My Nerd Girlfriend

My Nerd Girlfriend
MNG {44}


__ADS_3

Kevin terdiam sejenak lalu mengecup bibir Aira cukup lama. Gadis itu berontak dengan sekuat tenaga diringi buliran air mata yang perlahan merembes di pipinya.


Gadis itu terisak pelan sembari meronta. Ini menjijikan! pikir Aira. Napasnya sesak saat Kevin memegang kedua bahunya. Seolah meminta agar Aira berhenti meronta.


Aira menatap langit ruangan itu dengan netra basahnya. Masih dengan meronta lalu berteriak sekencang yang ia bisa. "Lepaskan!"


Kevin melanjutkan kegiatannya tanpa peduli teriakan Aira. Tangan melepas perlahan kain yang menutup bagian atas tubuh gadis itu.


"Tolong! Please!" Teriakan Aira kembali menggema.


Samar-samar, ia mendengar langkah kaki besar dan berisik di luar. Ada harapan! gadis itu menatap Kevin dengan raut wajah menjijikan. Nampaknya lelaki gila itu tak mendengar suara di luar.


"Tolong!"


Aira kembali berteriak sembari meronta. Tangannya sudah memerah karena ikatan tali yang kuat. Hingga dobrakan pintu membuat Kevin dan Aira terhenyak bersamaan.

__ADS_1


Di pintu itu. Alvin menatap kedua orang di dalam dengan sorot mata merah atas amarah. Dalam hitungan detik, Kevin sudah tersungkur ke lantai. Lelaki itu menghajar Kevin habis-habisan. Juga Ray yang tentu saja geram.


Sementara Adelia memeluk Aira yang masih mengeluarkan air mata.Tangisnya pecah. Ia menutupi dada dengan kedua tangannya. Merasa kotor meskipun Kevin baru bermain di lehernya saja.


Dalam hidup Aira. Ia tak pernah membayangkan akan mengalami pelecehan. Aira menatap Alvin yang tersengal sehabis menghajar Kevin.


Keduanya bersitatap lama. Sorot mata Alvin memancarkan permintaan maaf yang tak bisa ia ucapkan sekarang. Tapi kemudian mengalihkan tatapan lalu berjalan keluar ruangan.


Aira terdiam. Air mata kembali keluar. Mengapa Alvin tak berjalan ke arahnya dan memeluknya? Gadis itu menatap tubuhnya. Mata Aira membelalak memikirkan kesimpulan sendiri di otaknya.


***


Agar ia tak trauma. Tapi tentu saja hal itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Adelia kesal dan semakin geram saat mengingat laporan Aira tentang Kevin tak ada kemajuan.


"Susah emang hidup di negara yang punya hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah!" sungut Adelia kesal. Ia begitu pusing memikirkan bagaimana cara agar Kevin mendapat hukuman.

__ADS_1


Hukum Indonesia yang selalu berpihak pada yang kaya nyatanya membuat Aira mengalami hal tak adil seperti ini. Temannya serba salah. Jika ini di umbar di sosial media. Mungkin mereka akan menerima bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Tapi Adelia memikirkan perasaan Aira.


Gadis itu pasti merasa malu jika orang-orang tau apa yang di alaminya.


"Gue gak papa." Aira berucap dengan sorot mata memelas.


Adelia paham bahkan tanpa Aira berkata apa-apa. Gadis itu lalu berkata, "Maaf yaa Ra. Gue gak bisa bantuin karena lo 'kan tau kalo Papa gue udah bangkrut."


Adelia sekarang memiliki kehidupan sederhana bersama sang Papa. Ya, hanya berdua. Tak ada lagi mama tirinya. Meskipun kerap merasa bersalah, karena perusahaan sang papa tak bisa diselamatkan karena ia menolah pernikahan yang diinginkan teman ayahnya. Papa Adelia selalu meyakinkan, bahwa tak apa hidup sederhana asal mereka bahagia. Terutama putrinya.


"Lagian gue bingung sama Alvin," celetuk Lita kemudian. "Kok dia gak bantuin lo sih! 'kan kalau dibantu sama pengacara keluarga Damara. Lo pasti dapat keadilan Ra."


Aira menundukkan wajahnya. Menahan air mata. Karena sesungguhnya ia pun tak tau. Mengapa Alvin bersikap cuek padanya. Bahkan tak mengabarinya. Gadis itu bahkan berpikir kalau Alvin sudah tak mau lagi dengannya karena tubuh Aira sudah ternoda.


Meski tak sampai mengambil kehormatannya. Aira merasa dirinya tak pantas lagi untuk seorang lelaki bernama Alvin Dennis Damara.

__ADS_1


TBC


Jangan lupa like nya❤ kalau banyak komentar, up lagi ntar malam 😌


__ADS_2