
"Abang!"
Aira mengerjap kaget saat melihat Ray di depan pintu apartemennya. Tanpa dipersilakan, Ray langsung masuk ke apartemen gadis itu.
"Ngapain kesini?" Aira berucap sembari menguap. Baru saja ia pulang setelah melakukan perjalanan yang sebenarnya cukup dekat. Namun otaknya sangat lelah setelah dikuras habis melalui soal-soal olimpiade.
"Bawa makan," sahut Ray sembari menuju meja pantri. Membuka bungkusan yang ia bawa sambil sesekali melirik wajah Aira.
Gadis itu duduk di kursi dekat meja pantri kemudian menatap Ray dengan sorot mata lelah.
"Iya deh iyaaa, habis kamu makan. Abang pergi." Ray berucap dengan nada kesal. Tau arti sorot mata Aira yang tak suka dirinya ada di apartemen gadis itu.
Aira mulai memakan makanan yang di bawa Ray. Makanan khas Yogyakarta bernama Gudeg. Kesukaannya. Perpaduan rasa santan dan nangka begitu memanjakan lidah Aira. Gadis itu makan dengan lahap. Sementara Ray menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna saat menatap gadis di hadapannya. Manis dengan rambut terurai serta raut wajah puas dengan makanan yang ia bawa.
"Emm Aira ...."
Aira menatap Ray dengan sorot mata bertanya. Hanya menunggu apa yang akan di ucapkan lelaki tampan itu.
"Boleh nanya?" tanya Ray dengan nada pelan.
Aira menautkan kedua alisnya. Biasanya Ray langsung bertanya bahkan tak pernah bersikap sopan seperti ini padanya. Memikirkan hal itu, Aira jadi curiga. Apa Ray masih berusaha mendapatkan hatinya? Gadis itu menggelengkan kepala. Berdoa semoga apa yang di pikirkannya tak akan terjadi nanti.
__ADS_1
"Ra?"
Aira tersentak dari lamunannya kemudian berkata, "Nembak."
"Hah?" Ray menatap Aira dengan intesn. Kemudian kembali berucap, "Maksudnya?"
Aira menelan lebih dulu makanannya. Setelah meneguk mineral, gadis itu berkata, "Alvin nembak aku."
"Terus?!" Ray mendesak. Aira mengerjap kaget kemudian memanyunkan bibirnya.
"Belum ku jawab."
Ray ingin kembali berkata namun Aira memangkas ucapannya, "Bang, makasih yaa makannya. Aku suka. Tapi aku mau istirahat. Capek banget nih."
***
"Alvin ...."
Alvin tersentak kemudian mengalihkan tatapan dari ponselnya. Mengerjap kaget saat melihat Adelia.
"Udah pulang yaa?" Raut wajah senang dan nada girang dari Alvin membuat Adelia salah sangka.
__ADS_1
"Iya," sahut Adelia sembari tersenyum dengan kedua pipi merona. Padahal Alvin senang karena Aira. Jika Adelia pulang berarti gadis itu juga sudah pulang dan ia akan segera mendapat jawaban.
Alvin beranjak dari kursi di taman belakang rumah keluarga Damara. Meninggalkan Adelia yang baru saja ingin kembali berkata. Dengan langkah lebar, Alvin masuk ke rumahnya. Di ikuti Adelia yang bingung atas sikap Alvin sekarang.
"Vin, mau kemana?" Adelia tentu saja bertanya saat lelaki itu sudah rapi dan harum.
"Mau ngajak aku jalan yaa?" Adelia merapikan rambut dan bajunya. Hingga sahutan Alvin membuat gadis itu membeku.
"Gue mau ketemu Aira."
Sejenak membeku namun Adelia lekas ikut masuk ke mobil Alvin. Beruntung ia sudah bersahabat lama dengan lelaki itu. Jadi sudah biasa keluar masuk rumah Keluarga Damara.
"Lo ngapain Del?" tanya Alvin bingung saat gadis itu sudah duduk manis di sebelahnya. Alvin yang duduk di belakang kemudi berdecak kesal dengan raut wajah masam.
"Lelaki dan perempuan bisa jadi sahabat. Tetapi di satu titik. Mereka akan jatuh cinta pada satu sama lain. Mungkin sementara. Mungkin di waktu yang tidak tepat, mungkin terlambat, atau mungkin selamanya."
"What are you taking about?" Alvin mendengus kesal.
"Itu kata Dave Matthews Band. Aku gak percaya kamu suka sama Aira. Sedangkan kita udah sahabatan sedari dulu."
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like nya. Makasih banyak untuk yang selalu komentar❤ bikin semangat up tau gak kalian tuh😂😭
Banyakin komentar yaa dan kasih vote dong kalau ada. tapi Zaraa gak maksa 😁