
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Dua hari setelah kejadian itu, Brian tak lagi menginjakkan kakinya di kediaman sang kakak lagi selama wanita itu masih di rumah sakit. Dia lebih memilih untuk menempati rumahnya di banding harus tinggal di rumah yang dulu surga namun kini sudah menjadi neraka itu.
Hari ini Adenia baru bisa keluar rumah sakit dan di jemput sang adik lelakinya itu.
Brian tak menjenguknya selama sakit, padahal pria itu sudah janji untuk menemuinya namun tiba-tiba membatalkan niatnya dengan alasan ada kerja darurat di luar kota.
Namun Adenia tak tahu saja, Brian berusaha mati-matian tak menemuinya karena tak sanggup jika harus melihat wanita itu setelah dia mengetahui kebenaran tentang affair suami dan sahabat kakaknya itu.
Sungguh Brian tak bisa terlihat baik, dengan hanya membayangkan wajah kakaknya saja dia sudah berlinang air mata. Apalagi jika bertatap muka langsung dengan wanita itu, itu sebabnya dia lebih memilih untuk menenangkan diri dan tak menemui wanita itu sampai di mana dia benar-benar siap.
Seperti sekarang, sebenarnya Brian belum siap untuk bertemu sang kakak, namun Adenia menghubunginya dan meminta sang adik untuk menjemputnya dari rumah sakit. Mau tak mau Brian pun tak bisa menghindar lagi.
"Brian, kok lama sekali." Kata Adenia saat Brian baru memasuki kamar inapnya, dia sudah menunggu Brian dari sejak satu jam yang lalu namun pria itu baru muncul sekarang.
"Umm, maaf Mba tadi ada sedikit kendala makanya telat. Ya sudah ayo, Bibi saya bantu." Kata Brian tak sedikitpun menatap mata sang kakak, setelah tadi dia sudah susah paya menenangkan diri hingga terlambat satu jam lamanya itu.
Sebenarnya Brian sudah di parkiran rumah sakit sejam yang lalu, hanya saja dia terlalu takut ketemu wanita itu. Matanya terlalu sensitif jika berkaitan dengan kakak kesayangannya itu. Yah dia betulkan jika dia pria paling jahil bagi sang kakak, namun rasa sayangnya untuk wanita itu tak main-main. Jika ada yang lebih penting di dunia ini, maka Adenialah orangnya.
"Hahaha, kendala apa? Palingan juga masalah cewe kan Bri. Ingat yah Brian, kamu itu sudah besar jangan terlalu bermain wanita. Dan cobalah setia untuk satu wanita saja, nikahi dia kalau sudah yakin." Kata Adenia, jiwa bawelnya mulai muncul jika berkaitan dengan sang adik player nya itu .
"Kali ini nggak kok Mba." Kata Brian lagi-lagi tak melihat ke arah Adenia dan di rasakan wanita itu sedikit ada yang aneh dengan sang Adik. Biasanya pria itu selalu mengajaknya ribut di kala dia menasehati sang Adik, namun apa ini. Dia bukan seperti Brian yang dia kenal sekarang.
"Kau kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Adenia langsung ke intinya.
"Apa sih kak, Ayo Bibi tolong gandeng Mba Adenya. Biar barangnya saya yang bawa semua." Kata Brian mengalihkan topik, takut jika dia tak bisa mengontrol diri dan menceritakan semuanya pada sang kakak.
__ADS_1
Brian tak mau wanita itu sampai drop kembali jika mengetahui perselingkuhan suaminya, tidak dia tak mau sampai itu terjadi. Biarlah di kala kondisi kakaknya sudah lebih baik barulah dia membicarakan hal itu dengannya, pikir Brian yang tak tahu jika sang kakak sudah lebih dulu mengetahui masalahnya dahulu di banding dirinya.
"Siap Aden, itu sudah tugas Bibi." Sahut Bibi yang sejak tadi hanya menyimak.
Adenia nia pun mengerutkan keningnya melihat keanehan sang adik yang tak biasanya, namun dia sekarang membiarkan saja. Toh juga di saat sang adik ingin membagi masalahnya jika sudah siap maka dia akan menjadi orang pertama yang di jadikan teman curhat pria penyuka wanita itu.
Sepanjang jalan menuju rumah, hanya kesunyian yang menemani. Tak ada satu orangpun yang membuka suara karena semuanya sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing termasuk Bibi Imas sekalipun. Namun ternyata semua pikiran mereka saling sinkron. Sama sama memikirkan dua manusia tak tahu malu yang kini berada di rumah.
Terkadang Bibi memperhatikan Adenia dan Brian yang sesekali menghembuskan nafas mereka, jika Adenia Bibi pasti paham dengan pikirannya namun tidak dengan Brian.
Setelah tiga puluh menit perjalanan, Kini Tibalah mobil Brian memasuki pekarangan rumah Adenia.
"Brian, nanti tolong ambil mobil Mba di rumah sakit yah. Masih ke parkir di sana soalnya." Kata Adenia sebelum turun dari mobil.
"Iya Mba." Balas Brian seadanya.
Mereka pun keluar dan melangkah masuk dengan Brian yang menenteng barang-barang Bibi juga Adenia.
Saat sampai di ruang keluarga mereka melihat ada Adnan dan Nela yang duduk di sana sembari Nela yang sedang menyuapi Adnan makan.
Berbeda dengan Brian yang menatap benci pada dua orang itu, ingin rasanya dia kembali melangkah dan menghajar Adnan lagi dan lagi.
"Ayo Mba." Kata Brian sengaja membesarkan suaranya agar di dengar kedua sejoli itu yang belum sadar dengan kedatangan mereka.
Sontak saja, Adnan dan Nela langsung terkejut dan berdiri menatap Adenia dan Brian bergantian.
"Ade, kau sudah sehat. Maaf yah aku sakit dan nggak bisa jenguk kamu." Tutur Adnan walau dengan sedikit gugup di tatap nyalang Brian.
"Hmm, nggak masalah. Lanjutkan saja." Kata Adenia dan melangkah meninggalkan tempat itu begitu saja, namun langkahnya terhenti ketika mendengar pekikan Nela dan sontak saja Adenia membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah wanita itu.
"Brian jangan lagi." Teriak Nela berusaha melindungi tubuh Adnan.
"Brian!!!!!." Teriak Adenia kaget melihat sang Adik mendorong kuat Nela sekaligus dengan Adnan di belakang wanita itu.
Brian nampak memburu, entah kenapa dia tak bisa melihat lama wajah Adnan juga Nela. Tangan serta kakinya seperti tak bisa diam, apalagi tadi dia melihat Nela mengusap lengan Adnan saat Adenia membalas dingin ucapan pria itu. Alhasil dia dengan cepat melangkah dan hendak memukul Adnan namun di lindungi Nela dan alhasil dia langsung mendorong keduanya dan di lihat Adenia pada akhirnya.
__ADS_1
"Brian kenapa? Ada apa Bri? Kamu kenapa?" Tanya Adenia cemas melihat kemarahan sang adik, dia bahkan tak perduli dengan Adnan juga Nela yang nampak tersungkur di lantai depan sofa yang mereka duduki tadi.
"Maafkan aku Mba, aku nggak bisa bohong lagi sama Mba tentang ini. Mba lihat wajah hancur pria itu, aku yang membuatnya." Kata Brian dengan menggebu-gebu karena amarah yang masih menguasai dirinya sembari menunjuk Adnan yang kini nampak di bantu Nela untuk berdiri.
Adenia langsung menatap Adnan yang tadi tak terlalu dia perhatikan jelas sakin malasnya menatap wajah pria itu.
"Apa kau juga sudah tahu Dek?." Tanya Adenia menebak sang Adik setelah menyimpulkan sendiri kemarahan Brian yang mendadak itu.
"Yah, dua hari kemarin aku melihat mereka sedang.."
"Hentikan Brian, Mba sudah tahu. Ayo Antar Mba ke kamar." Potong Adenia cepat tak ingin mendengar lanjut penuturan Brian yang sudah bisa dia tebak. Dia menghentikan itu, hanya untuk demi kewarasannya saja saat ini.
Deg..
Brian terkejut mendengar penuturan sang kakak. Sungguh sangat teramat terkejut.
"Mba sudah tahu dan diam saja. Apa Mba masuk rumah sakit juga karena mereka?" Emosi Brian kembali naik berlipat kali.
"Brian, Mba tak sekuat itu untuk membahasnya sekarang." Lirih Adenia sembari memeluk erat Brian.
"A****g kalian." Maki kasar Brian pada Adnan juga Nela saat mendengar tangisan bergetar Adenia dalam pelukannya.
"Ade maafkan aku." Ucap Lirih Adnan menambah jengkel Brian.
"Tutup mulut s*mpahmu itu pria si*lan." Teriak Brian.
"Brian." Lirih Adenia dengan bergetar hebat.
"Tidak Mba, pria itu sudah jahat sama Mba jangan melarangku untuk kali ini." Kata Tegas Brian meski tangannya terus memberikan sentuhan sayang pada sang kakak.
"Kalau kalian masih punya malu, pergilah dari rumah ini sekarang juga." Ucap Brian beralih pada dua manusia memuakkan di hadapannya itu.
"SIAPA YANG HARUS PERGI DARI RUMAH INI, KAU MENGUSIR SIAPA!!!" Teriak lantang suara dari arah belakang Brian sontak membuat semuanya menatap ke arah sumber teriakan itu. Namun tidak dengan Adenia, wanita itu bertambah erat memeluk Brian kala mendengar suara yang sudah dia hafal betul itu.
...****************...
__ADS_1
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...