My Fault Too

My Fault Too
Selamat Datang Di Dunia Baru Kita Nela


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


Keesokan harinya setelah perdebatan hebat kemarin.


Adenia sudah tampil cantik pagi ini. Wajahnya pun nampak segar, berjalan anggun menuruni tangga menuju ke arah ruang makan.


Semalam, dia sudah meminta Bibi Imas untuk memasak makanan seperti biasanya untuk pagi ini.


Saat tiba di ruang makan, Bibi langsung menyapanya dengan senyum keibuannya.


"Selamat pagi Bu."


"Selamat pagi Bibi sayang, oh iya Bapak tidur di kamar mana? Apa di kamar Nela?" Tanya Adenia membuat Bibi mengerutkan keningnya, sebab Adenia sudah dua hari ini wanita itu tak pernah lagi berkata seperti sekarang. Tapi apa ini, Adenia malah berkata sopan dengan dua panggilan yang sudah membuatnya terluka itu.


"Tidak Bu, Bapak tidur terpisah. Beliau di kamar tamu yang lainnya." Ucap Bibi menjelaskan.


"Ouh,.................." Kata Adenia sembari mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar Adnan tidur di kamar lain. Dia pikir pria itu sudah berpindah kamar di kamar Nela soalnya. "Tolong panggilkan ya Bi. Aku mau kita sarapan bersama, Nela nya juga jangan lupa Bi." Lanjut Adenia.


"Baik Bu, Bibi panggil sekarang." Ucap Bibi, meski bingung dengan perubahan Adenia secepat ini. Bibi tetap melaksanakan permintaan wanita itu, tanpa mau bertanya lebih.


"Tunggu sebentar Bi, Sekalian dengan Brian yah."Tambah Adenia saat teringat sang Adik.


"Maaf Bu, Den Brian belum kembali sejak kemarin keluar." Jelas Bibi membuat Adenia hanya menganggukkan kepalanya.


Yah, dia tahu ini akan terjadi. Adiknya itu marah kepadanya setelah perbincangan mereka kemarin yang dimana dia meminta Brian untuk membantunya menyiapkan pernikahan sang suami. Dengan lantang Brian menolak keras permintaannya dan pergi meninggalkan dirinya begitu saja, yah dia tahu Brian kecewa dengannya namun ini harus dia lakukan.


Tak berselang lama kepergian Bibi, Adnan langsung menghampirinya di ruang makan dengan wajah bahagianya. Sungguh teramat bahagia.


"Sayang, apa benar kau memanggilku untuk makan bersama?" Tanya Adnan takut Bibi melakukan kesalahan.


"Yah duduklah, Bibi sudah memasak banyak." Kata Adenia tersenyum manis ke arah Adnan membuat pria itu hendak memeluknya sakin senangnya.


"Hah, syukurlah. Ade pun tak marah aku memanggilnya sayang lagi. Semoga ini awal yang baik." Batin Adnan merasa legah.


"Duduklah." Ucap cepat Adenia sebelum tubuh Adnan benar-benar menyentuhnya. Dia belum siap untuk itu sekarang.


"Ah yah, terima kasih sayang." Kata Adnan gugup dengan gerakan terhentinya yang hendak memeluk sang istri, namun rasa senangnya tiada tara.


Adnan mendudukkan dirinya di tempat biasanya yang selalu dia tempati tepat di sebelah Adenia. Ini adalah pagi terbaik bagi Adnan.


"Hmm." Hanya deheman itu sebagai jawaban Adenia namun tak masalah bagi Adnan. Setidaknya istrinya tak lagi menghindari darinya itu sudah lebiah dari kata cukup.


Saat Adenia hendak menyiapkan makanan untuk Adnan, Nela datang dan bergabung dengan mereka.

__ADS_1


"Selamat Pagi Ade." Sapa Nela sedikit gugup dan ternyata di jawab Adenia dengan senyum manisnya.


"Selamat pagi, ayo silahkan duduk. Bibi sudah memasak banyak untuk kita." Kata Adenia ramah, namun hanya sekilas menatap Nela kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.


"Kau bisa Ade." Batin Adenia menguatkan dirinya.


Mereka pun makan dengan lahap dengan keadaan diam, sampai dimana Adnan membuka suaranya.


"Makan yang banyak sayang, biar bayi kita tetap sehat. Aku udah nggak sabar untuk melihatnya lahir di dunia sayang." Ucap Adnan sembari mengusap tangan kiri Adenia yang wanita itu letakan di atas meja, karena posisinya memang di sebelah kanan Adnan.


Sedikit terkejut, namun Ade langsung merubah raut wajahnya dan menampakkan senyumnya pada Adnan ketika ekor matanya menatap Nela yang nampak sama terkejutnya dengan perlakuan Adnan pada dirinya.


"Apa kau mau mengelusnya?" Tanya Adenia sengaja namun itu membuat wajah Adnan berseri bahagia.


"Apa boleh?" Sahut Adnan teramat senang.


"Tentu, kau Daddy nya." Lagi-lagi Adenia menampilkan senyum manisnya membuat Nela tak sanggup menelan makanannya sekarang.


"Aduh, Anak Daddy. Daddy kangen sayang, kamu yang sehat yah di dalam sana. Jangan buat Mommy mu repot yah, mohon kerja samanya." Kata Adnan sembari mengelus perut Adenia.


Sementara Nela, langsung menundukkan pandangannya. Tak mampu melihat pemandangan yang tak pernah dia dapatkan dari Adnan selama kehamilannya itu.


Dapat Adenia lihat Nela mengusap sudut matanya dan itu membuat Adenia tersenyum.


"Selamat datang di dunia baru kita Nela." Batin Adenia.


"Udah Daddy, biarkan Mommy makan dan Daddy lanjut lah makannya." Kata Adenia.


Usai dengan sarapan mereka, ketika Nela hendak beranjak. Adenia pun menahan langkah wanita itu.


"Nel, duduk dulu. Ada yang harus kita bicarakan, kau juga Mas."


Nela sedikit gugup tentang apa yang mau Adenia bicarakan, namun dia berharap hal baik yang dia dengar. Jika tidak, mungkin moodnya akan bertambah buruk nanti.


"Apa yang mau di bicarakan sayang." Tanya Adnan dan Nela kembali mendudukkan dirinya lagi.


"Aku sudah mengurus pernikahan kalian, besok hari H nya. Kalian tinggal masukkan data kalian, orang ku yang akan mengurus semuanya." Kata Adenia sembari menatap berganti wajah terkejut Adnan juga Nela.


"Sayang, kamu nggak papa?" Tanya Adnan tak enak hati, sementara Nela hanya diam saja menunggu keputusan Adnan.


"Hah, meski tak rela tapi mau bagaimana lagi. Nela kan sudah hamil duluan. Lagian biar kalian tak terus menerus berbuat dosa. Atau kau punya rencana sendiri, ceraikan aku dulu baru mau menikahi nela begitu?" Sindir Adenia namun dengan wajah tak di buat marah, hanya sedikit cemberut saja untuk memancing Adnan.


"Astaga, bukan begitu sayang. Maksud aku, kamu udah nggak marah lagi?" Ujar Adnan gugup.


"Mau marah juga semuanya sudah terjadi kan Mas."


Adnan kikuk, tak tahu harus berkata apa lagi.


"Ya udah, kalian urus saja. Entar sebentar lagi ada yang datang temui kalian untuk mengambil surat-surat penting kalian. Jangan kemana-kemana." Kata Adenia sembari berdiri dan sekilas meminum s*su hamilnya yang tinggal sedikit. Namun ekor matanya selalu memperhatikan Nela yang nampak tak bersuara sejak tadi.


"Mau kemana?" Tanya Adnan ketika Adenia melangkah begitu saja.

__ADS_1


"Butik." Jawab singkat Adenia tanpa berhenti, melanjutkan jalannya sebab air matanya kembali menetes padahal dia sudah bisa mengontrol diri tadi namun tenyata hatinya masih saja terasa sakit.


Adnan tak lagi bersuara, dia membiarkan saja Adenia pergi. Setidaknya wanita itu sudah mau menerimanya lagi.


"Siapkan berkas mu Nela, Aku akan siapkan berkas ku." Kata Adnan sembari meninggalkan Nela, pria itu nampak bahagia. Tak hentinya dia tersenyum.. Bukan karena akan menikahi Nela, namun bahagia karena Adenia mau menerimanya lagi.


"Ku harap ini semuanya akan baik-baik saja." Kata Nela pelan pada dirinya sendiri, dia masih bingung kenapa Adenia berubah secepat itu dan berharap semoga tak ada hal lain dari sikap baik Adenia tadi.


...****************...


Keesokan harinya Adenia lebih dulu balik setelah hadir di pernikahan Adnan dan Nela yang hanya di lakukan secara Agama sesuai dengan yang Adenia atur.


"Mba." Panggil Brian saat melihat sang kakak baru memasuki pintu rumah itu.


"Eh sayang, kapan datang? Mba kira kamu udah nggak mau kesini lagi." Ucap Adenia sembari berjalan mendekati Brian yang nampak duduk di ruang tamu.


"Maunya sih nggak datang lagi, tapi mengingat suamimu menikah lagi hari ini. Aku memutuskan untuk datang menghibur Mba keras kepalaku ini, takutnya dia lemah dan berujung drop dan masuk rumah sakit lagi." Sindir Brian sembari merangkul Adenia yang sudah duduk di sebelahnya, sebenarnya dia ingin sekali membawa kabur sang Kakak dari tempat ini dan tinggal bersamanya. Rumahnya juga tak kalah mewah dari rumah sang kakak hanya sedikit kecil saja. Tapi setidaknya tak akan membuat wanita itu tersiksa seperti di sini.


"Hahahha, Apa sih Bri. Kamu ini, Mba mu ini nggak selemah itu kali. Dan tenang saja, ada waktunya kok untuk Mba melepas semua ini. Tapi tidak sekarang Bri, kau mengertikan." Tawa Adenia menutupi rasa sedihnya. Brian pun sebenarnya sudah di beri tahu Sang kakak tentang apa yang akan wanita itu lakukan, hanya saja dia takut Adenia tak sekuat itu.


"Ya ya ya, jika butuh bantuan adikmu ini selau siap sedia." Brian pasrah dengan keinginan ibu hamil itu.


"Tentu itu." Kata Ade sembari memeluk Brian namun tak lama ketika dirinya di panggil Adnan.


"Sayang." Panggil Adnan sontak saja kedua adik kakak itu langsung melepas pelukan mereka.


"Hay, Mas. Kalian langsung ke kamar saja. Istirahat." Kata Adenia ramah, menatap Adnan dan Nela yang masih dengan pakaian pengantin mereka.


Sementara Brian nampak dia langsung berdiri dan melangkah ke arah kamarnya tanpa menegur siapapun, sebisa mungkin dia tak mau melihat dua orang di hadapan mereka itu. Karena dia tak yakin jika amarahnya akan baik baik saja jika melihat mereka, itu sebabnya dia lebih memilih pergi dari sana dan Adenia pun tak menahannya.


"Kamu duluan Nel, aku mau bicara sebentar dengan istriku." Kata Adnan membuat hati Nela menjerit sakit, wanita itu tanpa kata langsung melangkah ke kamarnya.


"Mau ngomong apa Mas? duduklah." Kata Adenia menepuk tempat di sebelahnya.


"Aku, aku.." Ucap Adnan ragu-ragu.


"Aku-aku apa Mas, yang jelas dong ngomongnya."


"Apa boleh aku kembali tidur di kamarmu, kau tahu aku sulit tidur beberapa hari ini karena nggak ada kamu di samping aku." Jujur Adnan apa Adanya, dia memang tidur tak teratur semenjak Adeni mengusirnya dari kamar mereka.


"Hmm, boleh." Kata Adenia tanpa ragu dan itu membuat Adnan berucap syukur.


"Makasih sayang, kau baik sekali." Kata Adnan bahagia sambil memeluk erat tubuh Ade.


Nela yang belum benar-benar meninggalkan tempat itu hanya bisa meneteskan air mata dan kemudian berlalu pergi dari sana.


"Ini baru awal Nel." Batin Adenia tersenyum dalam dekapan Adnan karena sebenarnya dari tadi dia melihat Nela mengintip dirinya dan Adnan.


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...

__ADS_1


__ADS_2