
Hari pertama hingga kelima masa belajar bersama mereka begitu lancar. Hanya di isi banyak keluhan karena materi yang sangat banyak.
Hari ke enam, Baim dan Lita tak datang. Mereka hanya berpikir bahwa kedua orang itu berkencan. Namun yang sebenarnya, tak sama seperti mereka pikirkan.
Di sebuah mall, terlihat seorang gadis mengikuti lelaki tampan yang tak lain adalah pacarnya. Awalnya, Lita hendak berangkat ke apartemen Aira untuk belajar bersama tapi mengurungkan niatnya saat mendengar dari Aqila bahwa Baim izin ada sesuatu yang genting dan penting.
Lita hanya penasaran karena takut Baim menyembunyikan sesuatu. Ia tak berpikiran negatif dan mempercayai Baim. Hubungan mereka teramat lama dan membuat sebuah kepercayaan tumbuh begitu kuat di hatinya.
Gadis itu tak pernah menyangka, bahwa sesuatu yang genting itu adalah jalan bersama seorang perempuan. Dalam kejauhan, Lita memperhatikan. Tangannya bergetar dan kepala gadis itu menggeleng tegas. Membisikkan sebuah penenang dan berkata pada hatinya bahwa perempuan itu mungkin hanya teman.
Namun, tenggorokan Lita seolah tercekik saat membuntuti mereka ke dalam bioskop. Melihat keduanya mesra dan saling berciuman di kursi paling pojok. Lita membeku dengan air mata yang bercucuran. Gadis itu memalingkan wajah sembari menghapus air matanya. Dengan langkah sempoyongan, Lita berusaha berjalan keluar. Tapi kakinya tersandung dan akhirnya terjatuh.
Tepat saat itu, lampu di nyalakan. Film berakhir dan Lita berdiri dengan keadaan linglung. Tangannya bergetar kuat, pun bahunya yang berguncang. Lita berusaha menyangga tubuhnya dengan berpegangan pada apapun yang ada di sana.
"Lita!"
__ADS_1
Suara itu sangat rendah namun teramat dekat hingga sangat jelas terdengar di telinga gadis itu. Suara yang selalu ia rindukan. Suara yang membuatnya lupa bahwa banyak masalah dalam keluarga seorang Talita Aina Zahran.
Suara yang membuatnya tersenyum sekian lama. Suara yang dia dengar dalam malam-malam dingin dan akhirnya menghangatkan hatinya. Suara yang selalu berkata bahwa akan terus mencintainya dan tetap setia.
Lita mengangkat wajah dan menatap Baim yang ada di hadapannya. Ia berkata, "Aku gak mau dengerin apa-apa."
"Lita denger-" ucapan Baim terpotong saat melihat air mata Lita yang jatuh di pipinya. Juga sebuah tangan yang terangkat di hadapannya.
Lita menggeleng tegas dengan air mata yang terus berjatuhan. Ia berucap dengan nada meyakinkan, "Tiga tahun hubungan kita. Berakhir di sini Im."
Lelaki itu menarik tangan Lita yang berjalan cepat darinya. Hingga sebuah tangan menyentuh lengan Baim. Lita menatap gadis itu. Gadis cantik dengan rambut sepinggang. Dengan gaya pongah ia berkata, "Udah dong Yang, kan kamu masih punya aku."
Wanita itu membuat cekalan Baim di lengan Lita terlepas. Lita menggigit bibir bawahnya karena merasakan sakit yang luar biasa. Namun tetap melangkah dengan tenaga yang tersisa.
"Lita!"
__ADS_1
Teriakan Baim membuat Lita semakin bertenaga. Gadis itu berlari menuju mobilnya. Kembali cekalan di lengan menghentikan Lita yang akan masuk mobilnya.
"Dia cuma mainan aku sayang," ucap Baim dengan sorot mata memelas. Lita mengerjap tak percaya.
"Mainan?"
"Iya, aku lebih sayang sama kamu Lita. Tapi kamu gak mau ngasih yang aku mau." Baim memberikan penjelasan alasannya berselingkuh.
Lita mengerti apa yang Baim bicarakan. Baim ingin sebuah hubungan pacaran juga adegan panas di atas ranjang. Ia berkata dengan nada pelan, "Jadi, dia bisa ngasih yang kamu mau?"
Baim mengusap kasar wajahnya. Ia keceplosan tapi tetap berkata, "Pokoknya aku gak mau putus sayang."
Wajah Lita memerah menahan amarah. Ia menghentakkan dengan kasar tangan Baim yang mencekal lengannya lalu berkata, "Tapi Maaf, wanita yang bermartabat. Gak akan pernah mempertahankan seorang pengkhianat!"
TBC
__ADS_1
Like nya woy! crazy up iniš