My Nerd Girlfriend

My Nerd Girlfriend
MNG {24}


__ADS_3

"Udah ah Del, please. Keluar! gue mau ketemu Aira!" seru Alvin dengan penuh penekanan. Lalu kembali mengatakan sesuatu yang membuat Adelia bungkam, "Gak penting juga gue jelasin ke lo gimana bisa gue suka sama Aira."


"Alvin ...." sahut Adel dengan isakan tertahan. Mata kecokelatan Adelia sudah berkaca-kaca. Hanya dengan sekali kedip saja, air mata bisa jatuh dari mata gadis itu.


Melihat Adelia yang terlihat hendak menangis membuat Alvin tak tega. Ia kemudian menginjak pedal gas dan menuju sebuah tempat. Tempat rahasia tentang bagaimana sebenarnya perasaannya terhadap Aira. Bagaimana pun, ia harus meminta pengertian pada Adelia agar bisa melepaskannya. Ia paham, bahwa Adel bisa terus menyangkal tentang rasanya pada Aira.


Di tengah perjalanan, Adelia hanya diam dengan isakan pelan. Gadis itu berpikir bahwa Alvin mengantarnya pulang lalu setelah itu mengajak Aira berkencan. Gadis itu tiba-tiba merasa kesepian.


"Kita mau kemana?" tanya Adelia saat baru sadar bahwa jalan yang mereka lalui bukan ke arah rumahnya.


"Gue mau ngajak lo ke suatu tempat," sahut Alvin singkat. Ia memilih untuk nanti saja menemui Aira. Lagi pula gadis itu mungkin masih lelah.


Di perjalanan Adelia tertidur. Lalu terbangun saat jalan yang mereka lalui berupa gundukan besar. Gadis itu mengerjapkan mata dan menguap dengan gaya anggunnya. Benar-benar gadis yang di didik dari keluarga terhormat.


"Ini di mana?" tanya Adelia pelan. Alvin menatapnya dengan sorot mata kasihan.

__ADS_1


"Capek yaa? kita mau ke villa gue." Alvin berucap sembari melirik Adelia. Tempat Villa keluarga Damara memang terletak di pegunungan.


Malam sudah datang saat keduanya sampai di villa. Alvin membawa Adelia ke dalam dan langsung di sambut pengurus villa.


"Tuan Muda ...." Lelaki kurus dan berjenggot menunduk hormat pada Alvin.


"Saya cuma sebentar Kang," ucap Alvin saat melihat raut wajah kekhawatiran. Mungkin pengurus itu takut karena tak ada persiapan. Sebab Alvin sendiri tak mengabari bahwa akan kesana.


Alvin kemudian menarik tangan Adelia menuju sebuah pintu bercat putih gading. Lalu bertanya, "Ingat ini?"


"Lo bisa masuk dan lihat sendiri apa yang ada di dalam." Alvin berucap dengan serius. Perlahan Adelia membuka knop pintu itu setelah Alvin membuka kuncinya.


"Masuk aja sendiri dan jangan berani sentuh apapun! gue harus ngangkat telpon dulu!" Alvin melangkah menjauh sementara Adelia masuk ke dalam sana.


Selang beberapa saat, Adelia keluar dari kamar itu dan sejenak terpaku di pintu.

__ADS_1


"Udah?" tanya Alvin yang baru datang. Ia menatap Adelia dengan sorot mata tak terbaca.


Wajah Adelia begitu pucat dan bekas jejak air mata begitu terlihat di pipi gadis itu. Alvin berdehem pelan lalu kembali berucap dengan penuh penekanan, "Gue berharap lo ngerti."


Adelia menatap mata Alvin dengan dalam. Lalu berucap dengan sorot mata memohon. "Gue berusaha ngerti. Tapi boleh minta satu hal?"


Alvin mengerjap heran. Namun tak urung menganggukan kepala pelan.


"Gue mau peluk lo," ucap Adelia dengan nada pelan. Bulir bening jatuh di sudut matanya. Patah hati. Gadis kesepian yang tak ada peduli. Namun Adel ingin memeluk Alvin secara singkat. Agar bisa menguatkan hati. Bahwa dirinya akan baik-baik saja.


Gadis itu memeluk Alvin tanpa menunggu jawaban lelaki itu. Perlahan, tangan Alvin membalas pelukan lalu berkata dengan pelan dan sarat pengertian, "Gue tetap sahabat lo Del. Kalau butuh pertolongan. Jangan sungkan."


Adelia hanya diam. Namun gadis itu membatin. "Tolong ... bantuin aku dapetin hati kamu. Maaf aku gak bisa ngelepas kamu buat dia. Kata orang, cinta emang egois Vin ...."


TBC

__ADS_1


Up lg dong. Janga lupa like nya❤ banyakin komentarnya, Zara suka😭❤


__ADS_2