My Fault Too

My Fault Too
Tetap Bersamaku


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 .............


...Terima kasih masih setia dan klik cerita ini saat ada notifikasi Up🤗....


.


.


.


"Hahahahaha, lebih sakit mana Mba Adeku di banding Nela yang melihat kita tanpa Aktifitas apapun hanya saling memeluk. Kau tahu, Mba Adeku menyaksikan mereka berbuat dengan mata kepalanya sendiri. Mata kepalanya Ai, mata kepalanya sendiri. Jadi jelaskan padaku, apa sakitnya sama besar dengan sakit Mba Adeku Ai?"


Air tak bisa lagi berucap setelah mendengar ucapan Brian yang seketika membuatnya mengingat kembali kakak pria itu.


"Ini tak sebanding dengan sakit Mba ku Ai, dia teramat sakit. Dan aku menambah sakit di hatinya karena tak bisa membiarkan saja mereka hidup damai." Kata Brian namun ada nada marah di akhir kalimatnya.


"Bri." Panggil lirih Air.


"Tetap bersamaku Ai, beri aku waktu menyelesaikan semuanya. Kau pikir aku nggak tersiksa dengan semua ini, aku mengorbankan hatiku untuk menid*ri wanita yang sudah menghancurkan hati Mba ku Ai. Tapi ini harus aku lakukan." Kata Brian.


Sebenarnya dulu Brian memang mau serius dengan membuka diri untuk Nela dan berusaha melupakan Air. Namun setelah melihat segalanya, rasa ingin membuka diri terhadap Nela pun sirna begitu saja dan niatan ingin membuang perasaan terhadap Air pun di urungkan. Di tambah lagi, kisah manisnya dengan Air yang memang sulit di ganti oleh siapapun mempermudah dirinya kembali berpijak pada cinta pertamanya itu.


"Alasanmu memang masuk akal Bri, tapi caramu sungguh menyakitiku." Batin Air hanya bisa menutup matanya tanpa berniat menjawab ucapan permohonan Brian untuk tetap bersama pria itu.


Bria yang tak mendengar ucapan sedikitpun dari Air pun hanya bisa memeluk erat tubuh wanita tersayangnya itu.


"Aku tahu kau pasti teramat kecewa terhadapku Ai, tapi jangan salahkan aku. Ini adalah bentuk kekecewaanku untukmu juga untuk orang-orang yang sudah menyakiti Mba Adeku. Tahu kah kau ini berkat cemburuku padamu yang membawaku dalam lubang dosa ini. Maafkan diri lemah ini yang dengan mudahnya membuat dosa dengan dasar rasa cemburu." Batin Brian mengingat kembali bagaimana dia bisa berakhir dengan menid*ri Nela kala itu dan membuatnya terus menerus menid*ri Nela.


Bayangan saat dia melihat Air dengan pria yang sudah menghancurkan hubungan mereka kembali terbayang dalam ingatannya di kala Air menikmati ciuman lembut dari pria yang kini berstatus pasangannya itu. Seketika Brian menangis mengingatnya, membuat Air seketika bingung dengan tangisan tak mendasar pria itu yang tiba-tiba terisak dalam pelukan mereka.

__ADS_1


"Hey, kenapa kau menangis? Apa kau sudah tak punya kata-kata lagi untuk membujukku hingga kau memilih menangis." Kata Air sembari menagkup wajah yang terisak itu.


"Tetap bersamaku Ai." Lirih Brian tak ingin jujur dengan tangisannya itu.


"Huuh, iya iya. Tapi berhentilah menangis, kau terlihat lucu seperti ini. Aku lebih suka jika kau marah-marah di banding mewek seperti cewek kaya gini."


Air terpaksa mengiyakan permintaan Brian, sebab dia tak pernah melihat pria itu se rapuh sekarang. Tak pernah seumur hidupnya melihat Brian meneteskan air mata, bahkan ketika pria itu kehilangan kedua orang tuanya sekalipun kala itu. Sebab Brian selalu menutupi kesedihannya dari dirinya juga Dido selaku sahabat pria itu.


Mendengar kepasrahan Air dengan ucapan wanita itu, Brian langsung tambah memeluk erat Air.


Usai itu keduanya pun hanya saling memeluk tanpa berucap dengan Air yang mengelus sayang punggung Brian.


Sampai beberapa saat Air merasakan dengkuran halus Brian yang ternyata tertidur dalam pelukannya.


"Ck, kau ini. Masih terlalu pagi untuk kau tidur Brian. Ayo bangun." Ucap Air dengan menepuk lengan Brian membuat pria itu tersenyum. Sebenarnya dia tak tertidur, hanya saja bingung harus berbuat apa itu sebabnya dia berlaga seolah tertidur.


Pria itu menahan tawa saat melihat wajah cemberut Air yang memang sudah dia prediksi sebelumnya. Sementara Air, wanita itu langsung beranjak dengan omelan kecil lirihnya melangkah ke luar dari kamar pribadi mereka ke arah dapur yang sudah lama tak dia gunakan itu.


Saat sedang asiknya memasak, Air di kejutkan Brian dengan pelukan tanpa permisi pria itu.


"Nggak jadi tidur?" Tanya Air namun tetap bergerak sana sini menyelesaikan masakannya, otomatis Brian pun ikuti pergerakannya karena pria itu tetap menempel bagaikan ulat bulu pada pohon meski di tiup angin sekalipun tetap tak terlepas.


"Nggak, bau masakan mu terlalu menggoda hingga membuat tidurku tak bisa pulas." Kata Brian sembari setia menatap tangan lincah Air yang tak terhambat tingkahnya.


"Halah, mulutmu itu Brian. Handal sekali." Ketus Air, sebab Brian selalu bermulut manis.


"Hahahaha, kau kenapa mirip sekali dengan Mba Ade. Ketusnya itu buat aku jatuh cinta berulang kali. Ah kenapa aku aneh sekali bisa menyayangi wanita-wanita aneh seperti kalian berdua." Ucap Brian membuat Air mendelikkan bola matanya malas, selalu saja Brian mengatainya dan Mba Ade wanita aneh.


"Aneh dari mananya Bri. Masa cantik-cantik gini di bilang Aneh." Ucap Air sembari sesekali menepis tangan nakal Brian yang mulai berulah.

__ADS_1


"Hahaha, kepedean kalian memang di atas rata-rata." Tawa Brian tak bisa iya tahan, sebab Air bagaikan belah duanya sang kakak.


"Berhenti tertawa, kalau tidak mau ini spatula melayang di bibir nakal mu itu." Ancam Air sedikit risih dengan tawa Brian, namun tak di pedulikan pria itu.


"Sayang cepatlah, apa masih lama. Aku sudah sangat lapar. Sarapan pagi kita sudah sangat terlambat Ai."


"Huh, berhenti mengoceh dan ambilkan piring sekarang juga." Ucap Air sebab masakannya sudah selesai.


"Siap laksanakan Bu Brian." Bisik Brian tepat di telinga Air dan sedikit menjahili telingan wanita itu dan setelahnya langsung kabur sebelum di tabok Air tentunya.


"Apa benar aku mencintainya Tuhan, kenapa tingkahnya membuatku selalu emosi." Decak sebal Air, dan masih di dengar Brian dengan menampilkan senyum penuh bahagianya karena kini dia dan Air sudah seperti semula lagi.


.


.


.


"Aku balik yah, nggak papa untuk sementara tinggal sendiri.?" Tanya Brian setelah usai sarapan bersama Air.


"Hmm, aku sudah biasa sendiri. Atau aku bisa kembali ke apartemenku sendiri." Kata Air membuat Brian menggeleng cepat.


"Tetap di sini, aku akan tidur setiap hari denganmu. Tapi aku sekarang harus ke rumah sebentar, atau kalau mau kamu bisa ikut bersamaku ke rumah. Itu juga atas namamu." Ucap Brian tanpa beban namun itu sedikit membuat Air terkejut bukan main.


"Apa maksudmu rumahmu atas namaku?" Tanya Air, bingung dengan kalimat terakhir Brian.


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...

__ADS_1


__ADS_2