distro.
"Kamu hanya mencintai Air Brian, ingat itu. Hanya Air tidak yang lain." Brian terus menanamkan ucapan itu dalam otaknya yang mulai ngaco pikirnya.
Sesampainya di tempat tujuan, dan saat memasuki ruangan dia langsung tersenyum ketika melihat Air nampak fokus dengan NB di meja kerjanya sementara Dido nampak sibuk dengan panggilan di ponselnya.
"Sudah ketemu sayang." Brian berkata sembari memeluk dan mencium pipi Air dari arah belakang wanita itu.
Dido yang melihat keduanya nampak menaikan sebelah alisnya, ingin berkomentar namun lawan bicaranya nampak cerewet di balik ponselnya.
__ADS_1
"Ah syukur lah. Lekas kemari kan, aku harus segera mengirimkannya pada pengacara kita. Enak saja tanah yang sudah hak kita di klaim orang." Air yang fokus sampai tak sadar dengan perlakuan Brian seolah tak ada Dido di antara mereka itu.
"Ini, dan." Brian memberikan berkas itu dan tanpa permisi dia langsung mengangkat Air dan mendudukkan Air di atas pangkuannya membuat Air terpekik kaget.
"Brian, apa apaan sih kamu." Kejut Air, langsung tersadar saat matanya bertemu dengan Dido yang nampak tersenyum mengejek ke arahnya.
"Jangan komentar, aku hanya ingin menghilangkan bekasnya." Ucap Brian membuat Air terdiam.
"Bekasnya? Maksudnya mereka tadi juga dalam posisi ini." Air terdiam, pikirannya mulai memikirkan yang aneh aneh.
"Lanjutkan, aku tak akan mengganggu." Kata Brian mengembalikan kesadaran Air.
"Aku nggak bisa kerja jika seperti ini." Hendak berdiri namun Brian menahannya dengan memeluk erat tubuh Air.
"Brian."
"Aku mohon." Brian memotong cepat ucapan Air.
"Sepertinya aku tak di anggap di ruangan ini." Dido yang telah usai dengan ponselnya langsung membuka suara mengagetkan pasangan yang sepertinya tak mengaggap keberadaan dirinya terkhusus Brian tentunya.
"Itu kau tahu." Seloroh Brian membuat Dido berdecak sebal.
Sampai dimana saat Air berdiri karena kelegahan Brian bertepatan dengan pintu ruangan mereka yang terbuka. Brian yang hendak kembali membawa Air dalam pangkuannya jadi terhenti saat orang itu bersuara dan Air menaggapinya dengan gugup.
Keterkejutan menghampiri ketiga sahabat itu. Dido yang terkejut karena kedatangan mendadak orang itu. Ada juga yang terkejut sekaligus cemburu dan itu tentunya adalah Brian. Sementara Air nampak sedang mengatur laju jantungnya yang mulai tak stabil karena kedatangan mendadak orang itu.
"Maaf mengganggu." Ucap orang itu, dan Air langsung dengan cepat mendekatinya.
"By, kenapa mengabaikan panggilanku." Ucap orang itu membuat Brian memalingkan wajahnya karena kini orang itu langsung merangkul pinggang Air begitu posesifnya.
"Yang sabar Bro." Dido langsung mengirimkan pesan perhatian namun terkesan mengejek itu pada Brian.
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1