
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Usai acara syukuran kelahiran Baby Eijaz, Adnan tak lantas pergi dari kediaman Adenia. Pria itu bahkan saat ini nampak menemani sang putra tidur di kamar Eijaz, sebab memang Adenia sengaja menyiapkan kamar bayi itu agar sewaktu-waktu Adnan berkunjung pria itu tak lantas punya alasan masuk lagi ke kamar pribadinya. Sebab Ade sudah benar-benar memantapkan hati berpisah dari sang suami.
Sementara Adenia kini sedang sibuk membantu Bibi setelah kepulangan semua tamu. Wanita itu merasa kasihan jika Bibi dan suaminya Bibi sendiri yang membereskan berantakan usai acara tadi.
"Sudah Bu, biar sisanya Bibi yang beresin. Ibu istirahat saja, kasihan kalau Den Eijaz Ibu tinggal lama." Seru Bibi ketika tinggal hanya ada piring makan yang belum di selesaikan.
"Ah yah, makasih ya Bi. Maaf sudah merepotkan." Ucap Adenia sembari mencuci tangannya, sebab tadi sudah terlanjur dia mencuci beberapa piring sebelum Bibi datang dan menawarkan diri usai membersihkan ruang depan.
"Aiiis Ibu ini, sudah sana kasihan cucu Bibi di tinggal lama." Seru Bibi sembari mendorong pelan Adenia, beliau tak suka jika Adenia tak enak hati padanya padahal memang ini sudah tugas beliau.
"Hehehe, selepas ini istirahat yah Oma Bibinya Eijaz." Ucap Adenia dengan tawa manisnya meninggalkan Bibi yang nampak tersenyum juga.
Bibi dan Adenia sama-sama senang, Bibi yang bahagia di anggap keluarga oleh Adenia. Sementara Adenia bahagia karena masih memiliki Bibi yang sudah dia anggap orang tuanya sendiri itu.
Melangkah naik ke lantai Atas, Adenia sedikit menghembuskan nafasnya ketika mengingat kembali jika Adnan kini masih bersama putranya Eijaz.
Saat membuka pintu kamar sang putra, Adenia langsung menggelengkan kepalanya ketika tersadar dia tersenyum melihat Eijaz dan Daddy nya nampak tertidur pulas. Membuat Adenia mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam.
"Apa yang kau pikirkan Ade, dia sudah menyakitimu." Ucap Adenia pada diri sendiri sambil mengetuk ngetuk pelipisnya sendiri, karena sempat terharu dengan pemandangan di dalam. Munafik jika dia tak menginginkan melihat pemandangan menyejukkan tadi setiap waktu, karena itu adalah mimpinya dulu.
Dia teringat dulu sebelum menikah Adnan pernah menginginkan anak pertama mereka laki-laki dan Tuhan mengabulkannya sekarang namun sudah dalam keadaan berbeda.
Menghalau semua pemikiran tak beresnya itu, Adenia pun melangkah ke kamarnya. Dia butuh bersih-bersih sebentar selagi sang putra masih tidur dan di temani Daddy nya..
__ADS_1
Dua puluh menit setelahnya, Adenia pun kembali ke kamar sang putra dan ternyata kedua pria itu sudah terbangun dengan Adnan yang nampak berbicara pada sang putra.
"Apa sayang." Ucap Adnan mengajak bicara Eijaz.
"Mas sudah malam, sebaiknya Mas pulang." Ucap Adenia berjalan mendekati ranjang sang putra.
"Kau mengusirku Ada, aku masih mau bersama putraku." Kata Adnan, pria itu kembali merebahkan tubuhnya di sebelah Sang putra membuat Adenia kesal sendiri.
"Ck, itu Mas sadar. Besok-besok saja baru datang lagi, aku mau istirahat Mas. Eijaz juga harus mimi sekarang." Kesal Adenia menarik paksa Adnan.
"Awww." Pekik Adenia saat terjatuh menimpah tubuh Adnan, niat hati ingin menarik sang suami malah dia di tarik balik oleh pria itu. Untung dia tak jatuh menimpah tubuh Eijaz yang tepat di sebelah Adnan.
"Kamu apa-apaan sih Mas!!" Tambah Adenia memukul dada Adnan dan mencoba berdiri, namun sayang pria itu malah menahannya dan membalik keadaan hingga kini dia yang malah dikungkung tubuh kekar Adnan.
"Kamu sudah gila yah, lepasin aku Mas." Kesal Adenia teramat kesal, sebab dia risih dengan posisi mereka sekarang. Tak bisa dia pungkiri dia cukup grogi sekarang.
Bagaimanapun juga Adnan adalah cinta pertama sekaligus pria pemilik hatinya, otomatis perasaan itu tak bisa hilang begitu saja..
"De, aku minta maaf. Tolong jangan jutek terus sama aku kaya gini, aku nggak suka. Nggak enak tahu, maafin aku yah. Aku janji akan memperbaiki segalanya. Tolong beri aku satu kesempatan lagi." Ucap Adnan pria itu kini menatap sendu Adenia.
"Mas sudahlah aku sudah maafin kamu, tapi maaf kita nggak bisa kaya dulu lagi." Seru Adenia, dia tak ingin terpengaruh dengan wajah sendu pria itu.
"Pikir putra kita Dek, kamu tega buat dia memiliki orang tua yang tak lengkap karena percerayan. Dia terlalu kecil De untuk kita berpisah, tolong pikirkan sekali lagi." Kini perkataan Adnan berhasil mencubit hati kecil Adenia namun tak lama wanita itu menggelengkan kepala ketika bayangan sang suami nampak menikmati tubuh Nela.
"Itu salah kamu Mas, kok aku yang di bilang tega sekarang. Sudahlah lepasin Mas, nggak nyaman seperti ini." Adenia berusaha lagi mendorong Adnan namun sia-sia saja, dia kalah tenaga dengan Adnan.
"Ade aku."
"Mas lepasin, kalau nggak kamu nggak boleh kesini lagi.!!!!" Ancam Adenia muak dengan Adnan, tak tahukah pria itu dia hampir goyah pendiriannya karen mulut penuh rayu pria itu. Dan tak bisa dia biarkan terus berlarut, bisa bahaya kalau dia terpengaruh sekarang.
Kesal mendengar ancaman Adenia, Adnan pun langsung membungkam bibir Ade yang terus menolaknya itu.
Mata Adenia seketika melotot sempurna, hendak protes saat Adnan melepasnya bentar.
__ADS_1
"Kau tak bisa seperti ini padaku Ade, kau itu istriku ini rumah kita. Adnan putraku." Ucap Adnan setelahnya kembali membungkam mulut Adenia lagi. Sungguh dia sangat merindukan ini, sudah lama dia tak menyentuhnya lagi sejak kejadian itu kejadian yang sudah merubah kehidupannya sekarang.
"Hhhpppflffff." Gumam tak jelas Adenia namun tak di hiraukan Adnan.
Plaaaakkk
Dengan sekuat tenaga Adenia berusaha mendorong Adnan dan berhasil, wanita itu menatap nyalang Adnan dan menghadiahkan satu tamparan keras di pipi sang suami dengan napas memburunya karena cukup lama Adnan menguasai bibirnya.
"Lagi sayang, nggak papa kamu pukul aku saja aku ikhlas. Tapi tolong jangan minta cerai dari aku, aku nggak bisa hidup tanpa kamu De." Ucap Adnan sembari mengarahkan tangan Adenia untuk menamparnya kembali, pria itu menangis sejadi-jadinya di hadapan Adenia.
"Aku nggak bisa tampa kamu.." Ucap Adnan begitu menyedihkan pria itu langsung memeluk pinggang Adenia membuat sang istri terkesiap.
"Pukul aku De, aku memeng salah. Tapi tolong jangan minta pisah, aku nggak bisa. Atau, atau kalau kamu masih bersih keras lebih baik aku m*ti saja De..." Ucap Adnan bagaikan orang gila dengan tangisannya. Melepaskan pelukannya di pinggang Adenia, pria itu langsung bangkit dan melihat apa saja yang ada di ruangan itu yang bisa dia pakai untuk meng*khiri hid*pnya.
"Adnan jangan gila, kamu mau apa?" Tanya Adenia khawatir dengan sikap aneh Adnan, bagaimana tidak pria itu kini nampak kaya orang gila melihat kiri kanan segala sisi kamar Eijaz.
Sampai dimana pria itu melihat pas bunga kaca yang ada dan mengambilnya, memecahkan lalu mengarahkan bagian tajamnya sendiri ke arah lehernya.
"Katakan apa kau mau menceraikan aku De?" Tanya Adnan keras, dengan wajah sendunya karena tangisnya belum usai.
Seketika Adenia menggelengkan kepalanya, shock dengan tindakan gila Adnan.
"Adnan jangan gila, apa yang kamu lakukan." Ucap Adenia panik berusaha mendekati Adnan namun pria itu selalu menghindar.
"Katakan apa kau akan menceraikan aku?" Adnan terus mendesak Adenia membuat wanita itu di landa stres berat. Jika berkata ya maka Adnan akan melanjutkan niat gilanya itu, namun jika tidak itu bukan keinginannya.
Sampai beberapa saat Adnan menunggu dan tak ada jawaban dari bibir Adenia yang terkatup sempurna.
"Tidaakkkk Adnann!!!!" Teriak histeris Adenia ketika Adnan mengarahkan keras pas bunga itu ke arah lehernya sendiri...
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1