
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Mendengar teriakan tanpa permisi itu Brian melihat cepat ke arah sumber suara namun dia kembali mengalihkan pandangannya ke pada Adenia ketika merasakan pelukan wanita itu semakin kencang pada tubuhnya.
"Hey aku sedang bertanya padamu, apa kau tuli." Orang itu kembali bersuara ketika Brian tak menjawab ucapannya.
"Bu, Ibu ngapain kesini?" Ucap Adnan sembari berjalan pada orang yang berteriak itu, ternyata Ibunya yang baru kedua kali ini menginjakan kakinya di rumah ini setelah pertama kali datang untuk penempatan pertama dirinya dan Adenia di rumah ini sampai hari ini baru kembali lagi.
"Memang kenapa kalau Ibu kesini? Dan kenapa kau sakit tak mengabari Ibu? Beruntung tadi Ibu mampir ke kantormu tapi mereka bilang kau sudah tak hadir dua hari karena sakit? Dan ini kenapa kau jadi babak belur begini?" Cecar Ibu Adnan sembari meneliti tubuh sang putra yang nampak tak berbentuk di sana sini kerena banyak di bungkus perban.
"Bukan begitu Bu, heran saja Ibu tiba-tiba kesini. Aku hanya kecelakaan kecil kok, tak apa-apa." Jelas Adnan tak ingin ibunya tahu jika ini ulah sang adik ipar.
"Brian, antar Mba ke kamar yah. Mba pusing." Lirih Adenia yang benar merasakan pusing.
"Baiklah Mba. Kita ke kamar sekarang" Kata Brian dan langsung di angguki Adenia. Pria itu langsung mengubah pelukan nya pada Adenia jadi rangkulan dan hendak beranjak namun di tegur Ibunya Adnan..
"Hey, apa ini sikapmu menyambut kedatangan mertuamu Nia, kau sungguh tak punya etika. Ini nih kalau kau terlalu memanjakan istrimu Adnan, makanya sikapnya seenaknya saja tak menghargai Ibu." Teriak Ibu Adnan membuat langkah Brian dan Adenia terhenti.
Brian dan Adenia sengaja tak menyapa Ibu Adnan karena memang sejak awal wanita paru baya itu tak pernah menganggap mereka ada. Terkhusus Brian, pria itu tak pernah mengenal baik bahkan mungkin bisa di bilang asing dengan Ibunya Adnan sakin wanita itu tak menganggap sang kakak apalagi dirinya.
Sementara Adenia sendiri, sudah menyerah akan mertuanya. Toh juga sekarang hubungannya dan Adnan tak seperti dulu lagi. Lalu untuk apa dia membuatnya sakit dengan menegur wanita itu yang ujung-ujungnya akan menyakiti dirinya juga dengan kata-kata pedas wanita paru bayah itu.
Semenjak hamil sampai detik ini, mertuanya itu tak pernah sedikitpun menanyainya kabar tentang kehamilannya. Padahal Adnan sudah mengabari sang Ibu, namun ternyata untuk berkunjung memberi selamat saja tidak. Lalu dengan keadaan sekarang, apakah dia masih menginginkan penerimaan wanita itu atas dirinya. Tidak lagi, tidak setelah mengetahui penghianatan sang suami. Sudah tidak ada lagi harapan yang dia harapkan sekarang ini.
"Bu, jangan mengganggu Istriku. Dia sedang sakit dan butuh istirahat, tolong jangan mengganggunya. Jangan buat keributan di sini. Aku mohon." Potong cepat Adnan sebelum Brian membuka suara dan menambah kerumitan dalam rumah tangganya.
Brian dan Adenia pun melanjutkan langkah mereka, Brian berusaha menahan diri setelah merasakan badan bergetar sang kakak. Itu sebabnya dia tak mau menambah pikiran wanita itu.
Sementara Adnan langsung mengajak sang Ibu untuk duduk, sebelum wanita cerewet itu kembali berulah.
"Sakit, tapi bisa kan sapa Ibu sebentar." Gerutu Ibu Adnan namun tak di indahkan pria itu.
"Hey, kau sahabatnya Adnan bukan? Namamu siapa, Ibu lupa?" Kata Ibu saat melihat Nela yang nampak membantu Adnan untuk duduk.
__ADS_1
"Nela Bu." Kata Nela.
"Oh." Singkat Ibu setelahnya beralih menatap sang putra.
"Kenapa bisa sampai seperti ini Adn?" Tanyanya membuat Adnan sedikit menghembuskan nafasnya.
"Kecelakaan, tapi nggak papa Bu. Aku baik-baik saja." Jelas Adnan namun Ibunya nampak tak puas dengan ucapannya.
"Kecelakaan apa.." Kata Ibu terhenti karena Brian dengan cepat memotong ucapan wanita tua itu.
"Aku yang menghajarnya, kenapa? Apa masih kurang? Biar ku tambah lagi, tanganku masih belum puas soalnya." Kata Brian saat baru menuruni tangga. Pria itu hanya mengantar Adenia sampai di pintu kamar sang kakak, kemudian Bibi yang melanjutkan membawa Adenia masuk. Sebab dia sudah tak sabar ingin mengusir para pembuat sang kakak tak nyaman di rumah ini.
Sontak saja Ibu Adnan menatap tajam Brian saat mendengar hal itu.
"Apa benar yang pria ingusan itu katakan." Kata Ibu namun masih dengan menatap tajam Brian yang nampak acuh menerima tatapan itu.
"Bu sudahlah, dia bohong. Jangan hiraukan, sebaiknya ibu pulang saja." Kata Adnan sudah mulai pucat takut Brian membongkar aibnya. Bukan masalah malu dengan sang Ibu, hanya saja dia tak ingin ini menjadi cela untuk sang Ibu membuatnya meninggalkan Adenia. Dia tak mau itu sampai terjadi, demi Tuhan dia tak mau itu. Dia teramat takut untuk kehilangan Adenia, dia tak siap untuk hal itu.
"Hahahha, kau penakut sekali mengatai aku sebagai pembohong.." Tawa mengejek Brian seolah merasa lucu dengan pria pengecut itu.
"Kurang ajar yah kamu, dimana sopan santun mu untuk kakak iparmu hah. Dan kenapa kau menghajarnya. Dasar Ade dan kakak sama-sama tak bermoral." Hardik Ibu marah kepada Brian yang nampak kurang ajar pada sang putra.
"Bu." Tegur Adnan.
Dia marah karena di katai tak bermoral, oke untuk dirinya dia tak masalah tapi tidak untuk sang kakak. Tak ada seorangpun yang boleh menghinanya, tak satu orang pun yang boleh.
Adnan yang mendengar itu hanya bisa menutup matanya, hancur sudah semuanya pikir pria itu.
Sementara Ibu nampak terlihat shock dengan kenyataan itu. Anaknya, si pria bucin itu bisa menyelingkuhi wanita sempurna seperti Adneia. Wanita yang dia manja bagaikan ratu itu. Adnan bisa melakukan itu, Ibu sampai menatap tak habis pikir Adnan sekarang.
"Benar begitu Adnan?" Balik tanya Ibu Pada Adnan.
"Bu, ini masalah rumah tangga ku. Tolong jangan ikut campur."
"Ibu tak peduli, siapa wanita itu." Tanya tegas Ibu dan langsung di jawab Brian dengan senang hati.
"Itu, wanita jal*ng yang ada di hadapan Ibu. Lihatlah dan kenali calon menantu baru murahan mu itu. Silahkan berkenalan." Kata Brian membuat Nela menghembuskan nafasnya, ingin sekali dia menghilang dari sana saat mendengar kalimat rendah yang Brian katakan itu.
Ibu Brian langsung menatap tajam Nela, meneliti dari atas sampai bawah wanita itu. Tak bisa menandingi Adenia, namun cukup sempurnah.
Beliau pun hanya bisa menghembuskan nafas dan setelahnya kembali menatap Adnan.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Ibu sudah tak tahu harus berkata apa, sebenarnya beliau sudah menerima Adenia saat mengetahui wanita itu kini telah hamil. Namun Apa ini, beliau malah di beri kejutan seperti ini dari sang anak.
"Aku akan menikahi Nela, Adenia sendiri yang memintanya." Jawab Adnan membuat Brian terpancing emosinya..
"Yah, dan kau segera ceraikan Mba Ade dan pergilah dari sini." Kata Brian sarkas.
"Heh, hak apa kamu mengusir anakku. Ini rumah dia yang beli.."
"Dan jangan melupakan rumah ini atas nama siapa, tanyakan pada anak si*lan mu itu. Dia lebih tahu segalanya. Bukan kah begitu kakak ipar br*ngsek." Timpa Brian dengan senyum mengejeknya.
"Kau." Marah Ibu mendengar penghinaan Brian pada Adnan.
"Bu, sudahlah. Ini memang rumahnya Ade, tolong jangan membuat ku semakin sulit disini." Mohon Adnan tak ingin semuanya bertambah rumit.
"Adnan." Wanita itu menatap tak percaya Adnan.
"Bu, Adnan mohon." Pinta Adnan.
"Terserah padamu." Ketus Ibu dan beliau langsung beranjak pergi sakin emosinya.
"Apa kalian tak ingin menyusul." Ejek Brian, menatap jijik Adnan juga Nela.
"Bri.."
"Jangan menyebut namaku dengan mulut kotor mu itu, menjijik*n..."
"Permisi Den Brian." Kata Bibi dari arah belakang Brian membuat pria itu menolehkan pandangannya pada Bibi.
"Ibu memanggil Aden." Mendengar itu Brian langsung segera melangkah menemui sang kakak meninggalkan Adnan dan Nela begitu saja.
Sesampainya di kamar, Adenia langsung memintanya untuk duduk di samping Adenia yang nampak sedang duduk bersandar di sandaran ranjangnya.
"Ada apa Mba? Mba butuh sesuatu?" Kata Brian.
"Bisa kau bantu mengurus pernikahan kakak iparmu segera. Kakak butuh bantuan mu." Kata Adenia membuat Brian teramat terkejut.
"Mba..." Ucap Brian hendak protes, bingung dengan jalan pikiran sang kakak.
"Mba tak bisa melepas mereka begitu saja Bri..." Kata Adenia dengan wajah tanpa ekspresinya.
...****************...
__ADS_1
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...