
...Terima kasih masih setia dan klik cerita ini saat ada notifikasi Up setelah beribu purnama Author bersemedi dan baru kembali lagi😁....
............🌹Happy Reading🌹 .............
.
.
.
Jiwa yang perlahan tenang kini kembali merasa terancam. Wanita yang dahulunya iya perjuangkan untuk bisa dimiliki dan kini telah termiliki, namun masa lalu wanitanya itu kini mulai kembali menghantui.
Darren, pria itu kini nampak diam menikmati secangkir copi dingin yang sejak tadi menganggur karena terabaikan fokusnya melihat sang wanita bersama pria masa lalunya.
"Sayang." Sapa lembut itu membuyarkan lamunan Darren, dan di sambut tersenyum hangat menyambut sapaan sang wanita.
"Sudah selesai?" Satu kalimat tanya Darren yang dia maksudkan untuk permasalahan cinta pelik Air namun di artikan berbeda oleh wanita kesayangannya itu.
"Yah, sudah selesai. Bagian ku sudah selesai. Hanya saja jika kurang mereka akan menghubungiku lagi." Tak mau terlihat gugup, Air pun mengambil tempat di sebelah Darren menghalau agar duduk berhadapan karena tatapan pria itu seolah sedang mengulitinya sekarang entah itu hanya perasaannya saja atau dia seolah merasa bersalah dengan keadaan belakangan ini yang dia lalui saat di tinggal sang kekasih bertugas.
"Oh oke, aku lihat tadi ada wanita dewasa menghampiri Brian. Apa itu wanitanya By, aku cukup senang jika itu benar?" Tanya Darren sembari menarik lebih dekat kursi Air mendekatinya demi mengikis jarak yang sengaja dibuat Air tentunya.
Deg...
Jantung Air seakan terhantam keras oleh ucapan Darren, pikirannya langsung melayang ke kejadian tadi.
"Apa Darren juga melihat sikap Brian tadi padaku? Oh Tuhan, semoga saja tidak." Batin Air mulai khawatir. Khawatir jika perlakuan Brian tadi di lihat Darren sebab hubungannya dahulu Darren tahu betul.
"Aku melihat mobil Brian tadi pergi dengan wanita cantik sayang, Jadi aku pikir itu kekasih barunya." Tambah Darren lagi saat melihat diamnya Air yang dia tahu jelas apa yang sedang wanita itu pikirkan sekarang ini.
"Ah ya." Jawab Air sedikit lega. "Mungkin saja, aku tidak tahu pasti." Sambungnya lagi menetralkan kelegahan yang dia sadari terlalu berlebih.
Darren hanya menanggapinya dengan senyuman kecil.
"Kau milikku Air, dan sampai kapanpun akan tetap menjadi milikku." Batin Darren tersenyum kecil melihat sikap sang kekasih yang mulai meresahkan hatinya.
Keduanya pun terhanyut dalam obrolan yang di ciptakan Darren, dimana ketika mereka berjauhan beberapa waktu belakangan karena kerjaan Darren tentunya.
.
.
__ADS_1
Meninggalkan, sosok dua sejoli yang sedang bertemu kangen dengan sejuta kejutan. Di lain tempat tepatnya di dalam mobil, Brian dan Nela nampak saling diam tanpa suara.
Sesekali, Brian melirik Nela yang nampak fokus menatap ke arah luar jendela sembari jemarinya mengetuk-ngetuk rantang yang berada di pangkuannya.
"Kau masak apa?" Akhirnya Brian memilih bersuara.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"Nel." Panggil Brian karena ucapannya seolah tak di dengar Nela.
"Kenapa?" kaget Nela saat Brian menyentuh jemarinya yang sedang mengetuk rantang.
"Apa kau melamun? Aku sedang bertanya padamu." Ucap Brian sekali melihat Nela dan kembali fokus berkendara.
"Apa? kau bertanya apa? Maaf aku nggak dengar." Jujur Nela, dia memang sejak tadi sedang memikirkan kebersamaan Brian dan Air setelah tadi melihat sendiri bagaimana dengan eratnya Brian menggandeng Air dan perdebatan kecil kedua orang itu. Tak dia pungkiri semua yang di tunjukkan Adnan padanya waktu itu kembali terngian dalam memorinya setelah melihat sendiri tadi.
Rasa takut, kini mulai menghinggapinya. Takut jika Brian akan lebih memilih Air di banding dia yang tak sempurna. Sungguh, untuk kali ini Nela sangat teramat takut hal itu sampai terjadi. Dia sudah terlanjur mengikat hatinya pada Brian seorang, hingga memikirkan hal mengerikan itu sungguh membuat hatinya sangat teramat tak tenang.
"Maaf, ah yah aku hanya masak ayam goreng dengan sedikit lauk." Titah Nela sembari membuka rantangan yang berada di pangkuannya. Memperlihatkan semua isi menunya yang dia masak pada Brian yang sesekali menoleh.
"Mau ku suapi?" Tawar Nela dan di sambut anggukan kecil Brian.
Alhasil, Nela pun menyuapi Brian sampai dimana meminta berhenti karena kekenyangan.
"Terima kasih, kau semakin pandai memasaknya." Ucap puji Brian saat setelah meminum air yang di sodorkan Nela dan di sambut senyum manis Nela akan ucapan pujian Brian padanya meski sedikit tercubit dengan hilangnya panggilan sayang yang selalu Brian ucapkan untuknya.
Tanpa sadar, mobil yang di kemudikan Brian kini telah sampai di kediaman pria itu.
Saat Nela hendak keluar dari mobilnya, ponsel wanita itu berdering membuat Brian menoleh padanya.
"Suamiku." Batin Nela hingga sampai tak sadar mengerutkan keningnya saat membaca nama kontak panggilan, pikirannya langsung melayang pada Adnan sang mantan suami. "Oh Tuhan, dia pasti yang mengisinya." Batin Nela sebab sudah lama dia menghapus semua tentang Adnan di ponselnya setelah perceraian mereka. Tanpa ragu Nela langsung menekan tombol merah, menolak panggilan sang mantan suami. Pria itu sungguh kembali membuatnya merasa bersalah pada Brian kini.
"Nomer baru, aku malas mengangkatnya." Seru Nela saat mendapati Brian menatapnya tanya.
Usai mengucapkan itu Nela langsung memutuskan keluar dari dalam mobil dan betapa terkejutnya dia saat matanya bersitatap dengan mata wanita yang sudah lama tak iya jumpai.
"Mba, kenapa nggak bilang mau datang. Aku bisa pulang lebih awal." Kata Brian saat melihat sang kakak sudah berdiri tak jauh dari mobilnya sambil menggendong sang keponakan.
__ADS_1
"Apa sejak tadi kau tak mengecek ponselmu? Aku mau pulang, rumahmu ternyata sangat panas dari yang aku bayangkan. Tidak cocok untukku dan juga putraku, sepertinya rencana datang kesini adalah sebuah kesalahan." Ketus Adenia, sembari melenggang melewati sang adik dengan wajah kesalnya.
"Mba." Panggil Brian membuat Adenia berhenti melangkah.
"Kalian masuklah, aku ada urusan sebentar." Kini Nela yang bersua. Wanita itu tahu keadaan tak enak ini karena keberadaannya.
"Mau kemana?" Saat hendak melangkah, Brian menahannya. Entah mengapa, Brian merasa sedih menatap wajah Nela saat berbicara padanya tadi. Sangat teramat sedih dalam penglihatannya.
Belum menjawab, bunyi nyaring pintu mobil Adenia mengagetkan keduanya. Wanita itu memilih pergi karena tak kuasa melihat wanita yang dulu berstatus sahabatnya itu.
Hingga sampai mobil Adenia meninggalkan kediamannya, Brian hanya bisa menatap.
"Ada apa denganmu? Kenapa nggak mencegah Ade pergi, dia pasti kecewa sama kamu karena aku." Ucap Nela merasa bersalah.
"Dari awal dia sudah kecewa kan sama aku!!!!..... Masuklah." Kata Brian dan langsung meninggalkan Nela, masuk ke dalam kediamannya dengan perasaan gusar.
Nela yang tadi hendak pergi mengurungkan niatnya dan memilih melangkah mengikuti Brian.
Sementara Adenia, wanita itu memilih kembali ke kediamannya dengan hati dongkol. Namun sesampainya di rumah bukannya lega, malah perasaan kesalnya bertambah berjuta kali lipat.
Bagaimana tidak, baru saja mobilnya memasuki parkiran rumah. Matanya harus di sodorkan dengan penglihatan menyebalkan, dimana mobil sang mantan suami sudah terparkir apik di dalam sana..
"Kenapa satu hari ini aku harus bertemu dengan orang orang ini ya Tuhan, kau sungguh menguji kesabaran ku hari ini." Teriak kesal Adenia hingga mengagetkan sang putra yang dia taruh di kursi belakang.
"Sssshhh, cup cup sayang maafkan Mommy." Ringis Ade saat mendengar tangisan menggelegar sang putra dan dengan segera bergegas turun dan mengambil malaikat kecilnya itu.
.
.
"Bibi!! Ada apa ini?" Adenia di buat pening dengan apa yang dia lihat saat langkahnya baru memasuki kediamannya...
"Maaf Bu, bibi hanya..." Ucap Bibi terhenti saat sebuah suara menginterupsinya.
"Kenapa???" Terdengar suara menyebalkan Adnan dari ruang keluarga membuat tatapan Adenia mau tak mau langsung menatap tajam pada pria yang tak henti hentinya membuatnya kesal di setiap harinya..
....
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1