
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Adenia langsung pergi meninggalkan Adnan setelah tak mendapatkan jawaban pria itu.
Berjalan kembali menuju mobilnya dan bergegas meninggalkan kediamannya agar tak terlalu lama berhadapan dengan orang yang bisa saja menghilangkan kewarasannya itu.
"Kau harus enjoy Ade, lupakan mereka dan jalani hidup seperti biasanya." Ucap Adenia sembari menghirup dan menghembuskan nafasnya perlahan, berusaha mengatur emosinya agar tetap terkontrol dengan baik.
"Yang sehat yah di dalam sana, Mommy harap kau akan selalu ada untuk kekuatan Mommy. Hanya dede dan Uncel Brian yang Mommy punya sekarang, jadi ayo kita bekerja sama. Sama-sama saling menguatkan yah sayang." Kata Adenia lagi sembari dia mengelus perutnya namun tetap fokus dengan kendaraan yang sedang dia kendalikan itu.
Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Adenia pun sampai dengan selamat di tempat tujuannya pagi ini.
Wanita itu pun keluar dan tak lupa sebelumnya memakai kacamata hitamnya dan berjalan masuk ke area tempat tujuannya itu.
Banyak mata yang tertuju padanya, meski perutnya sudah terlihat sedikit berisi namun karismanya tetap terpancar sempurna bagi siapa saja yang melihatnya.
Tanpa menengok kiri kanan, Ade terus berjalan masuk dan kemudian berhenti tepat di bagian meja pembayaran dan membuka kaca matanya saat dia melihat seseorang yang dia kenali berada di sana.
"Permisi."
"Eh Kak Cantik, tumben kesini." Ucap Seorang remaja yang di ajak bicara oleh Ade.
"Ada perlu sama Dady kamu Kay, Dady nya ada. Kakak udah janjian soalnya." Ucap Adenia ramah.
"Sama Kanaya dulu kak, Dady lagi ada pertemuan mendadak di dalam. Mau Kanaya temenin." Ujar remaja SMA itu semangat sembari berjalan keluar mendekati Adenia.
"Ide yang bagus, kalau gitu sekalian yah bantu pilihkan buat kakak." Kata Adenia dan di sambut semangat Kanaya.
"Btw, kamu nggak sekolah Kay. Kok malah di tokoh." Tanya Ade pasalnya setahu dia, Kanaya seharusnya berada di sekolah sekarang. Karena masa libur belum tiba pikirnya.
"Lagi ada rapat mendadak pihak sekolah, kita di liburkan hari ini. Dan yah, aku bersyukur bisa libur dan kesini malah ketemu kakak." Kata Kanaya sambil merangkul lengan Adenia membuat wanita itu mengacak rambut Kanaya sayang.
"Bisa aja kamu Dek, oh iya. Kakak mau lihat perabotan kamar, apa ada rekomendasi menarik dari kamu?"
"Yah Dady sudah mengatakannya dan Aku adalah orang yang tepat untuk di minta rekomendasi, cus lah." Kanaya langsung mengajak Adenia ke tempat yang semestinya.
Kedua orang itu pun langsung nampak sibuk menjalankan aksi memilih mereka sampai selesai dan tak menyangka selepas selesai baru Dady nya Kanaya menghampiri mereka.
"Kau mengagetkanku Je." Kesal Adenia tanpa sengaja menepuk keras lengan Jeje.
__ADS_1
"Hehehe sakit tahu, lagian serius amat. Sampai aku udah di sini pun tak kalian sadari."
"Dady ih, rasain." Kanaya ikut menimpali.
"Btw sudah dapat barangnya." Ucap Jeje selepas mencubit gemas hidung sang Anak.
"Udah, jangan lupa diskon yah." Ujar Adenia dengan tawa kecilnya sengaja mencandai pemilik tokoh sekaligus Anak mantan orang kepercayaan sang Ayah dulu sebelum beliau wafat.
"Iya Dad, Kak Ade pesannya banyak banget. Seperabotan kamar di pesan semua. Jadi jangan lupa di diskonnya." Timpal Kanaya.
"Beres itu mah, apa sih yang nggak buat Kakak Cantikmu ini." Jeje berbisik pelan di kuping sang putri membuat Kanaya mengacungkan jempolnya.
Selepas itu Ade di ajak makan bersama karena waktu sudah hampir menjelang makan siang. Dan dengan senang hati Ade menerimanya, lagian dia juga lagi malas jikalau harus makan siang dirumahnya yang kini tak lagi nyaman dia tempati.
...****************...
Kediaman Adenia.
"Bibi." Panggil Adnan ketika pria itu baru saja sampai dan langsung menuju ruang makan.
"Ya Pak." Kata Bibi setelah menghampiri Adnan yang sedang duduk di ruang makan sambil memijit keningnya.
"Apa Ibu udah makan? Makan siangnya udah di bawa?"
"Ibu makan di luar Pak, tadi Bibi di hubungin Ibu biar nggak usah nyiapin makanan buat Ibu." Jelas Bibi.
Terdengar helaan nafas dan hembusan nafas pelan dari Adnan serta wajah lesunya di lihat nyata oleh Bibi.
"Maaf Pak, Bibi nggak masak." Ucap Bibi jujur walau takut-takut. Beliau memang tak masak seperti biasanya karena Adenia sendiri yang meminta setelah tadi dia sudah menghubungi Brian lebih dulu yang tak pulang siang ini dan hanya meminta Bibi memasak seperlunya untuk Bibi dan suaminya saja.
"Maksudnya apa Bi. Saya bayar mahal Bibi untuk bekerja di rumah ini, bukan untuk malas-malasan." Emosi Adnan tak terkendali sebab pikiran yang melandanya serta perut kosong menambah tinggi tingkat kekesalannya.
"Maaf Pak, Ibu sendiri yang meminta Bibi untuk tak memasak. Beliau juga meminta untuk tak melayani Bapak atau Non Nela, saya hanya mengikuti perintah Ibu Pak. Maafkan saya." Jelas Bibi sambil menunduk takut kerena Adnan membentaknya begitu keras.
"Astaga Ade, segitunya kamu membenciku De." Lirih Adnan pada akhirnya dan langsung mengibaskan tangannya meminta Bibi meninggalkan dirinya sendiri.
Dia pusing dengan keadaan rumah tangga mereka sekarang.
Tak berselang lama, Adnan langsung beranjak pergi ke kamar Nela karena dia tahu jika wanita hamil itu pasti belum makan juga.
Tanpa permisi, Adnan masuk begitu saja dan Mendapati Nela sedang berdiri memandang ke halaman luar dari jendelanya.
"Kau sudah makan?" Ucap Adnan sembari melepas beberapa kancing kemejanya dan membaringkan tubuhnya di ranjang yang sudah sering dia tempati itu. Wajahnya terlihat lelah dan kusut sekarang.
"Belum. Rencana mau makan di luar nih sebentar lagi. Kau mau menemani?" Ucap Nela dengan tanpa menolehkan pandangan ke arah Adnan yang nampak sedang memejamkan matanya.
"Hmm, kau sudah tahu?" Tanya Adnan tanpa menjawab ucapan Nela.
__ADS_1
"Sedikit, Bibi mengatakan kalian sedang bertengkar. Apa Ade sudah tahu permasalahan kita? Tadi Bibi mengeluarkan foto-foto pernikahan kalian dan membuangnya di tong sampah depan, apa kau melihatnya." Jelas Nela sembari beranjak mendekati Adnan dan menatap pria itu yang langsung mendudukkan dirinya mendengar ucapan Nela.
Nela mengetahui hal itu tadi saat sedang menonton dan melihat Bibi dan suaminya membawa turun bingkai foto pernikahan kedua sahabatnya itu. Dan saat dia bertanya, Bibi mengatakan jika Ade yang menyuruh untuk membuang semuanya. Terkejut pasti, namun dia sudah tahu jawabannya.
"Ade sangat membenci aku sekarang Nel. Dia melihat kita semalam." Kata Adnan sembari meneteskan air matanya. Nela pun mendekat dan langsung memeluk pria itu.
Hatinya sakit, melihat Adnan menangisi Adenia. Namun memang sudah seharusnya begitu bukan, hatinya saja yang tak tahu diri. Pikir Nela, merasa benci sendiri pada dirinya yang merasa sakit melihat Adnan menangisi istri sahnya itu.
"Maafkan aku." Nela entah kenapa merasa bersalah sudah hadir dan merusak rumah tangga Adnan dan Ade. Yah dia tahu ini semua salahnya.
"Kita, bukan kamu seorang." Sela Adnan, selepas mengetahui Nela hamil. Entah kenapa dia tak bisa lagi menyakiti hati wanita itu.
Keduanya pun kini diam tanpa suara, dengan Nela yang terus mengusap sayang punggung Adnan yang di peluknya sampai dimana pria itu membuka suaranya lebih dulu.
"Kau mau makan dimana? Aku temenin."
"Restoran baru, tunggu aku perlihatkan." Kata Nela cepat menghapus air matanya dan melepas Adnan dan langsung beranjak mengambil ponselnya untuk menunjukkan Restoran yang tadi ingin dia kunjungi.
"Baiklah, ayo." Kata Adnan menyetujui, dia tahu ini semua ulahnya. Nela juga butuh perhatiannya sekarang, dia juga perlu membahagiakan Nela demi janin yang kini ada di perut Nela. Dia yang membuat wanita itu masuk dalam rumah tangganya, maka dia pun tak bisa lepas tangan begitu saja.
Keduanya pun langsung bergegas ke Restoran yang di maksud Nela.
Untuk sejenak mereka melupakan masalah mereka, hingga keduanya pun berjalan seperti biasanya. Seperti tak ada beban di kedua pundak mereka berdua.
Setelah turun dari Mobil, Nela dengan senang menggandeng lengan Adnan yang berjalan di sampingnya, sementara Adnan sesekali mengusap tangan Nela yang melingkar di lengannya itu sambil sesekali melempar candaan yang membuat keduanya sesekali tertawa.
Sampai dimana mata Adnan bertubrukan dengan Mata Adenia yang baru saja hendak melangkah keluar bersamaan dengan dirinya dan Nela yang hendak masuk.
Seketika senyum Adnan pudar dan berganti pucat, dan dengan cepat melepas tangan Nela yang menempel di lengannya.
"Kenapa Ad.." Ucap Nela terhenti ketika mengikuti arah pandang Adnan.
Tak bedah jauh dengan Adnan, Nela pun tampak pucat dan nampak canggung melihat Adenia.
Sementara Jeje dan sang putrinya nampak diam tak mau ikut campur dengan hawa panas yang tiba-tiba menghantam keadaan mereka.
Adenia hanya tersenyum tertahan melihat adegan itu. Tadinya dia tak mau berhenti dan menatap Adnan, namun sesak di dadanya seketika mengharuskan dirinya berhenti sebentar demi mengatur nafasnya yang mulai tak teratur.
"Kalian mau makan juga." Kata Adenia sesantai mungkin setelah menguasai dirinya.
"I-iya De, kau sudah makan?" Kata Adnan tak bisa menutupi rasa gugupnya.
"Yah, selamat makan yah. Kami sudah selesai. Kami permisi duluan yah, Ayo Je. Kay." Ucap Adenia dan melangkah pergi dan langsung di ikuti Jeje dan Kay tanpa menyapa Adnan lagi.
"Ad, maaf." Ucap Lirih Nela..
"Hooohhhhh." Adnan hanya bisa menarik dan menghembuskan nafasnya pelan sakin sesaknya dada kembali menyakiti Adenia.
__ADS_1
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...