My Fault Too

My Fault Too
Apa Sakitnya Sama Besar?


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Terima kasih masih setia dan klik cerita ini saat ada notifikasi Up🤗....


.


.


.


(Kejadian kemarin sore saat Adenia pergi untuk menemui orang yang menelfon nya.)


Terlihat Adenia dengan tubuh bak model namun sedikit berisi itu yang menambah sempurna kecantikan yang sudah ada dari sananya, berjalan anggun ke salah satu meja restoran dimana Jeje sudah menunggunya sejak tadi memberi kabar berjumpa dengan wanita itu. Kini pria itu nampak terkagum-kagum melihat bidadari yang dia ingin peristri jika berjodoh kelak.


"Sudah selesai?" Ucap Adenia setelah beberapa lama dia menduduki dirinya di kursi depan Jeje namun tak ada respon sedikitpun dari pria itu. Jangankan di sapa, sapaannya saja mungkin tak di dengar pria itu sejak tadi hingga membuatnya memutuskan duduk dan memperhatikan pria yang nampak juga tanpa berkedip melihatnya itu.


"Eh, Adenia. Maaf, selesai apa yah? Bukannya memangnya sudah selesai" Ucap pria itu kikuk, terkejut bukan main karena perkataan aneh Adeni yang mengagetkan dirinya yang nampak terhipnotis dengan Ade membuatnya menjawab berbeda maksud dengan Adenia.


"Cikk Je, aku tahu aku cantik. Tapi setidaknya kau sembunyikan sedikit wajah takjub mu terhadapku, karena itu cukup membuatku bergidik. Bukan mengapa, aku hanya takut sombong saja nantinya karena merasa terbang di tatap seperti itu. Jangan membuatku melayang." Ucap Adenia dengan pedenya, membuat Jeje tertawa keras.


Ini nih, yang membuatnya jatuh cinta sejatuh jatuhnya pada Adenia yang dulu masih resmi berstatus istri orang. Namun sekarang, dia sudah tak mau lagi menepis ketertarikan itu yang dulu sempat mati-matian dia ingin kubur dalam-dalam rasa yang tak semestinya kala itu.


"Hahaha, untung cantik." Tawa Jeje, tak bisa iya tutupi, ingin sekali dia memeluk Adenia sakin gemesnya dengan celotehan pede wanita itu.


"Emang cantik kok, btw makasih yah bantuannya. Aku nggak tahu kalau nggak ada kamu. Dan tolong sampaikan salam sayangku untuk Kanaya, terima kasih banyak karena sudah mau membantuku." Ucap Adenia mengingat lancarnya perceraiannya berkat campur tangan anak sekolah menengah akhir itu. Entah bagaimana caranya sampai gadis itu mengenal orang-orang penting yang sudah melancarkan semua urusannya.


Selepas ucapannya berakhir, Adenia merasakan pelukan hangat di lehernya dan ciuman di pipinya dari arah belakang dan itu membuatnya tersenyum dan memeluk tangan si pemeluk.


"Kau juga datang." Ucap Adenia dengan senyum hangatnya dan membuat Jeje bertambah jatuh cinta dengan ibu satu anak itu.


"Tentu, Daddy yang mengabari ku tentang pertemuan ini. Aku tak mungkin menyianyiakan nya." Ucap Kanaya sembari melepas pelukannya, dan beranjak duduk di sebelah Ade.

__ADS_1


"Hehehe, kau bisa saja. Memangnya aku siapa hingga kau sesemangat ini menemui ku." Ucap Adenia sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah girang dan bersemangat Kanaya sekarang.


"Kaka cantik kan calon Mommy nya Kanaya, kenapa bilang bukan siapa-siapa." Ucapan Kanaya tanpa pikir itu langsung membuat Adenia yang sedang mencuri minum minuman Jeje tanpa permisi langsung terbatuk, sakin terkejutnya dengan ucapan wanita abg itu.


Tak hanya Ade yang terbatuk, Jeje pun tak kalah terkejutnya dengan sang putri hingga dirinya pun ikut batuk berjamaah dengan Adenia.


"Kalian kompak sekali, ah benar-benar pasangan yang serasi." Tawa cantik Kanaya pun terdengar, membuat wajah Adenia dan Jeje jadi memerah. Malu dengan perkataan abg itu.


"Uumm, jangan dengar perkataan ngelantur putriku De. Dia suka jahil seperti itu soalnya." Ucap Jeje jadi malu sendiri dengan Adenia, membuat Kanaya hanya menggelengkan kepalanya. Daddy nya benar-benar membuat dirinya gemas sekarang.


.


.


.


Keesokan harinya di apartemen Brian dan Air.


Brian nampak masih betah menahan Air yang sedang mengemis pulang ke apartemennya namun di tolak Brian dengan berbagai alasan.


"Bukan begitu Bri, aku tahu semuanya ada. Tapi aku butuh privasi, kita nggak bisa kaya gini terus. Ingat Bri, kita punya pasangan masing-masing yang harus di jaga perasaannya. Ini nggak benar." Kata Air, sebab Nela terus menghubungi Brian berulang kali namun tak di gubris pria itu membuatnya tak enak sendiri.


"Pasangan sementara, kita berdua pasangan sesungguhnya kalau kau lupa." Kata Brian tak mau sedikitpun memberi cela agar Air stop meminta pulang.


"Dan yah, aku akan mengambil semua barang mu besok ke apartemen itu. Aku tahu itu bukan apartemen milikmu, jadi berhentilah tinggal di sana." Kata Brian yang sudah mencari tahu pemilik Apartemen itu, setelah menyelidiki semuanya.


"Ck, itu sebentar lagi menjadi milikku. Aku sudah menyicilnya." Kilah Air yang benar adanya.


Sebenarnya apartemen itu milik Dido dan Air membelinya karena dengan mendadak Dido menawarkan apartemen itu saat Air ada masalah besar dengan Brian tanpa sepengetahuan pria itu dulu.


"Jangan membantahku Ai, biarpun itu akan menjadi seutuhnya milikmu tetap kau harus di sini. Jangan beri alasan lagi." Ucap Brian sedikit kesal, karena hampir satu jam lamanya mereka habiskan untuk berdebat mulai dari bangun tidur tadi.

__ADS_1


Dret


Dret


Dret.


Lagi dan lagi Nela menghubungi Brian untuk kesekian kalinya karena sejak kemarin Brian tak memberinya kabar.


"Brian angkat ponselmu, kasihan Mba Nela terus menghubungimu." Ucap Air sembari menepis kepala Brian yang terus menempel di ceruk lehernya, karena sejak tadi Brian tak melepasnya sedikitpun dan terus memeluknya dari belakang dalam posisi duduk. Bahkan tak segan Brian mengapit kedua kakinya di paha Air yang memang itu sudah menjadi kebiasaannya bila bersama Air.


"Baiklah." Terbit jiwa jahil Brian tatkala otaknya mulai berpikir hal yang menyenangkan, namun itu sukses membuat Air hanya bisa menutup matanya.


Bagaimana tidak, dengan gerakan cepat Brian mengangkat Air dalam pangkuannya dan langsung memeluk wanita itu. Setelahnya ponsel yang masih berdering di terimanya dan mengalihkannya ke telfon vidio.


Nela yang melihat langsung posisi Brian yang memeluk wanita itu langsung secepat mungkin mengatur mimik wajah terkejutnya namun sudah lebih dulu di lihat Brian.


"Bri, kamu nggak pulang.?" Ucap Nela yang sebenarnya ingin bertanya Brian di mana, namun karena melihat posisi Brian seperti itu dia jadi tahu keberadaan Brian yang dia tebak mungkin di hotel atau tempat wanita yang Brian peluk.


Bukan Nela tak mengenal Brian seperti apa, namun pikir wanita itu pria itu sudah berubah karena sejak tinggal bersama tujuh bulan ini Brian selalu bersamanya dan tak pernah sekalipun pergi tanpa dirinya. Terkecuali urusan kerjaan, itu pun Brian selalu mengabarinya setiap waktu tak seperti sekarang.


"Aku nggak tahu nanti pulang atau nggak Nel, ini juga masih pagi. Jika bosan di rumah kau bisa jalan-jalan, akan aku transfer uangnya." Kata Brian sembari mengelus punggung Air yang nampak diam saja dengan tingkah tak berperasaan Brian.


"Baiklah, maaf sudah mengganggu. Lanjutlah, aku akan jalan-jalan sekarang." Kata Nela dan setelahnya wanita itu mengakhiri panggilan itu. Dan menangisi kehidupannya yang selalu tak baik-baik saja itu.


Sementara Brian langsung mendapatkan cubitan keras di perut dari Air.


"Awwww, sakit Ai. Kenapa mencubit ku." Ringis Brian langsung mengusap perutnya yang di cubit Air.


"Itu karena kau tak punya perasaan. Bisa-bisanya kau menyakiti Nela dengan memperlihatkan kita. Mba Nela pasti sakit tahu Bri." Kesal Air pada Brian namun di sambut terkekeh pria itu.


"Hahahahaha, lebih sakit mana Mba Adeku di banding Nela yang melihat kita tanpa Aktifitas apapun hanya saling memeluk. Kau tahu, Mba Adeku menyaksikan mereka berbuat dengan mata kepalanya sendiri. Mata kepalanya Ai, mata kepalanya sendiri. Jadi jelaskan padaku, apa sakitnya sama besar dengan sakit Mba Adeku Ai?"

__ADS_1


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...


__ADS_2