My Nerd Girlfriend

My Nerd Girlfriend
MNG {21}


__ADS_3

"Pak ...."


Seorang lelaki dengan kepala setengah plontos berbalik dan mengerjap heran. Menatap Aira dengan menautkan kedua alisnya.


"Ada apa?" tanya Pak Eko.


"Kita jam berapa berangkatnya?" Aira berucap dengan sorot mata takut-takut.


"Setengah jam lagi."


"Kalau begitu saya izin ketemu sama seseorang dulu yaa?" tanya Aira dengan sorot mata penuh harap. Pancaran kekhawatiran terlihat jelas di kedua mata gadis itu. Pak Eko juga menyadari hal itu.


"Mau ketemu siapa? Kita harus bersiap Aira," sahut Pak Eko datar. Mata lelaki paruh baya itu menatap beberapa siswa-siswi yang masih berusaha belajar dengan membuka bukunya. Hal yang lebih sulit dari Ujian. Karena Ujian kadang dikeluarkan soal yang beberapa tahun lalu pernah di keluarkan. Namun untuk soal Olimpiade. Satu pun tak pernah soal yang sama dikeluarkan kedua kalinya.


"Itu ... tadi 'kan Ray sama Alvin terlibat perkelahian-"


"Oh iya bapak lupa. Kamu 'kan adik Ray ya!" potong Pak Eko sembari terkekeh pelan.


Aira mengerjap kaget dan menatap sekitar. Untung tak ada yang mendengar mereka. Pikirnya. Para guru memang tau hubungan ia dan Ray namun para siswa. Aira rasa tak ada yang tau hal itu. Ia takut fakta itu akan membuat Ray kesulitan.


"Kamu pasti khawatir. Ya udah tapi bentar aja ya," ucap Pak Eko penuh pengertian.


Aira menganggukkan kepala. Gadis itu lekas menuju ruang kesehatan. Membuka pintu dan melihat sekitar. Aira tak menemukan seseorang yang ia cari.

__ADS_1


Hanya ada lelaki tampan yang sudah di obati. Tiga gadis di sekitarnya begitu telaten mengobati luka-luka sang lelaki pujaan mereka.


"Aira!"


Ketiga gadis di sekitar Ray terlonjak kaget saat lelaki itu berteriak. Sementara Aira membalikkan tubuhnya.


"Abang gak papa," ucap Ray saat tepat di depan Aira. Padahal gadis itu tak bertanya.


"Kok bisa kelahi tadi?" tanya Aira untuk basa-basi. Karena sejujurnya yang ia cari bukanlah lelaki yang tengah tersenyum lebar terhadapnya.


"Alvin yang duluan nonjok abang," adu lelaki itu dengan nada keluhan. Aira mengerjap heran.


"Kenapa?"


"Gak papa, istirahat yang cukup bang. Aira berangkat!" ucap gadis itu pelan. Ray mengusap lembut rambut Aira kemudian meraba ke juntaian rambut yang dikepang dua.


"Ngapain?" Aira berusaha mundur. Tak suka saat Ray melakukan sesuatu pada rambutnya. Namun ia terlambat saat Ray berhasil membuka kepangan rambut gadis itu.


"Gini 'kan jadi tambah cantik!" seru Ray dengan senyuman lebar. Aira mengerjapkan mata kikuk.


"Ya udah!" sahut Aira dengan nada kesal lalu berjalan menjauh. Tak ada waktu memperbaiki rambutnya seperti semula. Gadis itu melangkah menuju parkiran. Saatnya ia berangkat. Mata gadis itu masih melihat ke sekitar. Berharap menemukan sosok yang ia khawatirkan.


Halaman sekolah yang begitu luas terdapat pohon rindang. Angin pagi begitu segar memainkan rambut Aira yang terurai. Gadis itu berjalan pelan hingga tepat di bawah pohon yang teduh terdengar teriakan.

__ADS_1


"Aira!"


Aira berbalik dan menatap sumber suara. Sementara Alvin yang memanggilnya tersenyum tipis sembari menatap dalam gadis yang terlihat sangat manis dengan rambut panjang dan terurai.


Aira memilih diam saat Alvin melangkah pelan. Setiap langkah kaki itu membuat Aira membeku. Langit mendung dan angin yang sepoi-sepoi. Sepertinya hendak hujan dan suasana terasa semakin menyenangkan.


Angin yang sama juga memainkan rambut Alvin. Sebab itu, Aira terpaku. Sungguh indah ciptaan Tuhan saat menciptakan lelaki tampan. Memanjakan mata dan juga menyehatkan jiwa.


"Aira ...."


Aira tersentak dari lamunan. Matanya bertemu dengan mata Alvin. Keduanya begitu dekat. Terlihat jelas wajah tampan Alvin yang penuh lebam. Aira meringis pelan.


"Kamu pasti udah tau 'kan Ra kalau hubungan kita di mulai karena kekalahanku dalam taruhan." Alvin menghela napas kasar kemudian kembali berujar, "Tapi aku mau memulai lagi. Sebuah hubungan yang di mulai dengan kasih sayang. Aku mau jadi pacar kamu. Selalu menjaga dan lindungi kamu."


Sejak menyandang status sebagai pacar Alvin. Aira tak pernah lagi di bully. Bahkan untuk membicarakan sesuatu hal yang buruk tentangnya pun tak ada yang berani. Pengaruh keluarga Damara begitu kuat dan pantas dipuji. Ia juga menyadari, bahwa dengan itu, Alvin berhasil melindungi. Hanya dengan nama belakangnya, Alvin begitu dihormati dan ditakuti.


Aira menghela napas panjang. Gadis itu masih diam hingga Alvin kembali melanjutkan ucapan.


"Aku kasih kamu waktu. Setelah kamu pulang aku minta jawaban." Alvin mengusap pelan pipi Aira yang membuat pipi itu jadi merona. Lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Kamu harus tau, bahwa Aira begitu berharga. Terutama untuk lelaki bernama Alvin Dennis Damara."


TBC


Zaraa up lagi berhubung gak sibuk dan ada waktu. Jangan lupa like nya yaa. Banyakin komentar nya biar Zaraa semangat up! ^-^

__ADS_1


__ADS_2