My Fault Too

My Fault Too
Pengaruh Istri Sah


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 ...........


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


Sebulan terlah berlalu dari kejadian menuju ke hotel, dan kini mereka kembali ke hotel yang biasa mereka kunjungi ketika di rumah merasa tak bebas.


"Sayang, ponselmu." Kata Nela saat Adnan cuek dengan bunyi ponselnya.


"Masih ngantuk Nel." Kata Adnan sembari dia membenamkan wajahnya di dada terbuka Nela yang kini sedang dia peluk posesif itu.


Nela yang kesal dengan bunyi ponsel Adnan yang tak kunjung berhenti berdering pun akhirnya menjulurkan tangannya mengambil celana panjang Adnan yang teronggok tak berdaya di atas kepala ranjang yang kini mereka tempati. Dengan cepat dia mengeluarkan ponsel Adnan dari dalam sana dan melihat Id name si penelpon.


"Istri tercinta." Ucap Nela membaut Adnan mengangkat wajahnya menatap Nela.


"Biar ku angkat, aku lupa mengabari Adenia kemarin." Ucap Adnan dan dengan segera menerima panggilan itu namun dirinya kembali memeluk tubuh Nela, dengan wanita itu yang kini memainkan rambutnya.


"Halo sayang." Kata Adnan ketika panggilannya dia terima.


"Mas dimana? kenapa nggak pulang? nggak ngabarin juga?" Tanya beruntun Adenia ketika mendengar suara Adnan.


"Maaf yah sayang, aku ketiduran di kantor. Semalam lembur sampai lupa ngabarin kamu. Maaf yah." Kata Adnan dan Nela hanya menyimak obrolan suami istri itu tanpa menyela.


"Oh, lain kali jangan lupa berkabar. Aku cemas Mas, aku pikir kau kenapa-kenapa." Kata Adenia dengan nada khawatirnya.


"Iya maaf yah sayang, janji nggak lagi. Sebentar lagi aku balik kok." Kata Adnan sembari melepas diri dari Nela dan beranjak duduk..


"Baiklah kalau gitu. Udah dulu yah Mas, ada panggilan masuk soalnya." Kata Adenia.


"Iya sayang, love you. Ingat jangan capek capek, Bay sayang." Ucap Adnan dan setelahnya keduanya pun memutuskan panggilan masing-masing.


Saat selesai, Adnan melihat Nela yang sudah berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan dia langsung mengikuti wanita itu..


"Apa sih Nel." Bentak Adnan ketika tangannya melingkar di tubuh Nela namun langsung di tepis kasar wanita itu..


"Kenapa kau membentak ku Ad." Teriak kesal Nela saat mendengar bentakan Adnan padanya, di tambah lagi dia yang sedang kesal dengan Adnan membuatnya ikut membentak pria itu.


"Maaf, kamu sih kenapa menolak ku." Terang Adnan menurunkan emosinya.


"Pikir saja sendiri." Ketus Nela.


"Apa kau cemburu sama Adenia." Tanya Adnan yang mulai paham, pasalnya mereka tadi baik-baik saja sebelum Adnan menerima telfon dari Adenia.

__ADS_1


Nela tak menjawab, membuat Adnan tertawa keras.


"Kau harus ingat Nel, Adenia itu istriku istri sah ku kalau kamu lupa. Kau tidak pantas cemburu padanya." Kata Adnan di sela tertawanya, membuat Nela merasa sakit dengan perkataan pria itu namun di simpannya sendiri. Yah dia salah, dia hanya selingkuhan sementara Adenia yang lebih berhak di banding dirinya.


Tanpa memperdulikan Adnan lagi Nela pun langsung melanjutkan mandinya dan Adnan pun begitu. Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing kini hingga Nela yang memutuskan untuk menyudahi mandinya terlebih dahulu.


Saat sedang berpakaian, ponsel nela berdering dan langsung di terima wanita itu saat melihat nama Adenia tertera di sana.


"Halo Ade." Sapa Nela.


"Iya Nel, kapan balik? Udah dua hari loh kamu pergi, rumahku sepi tahu." Kata Adenia.


"Hahaha, kau merindukan aku rupanya." Tawa Nela membuat Adnan yang baru keluar kamar mandi langsung mendekatinya.


Sebelum Adnan bertanya, Nela lebih dulu berbicara pada Adenia.


"Hari ini aku pulang De, aku juga merindukanmu." Kata Nela membuat Adnan yang kini sedang mencium punggung terbukanya langsung menjauh dan bergegas berpakaian.


"Baiklah, sampai ketemu di rumah De. Aku tutup yah." Kata Nela dan tak berselang lama dia meletakan ponselnya kembali di atas ranjang.


"Kamu bisa pulang sendiri kan?" Kata Adnan dan langsung mendapatkan sahutan cepat Nela.


"Tentu, aku sudah terbiasa." Kata Nela menyindir namun tak di hiraukan Adnan tentunya, pria itu tak mungkin pulang bersama Nela. Bisa mati dia jika Adenia menaruh curiga akan kebersamaan mereka, dan dia tak mau itu sampai terjadi.


Merasa tak di hiraukan, Nela pun membuka suaranya lagi membuat Adnan menatap tak suka dirinya.


"Apa maksudmu?" Tanya Adnan tak suka.


"Sangat jelas, pertanyaan ku sangat jelas." Jawab Nela tanpa mau menjabarkan sesuatu yang sangat jelas menurutnya untuk di pahami seorang Adnan.


"Ck, tak ada perjanjian pernikahan dalam hubungan kita Nela. Jangan menuntut lebih, apapun yang kau minta akan aku turuti tidak dengan pernikahan. Aku rasa kau paham betul akan hal itu." Kata Adnan lagi-lagi membuat Nela kecewa, wanita itu langsung menghembuskan nafasnya kasar.


Selama hubungan mereka terjalin, Adnan selalu memenuhi kebutuhan Nela hingga membuat wanita itu nyaman dan tak lagi memikirkan tentang pekerjaan yang sudah membuatnya kembali ke negara ini.


Dia merelakan panggilan kerjanya, tentu juga atas permintaan Adnan yang ingin dia selalu berada di rumah terus dan tak sibuk seperti sang istri belakangan ini. Itu sebabnya Adnan memutuskan hal itu dan yah Nela mengikuti maunya.


"Sampai kapan Ad?" Tanya Nela yang mulai merasa tak ada kejelasan dengan hubungan mereka.


"Aku tak tahu, bersabarlah. Ya udah aku pergi dan yah jalan-jalan dan berbelanjalah biar kita tak sampai di rumah bersamaan aku sudah mentransfer uang untukmu, bersenang-senanglah sayang." Kata Adnan usai dia mengotak atik ponselnya.


Setelahnya Adnan pun langsung pergi tanpa menunggu jawaban Nela lagi setelah dia menyempatkan sekilas mengusap sayang puncak kepala wanita itu.


Nela hanya menatap kecewa kepergian Adnan, sungguh bukan hubungan seperti ini yang dia inginkan. Dia juga wanita yang pingin kejelasan terhadap hubungannya. Bukan menyesal dia sudah berbuat sejauh ini dengan Adnan, hanya saja dia kecewa dengan pria itu yang tak pernah menganggap berarti hubungan mereka. Ingin sekali mengakhiri hubungan yang kadang menyakitinya ini. Tapi apa? dia sudah terlalu jauh menggantungkan harapannya pada Adnan dan itu salahnya.


Sebenarnya dia tak bisa menjabarkan secara jelas bagaimana perasaannya pada pria itu, tapi yang jelas dia sekarang tak bisa jauh dari Adnan. Dia membutuhkan pria itu, entah dari sisi manapun dia membutuhkan Adnan. Itu saja yang dia tahu.


"Ahhh terserahlah, setidaknya dia masih perduli terhadapku. Itu lebih dari kata cukup." Kata Nela pusing memikirkan hubungan yang tanpa tujuan itu.

__ADS_1


"Semangat Nela, ayo bersenang-senang. Lupakan Pria mes*m itu. Kepalamu akan pecah jika terus memikirkan dia." Lanjut Nela lagi saat mengingat uang yang di kasih Adnan.


Seperti biasa dia kan ke salon dan mempercantik diri, mumpung rekeningnya sedang bertambah sekarang.


...****************...


"Sayang." Adnan yang baru datang langsung merangkul pundak Adenia dari belakang sofa yang kini sedang di duduki Adenia.


"Hey Mas." Ucap Adenia sembari mendongak menatap Adnan dan langsung di hadiahi kecupan pria itu.


"Nonton apa hm? nggak ke butik?" Tanya Adnan sembari berjalan memutar dan langsung duduk dan merebahkan kepalanya di paha Adenia sambil memeluk wanita itu rindu.


"Nggak Mas, belum ada klien baru. Butik juga ada karyawan." Ucap Adenia sembari mengusap sayang kepala Adnan.


Tak menjawab, Adnan malah merasa nyaman dalam posisinya hingga dia hanya fokus sambil mengusap sayang pinggang Adenia.


"Sudah sarapan Mas? Biar aku minta Bibi siapin atau mau aku yang siapin?" Tanya Adenia.


"Kamu yang siapin Yang, aku mau kalau kamu yang buat." Kata Adnan manja.


"Baiklah, ayo minggir biar aku siapkan sekarang." Kata Adenia dan di turuti Adnan.


Pria itu mengekor di belakang Adenia dengan dia yang menahan pinggang Adenia di belakangnya.


"Mas." Tegur Adenia.


"Hehehe, aku nggak ganggu kok. Hanya pegang doang." Kata Adnan membuat Adenia hanya menggelengkan kepalanya saja menanggapi suami manjanya itu.


Alhasil sepanjang dia siapkan sarapan untuk Adnan, pria itu setia menemani. Menempel erat di belakang tubuhnya sembari kepalanya pria itu menempel pasti pada bahu kirinya tapi tak menumpukan beban sepenuhnya untuk dirinya.


"Selesai." Kata Adenia.


"Waktunya menghabiskan." Kata Adnan dan langsung mengambil alih makanan buatan sang istri.


"Mas tunggu sebentar yah, aku ganti baju dulu nanti balik lagi." Kata Adenia, seperti biasa dia tak akan betah dengan pakaian yang sudah dia bawa memasak itu.


Hanya lima menit saja, Adenia pun kembali dan mendapati Adnan masih diam menatapi makanan buatannya.


"Kenapa nggak di makan sayang?" Tanya Adenia membuat Adnan menatapnya.


"Heheh, aku nungguin kamu sayang. Kita makan bareng." Ucap Adnan sambil menepuk pahanya sendiri dan Adenia langsung tersenyum dan melangkah pasti mengambil tempat di paha Adnan.


Alhasil keduanya pun makan bersama dengan Adenia yang menyuapi Adnan sesuai permintaan pria itu.


"Nela hanya rasa penasaranku sayang, dan kau adalah pemilik sepenuhnya hatiku. Aku mencintaimu sebesar yang tak bisa di gambarkan oleh apapun." Batin Adnan entah kenapa tiba-tiba terbersit kalimat itu melihat kesempurnaan Adenia sekarang. Kesempurnaan sang istri tanpa cacat namun dengan tega telah dia lukai.


...****************...

__ADS_1


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...


__ADS_2