
"Yakin lo gak papa?"
Adelia menoleh dan menatap Lita dengan senyum hangatnya. Menganggukkan kepala, gadis itu lantas berkata, "Iya."
Sehari setelah mengalami bagaimana rasanya patah hati. Bahkan hingga keesokan hari, ia tak mampu untuk berangkat sekolah dan menatap sang kekasih hati seolah ia baik-baik saja.
Adelia terpuruk, setahun bersama cukup membuat kenangan yang sulit dilupakan. Kenangan itu menyiksa batinnya hingga Adel menerima kabar dari Lita. Bahwa ternyata, Aira menjadi pacar Alvin hanya dua bulan saja.
Tentu saja Lita dapat kabar itu dari Baim, pacarnya. Ketiga remaja itu kemudian turun dari mobil dan melenggang angkuh menuju kelas. Seperti biasa, mereka selalu mampu menarik perhatian semua siswa.
Ketiganya nampak cantik dengan seragam sekolah. Terutama rok di atas lutut yang sedikit menampakkan paha. Adelia menyeringai ketika melihat Aira. Awalnya, gadis itu merasa sangat terhina saat sang pacar berhasil direbut gadis culun bernama Aira. Tapi ternyata itu hanya dugaannya saja. Kenyataan sebenarnya, Aira hanya mainan Alvin saja.
Mata Adelia masih menatap Aira dengan sorot mata merendahkan hingga saat Alvin datang. Tatapan itu terputus dan tergantikan. Adelia menatap Alvin dengan penuh dambaan.
***
Alvin yang baru saja turun dari mobil mewahnya mendadak membeku saat mendengar keributan dari dalam rumah. Remaja itu kembali masuk ke mobil. Seragam yang kacau sehabis pulang sekolah nampaknya tak sekacau hatinya.
Alvin mengemudikan mobilnya berkeliling kota saja. Dengan pikiran yang kalut, memikirkan kedua orang tua yang terus bertengkar sepanjang waktu. Ia tak habis pikir mengapa ada orang yang mempertahankan rumah tangganya meski merasa seperti neraka.
Mama dan Papa Alvin dikenal seluruh orang sebagai pengusaha yang sukses dan keluarga bahagia. Tak ada yang tau bagaimana kehidupan sebenernya, sang Papa selalu selingkuh dan berdalih bahwa istrinya lah yang salah.
Entah kurang perhatian, atau kurang pelayanan di ranjang. Yang jelas satu hal, itu hanya beberapa alasannya untuk bersikap seperti bajingann. Karena dalam perselingkuhan, yang salah bukan hanya istri tapi juga sang suami.
Alvin mengusap kasar wajahnya. Matanya nampak berkaca-kaca. Ia benar-benar pusing setiap mendengar pertengkaran mereka. Berhenti di lampu merah, Alvin mengedarkan pandangan dan tak sengaja melihat Aira.
__ADS_1
Saat lamput berubah hijau, Alvin tak sadar justru mengikuti Aira masih dengan sorot mata sendu. Motor sang pacar berhenti di sebuah pasar tradisional. Bau menyengat dari ikan-ikan serta hal kotor lainnya membuat Alvin sedikit merasa risih.
Masih heran, siapa sebenarnya Aira. Jika mampu membeli apartemen mewah seperti itu kenapa harus membeli kebutuhan pokok di pasar yang kotor? mengapa tidak ke minimarket atau Mall saja?
Sementara itu, Aira memperbaiki tampilan rambutnya akibat helm kendaraan. Rambutnya kali ini di ikat saja. Memakai hodie biru serta celana hitam panjang, Aira melangkah masuk ke pasar.
Langkahnya terhenti saat ada yang mencekal lengan Aira. Gadis itu terbelalak saat melihat Alvin adalah pelakunya.
"Gue ikut."
Aira terkejut lagi namun akhirnya mendiamkan saja. Melepaskan cekalan, keduanya melangkah lagi. Aira berjalan ke seorang penjual sayuran.
Terjadi tawar menawar di sana. Merasa cukup lama, Alvin mulai jengah. Akhirnya ia membayar belanjaan Aira.
Gadis itu menatap sang pacar baru yang baru ia sadari memiliki sorot mata sendu. Ia berkata dengan penuh penekanan, "Gue punya uang."
"Berapa Nek?"
"Satunya seribu Neng," sahut Nenek penjual yang sudah terlihat renta.
Aira memberikan dua puluh ribu dan hanya mengambil dua gelang. Sang Nenek ingin mengembalikan uang yang berlebihan tapi Aira mengatakan, "Ambil aja Nek."
Tentu saja hal itu membuat Alvin mengerjap heran. Menatap Aira yang masih asik memperhatikan gelang di tangannya, ia berkata, "Lo tadi nawar penjual di sana mati matian. Di sini malah ngasih kembalian."
Aira menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna dan menatap Alvin dengan sorot mata penuh arti. Menjauh dari penjual gelang, Aira berkata, "Di sana, penjualnya cukup kaya. Sedangkan Nenek itu bahkan gak ada alas kaki."
__ADS_1
Alvin menatap sumber tatapan Aira yang tak lain adalah kaki Nenek penjual gelang. Hingga kembali Aira mengimbuhkan. "Mana udah tua lagi, 'kan?"
"Keluarganya gak ada yaa?" Alvin berucap datar biasa.
Aira menggelengkan kepala dan berkata, "Cuma ada cucunya satu. Biasanya lagi kerja jam segini."
"Lo tau? cowok apa cewek?"
"Cewek. Anaknya cerdas banget. Tapi dia masuk sekolah biasa aja. Itu juga bulan kemarin terakhir kali sekolah dianya."
"Hah? Maksud lo?"
Aira menghela napas pelan kemudian duduk di warung kecil. Alvin menatap bangku panjang yang takut jika itu kotor. Setelah memastikan cukup bersih ia duduk di samping Aira.
"Gak ada biaya. Padahal aku bahkan yakin dia biasa mengalahkan Adelia." Menjeda ucapannya sesaat. Aira kembali berucap, "Namanya Lina. Sayangnya, ada banyak anak Bangsa Indonesia seperti Lina yang gak bisa sekolah karena biaya."
"Kan ada beasiswa?" tanya Alvin dengan mengerjap heran
Aira menghela napas pelan dan mengatakan, "Beasiswa pemerintah Indonesia memang sering gak tepat sasaran."
Alvin menjadi terdiam. Ia menatap lekat Aira yang masih memiliki raut kesedihan. Hingga Aira kembali berucap, "Sayang banget 'kan? gimana kalau obat kanker atau obat lainnya yang belum ditemukan ternyata ada di otak para anak miskin? kecerdasan mereka yang sebenarnya bisa aja mampu membuat Negara ini jadi negara maju."
Aira menoleh hingga tatapannya terkunci. Dalam satu garis lurus, mata Alvin dan Aira seolah menyatu. Dua pasang mata yang sama-sama punya sorot mata sendu. Kesedihan yang mendalam terpancar di mata Alvin Dennis Damara dan hal itu berhasil mengusik pikiran Aira.
TBC
__ADS_1
Masih ada aja yang komen makanya aku up lagi ^_^ Jangan lupa likenya dan banyakin komentarnya yaa. Kasih dong votenya kalau ada ❤