My Fault Too

My Fault Too
Drop


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


Dalam perjalanan menuju parkiran, Adenia berusaha baik-baik saja. Dia tak ingin orang lain mengetahui keadaan rumah tangganya yang tak baik-baik saja itu.


"Jeje, Kay. Aku langsung balik yah, mau sekalian mampir ke butik dulu." Pamit Adenia beralasan setelah mereka sampai di parkiran.


"Oh oky De, aku sama Kanaya juga mau langsung balik ke tokoh. Kamu hati-hati yah, dan yah barangmu sudah di antar." Kata Jeje dan Kanaya pun ikut pamit.


Mereka akhirnya menuju mobil masing-masing untuk kembali.


Ade tak lantas pulang, wanita itu lebih memilih mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sebentar. Memejamkan matanya, berusaha mengusir semua beban pikirannya yang sudah berusaha dia hilangkan namun kembali lagi setelah melihat dua pasangan menj*jikan itu.


"Haaaahhhh." Adenia menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan berulang kali.


"Ya Tuhan, kenapa sesakit ini. Kenapa kau memilih aku sebagai penerima cobaan ini, ini terlalu menyakitkan untukku Tuhan." Kata Adenia menahan sakit di hatinya serta kepalanya yang tiba-tiba datang secara bersamaan.


"Oh astaga, kepalaku kenapa sakit sekali. Adnan sial*an kau, aku membencimu. Sangat sangat membencimu, kau berhasil membuatku selemah ini. Pria br*ngsek" Kata Adenia berteriak kesal sembari memukul kepalanya yang teramat sakit. sesekali dia pun meremasnya kuat mencoba menahan sakit di kepalanya yang tak tertahan.


"Kamu nggak boleh gini De, kasihan Bayimu." Tiba-tiba Adenia berucap lagi berusaha menyemangati dirinya sendiri, berharap rasa sakitnya akan berkurang. Sungguh ini terlalu sakit untuknya.


Hingga beberapa saat lamanya, Adenia bertaruh dengan rasa sakitnya. Akhirnya Adenia pun membiarkan dirinya beristirahat sebentar dengan bantuan ucapan-ucapan positifnya sendiri untuk menguatkan dirinya.


Setelah merasa lebih baik, kemudian Adenia pun memutuskan untuk melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tempat dimana dia pertama kali memeriksakan kandungannya bersama Adnan.


Adenia terlalu takut keadaannya yang tak baik-baik saja akan berpengaruh buruk pada sang Bayi. Itu sebabnya dia pun memutuskan untuk mengecek kondisinya sekarang juga ke rumah sakit.


Dan benar saja, saat dia memeriksakan dirinya. Dokter menyarankan untuknya bed rest di rumah sakit beberapa waktu, karena memang kondisinya yang benar-benar drop seperti apa yang dia rasakan tadi.


Dokter pun menyarankan agar Adenia jangan terlalu banyak pikiran. Meski kandungannya cukup kuat, namun kesehatan ibu yang menurun bisa mengakibatkan hal buruk menimpa bayi yang berada dalam kandungannya.


"Maafkan Mommy sayang. Dan terima kasih sudah kuat untuk Mommy, Mommy janji akan kuat sepertimu sayang." Ucap Adenia yang nampak berbaring di ranjang rumah sakit sembari mengelus perutnya sayang. Dia bersyukur, Bayinya begitu kuat dan menyesali akan kelemahan dirinya sendiri.

__ADS_1


Puas berbicara dengan sang Bayi, Adenia pun mengambil ponselnya yang dia letakan tepat di meja samping ranjangnya. Mencari nomor Bibi Imas, untuk di hubunginya.


"Halo Bu." Sapa Bibi duluan setelah panggilan tersambung.


"Hy Bi, oh iya apa barang pesanan aku udah nyampe rumah Bi?" Tanya Adenia memastikan.


"Udah Bu, lagi di angkut ke kamar Ibu. Baru Bibi mau ngabarin Ibu, malah Ibu udah telfon duluan." Ucap Bibi dengan sedikit terkekeh.


"Hehe, makasih ya Bi. Tolong langsung di minta orangnya langsung tata saja sekalian Bi barang-barangnya, dan barang yang lama suruh di angkut bersama mereka yah. Aku sudah bicara itu dengan atasan mereka, tentang barang bekasku itu." Kata Adenia yang sudah dia bicarakan dengan Jeje mengenai barangnya yang langsung di donasikan dengan perantara Jeje.


"Siap Bu, ada lagi.?" Tanya Bibi.


"Oh iya Bi, aku nanti nggak pulang yah Bi hari ini. Soalnya lagi di rumah sakit, dan nggak tahu bed rest nya sampai kapan." Jujur Adenia merasa nyaman saja mengatakan itu untuk Bibi yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.


"Astaga, Ibu sakit. Kenapa bisa Bu, ini pasti karena Ibu terlalu banyak pikiran kan. Bibi ke sana yah sekarang, Ibu mau Bibi bawa apa untuk Ibu. Nanti Bibi bawakan." Kata Bibi cepat sampai Adenia tak bisa menyela.


Adenia hanya tersenyum hangat, merasa beruntung masih ada Bibi bersamanya.


"Bawakan baju ganti yah Bi, sekalian aku mau bubur buatan Bibi dan jangan lupa susu hamilku Bi. Tapi setelah kamarku beres dulu yah Bi baru kesini, aku mau di temani Bibi" Kata Adenia.


"Siap laksanakan Bu, kalau gitu Ibu lanjut istirahat saja. Bibi mau urus kamar Ibu dulu biar cepat selesai." Kata Bibi dan mereka pun mengakhiri sambungan telfon itu.


...****************...


"Ada apa ini Ad?" Tanya Nela sesaat setelah mobil terparkir di halaman rumah.


"Aku nggak tahu." Kata Adnan dan dia langsung bergegas turun di ikuti Nela.


Mereka berdua berjalan masuk dan langsung bertanya pada Bibi yang kebetulan baru turun dari lantai atas kamar Adenia.


"Bi, ini ada apa?" Tanya Adnan penasaran.


"Eh Pak, ini Ibu Ade beli barang baru. Beliau mengganti perabotan kamar Pak." Jelas Bibi membuat Adnan memijit pelipisnya pening.


"Lalu Ibu dimana? apa sudah balik?" Tanya Adnan.


Bibi terlihat menimbang untuk menceritakan keadaan Adenia, namun setelah berpikir Bibi pun akhirnya memutuskan untuk memberitahu keberadaan Ade karena wanita itu tak menjanjikan untuk tak memberi tahu Adnan atau tidak.


Beliau juga berpikir jika Adnan harus tahu akan hal itu, sebab dia tak mau Adenia menanggungnya sendiri. Setidaknya jika Adnan tahu, pria itu akan jadi berfikir karena ulahnya Adenia menjadi drop sekarang ini.

__ADS_1


"Maaf Pak, tadi Ibu menelfon Bibi mengabari jika Ibu sedang di rawat di rumah sakit sekarang ini. Kondisinya Ibu drop dan harus menginap di sana." Jelas Bibi memberi tahu.


Deg.


Adnan serasa di hantam balok besar saat mendengar hal itu. Ade istrinya masuk rumah sakit dan dia tak tahu apa-apa.


Pria itu langsung teringat kejadian tadi dimana dia dan Nela bertemu Adenia di restoran. Apakah karena hal itu Ade jadi kepikiran dan jatuh sakit. Pikir Adnan.


"Ad." Kata Nela memutus lamunan Adnan karena Nela memegang legan Adnan saat melihat pria itu seakan hendak jatuh sembari menahan pelipisnya sendiri.


"Lepas Nela, ini semua karena kamu Ade jadi seperti ini. Kalau saja aku tak menuruti keinginan kamu tadi, mungkin kita tak akan bertemu Ade tadi dan membuatnya jatuh sakit seperti ini." Bentak kesal Adnan membuat Nela terdiam, hatinya sakit mendengar perkataan Adnan. Sungguh sangat sakit mendengarnya. Dengan pelan Nela menurunkan kedua tangannya yang melayang hendak memegang Adnan.


"Maaf." Lirih Nela dengan air matanya yang nampak boros. Usai mengatakan itu, Nela pun langsung beranjak meninggalkan Andan juga Bibi yang nampak bingung melihat keduanya.


"Pak." Kata Bibi.


"Ibu di rawat dimana?" Tanya Adnan cepat.


"Bibi belum tahu Pak, katanya kalau Bibi mau pergi baru Ibu beritahu." Jelas Bibi membuat Adnan menghembuskan nafasnya pelan dan kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Adenia.


Namun sayang nomornya tak bisa menghubungi Adenia, mungkin saja nomornya sudah di blokir sang istri membuatnya bertambah merasa bersalah.


Air matanya seketika menetes memikirkan hubungannya dengan Ade sekarang ini.


"Apakah aku tak berhak lagi mengetahui kondisimu Dek." Lirih Adnan sembari terduduk lesu, tak peduli Bibi melihatnya atau tidak.


Sementara Bibi beliau langsung meninggalkan Adnan tanpa pamit, membiarkan pria itu sendiri memikirkan masalah yang di ciptakan sendiri olehnya itu.


Pria itu sangat menyedihkan, bagi siapa saja yang melihatnya kini. Beruntung, orang yang mengangkat barang sudah pergi. Kalau tidak sudah pasti dia akan menjadi tontonan mereka.


"Aku rindu De, aku sangat merindukan kebersamaan kita." Lirih Adnan dengan tangis yang dia sembunyikan di balik kedua lututnya. Sementara dari jauh Nela menyaksikan itu, lagi-lagi wanita itu melihat Adnan rapuh karena Adenia membuatnya merasa tak berharga sedikitpun di mata Adnan.


"Apa kau tak pernah sedikit saja memikirkan bagaimana perasaanku Ad. Aku juga sedang mengandung anakmu, tapi kenapa hanya Ade yang kau pikirkan Ad." Lirih Nela merasa kecewa dengan Adnan.


Mengusap air matanya Nela pun memutuskan masuk ke kamarnya. Tak mampu lagi melihat pria itu menangisi istrinya, sementara dia tak di hiraukan Adnan sedikitpun malah sebaliknya di bentak pria itu.


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...

__ADS_1


__ADS_2