
"Akhirnya!" teriak Aqila saat hari terakhir ujian kenaikan kelas. Gadis itu berteriak bahagia di atap sekolah untuk mengeluarkan rasa lelah. Meski belum lega karena belum tau bagaimana hasilnya.
"Makasih yaa Aira, udah bantuin kita!" ucap Lita. Gadis itu merasa bahwa soal-soal yang baru saja ia kerjakan memang sulit tapi ia merasa mampu. Tak seperti dulu. Sama sekali tak tau.
"Sama-sama. Semoga hasil semuanya memuaskan yaa!" sahut Aira sembari menatap satu persatu beberapa orang yang sudah menjadi teman dekatnya. Hingga mata dibalik kacamata itu menatap Alvin Dennis Damara. Lelaki itu menatap Aira tanpa mengedipkan mata. Membuat sang gadis mengerjap gugup dengan kedua pipi yang merona.
"Eh, Adel mana ya?" tanya Lita sembari mengedarkan pandangan.
"Tadi gue liat lagi telponan," sahut Aqila sembari berbisik.
Respon Aqila itu membuat Lita curiga. Gadis itu lantas bertanya, "Emangnya Adel nelpon siapa?"
"Kayaknya orang yang di suruh buat rencana besok." Aqila menatap Aira dengan sorot mata tak terbaca. Lita ikut menatap gadis itu dan langsung mengerti apa maksud Aqila.
Besok, mungkin akan menjadi hari di mana gadis itu menderita. Masa depan yang hancur dan mungkinkah Alvin Dennis Damara masih mau menerima pacarnya yang sudah ternoda?
"Oh ya, besok Kevin katanya mau ikut boleh?" tanya Aira sembari menatap semua temannya.
"Boleh," sahut Adelia yang baru saja datang. Raut wajahnya nampak bersinar pun senyuman yang teramat menenangkan.
__ADS_1
Aira tersenyum.
"Gak!"
Suara itu membuat senyuman Aira sirna. Ia menatap Alvin dengan kedua alis yang tertaut lalu bertanya, "Kenapa?"
"Iya, kenapa?" Adelia ikut bertanya. Kemudian kembali berkata, "Gak papa banyak orangnya lebih seru Vin."
"Gue bilang enggak yaa enggak!" sahut Lelaki itu jutek lalu berdiri dari tempatnya.
Aira mengerjap bingung dengan perasaan sedikit kesal. Ia tak enak menolak, sementara itu, Kevin sendiri yang mengajukan diri ikut bergabung.
"Kalian tuh yaa cewek gak peka," ucap Ray. Lelaki itu memutar bola mata dan berkata, "Alvin tuh cemburu."
"Cemburu apaan coba!" sahut Aira kesal. Aneh banget, begitu pikirnya. Alvin seharusnya cemburu kalau ia hanya pergi bersama Kevin. Sedangkan ini, mereka pergi bersama teman lainnya.
Namun, Aira memilih mengejar Alvin yang lebih dulu pergi. Benar kata Adelia. Dia harus membujuk Alvin. Lagipula, Kevin juga membantu kegiatan belajar bersama kemaren. Ada beberapa materi yang tak ia dan Adelia mengerti. Kevin membantu karena ia kebetulan tau materi itu.
Sepeninggalnya Aira. Ray juga ikut pergi.
__ADS_1
"Jadi, rencana besok udah fiks?" bisik Lita pada Adelia.
Gadis itu tersenyum sembari menganggukkan kepala. Sementara Aqila diam saja.
"Gue mau ngomong sesuatu," ucap Adelia. Ia melangkah menuju ujung atap sekolah.
Saat ingin berkata, Adelia tak jadi karena Baim datang ke arah mereka.
"Aku mau ngomong Lita," ucap lelaki itu dengan tak tau malu.
"Ogah!" sahut Lita dengan mendengus kesal.
"Please ...." Baim memohon lagi dan sudah beberapa kali Lita tegaskan bahwa ia tak ingin menjalani hubungan bersama lelaki itu lagi.
Ya, semenjak perselingkuhan itu, Baim terus memohon pada Lita agar kembali padanya.
"Ya udah ngomong aja dulu sana kalian!" ucap Adelia. Lalu berkata, "Nanti aja deh gue ngomongnya."
TBC
__ADS_1