
Usai ke pasar, Aira menuju apartemen dan Alvin entah mengapa mengikutinya.
"Ngapain?" Aira menatap Alvin minta penjelasan saat lelaki itu ingin melangkah ke dalam.
Alvin hanya diam dengan ekspresi datar. Diam seribu bahasa seolah mulutnya terkunci dan tak bisa di buka. Kediaman itu berlangsung lama hingga Aira menyerah dan membiarkan putra tunggal keluarga Damara masuk ke dalam apartemennya. Untuk kedua kali, tentu saja.
"Jangan sentuh sembarangan!" Aira mengingatkan dengan sorot mata tajam. Gadis itu menuju dapur dan hendak memasak untuk makan malam.
Sementara Alvin menatap Aira dengan sorot mata penuh arti, ia melihat beberapa kali gadis itu mengucek matanya. Lelaki itu kemudian duduk di sofa. Ruang tengah yang tak memiliki sekat dengan dapur.
Jadi, Alvin masih bisa melihat Aira meski tengah duduk di sofa. Dering ponselnya membuat lelaki itu tersentak.
Menjawab panggilan sembari melirik Aira sejenak. Alvin terlihat mendesah pelan.
"Apa sih Del," gerutunya pelan.
"Kita masih sahabat 'kan. Seenggaknya Vin. Tolongin ...."
Rengekan di seberang sana membuat Alvin tak perdaya. Ia tau, Adelia sama sepertinya. Memiliki keluarga yang menyebalkan dan menganggap mereka seolah barang yang hanya berguna sebagai pewaris keturunan.
"Ya, udah. Nih otw." Alvin memutuskan sambungan lalu mendekat pada Aira yang ketahuan menguping pembicaraan.
__ADS_1
Gadis itu berpura-pura sibuk dengan memotong sayuran lalu mengatakan, "Pergi aja sana. Gak usah pamit segala."
Alvin menarik satu sudut bibirnya. Tersenyum miring mendengar nada bicara Aira. Melangkah hingga sangat dekat dengan gadis itu, Ia lalu berkata, "Ntar malam kesini lagi kok."
Aira spontan mengangkat kepala dan menatap Alvin dengan mata membulat sempurna. Belum sempat menjawab, Alvin lebih dulu berkata, "Masak yang enak yaa." Mengusap pelan kepala Aira dengan sorot mata datar seperti biasa.
Lelaki itu pergi dan menuju mobilnya. Meninggalkan Aira yang masih membeku karena tindakannya. Alvin menggelengkan kepala. Mengapa ia mengatakan hal seperti itu pada Aira?
Mengacak kasar rambut hitamnya. Alvin menggerutu pelan, "Apaan dah!"
***
Aira menatap beberapa hidangan di atas meja dengan senyuman sempurna. Gadis itu duduk di kursi meja makan lalu mendesah pelan.
Aira selalu bahagia saat sang bunda melahap masakannya. Meski sorot mata itu masih layu. Tak ada binar di dalamnya. Kehilangan ayah membuat bunda juga kehilangan jati dirinya. Sekarang, siapa sangka. Bunda yang dulu ia urus saat tengah berduka justru sudah bahagia dengan suami barunya.
Aira berjalan menuju kamarnya dan menatap waktu yang mulai memasuki jam makan malam. Gadis itu menelpon sang bunda dengan sorot mata kerinduan yang tiada tara.
Panggilan di angkat, namun suara di seberang sana mampu membuat Aira membeku seketika. "Bunda lagi sibuk Aira."
Sambungan terputus. Tanpa diminta, satu bulir bening yang membasahi netra menunjukkan bahwa Aira teramat kecewa. Ia hanya ingin menanyakan kabar bunda.
__ADS_1
Tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Terdiam dengan isakan pelan. Aira menangis lagi dalam kesendirian. Namun ternyata, ia tak dizinkan menangis lagi untuk malam ini.
Aira membuka pintu apartemen dan melihat Alvin dengan raut wajah tercengang. Tak menyangka, bahwa lelaki itu benar-benar datang untuk makan malam.
Tanpa ekspresi, Alvin melewati Aira dan langsung duduk di meja makan. Melahap makanan di sana seolah tak peduli pada Aira. Namun, gadis itu tak marah dan justru merasa amat bahagia.
Mereka makan bersama dalam keheningan yang tercipta. Sesekali, Alvin melirik wajah Aira yang terlihat bahagia tapi pipi kemerahan itu masih membekas air mata.
Ada apa dengan pacar barunya?
Memilih diam dan tak bertanya. Alvin memutuskan untuk bertanya lain kali saja. Lagi pula, hubungan ini hanya karena game sialan dari sahabatnya.
Tanpa di sadari Alvin dan Aira. Hubungan itu bisa saja menjadi titik awal kebahagian mereka. Kesendirian Aira dan kekacauan Alvin membuat keduanya menuju titik kebahagian bersama-sama
TBC
Jangan lupa like nya
Banyakin komentarnya yaaa dan tambahin votenya kalau ada 😌
Terima kasih atas apresiasi
__ADS_1
dari kalian semua ❤