
Kantin adalah tempat pertama yang terlintas bagi siswa manapun saat jam kosong. Begitu pula dengan Aira. Suasana kantin mulai ramai saat Aira bahkan baru saja memesan sebuah jus mangga.
Seperti biasa, Aira membuka salah satu buku novel tebal. Yang baru setengah ia baca. Gadis itu kemudian mulai membaca dan mengiraukan dunia nyata.
Sementara itu, di meja lain dan tempat yang sama dengan Aira yaitu kantin. Alvin berdecak kesal saat matanya tak sengaja bertabrakan dengan mata elang Daniel. Lelaki itu tersenyum mengejek Padanya, Alvin tau arti senyum itu.
Ia kalah. Ayah Daniel terpilih lagi. Sialan! Pekiknya dalam hati.
"Lo kenapa si Vin?" tanya Baim dengan nada menggerutu. Ia melirik Ray yang tengah asik dengan ponselnya sendiri
"Lo juga Ray! Ngapain sii!" Ray menatap Baim. Ia menaikkan alis tak mengerti.
"Wajah kalian tuh yaa kayak keset tau gak. Lepek amat!" Baim berucap dengan sorot mata jijik menatap kedua sahabatnya.
"Mama tiri gue datang minggu depan!" ucap Ray dengan nada khawatir.
"Lho emangnya kenapa? Mama tiri lo bukannya baik aja ya kata lo kemaren." Ray berdecih pelan lalu mengangguk.
"Emang baik," sahutnya pelan. Lalu matanya menatap seorang gadis yang duduk sendiri di meja pojok. "Tapi ...."
"Tapi apaan si?" tanya Baim tak sabar. Tak ada jawaban lantas lelaki itu berdecak pelan. Mengesap air mineral di hadapan lalu menatap Ray dan Alvin bergantian. Baim merasa sikap Alvin dan Ray agak aneh hari ini. Ia lalu mengikuti arah mata Ray. Matanya membulat sempurna.
"Vin ...." Baim berbisik pada Alvin namun terhenti ketika merasa sahabatnya itu justru tak memperhatikannya sama sekali. Ia menatap arah tatapan Alvin dan terkesima untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"Kalian ngapain si lihat tuh cewek culun?" tanyanya pelan. Alvin dan Ray tersadar, saling menatap sejenak lalu menatap Baim. Tanpa di duga, Alvin berdiri dan melesat cepat ke arah Aira. Menarik tangan mungil itu dengan kasar hingga berdiri berhadapan dengannya.
"Mulai sekarang, lo jadi pacar gue!" teriakan Alvin tentu saja membuat semua penghuni kantin menatapnya. Sedangkan Aira menelan Saliva dengan mata membulat sempurna.
"Maksudnya?" tanya Aira dengan menautkan alis tak mengerti. Ia mengerjap beberapa kali.
"Gue bilang ...." Alvin menjeda ucapannya sesaat lalu menarik pinggang ramping Aira.
"Mulai sekarang lo pacar gue!" Alvin berucap dengan setengah berteriak. Lelaki tampan itu menyeringai lalu secepat kilat menyatukan bibirnya dengan Aira. Gadis itu menahan napas dengan mata membulat sempurna.
Sorakan dari seluruh siswa-siswi di sana membuatnya tersadar, Aira mendorong tubuh di hadapannya dengan sekuat tenaga. Lalu menatap tajam Alvin yang tengah menyeringai ke arahnya. Gadis itu mengusap kasar bibirnya seolah sangat jijik atas apa yang baru saja terjadi.
"Dasar gila!"
Alvin masih membeku saat Aira melewatinya hingga sebuah suara dari tamparan yang mendarat di pipi Aira menyadarkan. Semua penghuni kantin terdiam ketika merasakan hawa mencekam. Bergidik ngeri menatap Adelia yang baru saja melayangkan tangannya di pipi Aira.
"Lo pikir lo siapa hah?!" tangan Adelia terangkat lagi untuk kedua kali, Aira memejamkan mata.
Hening
Perlahan, gadis itu membuka mata dan mengerjap kaget atas apa yang di lihatnya. Alvin yang selalu cuek pada siapapun selain sahabatnya tengah menahan tangan Adelia.
"Maksud kamu apaan Vin?" tanya Adelia pelan dengan isakan tertahan. Ia menurunkan tangannya dan menatap Alvin dengan sorot mata minta penjelasan.
__ADS_1
"Sorry Del, mulai sekarang Aira cewek gue dan kita putus!"
Mata Adelia membulat sempurna, ia menatap Alvin dengan mata berkaca-kaca.
"Kita udah setahun Vin, dan kamu mutusin aku cuma karena dia?!" Adelia berucap dengan kemarahan yang membuncah. Menatap jijik pada Aira.
"Nerd girl kayak gini?!"
Adelia meludah tepat di wajah Aira. Menatap Alvin dengan tatapan menantang.
Alvin terkesiap. Sementara Aira mulai merasakan air mata ingin menerobos pertahanannya.
"Del!!" bentak Alvin keras. Semua orang bahkan terlonjak kaget termasuk Aira dan Adelia.
"Jangan pernah muncul di hadapan gue lagi!" ucap Alvin tajam lalu menarik tangan Aira dan pergi dari sana.
Sementara di bagian meja kantin sebelah kanan terlihat ketiga lelaki tersenyum puas.
"Buset dia beneran nepatin janji," celetuk salah satu mereka. Lelaki berwajah sunda dengan ketampanan di atas rata-rata.
"Hebat lo Niel, bisa aja bikin drama kayak gini," celetuk salah satunya lagi yang berwajah lelaki asia.
"Ini belum seberapa," sahut Daniel dengan senyuman licik.
__ADS_1
"Lo liat nanti, drama ini bakalan lebih seru lagi," imbuhnya sembari menatap kedua sahabat Alvin yang baru saja melangkah pergi dari kantin.