My Fault Too

My Fault Too
Seperti Itulah Rasanya


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....


.


.


.


Setelah tak mendengar suara dari arah luar lagi, Brian kembali melanjutkan aktifitasnya dengan Nela yang teramat menikmati sesuatu yang sudah seminggu ini tak dia rasakan dari Adnan sakin sibuknya pria itu dengan istri pertamanya yaitu Adenia.


Kelembutan yang kini sedang dia nikmati, berbeda dengan Adnan yang selalu keras terhadapnya. Brian jauh sangat memperlakukan tubuhnya lebih manusiawi, itu sebabnya dia menyukai setiap sentuhan yang Brian lakukan.


Satu jam sudah kedua orang itu melepas rasa setelah lama tak saling bersentuh karena masalah yang harus memutus semua itu, tapi siapa sangka kini kembali terjalin lagi.


Brian bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi tanpa sepeta kata pun dia lontarkan pada Nela. Membuat wanita itu menghembuskan nafasnya pelan, baru saja pria itu begitu memuja dirinya kini mulai dingin lagi terhadapnya. Sungguh suasana yang paling dia benci adalah di diamkan seperti ini.


Nela dengan segera bangun dan memakai kembali pakaiannya dan kemudian duduk gelisah menunggu Brian keluar kamar mandi.


Sebenarnya wanita itu sungguh gugup sejak tadi, namun perlakuan lembut Brian berhasil menghilangkan rasa gugupnya itu. Namun rasa itu kembali hadir mana kala melihat sikap dingin Brian barusan.


Dengan menggigit bibir bawah serta *******-***** cemas ujung kaus rumahannya itu, Nela sesekali menengok pintu dimana Brian ada dalam sana.


Lima belas menit berlalu, Brian keluar dengan keadaan segar dengan melilitkan handuk kepala kecil Nela di pinggangnya. Pria itu menatap sekilas Nela kemudian berjalan mengambil bajunya yang entah sejak kapan sudah tersusun rapi di ujung tempat tidur. Mungkin saja Nela yang merapikannya, pikir Brian.


Pria itu melepas handuk yang dia kenakan dan berpakaian di bawah tatapan Nela yang sejak tadi memperhatikannya dengan wajah gugupnya, Brian pun sadar akan hal itu.


"Jangan terlalu memperhatikanku seperti itu, aku tahu aku lebih tampan dari suami brengs*k mu itu." Ketus Brian membuat Nela memalingkan wajahnya serasa di sentil dengan omongan ketus pria yang baru saja membuat dirinya terbang itu.


Sebenarnya Brian masih teramat kecewa dengan Nela, namun rasa yang keburu hadir untuk wanita itu di hatinya membuatnya berdebat hebat dengan kekecewaannya dan ternyata berakhirlah dia bersama Nela kini. Yah dia kalah, kalah akan pengaruh besar Nela terhadap dirinya.


Usai berpakaian, Brian pun mendudukkan dirinya di sofa singgel yang berhadapan langsung dengan ranjang Nela. Alhasil keduanya saling berhadapan kini.


Cukup lama mereka terdiam, masing-masing menahan ego untuk siapa lebih dulu berbicara. Sampai dimana Nela memberanikan dirinya untuk bertanya pada pria yang kini tak sedikitpun mengalihkan tatapan dari dirinya itu.


"Kenapa kamu masih mau menyentuh wanita menj*jikkan ini? Bukankah kau jijik denganku?" Pertanyaan dengan nada pelan Nela yang sebenarnya sejak tadi terus mengusik pikirannya selama berhubungan terlarang tadi.


Mendengar itu Brian sedikit tersenyum hambar, ada sedikit sakit ketika wanita itu menyebutkan kalimat yang dia sematkan untuk wanita itu..

__ADS_1


"Ck,.." Hanya itu yang bisa Brian utarakan, sungguh jawaban yang sangat tak menjawab untuk di dengar Nela.


"Hahhhh." Dengan tarikan nafas panjangnya, Nela pun memilih bangkit dan menuju kamar mandi. Dia butuh mandi kembali selain membersihkan diri setelah aktifitasnya dengan Brian, dia juga ingin mendinginkan pikirannya yang terlanjut membuat pusing.


Setelah melihat Nela hilang di balik pintu kamar mandi, Brian pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Nela yang mendengar dari dalam kamar mandi pintu kamarnya yang di buka dan di tutup kembali hanya bisa menyandarkan punggungnya di balik pintu.


"Ada apa dengan diriku Tuhan, kenapa aku lemah sekali dengan setiap sentuhan mereka. Kenapa aku sulit menolaknya." Lirih Nela merasa sedih dengan kelemahannya itu.


Dia sedih tak bisa menjaga kehormatannya lagi dan lagi, dia mengaku lemah pada dua pria yang sudah sering mencicipi tubuhnya itu. Entah kenapa, jika berhubungan dengan keduanya dia tak bisa menolak.


Sementara Adnan kini baru saja pulang dari mengantar Nela ke butik sang istri setelah bersusah payah membujuk wanita itu.


Kini pria itu nampak melajukan mobilnya ke perusahaan dimana sudah seminggu lebih dia abaikan itu. Ada rasa bahagia tiada tara yang dia rasakan kala dia kembali dekat lagi dengan Adenia, sungguh dia tak akan menyakiti wanita itu lagi. Kapok sudah kemarin jadi pelajarannya, beruntung istrinya masih mau menerimanya walau memang belum seutuhnya.


"Habis dari kantor langsung pulang Mas, aku takut Nela kenapa-kenapa. Jangan terlalu mengabaikan dirinya, dia juga istrimu Mas." Teringat kembali tadi sebelum meninggalkan Adenia, istrinya itu masih sempat mengingatkan dirinya akan madu istrinya itu.


Entah terbuat apa hati Adenia hingga begitu baiknya masih memikirkan Nela, di saat dirinya sudah di lukai oleh wanita itu.


"Aku menyesal De, maafkan aku. Maaf akan khilaf ku, kau wanita baik sempurna. Aku saja yang terlalu bodoh melupakan hal itu." Lirih Adnan lagi dan lagi air mata penyesalannya jatuh begitu saja.


"Aku janji, kau adalah prioritas ku sayang.Nela memang istriku juga sekarang, tapi apapun tentangnya semuanya akan melalui persetujuan mu. Aku janji." Batin Adnan sudah memutuskan.


...****************...


Adnan dan Adenia baru saja sampai di parkiran rumah setelah tadi Ade di jemput pria itu.


"Kamu tadi pulang makan siang di rumah tidak Mas? Keadaan Nela bagaimana?" Tanya Adenia saat sudah setengah perjalanan namun hanya kesunyian. Dia pun memutuskan untuk membuka suara lebih dulu.


"Maaf sayang, aku nggak pulang tadi. Banyak kerjaan yang harus aku urus, kau tahu kan aku udah nggak kerja seminggu lebih." Jelas Adnan sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Lalu udah di telfon?" Adnan hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia bahakan tak memikirkan sedikitpun tentang Nela tadi.


"Haaah kau ini." Habis sudah kata-kata Adenia melihat sikap cuek Adnan pada Nela.


Sebenarnya dia sudah tahu bagaimana keadaan keduanya dari apa yang dia lihat tempo hari saat pertama kali mengetahui hubungan mereka. Suaminya itu teramat kasar pada Nela, dan tak ada kelembutan yang pria itu berikan pada Nela seperti yang sering dia dapatkan.


Tapi dia tak menyangka, jika suaminya begitu teramat cuek seperti ini pada wanita yang kini sedang mengandung anaknya itu. Entah Adenia harus bersyukur atau tidak, namun dia juga wanita. Sakit juga melihat sesamanya merasakan sakit.

__ADS_1


Hening kembali menyelimuti sampai dimana mobil mereka telah sampai di rumah.


"Sayang biar Mas saja." Kata Adnan kala Adenia hendak membuka pintu, buru-buru pria itu keluar lebih dulu dan membukakan pintu pada Ade sang istri.


"Makasih Mas." Tulus Adenia mengatakan itu.


Entah kenapa hati Adenia mulai tersentuh dengan perhatian-perhatian kecil yang kembali dia rasakan dari Adnan. Namun hatinya tak mau terlalu dalam menanggapinya, terlalu takut di sakiti lagi adalah benteng dirinya sekarang.


Adnan tersenyum manis sembari mengapit sayang pinggang sang istri. Melangkah bersama ke arah dalam rumah, menjadi pemandangan indah bagi siapa saja yang melihatnya.


Saat masuk, mereka berpapasan dengan Nela yang hendak keluar rumah.


"Hay Nel, mau kemana?" Tanya Adenia melihat Nela yang rapi, sementara Adnan hanya melihat saja. Namun tangannya masih setia merangkul pinggang Adenia.


"Pengen jalan-jalan sebentar, sumpek di rumah De." Jujur Nela tapi masih sedikit canggung dengan Adenia.


"Mas, ayo temani Nela. Kasihan kalau jalan sendiri."


"Tapi Sayang aku...." Ucap Adnan di potong cepat Nela saat wanita itu sakin takutnya mendapat penolakan Adnan terhadapnya.


"Aku bisa sendiri kok, kalian bisa istirahat. Aku pamit." Kata Nela dan langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban kedua orang itu.


"Tuh, Nela nggak mau sayang. Ayo ke kamar, kau harus istirahat." Ucap Adnan dan di turuti Adenia setelah terdiam mendengar penuturan suaminya juga Nela.


Kedua suami istri itu langsung melangkah pergi meninggalkan sakit untuk Nela yang dengan jelas mendengar ucapan Adnan yang hanya tiga langkah di belakangnya itu.


"Sakit yah?." Ucap suara Brian yang entah berasal dari sebelah mana.


Nela yang masih menutup dan menghembuskan nafasnya menahan laju air matanya yang hampir jatuh.


"Itu yang Mba Ade rasakan karena kamu Nela, seperti itulah rasanya." Nela merasakan tubuhnya di peluk dari belakang olah pria mulut pedas namun dia kagumi itu.


Tangan Brian sudah berkeliaran membuat nafas Nela memburu.


"Lepas Brian, nanti ada yang melihat." Lirih Nela dengan nafas naik turunya. Belum habis kesedihannya akan Adnan, kini Brian kembali membuat kepalanya sakit.


"Oh, seperti inikah kucing-kucingan mu dengan kakak ipar ku itu. Ummm, menarik." Ucap Brian tak mendengarkan ucapan Nela, dia tetap memeluk Nela begitu erat.


"Brian aku mohon." Lirih Nela tak mampu lagi menahan air matanya.

__ADS_1


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...


__ADS_2