My Fault Too

My Fault Too
Sedihnya Nela


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Terima kasih masih setia dan klik cerita ini saat ada notifikasi Up🤗....


.


.


.


"Ciik, segitu saja udah jatoh. Dasar lemah, nggak sebanding dengan mulut kotormu itu." Ucap Brian meludah saat Adnan terhempas dengan hanya satu pukulan kerasnya itu.


Beruntung Air menahannya, jika tidak sudah di pastikan Adnan akan kembali babak belur seperti kala itu.


"Brian." Panggil Adenia mengagetkan Brian yang hanya fokus dengan Adnan sampai tak sadar akan keberadaan Mba nya Adenia.


"Mba masih bersamanya.?" Tanya Brian penuh penekanan dan terdengar ada rasa kecewa yang ikut dengan kalimat tanyanya itu. Sementara Air langsung melepas tubuh Brian yang di peluknya itu.


"Tidak, kami sudah usai. Kau bahkan tak datang menemaniku di sidang ceraiku, kau sungguh sudah melupakan aku rupanya. Adik macam apa kau sebenarnya Brian." Ucap Adenia dengan nada merajuk, dia bahkan tak peduli dengan Adnan pria yang tadi ngotot mengantarnya membawa pesanan gaun dari butiknya itu ke pemesan yang kebetulan satu unit di apartemen Brian dan Air.


Sementara Adnan, pria itu meringis menahan pipinya yang di hajar Brian. Sakit yang dia rasa tak seberapa, namun mendapat sikap cuek Adenia terhadapnya menambah perih luka tak seberapa itu.


"Jadi kalian sudah berpisah? tapi kenapa Mba masih jalan bersamanya."


"Itu karena kami akan kembali lagi." Kata Adnan menyela obrolan adik kakak itu.


"Sudah Bri." Tahan Air ketika Brian tersulut emosi lagi dengan kata-kata Adnan..


"Dalam mimpinya, oh iya kalian bersama? Apa ini Mba akan dapat kabar yang baik setelah ini." Ucap Adenia saat melihat Air, bukan dia tak tahu hubungan kedua sahabat itu. Hanya saja melihat Brian yang Playboy, dia kasihan saja dengan Air yang menurutnya wanita baik-baik itu.


Air pun tak berkomentar, hanya tersenyum cangung saja membiarkan Brian selaku pria yang bersuara.

__ADS_1


"Doakan saja Mba, jika urusanku sudah usai Mba akan ku kabari tentang kita." Brian berucap sembari menatap Air serius, membuat wanita itu bersemu merah malu dengan kedua kakak beradik itu..


"Cihhh, bodoh sekali Nela kalau begitu." Lirih Adnan masih di dengar yang lain.


"Ikut denganku Mba." Kata Brian setelah tadi Air menahan tangannya ketika ingin mengomentari ucapan Adnan.


Tanpa kata menunggu ucapan setuju dari Adenia, Brian langsung menggandeng tangan Adenia dan membawa kedua wanita yang berada di kiri kananya itu ke arah mobilnya. Meninggalkan Adnan yang menatap kesal ketiganya.


"Kau tak kalah brengseknya denganku Brian." Batin Adnan dan dia pun melangkah ke arah mobilnya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Adenia semuanya nampak diam. Terutama Air yang duduk di antara kedua kakak beradik ini.


Sampai dimana Adenia membuka suara membuat suasana pun kembali hidup.


Sementara di tempat lain, Nela nampak tersenyum dengan belanjaan di kursi belakangnya. Wanita itu baru saja berbelanja barang masakan setelah tadi menonton salah satu masakan yang membuatnya ngiler ingin mempraktekannya sendiri.


Namun saat mobilnya baru hendak memasuki pekarangan rumah Brian, dia di cegat oleh mobil yang dia begitu kenali. Membuatnya mau tak mau turun dan berbicara pada pemilik mobil yang sudah lama tak dia tahu kabarnya itu.


"Membicarakan tentang pria selingkuhan mu itu. Ikut bersamaku atau kau mau mengajakku masuk bersamamu di rumah selingkuhan mu itu." Adnan bersua santai tanpa keluar dari mobilnya.


"Tak perlu berpikir keras jika kau penasaran. Aku membawa kabar tentang pria selingkuhan mu itu, apa kau tak tertarik mendengarnya?." Kata Adnan penuh bujuk rayu, entah apa yang dia inginkan dari mantan istrinya itu. Yang pasti dia ingin membawa Nela bersamanya sekarang.


"Baiklah kalau kau tak ingin tahu, aku akan pergi sekarang." Pancing Adnan karena Nela terlalu lama berpikir.


"Baiklah, tapi aku akan membawa mobilku sendiri." Kata Nela pada akhirnya.


Nela akhirnya menyetujui ajakan Adnan, dia pun penasaran dengan apa yang ingin Adnan sampaikan tentang Brian kepadanya. Mengingat perubahan mendadak Brian belakangan ini, membuatnya sedikit menaruh curiga dengan pria yang sudah berhasil menguasai seluruh hatinya itu.


Mobil Adnan dan Nela kini berjalan beriringan dengan Adnan yang membawa jalan di ikuti Nela di belakangnya.


Mobil Adnan kini kembali memasuki parkiran apartemen yang tadi terjadi perselisihan itu dengan di ikuti Nela.

__ADS_1


"Apartemenmu?" Tanya Nela dan di angguki Adnan.


"Kenapa kita nggak ke restoran saja." Kata Nela mulai cemas, dia takut berduaan saja dengan Adnan meski dia tahu Adnan tak mungkin tergoda lagi dengan tubuhnya karena perselingkuhannya dengan Brian yang tentu pasti membuat Adnan pasti j*jik dengannya. Hanya saja dia takut dia yang kurang iman nantinya. Sebab dua orang dewasa dalam ruangan tertutup tentu pasti tak mungkin biasa saja, apa lagi keduanya punya hubungan dahulu.


"Lebih nyaman di apartemenku, kalau kau keberatan kau boleh pergi." Ucap Santai Adnan dan dia pun berjalan mendahului Nela yang masih nampak berpikir.


"Menyebalkan." Gerutu Nela pada akhirnya dia pun mengikuti langkah Adnan membuat pria itu tersenyum puas saat merasakan langkah dan bau harum Nela mengikutinya.


Sesampainya di unit Apartemennya, Adnan langsung melangkah masuk ke arah kamarnya tak lama dia pun memanggil Nela yang nampak menunggunya di area ruang tamu.


"Nel, kesini sebentar." Teriak Adnan dari dalam kamarnya.


"Kenapa? kau yang kemari saja." Kata Nela tak mau mengikuti mau Adnan.


"Apa kau tak ingin tahu tentang selingkuhanmu itu. Kemarilah ada sesuatu untukmu." Adnan kini nampak sedang memasang sesuatu di tv kamarnya yang sejak kemarin dan tadi dia siapkan susah payah.


Nela yang termakan ucapan Adnan pun melangkahkan kakinya ke arah kamar Adnan yang terbuka lebar. Tepat ketika dia menginjakkan kakinya di ruangan itu matanya langsung di buat melotot, terkejut dengan apa yang di lihatnya.


"Asik bukan, apa kau sudah mencintainya? Kuharap kau belum mencintainya, jika sudah segeralah di pikir kembali. Ayo kemarilah kita bisa menontonnya sepuasnya, masih banyak yang aku akan perlihatkan untukmu." Adnan beranjak dan langsung merangkul kan tangannya di pinggang Nela.


Nela yang masih terkejut hanya ikut saja, dan tak sadar Adnan sudah tersenyum puas dengan apa yang terjadi saat ini.


"Apa mereka tinggal di unit ini? Maksud aku apakah mereka sering ke sini atau itu unitnya Air.?" Tanya Nela yang sudah tak bisa berpikir lagi, hatinya terasa sakit dengan apa yang dia lihat. Bagaimana tidak, dia di suguhkan dengan Brian yang nampak mencium lapar bibir Air yang dia tahu betul mereka hanya berstatus sahabat. Atau dia yang tak tahu apa apa tentang mereka.


"Itu atas nama Air yang aku tahu. Tapi apartemen itu di beli langsung oleh Brian, mungkin itu milik mereka berdua." Sahut Adnan yang kini nampak sangat dekat dengan Nela, membawa wanita itu ke arah ranjangnya dan duduk di sana menyaksikan semua vidio yang dia kumpulkan beberapa hari ini.


"Nggak sia-sia." Batin Adnan mengingat kembali, kala itu dia tak sengaja melihat langsung keintiman Brian dan Air saat hendak melewati unit keduanya.


"Apa kau sedih." Bisik Adnan membuat Nela memejamkan matanya dan tanpa pikir panjang dia langung berbalik dan menyerang Adnan. Wanita itu nampak sedih dalam tindakannya nampak air matanya menetes dalam ciumannya dengan Adnan. Adnan melihat itu namun dia senang karena Nela memulai tindakan ini bukan dirinya.


...****************...

__ADS_1


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...


__ADS_2