My Nerd Girlfriend

My Nerd Girlfriend
MNG {35}


__ADS_3

"Kita kemana?" tanya Aira saat Alvin mengemudi dengan kecepatan tinggi.


"Ke tempat biasanya Adelia suka sendiri. Taman dekat sini. Taman itu pemberian dari Om Ken ke mama kandung Adel."


Aira terdiam kemudian. Hingga mobil sudah sampai ke tujuan. Dari kejauhan, Sepasang kekasih yang masih berstatus anak SMA itu melihat Adelia yang memang duduk merenung di bangku taman. Taman yang indah dengan danau kecil di tengah. Ada berbagai macam bunga di sana. Hanya ada seorang gadis yang tak lain, Adelia.


"Adel!"


Teriakan dari Alvin membuat Adelia tersentak. Ia berdiri sembari menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna. Ia memang berharap bahu Alvin mampu menenangkannya. Sedetik Kemudian mata itu menyorot kecewa saat melihat Aira.


"Adel!" Teriakan dari Aira yang mengguncang telinga Adelia. Gadis itu membeku saat Aira memeluknya.


"Del, lo gak papa?" tanya Aira dengan mata berkaca-kaca. Ia memindai seluruh tubuh Adelia. Tak ada yang lebam atau luka namun terdengar ringisan kecil dari Adelia saat ia memeluknya tadi.


Melihat raut wajah Aira yang begitu mengkhawatirkannya, membuat gadis itu tak mampu menahan air matanya. Adelia menangis di hadapan Aira dengan air mata yang tak mampu ia bendung. Deras dan terus bercucuran. Aira membawa gadis itu dalam dekapan.


Keduanya kemudian duduk di bangku taman. Saling berpelukan. Hanya terdengar isakan. Aira begitu kasihan. Baru tau, bahwa selain dirinya ada gadis yang hidupnya lebih menyedihkan. Jika Aira kurang diperhatikan karena bundanya punya keluarga baru, Adelia lebih menyedihkan saat memilki mama tiri yang terus menyakitinya.


"Dia bilang ... gue harus mau di jodohin sama temen Papa." Adelia berucap di tengah isakan tangisnya. Tak peduli dengan siapa ia berbicara. Gadis itu hanya ingin mengeluarkan semua keluh kesahnya.

__ADS_1


"Temen Papa itu udah tua. Dan gue masih SMA. Kecewa bangeet sama Papa yang malah dengerin apa kata Tante Fara!"


Aira menyimak dengan serius.


"Gue capek. Kata Tante Fara. Penyakit jantung Papa bakalan kambuh lagi kalau gue nolak hal ini!"


Aira memeluk lagi gadis itu. Mengusap lembut punggung Adelia.


"Gue capek bangeet hidup kayak gini. Papa kayak boneka tante Fara yang mau ngelakuin apa aja kehendak istrinya!"


"Mungkin aja ada konspirasi."


"Maaf Del ...." Aira menyadari bahwa Adelia tak suka atas ucapannya yang berisi praduga.


"Memangnya konspirasi apa maksud lo?" Adelia tak mampu menahan diri untuk tak bertanya.


"Misalkan, Konspirasi ini dibuat sama Mama tiri lo. Bisa aja dia bilang perjodohan ini kemauan atau untuk kebaikan lo. Dan Papa lo percaya."


Adelia melongo mendengar penuturan Aira. Ia tak pernah berpikir hal itu.

__ADS_1


Kedua gadis itu pintar. Tapi yang membedakan, Adelia jadi juara kelas karena menghapal materi. Sementara Aira mengingat.


Hal itu membuat otak Aira berkembang karena terbiasa berpikir dan mengingat. Sementara Adelia hanya berdasar hafalan. Jadi secara kehidupan sehari-hari. Aira cenderung mampu mengatasi berbagai masalah tapi Adelia kurang mampu dalam hal itu.


Tak lama, kedatangan Alvin yang baru saja membeli beberapa obat untuk lebam dan luka mengalihkan perhatian keduanya.


"Gue gak papa." Adelia berucap dengan nada serius.


"Minumnya mana?" tanya Aira.


"Oh iya lupa. Bentar ya!" sahut Alvin sambil nyengir.


Saat Alvin sudah pergi. Aira menyentuh bagian punggung bawah Adelia. Gadis itu berjengit kaget dan juga meringis.


"Apa-apaan sih lo!" bentak Adelia dengan nada tak suka.


"Maaf, gue cuma mastiin aja," sahut Aira santai kemudian mulai membuka baju belakang Adelia.


"Pinter banget mukul di bagian yang tertutup," komentar Aira dan Adel hanya diam saja.

__ADS_1


TBC


__ADS_2