
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Kediaman Brian..
Selepas meeting dan makan malam bersama, kini Nela dan Air nampak sedang mencuci piring bekas makan mereka. Sebab Bibi yang sudah pulang kerumahnya selepas menyiapkan makanan yang di pesan Brian tadi, karena memang Bibi hanya bertugas sampai sore hari saja.
Brian datang dengan gelas bekas kopi yang di buat Nela, dan meletakan nya di tempat cuci.
"Sayang, biarkan saja besok baru di cuci Bibi." Ucap Brian sembari memeluk tubuh Nela dari belakang membuat wanita itu tak enak dengan Air yang berada tepat di sebelahnya.
Air nampak tak terusik, terus melanjutkan aktifitasnya seakan tak terjadi apapun di sebelahnya.
"Bri, malu ah sama Air.." Tegur Nela tak enak hati dengan Air.
"Udah biasa, santai aja Mba." Sahut Air namun tak menoleh sedikitpun pada Brian juga Nela, ekor matanya menangkap Brian sedang menatapnya dengan senyum mengejeknya.
"Tuh Airnya nggak papa."
"Tapi nggak gini Bri, aku nggak bebas gerak.." Ucap Nela beralasan.
"Baiklah, sayang bisa minta tolong ambil piring bekas gorengan ya sayang. Aku lupa tadi membawanya." Kata Brian sembari mengecup sekilas tengkuk Nela, dan setelahnya melepas wanita itu.
"Iya." Patuh Nela dan lekas pergi keruangan tempat meeting tadi.
Selepas perginya Nela, Brian langsung bersandar pada tempat pencucian piring dan menatap Air yang nampak tak pusing dengannya.
"Bagaimana? Romantis nggak aku sama Mba Nela? Atau kamu cemburu?" Tanya Brian membuat Air tertawa kecil mendengar kepedean pria itu
"Yah... Lumayan, dan untuk cemburu maaf kita tak punya hubungan spesial yang bisa membuatku cemburu padamu." Jawaban Air membuat Brian kesal mendengarnya.
"Ck, yakin??" Ucap Brian lagi menatap lekat Air mencari kebohongan di wajah wanita itu, dia kesal karena Air nampak biasa saja melihat kedekatannya dengan Nela dan jawaban wanita itu tadi. Dia tak suka itu.
"Hahaha, sangat yakin. Selain kita tak memiliki hubungan spesial, aku juga punya pacar, kalau kamu lupa. Dan tak ada hak ku sedikitpun untuk menaruh cemburu padamu." Tawa Air sembari menggelengkan kepalanya menatap sekilas Brian kemudian kembali fokus dengan cucian lagi.
Brian hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, yah dia lupa Air memiliki kekasih yang sudah merusak segala impiannya.
Seketika hening, keduanya tak lagi bersuara. Sampai dimana Nela kembali datang dan sedikit bingung dengan wajah tak bersahabatnya Brian.
"Bri, kenapa?" Tanya Nela.
"Eh, nggak papa. Kalian lanjut saja, kalau gitu aku ke Dido sebentar." Ucap Brian dan langsung berlalu melewatkan Nela begitu saja.
Sementara Air, wanita itu nampak mengusap ujung matanya yang nampak berair setelah kepergian Brian.
"Aneh." Batin Nela, pasalnya tadi Brian manis-manis saja. Namun tadi wajahnya cukup tertekuk, entah apa yang terjadi hingga membuat pria itu berubah secepat kilat.
.
.
__ADS_1
.
"Tidaakkkk Adnann!!!!" Teriak histeris Adenia ketika Adnan mengarahkan keras pas bunga itu ke arah lehernya sendiri...
Adenia langsung menutup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya sakin tak sanggup melihat perbuatan Adnan. Wanita itu menangis histeris, seluruh persediaannya serasa lemas seketika.
PRAAGGG
BUGGGG...
Hingga sampai dimana suara kegaduhan membuatnya langsung melepas telapak tangannya dan melihat ke arah sumber bunyi.
"Apa anda sudah gila. Jika memang anda mau mengakhiri hidup, ini bukan tempatnya. Apa anda tega membuat istri dan anak anda menyaksikan kegilaan ini." Ucap Jeje sedikit emosi dengan tindakan Adnan usai pria itu mendorong keras Adnan hingga tersungkur membentur tembok, setelah lebih dulu tadi dia memukul keras tangan Adnan dan pas bunga itu jatuh dari tangan pria gila itu.
"Jeje." Lirih Adenia, dia tak tahu kenapa pria itu ada di sini sekarang. Pasalnya tadi Jeje sudah pamit pulang, mungkin hampir satu jam yang lalu. Namun dia bersyukur, Jeje ada dan bisa menggagalkan aksi gila sang suami.
"Ibu nggak papa." Ucap Bibi memeluk erat tubuh bergetar Adenia. Sungguh, masalah bertubi-tubu majikannya itu membuat Bibi sedih sendiri.
"Bibi." Lirih Adenia tak sanggup menjawab pertanyaan Bibi, dia terlalu lemas dengan tindakan ancaman Adnan tadi.
"Tenang Bu, duduk dulu. Jangan di bawa pikiran nanti Ibu sakit, kasihan Eijaz Bu.." Kata Bibi sedih sembari membawa Adenia duduk di ranjang sang putra.
"Kau siapa, urusan apa sama ku hah!!! Jangan campuri urusan rumah tanggaku." Kesal Adnan pada Jeje, pria itu menatap nyalang pada pria yang baru saja menggagalkan aksi negosiasinya dengan Adenia. Terlalu frustasi menghadapi Adenia, menyebabkan dia harus mengancam wanita itu sakin tak bisa lagi berfikir jernih.
"Aku adalah utusan malaikat maut yang menolak kehadiranmu yang akan menambah beban pekerjaan mereka. Dan apa kau tak punya otak. Kau baru saja mau melakukan aksi gila di hadapan istri dan anakmu, yang benar saja. Jika memang kau ingin mengakhiri hidupmu, bukan di sini tempatnya." Balas Jeje tak mau kalah. Dia sakit sendiri melihat Adenia histeris menghadapi suaminya gilanya itu.
Mendengar ucapan Jeje, Adnan langsung bangkit dari posisi duduknya karena di dorong Jeje tadi.
"Aku bilang jangan campuri urusan rumah tanggaku." Teriak Adnan dan langsung menghadiahkan satu pukulan keras ke rahang Jeje dan berhasil mengenainya karena gerakan cepat dari Adnan yang tak bisa di hindari pria itu. Saat ingin kembali melayangkan pukulannya, Adenia langsung bertindak mendorong Adnan.
"Apa yang kamu lakukan Mas, apa kamu sudah gila." Tambah Adenia saat melihat darah segar keluar dari sudut bibir Jeje.
"Dia sudah terlalu jauh ikut campur, oh aku tahu dia pasti sedang mencari perhatianmu. Pasti itu." Kata Adnan membuat Jeje hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan pria itu.
Saat hendak membalas ucapan Adnan, Jeje langsung di tahan Adenia. Wanita itu tak mau ucapan Jeje akan menambah emosi Adnan. Membuat Jeje mendengus sebal.
Tak tahukah Adenia bahwa tangan pria itu sudah sangat gatal ingin membalas perbuatan Adnan yang sudah menghancurkan wajah tampannya itu. Kalau tak pikir jika Ade ada di sini sudah di pastikan Jeje akan balas Adnan dengan pukulan yang sama.
"Ck, kalau aku jelek di lihat Ade gimana.. Dasar pria gila, mau mati aja harus pamer. Pake acara nyerang gua lagi." Batin Jeje kesal sendiri.
Masih sempat-sempatnya dia mengkhawatirkan kondisi wajahnya di hadapan Ade.
"Kau memang sudah benar-benar Gila Mas." Kata Adenia tak habis pikir.
"Yah aku memang sudah gila. Gila karena mu dan kamu tahu itu." Kesal Adnan karena Adenia membela Jeje di banding dirinya.
Adenia kehabisan kata-kata menanggapi pria yang kini nampak begitu emosi itu.
"Bibi tolong jaga putraku, aku akan mengobati Jeje sebentar." Adenia pun memilih membawa Jeje keluar dari pada meladeni sikap gila Adnan.
"Iya Bu."
"Keluar Bi, aku yang akan mengurus putraku." Ucap Adnan, pria itu berjalan kesal ke arah ranjang sang putra ketika Adenia menggandeng lengan Jeje berjalan keluar.
Sebenarnya, Adenia hendak protes. Namun tak mau jika Adnan bertambah marah, dia pun membiarkan saja ketika mendengar ucapan Adnan pada Bibi. Toh juga Eijaz putranya Adnan, tak mungkin pria itu menyakitinya.
Selepas perginya Adnan juga Jeje, Bibi langsung membersihkan pecahan pas bunga dan kemudian meninggalkan Adnan dan Eijaz sendiri.
__ADS_1
"Sayang, tolong bantu Daddy. Daddy nggak tahu lagi harus dengan cara apa untuk Mommy mu bisa kembali dengan Daddy." Lirih Adnan membaringkan dirinya di sebelah Eijaz dengan tangis serta perasaan khawatir Adenia di miliki orang lain. Dia jadi khawatir, jika pria tadi akan merebut Adenia darinya.. Memikirkan hal itu sungguh membuatnya tak tenang.
.
.
.
"Maafkan Adnan Je, maaf karena dia sudah menyakitimu." Ucap Adenia tak enak hati Jeje jadi luka kerena suaminya. Sebenarnya dia sangat malu karena Jeje melihat kelakuan Adnan tadi, sungguh tak menyangka orang lain akan menyaksikan masalah rumah tangganya dan Adnan.
Jeje yang nampak menikmati wajah Adenia yang kini sedang mengompres wajahnya karena pukulan Adnan sampai tak mendengar ucapan Adenia, dia begitu terhipnotis dengan ibu baru itu. Ini baru pertama kalinya dia sedekat ini dengan Adenia, dan dia bertambah mengagumi kecantikan wanita di hadapannya ini.
"Sempurna." Batin Jeje kagum.
"Je, Jeje." Panggil Adenia karena sejak tadi Jeje tak merespon ucapannya.
"Jeje." Panggil Adenia lagi sambil kali ini dia menepuk lengan pria itu.
"Eh, yah kenapa say..... Ummm maksud aku kenapa De?" Ucap Jeje kaget.
"Kau melamun? Jadi sejak tadi ucapan ku hanya angin lalu." Ucap Adenia bengong sendiri, sudah capek-capek dia bertanya kiri kanan atas bawah tengah belakang percuma saja.
"Hehehe, maaf." Ucap Jeje kikuk, sembari menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba minta perhatian.
"Kau ini, oh iya kok kamu bisa di rumahku lagi. Bukannya tadi udah pulangkan?" Tanya Adenia setelah teringat akan keberadaan Jeje di rumahnya tiba-tiba tadi, dan Jeje pun menjelaskan.
*Flashback On*
Jeje dan putrinya baru saja di pertengahan perjalanan untuk pulang sampai dimana Kanaya tak sengaja melihat bingkisan kado untuk Baby Eijaz yang ternyata lupa mereka berikan untuk Adenia tadi.
"Daddy, bukannya itu kado untuk calon Adikku. Kita melupakannya." Ucap Kanaya membuat Jeje berbalik menoleh ke kursi belakang dimana kado bungkusan besar masih setia menghuni mobil mereka.
"Astaga, kok bisa kita melupakannya."
"Daddy balik saja lagi, aku akan naik taxi saja." Seru Kanaya namun di tolak Jeje.
"Nggak ah, nanti saja Daddy minta tolong orang buat antar.. Nggak enak udah pulang masa balik lagi."
"Ih Daddy mah gitu, kapan mau punya istri hal gitu aja malas." Kesal Kanaya membuat Jeje menghembuskan nafasnya dan akhirnya menyetujui ucapan sang sang putri, dan itu membuat Kanaya tersenyum senang.
Saat sesampainya di kediaman Adenia, Jeje di minta tunggu sebentar karena Bibi pergi memanggil Ade. Namun bukannya Ade yang datang, Bibi malah datang meminta tolong Jeje untuk naik ke atas setelah melihat kejadian kedua majikannya itu.
*Flashback Off*
.
.
.
Maaf untuk para Author yang belum sempat author singgahi ceritanya hari ini. Lagi sibuk seharian tadi jagain Ibu baru masuk rumah sakit pagi tadi soalnya, jadi Author belum punya waktu baca. Ini nulisnya juga Author curi-curi waktu, mohon di maklumi..
Dan semoga yang lagi sakit di manapun kalian berada semoga lekas sembuh dan yang sehat juga jaga kesehatan yah....
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1