
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Waktu makan malam telah tiba, semua penghuni rumah sudah berada di kursi makan mereka masing-masing setelah tadi Bibi memanggil satu-persatu dari kamar mereka.
"Mau aku atau kamu Nel yang siapin makanan Mas Adnan?" Tanya Adenia saat dia hendak menyiapkan makanan untuk Adnan, namun berhubung Nela masih dalam masa berkabung dia tak ingin wanita itu tambah stres karena dia yang terus memonopoli Adnan.
"Kamu saja De, udah biasa juga seperti itu kan. Nanti aneh jika kebiasaan itu di ubah dengan aku yang melayani Adnan." Ucap Nela santai, wanita itu pun langsung beralih menatap Brian.
"Biar aku ambilkan buat kamu Bri." Kata Nela pada Brian ketika pria itu mau mengambil makanan ke piringnya.
Sontak saja Adenia menatap tajam ke arah Adiknya, namun Brian seolah buta akan tatapan itu. Sementara Adnan langsung mengeraskan rahangnya, kemudian beralih menatap sang istri Adenia.
"Sayang, aku mau makan sepiring berdua sama kamu saja yang." Kata Adnan sembari mendekatkan kursinya di sebelah Adenia hingga tak ada jarak di antara mereka.
"Tapi Mas." Adenia hendak protes, namun Adnan lebih dulu menyela.
"Aaaa, buka mulutmu sayang. Kita akan menambah porsinya jika porsi ini habis, aku sedang pingin sayang" Potong Adnan cepat sembari menyodorkan sendok ke arah mulut Adenia dan di terima wanita itu tanpa bisa di tolak lagi.
"Apa kau ingin membuat Nela cemburu Adn, karena kecemburuan mu dengan perhatian Nela pada Brian. Ah miris sekali aku sebagai bahan mu untuk membuat wanita lain cemburu." Batin Adenia merasa iba terhadap dirinya sendiri.
"Aaa sayang, giliran aku." Ucap Adnan sembari membuka mulutnya, sebisa mungkin dia fokuskan penglihatannya hanya pada Adenia seorang. Dia tak mau melihat kearah Nela, sebab dia takut tak bisa menahan emosinya meski ekor matanya selalu mencuri lihat pada Nela.
Adenia pun menuruti perintah sang suami dengan perasaan yang hancur. Dan dia harus berusaha kuat untuk itu.
"Nggak sekalian di suapi Nel? Aku pasti akan terima dengan senang hati." Kata Brian tersenyum mengejek pada Nela, walau ekor matanya menatap kasihan pada sang kakak. Karena dia tahu, Adnan kini sedang di landa cemburu akut dengan istri keduanya itu.
"Kasihan sekali nasibmu Mba, aku berharap kau akan menyudahi semua ini. Kasihanilah dirimu sendiri, jika kau mau tetap waras." Batin Brian menatap sang kakak dengan ekor matanya iba.
"Hahahaha, kau masih mempunyai tangan Brian.. Akan dengan senang hati aku lakukan jika memang kedua tanganmu lagi tak bisa berfungsi." Kata Nela dengan tawanya.
Brian seakan melihat Nela yang ceria kembali lagi, Nela yang dia tahu ceplas-ceplos seperti sang kakak telah kembali. Apakah ini akan mengubah sesuatu pada rumah tangganya, Brian memikirkan tentang itu sekarang.
"Yah yah yah, kau benar. Tanganku masih bisa berfungsi dengan baik, kau tak perlu menyuapiku. Aku hanya bercan.."
"Makanlah, kau terus saja cerewet." Nela membungkam mulut Brian dengan se suap besar makanan di mulut pria itu.
"Mmmnkjnshjk." Ucap Tak jelas Brian pada Nela.
"Makanlah dulu, aku akan sabar menunggu jika mulutmu tak lagi penuh." Ucap Nela merasa lucu dengan Brian, jika tak ada Adnan dan Adenia di sini sudah di pastikan dia akan menjahili Brian lebih dari ini. Seperti membantu Brian mengunyah makanan itu misalnya, batin Nela sakin gemasnya melihat Brian kini...
Adnan dan Adenia sudah tak fokus dengan makan mereka. Untuk Adenia sendiri muak sejak tadi, Adnan terus memanfaatkan dirinya.
"Berhenti, aku bukan ajang mu untuk membuat Nela cemburu. Jika kau cemburu sama Nela, jangan ajak-ajak aku." Kesal Adenia sembari mendorong sendok yang Adnan berikan padanya namun mata pria itu memperhatikan Nela juga Brian sejak tadi membuat Adenia geram.
Sontak saja Adnan terdiam, menyaksikan Adenia yang sudah beranjak pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
"Dasar pria gila, jika aku tak pikirkan bayiku sudah ku tendang kau dari rumah ini sejak saat itu aku melihat kebr*ngsekan mu.." Batin Adenia kesal menemani langkahnya ke arah kamarnya di lantai atas.
Tak bisa berkata, Adnan langung bangkit dan menarik Nela ikut bersamanya. Pria itu menarik paksa Nela ke arah kamarnya, bukan ke kamar wanita itu.
"Adn, lepasin kau menyakitiku." Teriak Nela kesal.
"Kalian berdua memang wanita-wanita b*doh, mau saja bertahan dengan pria maruk itu. Apa lebihnya dia sih, tampan juga semua orang tampan banyak di luaran sana." Batin Brian menyaksikan adegan demi adegan keluarga cemara itu.
"Itu hukuman untukmu." Ucap Adnan dan saat sampai di depan kamarnya. Pria itu membuka kasar pintu dan melempar tubuh Nela ke arah tempat tidurnya tanpa perasaan.
Adnan dengan cepat menutup dan mengunci pintu kamarnya. Berjalan cepat ke arah Nela dan mengungkung tubuh wanita itu dengan wajah mengerikannya.
"Kau sekarang berani menentang ku Nela, apa mau mu hah? Pantaskah seorang istri melayani pria lain di hadapan suaminya sendiri. Dan lihatlah, karena ulah mu itu sekarang Adenia kembali marah terhadapku. Apa kau puas dengan semua ini.? Puas karena mu aku selalu bertengkar dengan istriku." Teriak Adnan tepat di depan wajah Nela, tak peduli teriakannya itu memekakkan telinga Nela atau tidak.
Wanita itu hanya bisa memejamkan matanya mendengar amukan Adnan terhadapnya.
"Apa mau mu Nela? Kenapa kau selalu membuatku marah terhadapmu dan...."
"Ceraikan aku, maka kau akan terbebas dariku. Kau tak akan marah-marah lagi. Juga Adenia tak akan memusuhi mu terus menerus, ceraikan saja aku Adn. Aku bosan dengan kehidupan rumah tangga yang tak sehat ini, aku sungguh sangat bosan." Potong cepat ucapan Adnan, Nela berucap lirih dengan linangan air mata yang tak bisa lagi dia tahan. Sakit sekali jika semuanya di salahkan pada dirinya oleh Adnan...
"Ceraikan Aku Adn, tolong ceraikan aku." Tambah Nela lagi begitu memilukan...
"Kenapa kau selalu meminta cerai Nel. Apa salahnya jika aku cemburu terhadapmu, apa salah Nel. Kau itu istriku tolong berhentilah mengucap permintaan si*lan itu karena aku tak akan mengabulkannya. Sebaiknya lupakan saja keinginanmu itu, dan jadilah istri penurut maka aku akan bersikap adil padamu mulai sekarang. Aku janji." Kata Adnan sembari menyatukan keningnya di kening Nela meski wanita itu memalingkan wajahnya dari tatapan Adnan.
Ketika tak mendapatkan jawaban dari Nela, Adnan pun langsung mengarahkan wajah Nela menghadapinya.
"Aku sayang sama kamu Nel, sungguh sangat menyayangimu. Tolong bekerja samalah denganku. Aku nggak mau kamu tinggalkan, aku sudah biasa kau ada di sisiku Nela." Kini Adnan yang berucap Lirih, membuat pertahanan Nela runtuh sudah.
"Apa benar kau mencintaiku? kau tidak bohong kan?" Ucap Nela mencari pembenaran dari raut wajah menyedihkan Adnan.
"Haaahhhhh." Nela hanya bisa menghembuskan nafasnya sembari matanya di pejamkan, dia terlalu lemah.
Di tariknya Adnan dalam ciumannya, menyalurkan rasa kalahnya pada ciuman itu membuat Adnan tersenyum senang dalam membalas perlakuan Nela padanya.
"Tinggal Adenia yang harus ku urus setelah ini." Batin Adnan.
...****************...
Keesokan paginya Adnan keluar kamar Nela dengan raut segarnya, melangkah buru-buru ke kamar Adenia.
Sesampainya di sana, dia mendapati Adenia masih tertidur pulas karena memang waktu yang masih terlalu pagi untuk jam bangun wanita itu.
"Kau selalu sempurna dalam kondisi apapun sayang." Kata Adnan saat sudah berada di samping Adenia yang tertidur.
Pria itu pun langsung merebahkan dirinya, menatap lekat pada Adenia yang tidur miring menghadap padanya. Di perbaiki nya anakan rambut Adenia yang menutupi wajah cantik itu, dan dengan intens di lihatnya wajah Ade.
"Kau sempurna sayang, tak ada sedikit celah pun kekurangan darimu yang tertangkap netra ku. Aku mencintaimu Ade, tapi aku juga membutuhkan Nela tetap ada di sisiku. Aku tak tahu, aku mencintainya atau tidak. Namun memikirkan untuk melepasnya, tidak sedikitpun terlintas dalam benakku." Batin Adnan sembari mengelus wajah mulus Adenia.
Terdengar egois memang, tapi inilah kenyataannya. Adnan membutuhkan kedua wanita itu untuk tetap berada di dekatnya.
Adnan pun memberanikan dirinya bermain di bibir Adenia sebagai area kesukaannya itu membuat Adenia dengan spontan membuka matanya merasa terganggu dengan aktifitas Adnan.
"Aku membutuhkanmu sekarang sayang." Kata Adnan dan segara menjalankan aksinya namun dengan segera di gagalkan Adenia lagi dan lagi.
__ADS_1
Wanita itu mendorong kasar tubuh Adnan yang menghimpitnya.
"Kau bisa memintanya pada Nela." Ketus Adenia dan langsung membalik tubuhnya membelakangi Adnan.
Pria itu meraup wajahnya kasar, namun tak habis pikir. Dia tak bisa menerima penolakan terus menerus dari Adenia.
"Kau istriku De, apa salahnya kau menjalani tugasmu sebagai istri. Kau sudah tak menjalani tugasmu hampir sebulan ini sayang." Ucap pelan Adnan sembari kembali mendekati Adenia dan memeluk wanita itu dari arah belakang.
"Ck, kau punya istri yang lain. Atau apa Nela masih belum bisa kau sentuh karena kejadian itu dan sekarang kau datang padaku." Ketus Adenia mengingat Nela yang baru mengalami keguguran.
"Bukan masalah itu sayang, tapi aku benar-benar sudah rindu denganmu De. Tapi jika memang kau belum siap, aku tak akan memaksa. Begini saja sudah cukup." Kata Adnan sembari membenamkan wajahnya di punggung harum memabukkan Adenia.
"Ck, Dasar pria gila." Batin Adenia dan langsung beranjak bangun meski sedikit memakai tenaga untuk terlepas dari Adnan.
.
.
.
.
Hari-hari terus berlalu sejak kejadian makan malam yang penuh drama dan mengakibatkan penolakan Adenia terhadap Adnan muncul kembali. Kini Adnan mulai pasrah dengan sikap Adenia yang masih saja keras terhadapnya.
Namun kabar baiknya, Adnan kini makin terlihat romantis dengan Nela. Wanita itu selalu saja termakan bujuk rayunya Adnan.
"Sayang, sebentar dulu. Ini di dapur, nanti ada yang melihat kita." Kata Nela saat Adnan memeluk dan mengerjai lehernya dari arah belakang saat Nela sedang mengupas buah untuknya juga Adnan.
"Memang kenapa, kau istriku. Sah-sah saja aku seperti ini." Ucap Adnan cuek namun mereka tak menyangka Adenia saat ini ada di belakang mereka sampai dimana Brian bersuara membuat mereka tahu akan keberadaan Adenia.
"Jangan melihatnya jika itu menyakitimu Mba." Kata Brian sembari berjalan menuju lemari es.
"Hahaha, apa maksudmu Bri. Aku yang memaksa mereka menikah, maka batinku pun sudah siap dengan hal ini." Kata Adenia pada Brian kemudian beralih pada Nela juga Adnan. "Maaf sudah mengganggu aktifitas kalian, lanjutkan saja anggap saja aku dan adik rese ku itu tak ada di sini." Kata Adenia dengan tawa santainya.
Wanita itu berjalan ke arah meja dekat Adnan dan Nela mengambil gelas sekaligus mengisinya dengan air hangat. Setelah itu langsung melangkah pergi dari sana.
Sebenarnya, Adenia hendak membuat susu hamilnya namun dia tunda karena keberadaan Nela juga Adnan di sana dan hendak kembali. Namun sayang mulut lancang sang Adik membuat keberadaannya di ketahui suami juga madunya.
"Nel, aku tinggal sebentar. Aku harus menemui Adenia, takutnya dia membutuhkan sesuatu." Bohong Adnan padahal dia hanya takut pada Adenia, dan dia harus membujuk wanita itu segera.
"Pergilah." Kata Nela santai karena sudah biasa baginya.
Selepas perginya Adnan, Brian langsung mendekat dan memeluk Nela tanpa permisi.
"Brian." Lirih Nela saat mencium bau parfum yang begitu dia kenali.
"Kenapa sayang." Tanya Brian santai, pria itu bahkan menghilangkan jejak Adnan pada Nela tadi. Hatinya panas sejak tadi menyaksikan Adnan juga Nela, beruntung Adenia datang dan membuatnya bisa mengganggu kebersamaan suami istri itu.
"Brian aku hufffpp.." Kata Nela terputus karena Brian lebih dulu membungkam mulutnya dengan lembut, hingga Nela akhirnya terbawa dengan permainan Brian.
Adnan yang kembali dari kamar Adenia karena di kunci sang istri langsung di buat lemas akan permainan Brian juga Nela di tempat yang sama dengannya dan Nela tadi..
"Kau benar-benar wanita murahan Nela." Kata Adnan mengejutkan Nela namun tidak dengan Brian. Pria itu tersenyum miring mendengar ucapan Adnan.
__ADS_1
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...