
Mengunjungi dan membeli satu persatu barang bermerek dengan harga tinggi nyatanya tak membuat Aira bahagia. Hanya ada senyuman paksa dari gadis itu. Alvin menyadari hal itu.
Ia pikir, semua gadis sama. Seperti Adelia yang akan bahagia hanya dengan membawanya berjalan-jalan dan berbelanja. Lelaki itu menjadi bingung. Lebih bingung lagi saat menyadari untuk apa ia peduli?
Alvin kembali melirik gadis di sebelahnya. Aira nampak menatap keluar mobil. Memandang pinggir jalan tapi sebenarnya pikirannya melayang.
Alvin menghela napas berat sembari kembali menatap lurus ke depan. Mengemudi dengan pikiran kalut bisa menyebabkan kecelakaan dan Alvin mengutuk dirinya sendiri mengapa ikut galau seperti yang tengah Aira rasakan.
Wajah bersih dengan hidung mungil itu membuat Alvin teringat seseorang. Lelaki itu kemudian kembali melirik Aira dan mengerjap heran saat terlihat gadis itu juga meliriknya.
"Kenapa?" Alvin bertanya dengan menautkan alisnya.
Aira mengerjapkan mata. Tanpa berkata ia mengalihkan pandangan ke belakang. Tempat ramai di adakannya pasar malam. Ia ingin ke sana tapi takut Alvin keberatan.
Tak disangka, mobil yang ia tumpangi berbelok arah dan menuju tempat yang Aira inginkan. Gadis itu menatap Alvin dengan senyuman kebahagiaan. Sempat bingung mengapa lelaki itu teramat peka hingga mobil sampai di tempat tersebut dan Aira melupakan pertanyaan di benaknya saat melihat bianglala.
Alvin dan Aira menuju bianglala. Gadis itu menatap Alvin dengan sorot mata penuh harap lalu berucap, "Naik itu yaa? Em ... berdua ...."
Alvin nampak membuang muka namun kakinya melangkah. Menuruti kehendak Aira. Sejenak menatap kincir besar di hadapannya sembari menelan saliva, Alvin kemudian memejamkan mata. Saat mata itu terbuka dan menoleh hingga mendapati raut bahagia dari Aira. Lelaki itu menemukan keberaniannya.
Sesampainya di dalam, Aira terus bergerak dan membuat Alvin ketakutan.
__ADS_1
"Bisa diam gak sih?" sentak Alvin dengan nada kesal. Aira mencebikkan bibirnya lalu menatap pemandangan kota dari ketinggian yang luar biasa. Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna tapi matanya memiliki sorot terluka.
"Ingat seseorang?"
Aira tersentak dan menatap takjub Alvin. Mengapa lelaki itu sangat peka? pikirnya lagi. Hingga ia mendapati kepalanya mengangguk pelan sembari mengerjap heran.
"Ingat mantan?" Alvin berucap datar dengan sorot mata tak terbaca.
Aira menggelengkan kepala lalu berkata, "Gak, tapi ingat bunda."
Alvin kembali menatap Aira yang memiliki sorot mata kecewa. Ingin kembali bertanya ada apa dengan bunda Aira. Lelaki itu mendadak bingung bagaimana cara bertanya. Hingga keheningan perlahan tercipta. Alvin terus menatap Aira yang lagi-lagi melamun. Mata itu terarah ke bibir sang kekasih barunya dan sial, ia kembali mengingat bagaimana rasa manis itu sempat membuat ia terlena.
Namun, tangan kiri Alvin menahan tubuhnya dengan mendekap punggung Aira. Saat tangan kanan lelaki itu bersarang di tengkuknya, Aira mengerjap gugup dengan kedua pipi merona.
Alvin menatap mata Aira dalam. Seolah mencoba menyelami apa yang membuat gadis itu terus memiliki sorot mata terluka dan kecewa. Hingga ia mendapati diri tak dapat menahan dari godaan bibir manis Aira.
Keduanya memejamkan mata ketika menyatukan bibir mereka.
***
"Berapa Mas?" tanya Aira sembari menatap penjual gelang dan kalung di pasar malam itu. Setelah naik bianglala, gadis itu tertarik dengan benda di sana. Terutama liontin dengan inisial A.
__ADS_1
Saat penjual menyebutkan harganya, gadis itu kemudian memberikan uang dan mengambil dua kalung sepasang.
Alvin kemudian mengantarkan Aira ke apartemennya. Saat sudah sampai dan masuk ke dalam, Aira menatap Alvin yang membantu membawa barang belanjaan yang sebenarnya semua pilihan Alvin untuknya. Gadis itu merona kembali mengingat ciuman saat naik bainglala.
"Nih!" Aira menyodorkan satu kalung yang ia beli sembari mendorong Alvin untuk keluar.
"Ini ap-"
Brakk!
Aira menutup pintu apartemennya dengan cepat sebelum Alvin bertanya. Sementara Alvin masih mematung di depan pintu apartemen Aira sembari menatap kalung di tangannya.
"Alay!" hinanya sembari menatap kalung itu. Aira yang masih berdiri di balik pintu mendengarnya.
Gadis itu merasa malu. Di saat bersamaan, alih-alih membuang. Alvin memasukkan kalung itu ke dalam saku celananya dan pergi dari sana.
TBC
Jangan lupa like nya
Tambahin komentar dan kasih votenya kalau ada 😁
__ADS_1