
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Terima kasih masih setia dan klik cerita ini saat ada notifikasi Up🤗....
.
.
.
"Oh, apa dia calon kakak ipar baruku?" Ucapan Brian tanpa filter membuat pria yang baru muncul berdehem kaget dengan kalimat Brian.
"Ehemmm.."
"Je, sendiri?" Sapa Adenia pada Jeje demi menutupi ucapan asal sang adik yang hampir membuatnya melotot sempurna itu.
"Ah iya, aku sendiri tapi sebentar lagi Kanaya nyusul. Dia yang minta aku duluan datang." Kata Jeje santai meski dia sedikit tak nyaman dengan tatapan calon adik iparnya itu.
"Bang Jeje ada perlu yah sama Mba Ade?." Ucap tanya Brian menengahi perbincangan dua manusia yang dia yakini akan dekat dan dia sudah pasti akan merestui tanpa di minta karena Brian kenal betul latar belakang keluarga Jeje yang sudah mengabdi lama pada almarhum kedua orang tuanya dan Adenia dahulu saat masi hidup dan jaya.
"Eh, Brian. Anu itu, Abang hanya di minta Kanaya untuk berkunjung." Jeje sedikit kikuk, bingung harus beralasan apa. Dia hanya terlalu bersemangat saat di ajak sang putri untuk bertamu di kediaman wanita yang sudah lama dia kagumi itu, dan tentu saja di sambutnya dengan senang hati sampai sampai dia lebih dulu bertandang tanpa sang putri yang selaku sang pengajak.
Brian yang melihat gelagat gugup Jeje jadi tersenyum mengejek sesama pria. Dia tahu pria yang berada di hadapannya itu nampak gugup namun tersamarkan dengan sikap cool pria itu. Yah siapapun pria di luaran sana termasuk Jeje pasti tak bisa tak kepincut dengan janda Adnan itu. Wanita sempurna di mata pria manapun termasuk dirinya, hanya Adnan saja yang tak tahu bersyukur atas anugrah bidadari yang sudah di titipkan Tuhan untuknya namun malah kepincut sama yang lain.
"Hahaha, sayang kita ke kamar saja. Takut ganggu." Brian tertawa puas sambil merangkul bahu Air, dan membawa wanita itu pergi dari hadapan Jeje yang hanya tersenyum canggung menatap Brian yang dia tahu betul bagaimana jahilnya pria itu.
"Brian." Kesal Adenia dengan kejahilan sang Adik namun tak di pedulikan Brian tentunya.
Sementara Air, wanita itu saat sesampainya di kamar Brian yang baru pertama kali di masuki itu langsung mencubit gemas pinggang pria jahilnya itu.
__ADS_1
"Awwww Ai, kenapa di cubit. Sakit tahu." Teriak histeris buatan Brian membuat Air memutar bola matanya malas.
"Jangan lebai, makanya jangan suka jahil jadi orang." Air berkata sembari melangkah ke arah ranjang Brian dan langsung merebahkan dirinya di sana.
"Siapa yang jahil Ai, perasaan aku hanya ajak kamu pergi ke sini. Darimana jahilnya coba." Brian mendekati Air dan langsung ikut berbaring dan memeluk wanita itu bagaikan guling membuat wanita itu menatapnya intens karena memang posisi yang Brian ciptakan saling berhadap dan tatap tatapan pun tak terhindari.
"Bri." Panggil Air membuat Brian tersenyum memainkan alisnya.
"Hmm." Sahut Brian karena Air tak kunjung mengungkapkan alasan dari panggilan itu.
"Jangan menatapku seperti itu, ada apa hmm." Lanjut Brian makin mendekatkan wajah mereka hingga nyaris tak berjarak.
"Menurutmu ini salah atau tidak?" Tanya Air membuat kening Brian berkerut.
"Apanya yang salah? Brian tahu apa maksud pertanyaan dari Air, hanya saja dia ingin Air lebih jelas lagi dalam bertanya.
Air bertambah kepikiran dikala posisi dirinya dan Brian tak wajar seperti ini. Wajah sang kekasih, pria baik itu seketika menyadarkan dirinya akan kesalahan yang kini telah dia lakukan. Dia tahu, hatinya masih terpatri pada Brian. Namun dia salah melakukan ini, dikala ada pria lain yang lebih berhak atas dirinya dengan status yang sudah dia setujui dengan sadarnya.
"Aku tak lupa tapi ingin melupakan itu. Tinggalkan dia Air dan tetaplah di sampingku Ai. Aku akan menyelesaikan semuanya secepatnya dengan Nela. Kamu mau kan?" Brian berharap permintaannya di turuti Air.
Meninggalkan diskusi dua pasangan tanpa status jelas itu di lain tempat, Nela dan Adnan kembali menyatu dalam hubungan yang sudah usai namun mereka lekatkan kembali tanpa adanya obrolan pasti. Hanya berdasarkan kecewa dan haus mereka kembali mengulang kisah lama.
"Udah Adn, aku capek." Tolak Nela ketika Adnan tak ada puas puasnya mengerjai tubuh lelahnya. Selain dia lelah karena di di kuasai Adnan sejak tadi, Nela pun teramat lelah hati dan pikirannya memikirkan Brian meski tubuhnya di kuasai pria lain sejak tadi.
"Hehehe, iya iya. Makasih yah." Adnan pun akhirnya menghentikan aksinya dan memeluk erat tubuh Nela, tak ada puasnya dia mengobral ciumannya pada punggung Nela yang ada dalam dekapannya.
"Hmm." Nela seperti sangat malas, meladeni ucapan Adnan. Dia terlalu capek dengan semuanya, semua yang belakangan ini dia alami.
"Kenapa hmm, kamu menyesal." Adnan tak suka dengan sikap cuek Nela sekarang. Biasanya dia yang akan cuek setelah sehabis mendapatkan apa yang dia mau dari Nela, namun sekarang terbalik Nela yang cuek padanya.
__ADS_1
"Aku capek." Ingin sekali dia meneriaki kata penyesalannya yang telah kembali dalam dekapan Adnan. Hanya saja, dia yang memulainya lebih dulu. Dan kata penyesalan itu pun tak pantas dia lontarkan tentunya.
"Kau mencintainya?" Pertanyaan Adnan sontak membuat Nela tertegun dan membuat Adnan tertawa sumbang.
"Nela Nela, apa kau yakin benar mencintainya.?" Adnan tahu Brian memang pantas di cintai banyak wanita karena ketampanannya, hanya saja pria itu tak lebih baik darinya dia tahu betul itu.
"Ya aku mencintainya, aku sangat mencintainya." Lirih Nela, tak terasa air matanya pun meluncur bebas mewakili perasaannya.
Adnan yang mendengar dan melihat itu hanya bisa menghembuskan nafasnya.
"Apa kau benar-benar mencintainya?" Adnan seolah tak puas dengan jawaban Nela dan kembali memastikan kembali.
"Yah, aku sangat mencintainya Adn. Sangat." Nela tak segan-segan menangis dan memeluk erat tubuh polos Adnan membuat pria itu mengusap unggung Nela sayang.
"Ckk, apa dia secepat ini melupakan aku." Batin Adnan merasa miris sendiri.
"Aku bisa membantumu bersamanya. Mau bekerja sama." Adnan pun menawarkan tawaran yang sudah dia pikirkan matang matang, dia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan niatnya setelah tahu kebenaran perasaan mantan istrinya itu.
"Maksud kamu?" Nela yang tadinya dalam tangisan kini mengusap air matanya dan merenggangkan pelukannya demi mendengar jelas maksud sang mantan suami.
"Kita bekerja sama, kau akan mendapatkan Brian dan aku akan kembali pada Adenia. Kau mau?" Adnan berharap, Nela mau bekerjasama dengannya. Sebab dia yakin jika ada orang bersamanya maka misinya akan berjalan baik.
"Bagaiman?" Tanya Adnan lagi karena Nela seperti nampak berpikir, atau mungkin masih mencerna ucapan Adnan.
"Apa dengan begitu aku akan bersamanya?"
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1