
............🌹Happy Reading🌹 .............
...Baca dulu, kalau suka silahkan meninggalkan jejak yah. Fav nya jangan lupa biar nggak ketinggalan....
.
.
.
Selepas dari rumah sakit beberapa hari yang lalu, Nela nampak tak banyak bicara. Wanita itu seakan menjadi pendiam namun selalu ada untuk Brian.
Brian yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung di sambut Nela dengan handuk kecil untuk mengeringkan kepala Brian seperti biasanya setelah mereka tinggal bersama.
"Ada masalah?" Tanya Brian.
"Tidak, kau mau di masak apa?"
"Tidak, aku sudah memesan makan. Hari ini kedua sahabatku akan datang kesini, kami akan meeting di sini." Seru Brian sembari menghentikan aktifitas Nela dan memeluk pinggang wanita itu posesif.
"Owh.." Ucap Nela singkat setelahnya tak ada lagi perbincangan, Nela pun kembali mengeringkan rambut Brian namun masih dalam posisi Brian memeluk pinggangnya.
"Umm, Bri." Ucap Nela.
"Apa?"
"Kenapa kau mau bersamaku? Bukankah aku ini hanya wanita mur*han bekasnya Adnan.?" Tanya Nela, pertanyaan ini sudah lama dia simpan sejak Brian membawanya tinggal di kediaman mewah pria itu. Mereka bahkan melakukan hubungan seperti biasanya, tanpa kejelasan.
"Tamuku sudah datang, tolong di buka pintunya yah." Ucap Brian tanpa menjawab pertanyaan Nela, sebab bersamaan dengan itu bel rumahnya berbunyi.
Menghembuskan nafasnya, Nela pun beranjak keluar dari kamar mengikuti perintah Brian terhadapnya.
Brian hanya menatap wanita itu juga dengan hembusan nafas pelannya dan setelahnya dia pun berpakaian yang sudah di siapkan Nela.
Klek
"Silahkan masuk." Ucap Nela dengan tersenyum ramah pada Dido dan Air yang nampak sedikit terkejut akan keberadaan Nela di kediaman pribadi Brian.
"Eh Mba Nela, ada di sini juga." Ucap Air, sementara Dido hanya tersenyum rama. Entah kenapa kebobrokannya mendadak hilang. Yang biasanya banyak bicara kini memilih bungkam.
"I iya." Singkat Nela.
"Tunggu sebentar Brian nya masih berpakaian, dia baru selesai mandi." Lanjut Nela.
"Tidak masalah Mba." Kata Air berjalan bersamaan dengan Nela menuju ruang yang biasanya tempat mereka bersantai sekaligus meeting. Benar saja, sudah ada Makanan beserta cemilan di meja panjang yang berada di ruangan pribadi Brian dan ke dua sahabatnya itu.
"Aku tinggal sebentar yah." Ucap Nela, sebab dia harus mengecek Brian lagi.
"Siap." Seru Air.
Selepas perginya Nela, Dido langsung tertawa mengejek.
"Hubungan kalian tak sehat." Ucap Dido ditujukan pada Air, namun wanita itu seperti menulikan pendengarannya.
__ADS_1
Air berjalan mencomot cemilan yang sudah di siapkan Brian untuk mereka.
Nela yang baru sampai di ujung tangga, langsung menghentikan langkahnya saat melihat Brian melangkah turun.
"Mereka udah ke ruangan meeting sayang?" Ucap Brian, sebab saat membawa datang Nela di kediamannya. Brian sudah mengantar Nela mengelilingi setiap sudut rumahnya bahkan dengan penjelasan detailnya.
"Udah, kapan makanannya sampai. Kok aku nggak tahu." Ucap Nela sembari mengusap tangan Brian yang sudah bertengger di pinggangnya..
"Nggak tahu, Bibi yang urus." Seru Brian dan di tanggapi Nela dengan anggukkan anggukkan kecilnya sembari langkah mereka ke arah tempat dimana Air dan Dido sudah menunggu.
Saat Brian dan Nela masuk, Air nampak langsung membuang mukanya saat kedua matanya bertemu dengan mata Brian. Sementara Brian nampak cuek saja
Masih dengan posisi memeluk pinggang Nela, Brian melangkah mendudukkan dirinya dan Nela tepat di hadapan Air juga Dido.
"Kita mulai." Dido membuka suara.
"Okey." "Yah". Ucap Brian dan Air kompak dan mendapat sedikit kekehan dari Dido membuat Brian dan Air tersenyum bodoh amat.
Selama Brian dan kedua sahabatnya nampak berdiskusi ringan. Nela lebih memilih menyibukkan diri dengan bermain ponselnya. Bisa saja dia pergi dari sana, namun tak enak juga pergi di tengah-tengah obrolan ke tiga orang itu. Itu sebabnya untuk tak bosan, Nela lebih memilih sibuk dengan dunia maya..
"Istirahatlah sayang." Ucap Brian saat matanya melihat Nela yang nampak menguap.
"Eh, yah." Sahut Nela terkejut di tengah keseriusan Brian, pria itu nampak memperhatikannya.
"Baiklah, aku permisi." Lanjut Nela, kebetulan Brian yang meminta dengan senang hati dia pun ingin beranjak dari sana. Karena sejak tadi dia hanya diam di sana.
"Nanti pas makan aku bakalan panggil kamu sayang." Ucap Brian sebelum benar-benar Nela pergi dan di tanggapi wanita itu dengan perkataan oke tak bersuara.
Dua jam sudah mereka berkutat dengan dunia bisnis mereka.
"Hubungan kalian benar-benar sudah berakhir." Ucap Dido pada Air.
"Kami tak pernah ada hubungan Dido, berhentilah untuk menanyakan hal bodoh itu. Lihatlah, dia bahkan sudah bahagia." Kesal Air.
"Hahahha, aku rasa kalian benar-benar akan saling kehilangan jika salah satu di antara kalian terus menahan ego." Tawa Dido pecah, saat menangkap ada amarah dari kalimat Air tadi.
"Ck." Decak Air mendengar tawa Dido.
.
.
.
.
.
Kediaman Adenia, kini nampak sedang ramai dengan kedatangan Karyawan dari butik Adenia juga teman-teman Adenia..
Mereka datang dalam rangka acara syukuran selamatan kelahiran Baby Eijaz.
"Waduh tampan sekali kamu nak." Ucap Rini karyawan terpenting Adenia, dia juga datang bersama sang suami.
__ADS_1
"Nambah lagi aja Rin." Ucap Adenia..
"Kalau aku nambah, kau yang akan keteteran Bos." Ucap Rini dengan kekehannya membuat Adenia ikut terkekeh. Sebab dia satu-satunya desainer Adenia, dan hanya keduanya yang mampu di bidang itu.
Nampak Adnan baru saja sampai, karena dia juga baru di beri tahu Adenia saat acara akan berlangsung.
"Sayang." Ucap Adnan sembari merangkul Adenia dan mencium pelipis wanita itu membuat Adenia sedikit terkejut namun dia menjaga sikapnya di hadapan semua nya. Semuanya masih belum tahu keretakan hubungan pernikahannya, itu sebabnya di tak mau membuat gaduh sekarang.
"Lepas Mas." Bisik Adenia yang merasa risih.
"Kenapa? aku masih suamimu." Ucap Adnan santai membuat Adenia jegah. Tak berselang lama Kanaya dan Daddy nya datang, membuat Adenia buru-buru menghampiri mereka dan melepas paksa rangkulan Adnan pada pinggangnya itu.
"Kalian datang juga, aku pikir kamu sibuk Je." Ucap Adenia sambil merangkul Kanaya.
"Hay sayang." Adenia mencium pipi Kanaya membuat remaja itu memeluk gemas tubuh Ade.
"Dimana calon adikku, mmm maksud aku dimana putra kakak. Aku mau melihatnya." Ucap Kanaya meralat kalimatnya.
"Di sana, itu." Tunjuk Adenia Pada Rini yang masih nampak menggendong Eijaz.
Kanaya pun langsung bergegas menghampiri Rini, sudah tak sabar ingin melihat calon Adiknya itu.
"Bagaimana?" Ucap Jeje yang Adenia tahu maksudnya.
"Hmm, entahlah. Adnan masih belum menandatangani berkas yang ku kirim." Ucap Adenia, Jeje adalah satu-satunya yang tahu keputusan Adenia untuk menceraikan Adnan. Sebab Kala itu saat menelfon dengan Jeje, Adenia keceplosan soal rencananya itu ketika Jeje bertanya tantang kejadian di restoran tempo hari. Alhasil, sedikit banyak Adenia bercerita pada Jeje tentang masalahnya dan dia juga butuh orang untuk berbicara.
Belum sempat Jeje membalas ucapan Adenia. Adnan sudah menghampiri mereka.
"Sayang, putra kita harus kau s*sui dia sedikit rewel." Ucap Adnan sembari kembali merangkul Adenia membuat Jeje menatap jegah pada Adnan.
"Haaahhh, aku permisi sebentar Je. Kalian makanlah." Ucap Adenia dan langsung mengikuti Adnan yang sudah membawa tubuhnya melangkah.
Jeje hanya menatap kepergian mereka dengan datar..
"Berhentilah berbuat manis Mas, hubungan kita tak sebaik itu sekarang." Bisik Adenia
"Dan kau berhentilah mendekati duda itu, kau masih istri sah ku. Ingat itu." Balas bisik Adnan sedikit kesal, kesal karena melihat tatapan penuh cinta yang Jeje berikan pada sang istri. Dia cemburu ada pria lain menatap cinta istrinya, dia tak rela.
"Ck, otak mu mulai geser." Kata kesal Adenia sembari menepis tangan Adnan di pinggangnya dan melangkah lebih dulu dari pria itu.
Saat Adenia pergi menyusui sang putra, Kanaya pun kembali bergabung dengan sang Daddy.
"Putra Kak Ade ganteng banget Daddy." Ucap Kanaya saat sudah di hadapan Jeje.
"Yah Mommy nya aja cantik, yah pasti putranya tampan lah." Seru Jeje mengacak rambut Kanaya sayang.
"Cepatlah Dad, aku nggak sabar mau punya Mommy sekaligus bonus ade bayi." Ucap Kanaya dan hanya mendapat gelengan kepala dari Jeje.
Sementara di sudut lain Adnan kini napak was-was. Takut jika Adenia akan berpaling darinya, Istrinya itu sempurna. Jadi untuk mencari gantinya pasti tak butuh waktu lama. Mungkin saat pria-pria di luar sana mendengar kata janda di sandang Adenia, pastilah sudah bakalan ada lamaran banyak yang menghampiri wanita itu.
"Aaaaaah, semua ini salahmu Adn." Batin Adnan kesal dengan dirinya sendiri.
...****************...
__ADS_1
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...