
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Keterkejutan berat di alami Adnan, pria itu sampai tak sadarkan diri sakin shock nya. Seakan tak bisa menerima kenyataan istri tercintanya meminta cerai untuk pertama kalinya. Tak pernah sedikitpun terlintas di benaknya menceraikan Adenia atau di ceraikan wanita itu.
Dunianya serasa runtuh seketika mendengar penuturan sang istri pada Ibunya.
Sang ibu sampai histeris melihat Adnan tak sadarkan diri memohon belas kasih Adenia yang beliau tahu begitu memuja Adenia sang menantu.
"Adnan astaga." Teriak Ibu Adnan. Wanita yang sering di panggil Nyonya Rita itu langsung bersimpuh di hadapan Adenia setelah melihat keadaan sang anak yang rapuh dan telah hilang kesadarannya.
"Adenia, Ibu mohon pikirkan lagi keinginan kamu untuk menceraikan Adnan. Kau tahu betapa putra manjaku itu begitu memujamu. Mengabaikan Ibunya demi kamu seorang. Kau tahu betapa dia lebih memilihmu di banding aku Ibunya, apa itu belum cukupkah untuk membuktikan betapa berharganya kamu untuk putra Ibu." Ucap Nyonya Rita untuk pertama kalinya memohon pada Adenia. Seumur umur, wanita itu hanya memperlihatkan ke angkuhannya di hadapan sang menantu. Tapi tidak untuk sekarang.
Nyonya Rita begitu tahu bagaimana Adnan mencintai Adenia, baliau tak tahu bagaimana caranya sang putra bisa menyelingkuhi Adenia. Yang hanya beliau tahu Adenia adalah ratunya Adnan, sampai-sampai beliau bahkan cemburu terhadap putranya sendiri karena lebih besar cinta putranya pada wanita baru di keluarga mereka kala itu. Adenia menatunya.
"Adnan sangat mencintaimu Ade, kau tahu itu. Bahkan Ibu sendiri sampai cemburu dengan cinta Adnan kepadamu, tapi kenapa kau mau menceraikan Adnan." Tambah Ibu Rita terdengar isak tangis Ibu Rita mengiringi permohonannya pada Adenia.
"Ibu salah, Adnan tak pernah mencintaiku Bu. Buktinya dia bisa berselingkuh dengan sahabat ku sendiri bahkan sampai hamil. Apa itu masih bisa di sebut cinta?" Ucap Adenia memalingkan wajahnya tak sanggup melihat wanita yang dulunya sering memasang wajah permusuhan dengannya kini nampak rapuh di hadapannya.
"Mungkin wanita itu yang menggodanya, Ibu tahu bagaimana Adnan sayang. Maafkan kesalahan putra ibu Nak. Maafkan Adnan Nak, Ibu mohon...Hiikz hiikzz, Ibu mohon maafkan Suamimu Nak." Kata Ibu sembari mengarahkan wajah Adenia untuk menatapnya, menatap wajah sedihnya berharap sang menantu mau memaafkan sang Anak..
Adenia istri sempurna di mata Ibu Rita, beliau hanya cemburu kasih sayang Adnan lebih besar untuk wanita itu. Soal Anak, sebenarnya itu hanya alibinya saja agar bisa selalu menyakiti Adenia demi rasa cemburunya pada wanita yang sudah merebut seratus persen perhatian sang putra.
"Jika memang wanita itu menggodanya, lantas saat aku menyuruhnya untuk menikahi Nela. Kenapa Adnan terima saja Bu, mungkin jika Adnan berusaha menolak keingianku aku bisa mempertimbangkan ini. Tapi tidak buk, dia hanya menolak sebentar namun menerima juga. Aku sakit Bu, aku sakit melihat mereka di rumah ku. Bermesraan tanpa tahu tempat, Ibu juga wanita pasti tahu perasaanku."
Kali ini runtuh sudah pertahanan Adenia, dia menangis sejadi-jadinya di hadapan mertuanya. membuat Pak Didi sang pengacara mengambil alih putra Adenia yang sedang di pangkunya dan meletakan bayi mungil itu di boks yang semestinya.
"Maafkan putra Ibu Nak." Kata Ibu Rita sembari membawa Adenia untuk pertama kalinya dalam pelukannya.
"Aku sakit Buk, hanya Tuhan yang tahu seberapa mati-matiannya aku menjaga kewarasan ku serta bayi yang ku kandung.." Ucap Adenia masih dalam tangis yang sama hingga sampai dimana dia pun ikut tak sadarkan diri. Membuat panik Ibu Rita.
"Astaga sayang, bangun nak. Pak Didi tolong panggilkan Dokter." Kata Ibu Rita panik, stres sendiri melihat kedua anaknya dalam keadaan kacau seperti ini.
"Baik Nyonya." Ucap Pak Didi ikut panik sampai melupakan ada tombol panggilan di atas ranjang Adenia. Pria itu berlari keluar meminta tolong perawat siapa saja yang dia temui. Hingga sampai diman tim Dokter pun datang menangani.
Selepas di tangani, Ibu Rita meminta satu ranjang lagi untuk sang putra yang juga belum sadarkan diri.
"Pak, Babak pulanglah dan bawa berkas sial*n itu. Sampai kapanpun putraku tak akan menceraikan Adenia, kau dengar." Ucap Ibu Rita dengan nada kesal pada pengacara Adania, karena berkas itu keadaan kedua anaknya jadi seperti ini.
"Baiklah, nanti saja saya kembali lagi. Karena semua keputusan ada di Ibu Ade. Saya permisi." Ucap pengacara Didi sedikit tersinggung dengan nada bicara Ibu Rita yang sedikit meninggi.
Pria itu langsung bergegas pergi, dan akan menunggu kabar saja dari Adenia.
Tak berselang lama, Adnan sadar. Pria itu langsung terkesiap dan menatap sang Ibu yang kini nampak menggendong sang putra.
"Bu." Lirih Adnan.
"Eh, kau sudah bangun Nak. Putramu rewel, tapi Adenia balum sadarkan diri. Apa kau mau menggendongnya." Kata Ibu Rita sembari mendekati Adnan.
__ADS_1
"Sinikan Bu biar Adnan yang menggendongnya." Ucap Adnan sembari memajukan tangannya menyambut sang putra.
"Putra Daddy kenapa hmm, apa haus.?" Kata Adnan sembari menimang-nimang sang putra namun putranya itu masih saja tetap rewel.
"Istrimu pingsang juga, terlalu sakit menumpahkan isi hati kekecewaannya terhadapmu." Kata Ibu Rita spontan tanpa mendengar pertanyaan Adnan. Wanita itu langsung berbicara saat sang putra menatap lekat Adenia.
Sembari membuatkan susu formula yang di siapkan rumah sakit selagi Adenia belum sadar, Ibu pun mempertanyakan soal Nela yang beliau juga belum dapat info yang resmi tentang pernikahan kedua sang putra dengan wanita yang sudah membuat Adenia menceraikan Adnan.
"Kapan kau menikahi wanita itu? Dan kenapa Ibu tak di beritahu kamu Adnan?" Tanya Ibu Rita membuat Adnan mengutuk keputusannya menikahi Nela.
"Jangan bahas wanita si*lan itu lagi Bu. Kami sudah bercerai, dan tolong di depan Adenia jangan mengungkitnya." Ucap kesal Adnan..
"Kenapa kau jadi memarahi Ibu, Adenia sendiri yang membahasnya itu sebabnya Ibu bertanya. Dan kau juga Istri sudah sesempurna ini masih saja tergoda dengan wanita lain. Apa yang kau cari..." Ucap Ibu Rita namun dengan cepat di sela Adnan.
"Kepalaku sakit Bu, aku tahu aku salah. Itu sebabnya tolong bantu aku Bu, Aku nggak mau pisah dengan Adenia. Aku bisa gila Bu, Ibu tahu itu." Lirih Adnan, memikirkan berpisah dari Adenia membuatnya sakit kepala.
"Makanya jangan main gila kalau nggak mau gila." Seru Ibu Rita kesal sendiri dengan putranya.
"Ck Ibu...." Ucap Adnan terhenti ketika mendengar gumaman Adenia.
"Bu tolong ambil putra ku, Adenia sudah bangun." Ucap Cepat Adnan dan memberikan sang putra untuk sang Ibu.
"Sayang, sayang kau sudah bangun. Apa yang sakit?" Tanya Adnan sembari mengusap sayang kepala Adenia.
Belum sempat menjawab, pintu ruangan rawat Adenia terbuka.
Brian dan Nela masuk membuat ruangan yang masih panas itu bertambah lebih panas lagi. Adenia yang masih pening kini bertambah pening. Bagaimana tidak, sang Adik sekarang terang-terangan menentang dirinya dengan membawa serta Nela bersamanya.
Padahal tujuh bulan lalu dia sudah melarang keras Brian untuk tak berhubungan dengan Nela, tapi apa ini..
"Oh Tuhan, kenapa semuanya jadi begini." Batin Adenia, namun selanjutnya dia pun menyalahkan dirinya sendiri. " Salahku juga mempersilahkan wanita perusak itu bergabung di lingkungan damai ku." Batin Adenia sembari memejamkan matanya, terlalu sakit memikirkan kenyataan ini.
"Apa ini Brian." Ucap Ibu Rita menatap aneh pada wanita yang dia tahu sudah merusak rumah tangga Adnan itu.
Dirinya begitu bingung, kenapa sekarang Nela malah menempel pada Brian. Dan katanya wanita itu hamil, kenapa perutnya datar-datar saja. Ah Adnan benar-benar menutup segalanya dari sang Ibu. Batin Ibu Rita memikirkan semua yang Adnan tutupi dari beliau.
"Selingkuhannya." Ucap Adnan santai menjawab pertanyaan yang di lontarkan sang ibu untuk Brian, Adnan cukup emosi melihat kedatangan kedua orang itu dalam ruangan ini. Namun dia tak mau nampak buruk lagi di hadapan Adenia, cukup sudah.
"Ck, dia juga selingkuhan mu, bahkan istri dan sekarang sudah jadi mantan istrimu kalau kamu lupa." Ucap Brian Lagi-lagi menyindir Adnan, karena masih terlalu kesal dengan pria itu.
Nela semakin keras menggandeng lengan Brian.
"Sayang, santai saja. Semuanya juga betul kan." Ucap Brian pada Nela membuat wanita itu ingin sekali menghilang dari tempat itu.
Entah apa yang Brian pikirkan, pria itu menampung Nela sekarang. Namun kata-katanya selalu mengingatkan Nela akan masa lalunya itu.
"Hmmm." Hembusan nafas Nela mendengar ucapan Brian. Dia salah sudah ikut bersama Brian di sini, karena paksaan pria itu. Genggaman tangan Nela pun mulai merenggang namun dengan cepat Brian menahannya..
"Cup ... Becanda sayang, gitu aja tersinggung." Ucap Brian tersenyum manis pada Nela setelah tanpa malu mengecup bibir Nela di hadapan semua orang.
"Brian!!!" Teriak Adenia muak dengan sikap sang Adik.
"Siapa nama keponakanku Mba? Dia tampan sepertiku dan tak membawa tampan suamimu sama sekali." Tanya Brian seolah teriakan sang kakak hanyalah angin lalu.
"Kalau kau masih punya malu, pergilah dari sini" Ucap Ibu Rita menatap tajam Nela.
__ADS_1
"Tetap di sini, kau datang bersamaku." Ucap Brian santai mematahkan pengusiran Mertua sang kakak.
"Mba, bagaimana keadaanmu. Apa kau sakit?" Tanya Brian mendekati Adenia, namun tangannya masih setia menggandeng Nela.
"Pulanglah kalau kau mau Mba mu ini tetap sehat." Seru Adenia menatap Brian penuh kesedian.
"Jangan menatapku seperti itu Mba, Yah kami akan pulang. Lekas sembuh yah, tapi sebelum itu siapa nama keponakanku?" Ucap Brian pasrah, dia tahu kedatangannya hanya akan menambah luka bagi sang kakak. Namun apa boleh buat dia sudah terlalu terikat pada Nela, sampai melepasnya pun Brian belum bisa. Entah ini cinta atau apa, dia tak tahu. Yang pasti dia belum bisa melepas Nela untuk sekarang ini, tidak tahu nanti.
"Eijaz Ahyan Dirgantara." Ucap Adenia sambil menatap Sang putra yang masih dalam gendongan Ibu Rita.
Adnan diam saja, sebenarnya pria itu sudah menyiapkan nama tersendiri untuk Putranya. Namun jika Adenia sudah memiliki nama sendiri dia bisa apa, apapun keputusan Adenia dia ikut saja setidaknya nama belakangnya tak Adenia lupakan. Dia cukup senang untuk itu.
"Nama yang keren tapi aku sayangkan ada nama belakang pria itu, tapi yah sudahlah. Mba ku yang tak tegas ini." Ucap Brian setelahnya dia pun pergi setelah habis mencium gemas sang ponakan.
.
.
.
.
Tiga hari sudah semenjak terakhir Adenia di rumah sakit. Kini wanita hamil itu baru saja pulang.
Nampak menggendong sendiri sang putra dengan Adnan yang membawa barang-barangnya selama di rumah sakit di bantu sang mertua.
"Selamat datang Bu, selamat datang jagoan kecil." Sambut Bibi Imas sudah berdiri setia di depan pintu membuat Adenia tersenyum lebar.
"Terima kasih Bibi, apa Bibi mau menggendong jagoan kecilku ini." Ucap Adenia membuat Bibi imas berbinar senang.
"Tentu." Ucap Bibi dan langsung mengambil Alih Beby Eijaz.
Mereka pun kompak berjalan masuk, namun saat sampai di ruang tamu langkah mereka terhenti saat melihat beberapa koper berjejer rapi di sana.
"Apa ada tamu?" Tanya Ibu Rita namun tidak dengan Adnan, pria itu mengenali beberapa koper miliknya itu dan dia hanya bisa menghembuskan nafasnya.
"Ade." Lirih Adnan yang mengerti maksud koper itu.
"Kau yang pergi atau aku yang pergi dari sini." Ucap Adenia tegas.
"Adenia kamu.." Ucap Ibu Rita hendak protes namun di tahan Adnan.
"Baiklah." Kata Adnan pasrah..
"Surat perceraian kita tolong di tanda tangani. Suratnya sudah di antar ke kediaman keluargamu." Ucap Adenia.
"Sayang, kamu baik-baik yah sama Mommy di sini. Daddy bakalan sering mengunjungi kalian, dan doakan Daddy untuk bisa tetap bersama Mommy mu sayang. Karena sampai kapanpun Daddy tak akan meninggalkan kalian." Tak perduli dengan ucapan Adenia Adnan malah mendekati Bibi Imas dan mencium gemas Pipi Sang putra, air matanya pun menetes namun dengan cepat dia menghapusnya dan beranjak mendekati sang istri.
"Jaga dirimu baik-baik sayang. Aku pamit." Ucap Adnan sembari memeluk paksa Adenia meski wanita itu menolaknya..
Setelahnya Adnan pun pergi membawa beban berat di punggungnya.
"Semoga ini awal yang baik untuk kita nak." Batin Adenia sembari menatap sang putra.
"Ini bukan akhir yang ku mau, sabar sebentar Nak. Daddy akan kembali." Batin Adnan sembari mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman yang dulu adalah surga untuknya itu.
__ADS_1
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...