My Nerd Girlfriend

My Nerd Girlfriend
MNG {16}


__ADS_3

"Oh yaa, Alvin sering kesini ya Ra?"


Aira terbatuk-batuk dan lekas meminum air yang disodorkan sang bunda. Menatap Ray dengan melotot kesal.


"Alvin? siapa Alvin?" Mawar tentu saja terusik dengan sebuah nama lelaki yang nampaknya memiliki hubungan dengan Aira.


"Itu lho Bun, pacar Aira ...." sahut Ray dengan tersenyum puas. Tatapan mata tajamnya nampak menyorot tak suka.


"Pacar? Kamu udah punya pacar? nama lengkapnya siapa? dari keluarga mana? umurnya berapa? temen-"


"Bun ...." tukas Aira dengan mencebikkan bibirnya.


"Terus sering kesini? kalian ngapain aja?!" Mawar berucap dengan nada semakin tinggi.


Aira terlonjak kaget, Mengerjap tak percaya sembari menatap sang bunda lalu berkata, "Gak ngapa-ngapain Bun, kita satu sekolah."


"Namanya?" Mawar meneguk air putih di hadapannya lalu menatap Aira dan menfokuskan telinga atas setiap kata yang keluar dari mulut putrinya.


"Alvin Dennis Damara."


Dahi Mawar berkerut dalam berusaha mengingat. Hingga mata cantik itu mengerjap tak percaya. "Apa?!"


"Kenapa sih bun? teriak mulu," keluh Aira kesal sembari mengusap telinganya.

__ADS_1


"Putra tunggal keluarga Damara?" tanya sang bunda dan Aira menganggukkan kepala sembari melirik Ray yang memasang wajah seolah tak berdosa. Lelaki itu masih lahap memakan nasi di piringnya.


"Ya ampun Aira! bunda gak nyangka bakalan dapet menantu keluarga Damara!!"


Spontan kedua remaja itu menatap sang bunda. Ray mengerjap tak percaya. Ia pikir bunda Mawar akan melarang Aira dan Alvin berhubungan. Sementara Aira tak menyangka pula bahwa respon wanita itu nampak bahagia. Bahkan berpikir hubungan ke tingkat pernikahan.


"Apa si Bun? pacar belum tentu calon suami!" ucap Aira dengan kedua pipi yang merona.


"Ciee Aira malu yaa ...." Mawar mencubit gemas pipi putrinya yang semerah tomat.


"Ee-enggak!" sahut Aira kikuk.


"Bunda gak ngelarang kamu Aira. Asal harus bisa jaga diri yaa ....?"


***


Aira menghela napas sembari menatap ponsel di tangannya. Sedikit bingung mengapa Alvin hari ini tak menelpon atau sekedar menchatnya. Padahal bunda selalu bertanya apa hari ini pacarnya itu akan datang dan bertemu dengan sang bunda. Aira hanya menggelengkan kepala tanda tak tau.


Jemari gadis itu kemudian iseng membuka instagram dan melihat salah satu foto yang muncul di beranda. Postingan Adelia dan terlihat di beranda Aira karena gadis yang selalu membullynya itu men-tag Instagram Alvin. Sementara Aira memang menfollow lelaki itu karena paksaan dari Alvin sendiri.


Mata Aira menyorot kecewa. Terlihat di foto itu, wajah Alvin yang candid dan sedang tertidur nyaman di sebuah sofa panjang.


Gadis itu menghela napas kasar. Dadanya serasa sesak dan Aira semakin merasa sakit saat menyadari bahwa dirinya mulai jatuh hati. Padahal baru tiga minggu hubungan mereka teramat dekat. Semudah itukah ia memberikan hatinya pada lelaki yang bahkan ia tak tau apakah memiliki perasaan sama sepertinya.

__ADS_1


"Aira!"


Gadis itu tersentak dan sejenak memandang matanya yang memerah menahan tangis di cermin. Lalu menarik senyum paksa sebelum keluar kamar menuju sofa. Tempat sang bunda duduk di depan televisi bersama kakak tirinya.


Aira menatap Ray sejenak yang nampak tersenyum remeh. Gadis itu merasakan firasat tak nyaman. Ia tau, bahwa mereka berdua mungkin baru saja tengah membicarakan sesuatu yang berkaitan dengannya.


"Tadi Ray ngusulin kalau kamu sebaiknya nginap di apartemennya aja!"


Aira membulatkan matanya dan menggelengkan kepala, "Aira gak mau Bunda!"


"Sini dulu." Mawar menarik Aira untuk duduk di sebelahnya. Menggenggam tangan mungil itu sembari berkata, "Bunda percaya sama kamu. Tapi sama Alvin belum. Akan lebih baik kalau kamu tinggal sama Ray aja. Selain Ray bisa menjaga Aira. Alvin juga gak akan bisa ngapa-ngapain Aira."


"Gak bun! lagian Alvin bukan cowok kek gitu kok," sahut Aira dengan nada kesal. Ia tak akan pernah membayangkan bahwa akan serumah dengan Ray. Lagipula, gadis itu ingat bagaimana Alvin selalu hanya mencium saja. Bahkan tangan kekar remaja itu tak pernah nakal dan meraba kemana-mana. Alvin seolah bisa menahan diri dan hanya menciumnya saja.


"Ya kalau memang bukan cowok kek gitu harusnya kamu santai aja dong. Seharusnya gak papa tinggal sama kakak kamu aja." Mawar menautkan alisnya.


"Bun ...." Aira menatap kesal Ray yang nampak tersenyum miring sembari menatapnya.


TBC


**Aku seneng ada yang komen minta kelanjutan jadi up lagi nih😁


semoga selalu kasih like dan jangan malas komentar juga yaa. Biar semangat Zaraa upnya** ^_^

__ADS_1


__ADS_2