My Fault Too

My Fault Too
Cari Perkara


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Terima kasih masih setia dan klik cerita ini saat ada notifikasi Up🤗....


.


.


.


Sejak kepergian Brian setengah jam lalu, Air hanya duduk memikirkan perkataan Brian yang sungguh membuatnya tak habis pikir.


Bisa bisanya Brian dengan cerobohnya mengatasnamakan rumah mewahnya untuk Air yang bukan siapa-siapanya.


"Bodoh sekali pria itu, kalau aku nantinya tak berjodoh dengannya bagaimana." Ucap Air memikirkan kebodohan Brian. Kalau seandainya dia cewek matre, habis sudah Brian.


"Ck, kenapa aku memikirkan hal yang belum tentu kebenarannya. Bisa saja Brian membohongiku. Kalau pun benar, dia harus ku minta merubahnya." Lanjut Air dan setelahnya dia pun memutuskan untuk membersihkan piring bekas makan mereka tadi.


Sementara di kediamannya, Brian yang lebih dulu sampai di kejutkan dengan Nela yang baru datang dan langsung memeluknya dari arah belakang.


"Udah jalan-jalannya?" Tanya Brian sembari menyesap kopi buatannya yang memeng sejak tadi dia berdiri dan memegang cangkir kopinya.


"Yah, hanya pergi membeli keperluan kita." Nela berkata sembari menutup mata dan menghirup aroma yang semalam tak bersamanya itu.


"Capek?"


"Nggak, aku senang. Kamu baru datang?" Kata Nela sembari dia mengubah posisinya memeluk Brian dari depan.


"Hmm, cukup lama untuk membuat kopi ini. Boleh aku meminumnya, dia merasa di abaikan dengan pelukan ini." Kata Brian membuat Nela terkekeh dan melepas tubuh Brian.


"Tapi tunggu Bri, apa kau mengganti parfum. Baunya sedikit berubah." Tanya Nela yang sadar bau tubuh Brian yang manis, tak seperti biasanya.


"Tidak, ini Parfum Air. Aku memakainya tadi." Ucap Brian tak berbohong, karena memang dia memakai parfum Air yang memang dia siapkan untuk wanita itu di apartemen mereka. Dan dia bersyukur, sampai sekarang wanita itu masih setia dengan parfum pilihannya itu.

__ADS_1


"Oh, baiklah aku ke kamar yah. Apa kau mau ikut, aku ada membeli pakaian tidur kita." Ucap Nela sebenar dia ingin bertanya kemana Brian pergi semalam namun dia urungkan karena tak berani dengan pria itu.


"Kau duluan saja, aku masih ingin menghabiskan kopi ku." Kata Brian tanpa melihat Nela lagi, sebab dia tahu pakaian apa yang di maksud Nela. Tidak lain dan tidak bukan adalah pakaian tidur capel, dan tidak lupa milik Nela yang sungguh tak bisa menutupi sempurna bagian tubuhnya jika kardigannya di lepas. Brian sampai hafal betul.


"Ah, baiklah. Jika butuh sesuatu panggil aku, aku ke atas yah." Selepas memberikan satu kecupan di pipi Brian, Nela pun pergi dengan sedikit pikiran yang mulai muncul.


Sikap Brian, dia merasa sedikit berbeda tak seperti biasanya yang selalu manis. Tadi Brian menanggapinya sedikit cuek atau hanya perasaannya saja, pikiran Nela berkelana akan hal itu.


"Aku pergi yah." Kata Brian yang baru saja memasuki kamar dan langsung menyambar kunci mobilnya.


"Ko pergi lagi, kamu kan baru datang kan Bri?" Ucap Nela bingung sebab Brian baru saja datang sudah hendak pergi lagi.


"Ada kerjaan mendadak, jangan menungguku. Aku nggak janji pulang malam ini. Aku pergi yah, cup." Selepas mengatakan dan mengecup kening Nela, Brian langsung pergi tanpa menunggu sepata katapun keluar dari bibir Nela. Dan wanita itu hanya menatap punggung Brian dengan helaan nafas pelannya.


"Hmm, mungkin dia memang sibuk. Yah, Brian pasti sibuk." Kata Nela menutupi kegelisahan pikirannya tentang Brian, sebisa mungkin dia menepis semua pikiran buruknya terhadap pria yang sudah teramat baik terhadapnya beberapa bulan ini.


.


.


.


Wanita itu hampir saja jantungan karena Brian yang muncul mengagetkan dirinya.


"Umm, bisa tidak muncul itu jangan kaya setan. Kau mengagetkan aku tahu nggak." Kesal Air, bagaimana bisa Brian kembali lagi di saat dia sedang ada janji dengan kekasihnya.


"Aku tanya mau kemana Ai?" Tanya Brian teramat serius membuat Air jega dengan sikap pria itu.


"Aku punya urusan pribadi yang tak harus kau tahu Brian." Tegas Air.


"Yah urusan untuk bertemu pria sialan itu bukan? batalkan sekarang juga, dan kembalilah ke unit kita." Brian tak terpengaruh dengan ucapan tegas Air, walau dia tahu pasti wanita itu tak suka dengan sikapnya. Namun dia tak peduli akan hal itu.


Tadi saat dia mengecek cctv yang memang sengaja dia pasang untuk memantau Air, tak sengaja dia melihat Air menelfon. Otomatis Brian langsung menghidupkan suara rekaman cctvnya itu untuk mendengar segalanya dan membuatnya berada di sini sekarang.

__ADS_1


"Brian, kamu sadar nggak sih. Sikapmu itu terlalu berlebihan untuk ukuran kita yang tak ada ikatan apapun." Ucap Air senormal mungkin karena kini meraka mulai di lihat orang karena perdebatan dirinya dan Brian sekarang ini.


Mendengar ucapan Air yang menurut Brian keras kepala itu langsung membuat pria itu menarik Air untuk ikut bersamanya tanpa peduli penolakan wanita itu kesalipun.


"Brian."


"Ikut atau aku..." Belum sempat Brian mengeluarkan ancamannya, Air sudah lebih dulu berjalan dengan masih dalam kuasa tangan Brian membuat pria itu tersenyum puas padahal dia belum mengeluarkan jurus jitu ancamannya namun Air sudah lebih dulu mengerti.


"Suka sekali untuk mengancam orang." Gerutu Air di setiap langkahnya.


"Ck, aku belum berucap mengancam. Jangan menuduhku seperti itu." Brian suka sekali membuat Air naik darah dengan setiap perkataan pria bermulut wanita itu.


"Terserahlah, aku kalau bicara sama kamu bisa naik darah aku. Kemana kita sekarang?" Tanya Air, yang sekarang memimpin jalan mereka.


"Mobil." Mendengar itu, Air langsung ke unit parkiran mereka dengan Brian yang tak sedikitpun melepas pandangan matanya dari Air. Namun saat di tengah perjalanan, suara pria yang begitu di kenal Brian menghentikan langkah keduanya.


"Udah berali yah, udah bosan sama bekas aku." Ucap mengejek Adnan yang entah sejak kapan berada di tempat itu.


Brian nampak biasa saja mendengar celotehan pria yang teramat dia benci itu.


"Lanjut Ai, anggap saja angin lalu." Kata Brian karena Air tak melanjutkan langkahnya.


"Hahahaha, nggak enak lagi yah bekas aku sampai kamu udah beralih dengan yang baru? Umm, kalian sahabatan kan Air? Kok kamu mau sama Brian? Aku yakin kau pasti sudah tahu sepak terjang pria itu bukan?" Kata Adnan menyulut emosi Brian, Air yang memang sudah mengenal Adnan pun langsung menengahi.


"Kita permisi Kak. Bri ayo." Ucap Air yang sudah takut dengan wajah emosi Brian yang sudah nampak jelas di lihatnya. Bahkan pergelangan tangan yang di genggam Brian sampai terasa sakit karena emosi pria itu.


"Pikirkan.." Ucap terhenti Adnan karena Brian sudah melayangkan tinjunya ke arah mulut Brian.


BUUUKKK


"Brian." Teriak Adenia histeris ketika melihat sang adik memukuli mantan suaminya itu. Sementara Air langsung memeluk Brian sebelum pria itu bertambah nekat.


...****************...

__ADS_1


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...


__ADS_2